Showing posts with label Dayak. Show all posts
Showing posts with label Dayak. Show all posts

Suku Dayak Punan Km-10

Di kecamatan Gunung Tabur terdapat suatu kelompok masyarakat Dayak yang dimukimkan, berada di wilayah kabupaten Berau provinsi Kalimantan Timur. Mereka disebut sebagai suku Dayak Punan Km-10.

pemukiman Dayak Punan Km-10
dibangun oleh PT Berau Coal
Menurut cerita bahwa pemukiman suku Dayak Punan Km-10 ini bukanlah pemukiman asli mereka. Tapi pada awalnya sekitar beberapa keluarga dayak dari etnis berbeda dimukimkan dan hidup dalam satu komunitas.

Tempat ini pada awalnya adalah sebuah perusahaan tambang batu bara PT Berau Coal, yang sengaja diperuntukkan untuk masyarakat Dayak yang pada awalnya hidup secara nomaden di hutan-hutan pedalaman. Perusahaan melalui program Community Development merasa bahwa beberapa warga atau keluarga yang hidup di hutan-hutan sekitar daerah operasional pertambangan perlu dibuatkan perumahan dan aktivitas yang layak sehingga kualitas hidup mereka meningkat.

Saat itu Community Development Officer (CDO) atau petugas pemberdayaan masyarakat dari PT Berau Coal, dibawah pimpinan Ir. Sudayat Kamamihardja (alm.), Bapak Ferdinand, Bapak Agung Triadi dan Alm Pak Dolof (asli pulau Buton tetapi menguasai dan kenal dengan hutan-hutan di Berau), mulai mencari orang-orang Dayak Punan ini di hutan-hutan. Perjuangan panjang kedua perintis tersebut akhirnya membuahkan hasil. Beberapa keluarga mau dirumahkan, bermula dari 7 keluarga lalu menjadi 11 keluarga, sekumpulan keluarga ini ternyata masih ada hubungan keluarga dan sebagian besar berasal dari suku yang sama suku Dayak Punan, hanya 1 KK orang saja berasal dari suku Dayak Tidung.

Pada awalnya masyarakat suku Dayak yang terbiasa hidup nomaden ini tidak merasa cocok dengan tempat ini, tapi karena tempat ini dibuat sealami mungkin, berada di tengah hutan, terdapat sungai mengalir, yaitu sungai Lati. Hingga lama kelamaan 11 KK ini pun merasa betah dan cocok menetap di tempat ini. Walaupun mereka berasal dari beberapa etnis yang berbeda, tapi saat ini mereka menyatu dalam satu nama suku Dayak Punan Km-10.

Desa Km-10 ini pun kemudian bergabung dengan desa Sambakungan, salah satu desa di kecamatan Gunung Tabur kabupaten Berau, hak-hak sipil dipenuhi seperti Kartu Keluarga dan keperluan lain. Dalam kehidupan sehari-hari mereka tetap melakukan aktifitas sebelum-sebelumnya seperti berburu dan meramu seperti kebiasaan mereka dahulu. Makanan pokok mereka adalah ubi atau keladi yang banyak tumbuh subur di hutan dengan lauk pauk dari hewan buruan. Hewan buruan mereka adalah ikan, burung, rusa atau payau, dan babi hutan.

Perusahaan PT Berau Caol secara periodik juga memberikan program bina rohani dengan cara mendatangkan pendeta, selain itu juga memberikan program kesehatan dengan cara bantuan pengobatan bagi orang sakit, sampai rawat inap ditanggung perusahaan, kunjungan tim medis dari perusahaan secara periodik.

Untuk anak-anak, perusahaan memberikan fasilitas pendidikan berupa bantuan biaya pendidikan dan asrama di kota Tanjung Redeb, sekitar 50 km dari pemukiman Km-10. Mereka ditempatkan dalam sebuah rumah dengan didampingi seorang pengasuh dan sekolah di sekolah reguler, itu bertujuan agar mereka dapat hidup seperti kualitas teman-teman mereka yang berada di kota.

Dengan keadaan mereka seperti ini kiranya kehidupan masyarakat suku dayak Km-10 semakin baik, berkat bantuan Program Community Development PT Berau Coal, yang peduli mengurus masyarakat dayak di pedalaman.

sumber:

Suku Dayak Dohoi


Suku Dayak Dohoi, merupakan salah satu dari sekian banyak suku Dayak yang ada di Kalimantan Barat yang mendiami wilayah sekitar perbatasan Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah. Populasi suku Dayak Dohoi ini lebih dari 100.000 orang.

Menurut pengelompokan dalam suku Dayak, suku Dayak Dohoi dimasukkan ke dalam sub suku Dayak Ot Danum. Pemukiman terbesar suku Dayak Dohoi adalah di kecamatan Ambalau dengan populasi lebih dari 14.500 orang menurut sensus tahun 1988. Di mana di wilayah ini suku Dayak Dohoi menjadi mayoritas. Tetangga mereka di wilayah ini adalah suku Dayak Kadorih.

Di masa lalu orang Dayak Dohoi terkenal logas, tohpas hohot, dan nyolung osak dahak ahLogas berarti "mudah naik darah", tohpas lohot berarti "tidak ragu-ragu kalau mengambil keputusan untuk membunuh", dan nyolung osak dahak berarti "orang yang tidak mengenal rasa takut sedikit pun". Pada masa lalu suku Dayak Dohoi memiliki perilaku sangat keras. Mereka punya prinsip, sekali ahpang yaitu "mandau terhunus", maka pantang disarungkan sebelum minum darah manusia. Karena wataknya itulah maka oleh orang dayak lainnya yang berada di sekitar daerah itu menamakan mereka sebagai Dohoi, untuk menyatakan bahwa "mereka ini adalah orang yang logas, tohpas lohot, dan nyolung osak dahak ah".

Masyarakat suku Dohoi berbicara menggunakan bahasa Dohoi yang termasuk rumpun bahasa Barito.

Setiap desa pemukiman suku Dayak Dohoi dihuni antara 100-400 orang. Tanah di sekeliling setiap desa (sekitar 2 - 3 km jauhnya) dianggap sebagai tanah milik desa. Setiap penduduk desa berhak menjual tanahnya bila dikehendaki, tetapi hanya kepada sesama penduduk desa. Tanah yang tetap kosong selama lebih dari 5 tahun bisa dimiliki oleh siapa saja di desa itu.

Suku Dohoi kadang disebut juga sebagai suku Ot Danum. Istilah "ot danum" memiliki arti "orang-orang yang tinggal di wilayah di sepanjang sungai". Pemukiman mereka membentang dari sungai Melawi sampai sungai Barito. Pemukiman mereka terletak di daerah terpencil di pedalaman, sehingga untuk mencapai pemukiman suku Dohoi ini bisa memakan waktu berhari-hari dengan menggunakan perahu melalui sungai Lamandau.

Pernikahan di antara saudara sepupu lebih disukai di antara suku Dohoi. Bila telah tercapai persetujuan (kesepakatan) oleh orang tua pasangan, keluarga mempelai laki-laki memberikan hadiah secara simbolis kepada keluarga mempelai wanita. Pemberian kedua diberikan ketika pertunangan diumumkan. Sesudah pernikahan dilangsungkan, dilakukan pembayaran kepada pengantin wanita.

Orang Dohoi sebagian besar adalah penganut animisme (percaya bahwa setiap benda memiliki roh) dan polytheisme (menyembah banyak dewa). Tapi pada dasarnya praktek keagamaan mereka berkisar di antara dua dewa, yang satu dilambangkan dengan Burung Enggang dan Ular air.
Upacara-upacara keagamaan bisa berupa acara-acara sederhana maupun pesta-pesta yang lama. Penduduk meminta bantuan Shaman (dukun) untuk mengobati penyakit mereka, yang dalam prakteknya seringkali kerasukan.

Mata pencaharian orang Dohoi adalah bercocok tanam di ladang. Mereka biasanya menumbuk padi pada malam hari, setelah seharian bekerja di ladang. Suara tumbukan bertalu-talu ini disambut dengan gembira gelak tawa di setiap hampir rumah tangga. Inilah keunikan suku Dohoi. Hasil panen disimpan pada tempat khusus yang disebut jorong, yaitu rumah yang terbuat dari satu tiang guna menghindari tikus. Rumah mereka berbentuk persegi panjang dan didirikan sekitar 2 - 5 m di atas tanah dengan tiang-tiang kayu (rumah panggung) dengan tangga bertingkat. Anjing, babi, dan ayam merupakan hewan peliharaan mereka. Mereka juga memelihara sapi untuk disembelih pada perayaan-perayaan besar. Orang Dohoi juga terkenal dalam kerajinan topi dan keranjang. Di luar kegiatan tersebut mereka juga kerap berburu ke hutan-hutan sekitar perkampungan mereka.

sumber:

Rumpun Dayak Ot-Danum

Rumpun Dayak Ot Danum, menurut versi Tjilik Riwut, Gubernur Pertama Provinsi Kalimantan Tengah. Versi ini berbeda dengan versi rumpun dayak yang sering ditampilkan di beberapa situs di web. Versi rumpun Dayak oleh Tjilik Riwut ini, adalah yang pertama dipublikasi pada sebuah buku hasil karya Tjilik Riwut sendiri. Dari ini lah kemudian dijadikan pedoman dan sumber referensi berbagai tulisan di media, serta berkembang menjadi beberapa versi lain mengenai rumpun Dayak.

Rumpun Dayak Ot Danum terdiri atas 61 suku:
  • Asa
  • At Bunusu (Ot Bunusu)
  • At Danun (Ot Danun)
  • At Siang (Ot Siang0
  • Babuat
  • Banyau
  • Desa
  • Duhai
  • Ellah
  • Embaloh
  • Ginih
  • Gunung Kambang
  • Iban
  • Jambung Jaman
  • Jampal
  • Jungkau
  • Kalang Lupu
  • Kalis
  • Kayan Danum
  • Kebosan
  • Keninjal
  • Kenyilu
  • Keramai
  • Kuhin
  • Lacur
  • Lauk
  • Lebang
  • Lebanyan
  • Limbei
  • Linuh
  • Linuh Pudau
  • Mandai Suruk
  • Mentebah
  • Muntak
  • Nanga
  • Nyahing Uhing
  • Nyangai
  • Palan
  • Palin
  • Pananyari
  • Pananyui
  • Pandau
  • Pangin
  • Payah
  • Penangkuwi
  • Rahan
  • Ransa
  • Rarai
  • Sahiei
  • Sebaung
  • Seberuang
  • Serawai Danun
  • Silang
  • Tahin
  • Tahup
  • Taman Danun
  • Taman Sibau
  • Tawahui
  • Tebidah
  • Ulun Daan
  • Undan

sumber:
  • Sejarah Hukum Adat dan Adat Istiadat Kalimantan Barat 1975
  • gambar-foto: pariwisatamura.blogspot.com
  • wikipedia
  • dan sumber lain

Suku Dayak Belantikan

acara adat suku Dayak Belantikan
Suku Dayak Belantikan, adalah suatu masyarakat adat dari suku dayak yang bermukim di kampung Sungkup di provinsi Kalimantan Tengah.

Suku Dayak Belantikan menurut pendapat para peneliti diduga awalnya berasal dari pulau Sumatra. Kehadiran mereka di pulau Kalimantan ini bersama-sama suku Dayak Delang dan Batang Kawa yang bermigrasi ke Kalimantan.

Pada masa dahulunya di Sumatra sedang terjadi tekanan dari pemerintahan Kerajaan Sriwijaya, yang mendesak suku-suku yang menetap di pesisir pantai. Sebagian lari ke hutan pedalaman, sedangkan nenek moyang suku Belantikan lebih memilih menghindar melalui laut, dan menyeberang sampai ke pulau Kalimantan. Pelarian suku Dayak Belantikan diikuti oleh suku Delang dan suku Batangkawa. 
Ada pemikiran bahwa dahulunya suku Dayak Belantikan, Dayak Delang dan Batangkawa, adalah berasal dari nenek moyang yang sama. Ketika mereka melakukan migrasi ke Kalimantan, mereka adalah satu kelompok, tetapi setelah sekian lama menetap di tempat yang baru, dua kelompok memisahkan diri dan membentuk komunitas sendiri. Ke-3 kelompok ini telah terpisah oleh jarak yang jauh untuk waktu yang lama, dan terbentuklah 3 suku yang berbeda, yaitu suku Dayak Belantikan, Dayak Delang dan Dayak Batangkawa.

Masyarakat suku Dayak Belantikan, adalah masyarakat yang ramah dan terbuka terhadap komunitas suku dayak lain. Saat ini banyak dari mereka yang telah berbaur dengan masyarakat lain, tetapi mereka tetap kokoh menjaga dan mempertahankan budaya serta adat-istiadat mereka dengan baik.

Suku Dayak Belantikan, sebagian besar hidup dengan pola pertanian berladang, memanfaatkan hutan untuk sumber daya hidup mereka, seperti berburu, mengumpulkan rotan serta menyadap getah karet. Selain itu mereka juga menangkap ikan di sungai-sungai yang melintas dekat perkampungan mereka.
Saat ini kehidupan suku Dayak Belantikan sudah lebih maju. Beberapa dari mereka telah bekerja di sektor pemerintah dan swasta.

diolah dari berbagai sumber

gambar-foto: orangutanfoundation.wildlifedirect.org

Suku Dayak Bawo

suku Dayak Bawo
Suku Dayak Bawo, hidup dan bermukim di kabupaten Barito Selatan, berada di kecamatan Gunung Bintang Awai di desa Patas, dekat dengan Buntok (ibukota kabupaten Barito Selatan). Perkampungan suku Bawi ini masih terlihat rumah-rumah panggung yang dilengkapi perlengkapan upacara keagamaan dan perlengkapan tradisional masyarakat setempat. Selain di daerah kabupaten Barito Selatan provinsi Kalimantan Tengah, suku Dayak Bawo juga ditemukan di kabupaten Kutai provinsi Kalimantan Timur.

Suku Dayak Bawo, populasinya tidak banyak, sebagian besar menetap di hulu sungai Ayuh dan di kaki pegunungan Muller-Schwaner di daerah perbatasan provinsi KalimantanTengah dan Kalimantan Timur.

Suku Dayak Bawo pernah memiliki sebuah kerajaan yang bernama Kerajaan Gunung Bawo, sekitar tahun 1700 Masehi. Kerajaan Gunung Bawo ini dipimpin oleh seorang kepala suku yang bergelar Tambuang. Gelar ini dapat diberikan kepada orang Dayak Bawo, apabila memiliki sifat kepemimpinan yang baik, berwibawa, kesaktian tinggi, kehidupan di atas rata-rata, dan memiliki hubungan darah dari Tambuang sebelum-sebelumnya.
Kerajaan Gunung Bawo dibubarkan oleh Belanda yang ingin mengusai kerajaan Gunung Bawo, tetapi rakyatnya menentang, sehingga masyarakat Bawo meninggalkan kerajaan Gunung Bawo. Sebagian besar menetap di sungai Ayuh dan kaki pegunungan Muller dan Schwaner.

Suku Bawo saat ini masih mempertahankan agama nenek moyang mereka, yaitu agama Kaharingan, tetapi beberapa dari mereka telah memeluk agama Kristen.

Balian, adalah semacam dukun tapi bukan dalam arti dukun sebenarnya. Pengobatan dan perawatan bagi anggota suku Dayak Bawo yang sakit akan dilaksanakan secara sukarela dan kekeluargaan oleh sang Balian ini. Balian adalah seseorang yang mengetahui cara pengobatan berdasarkan obat-obatan alami yang didapat dari alam, diserta mantra-mantra ampuh yang sebagian besar memang dapat disembuhkan oleh sang Balian.

Suku Dayak Bawo, berhubungan dengan masyarakat dayak lainnya hanya melalui jalur sungai. Dalam perjalanan menuju perkampungan suku dayak lain, melalui sungai akan ditempuh selama berhari-hari.

Masyarakat Dayak Bawo hidup secara tradisional, dengan pola pertanian berladang berpindah, mencari hasil hutan seperti rotan, damar. Tapi saat ini mereka mulai menanam pohon karet untuk mendapatkan getah karet. Sejak mendapat hasil dari getah pohon karet inilah, kebiasaan lama yang berladang berpindah mulai ditinggalkan oleh mereka.

sumber:

  • Gimong Awan (Pemerhati Budaya Dayak Kalimantan Tengah)
  • gambar-foto: boykomar.multiply.com
  • wikipedia
  • dan sumber lain

Suku Embau

suku Embau,
telah menjadi Melayu
Suku Embau, adalah suatu kelompok masyarakat yang masih keturunan suku Dayak Embaloh, yang saat ini lebih menyatakan diri mereka sebagai Melayu. Suku Embau ini bermukim di sepanjang sungai Embau kabupaten Kapuas Hulu provinsi Kalimantan Barat.

Suku Embau, adalah keturunan dari suku Dayak Embaloh. Walaupun mereka masih berdarah dayak, tetapi mereka lebih suka menyebut diri mereka sebagai orang Embau, atau Melayu Embau.

Bahasa Embau yang asli diperkirakan telah punah dari peradaban sejak akhir abad ke-19. Bahasa Embau telah punah karena tidak ada lagi penutur bahasa ini. Menurut penuturan masyarakat Embau, pada awalnya mereka berbicara sehari-hari mengggunakan bahasa Embau (mirip dengan bahasa Dayak Embaloh), tetapi karena dominasi bahasa Melayu di daerah ini. Sering mereka dianggap aneh, karena menggunakan bahasa Embau, akhirnya secara perlahan-lahan bahasa Embau tergeser oleh bahasa Melayu. Pada saat ini suku Embau menggunakan bahasa Melayu, walaupun beberapa kata dalam bahasa Melayu yang mereka gunakan masih terdapat beberapa kata dalam bahasa Embau. Oleh karena itu bahasa yang mereka pakai sekarang disebut sebagai bahasa Melayu Embau.

Punahnya bahasa Embau, maka punah juga lah budaya asli suku Embau, karena saat ini mereka lebih suka melaksanakan berbagai acara adat mengikuti segala bentuk budaya Melayu. Bahkan perilaku dan cara berpakaian pun telah mengikuti cara-cara melayu.
Punahnya bahasa dan budaya Embau ini seiring dengan masuknya ajaran Islam dan para pendatang Melayu yang memenuhi wilayah suku Embau. Dengan kehadiran orang-orang Melayu ini, sehingga banyak terjadi kawin-campur antara orang Embau dengan orang-orang Melayu. Sehingga kebudayaan dan agama orang Melayu ini pun terserap ke dalam masyarakat Embau. Dan saat ini suku Embau secara mayoritas telah memeluk agama Islam.

sumber:
  • kebudayaan-dayak.org
  • adatnusantara.blogspot.com
  • wikipedia
  • dan sumber lain

Suku Dayak Punan Batu

berburu pakai sumpit
suku Dayak Punan Batu
Suku Dayak Punan Batu, adalah salah satu suku dayak yang masih mempertahankan hidup mengasingkan diri tinggal di gua-gua di tengah hutan pedalaman yang berada di Kalimantan Timur.

Populasi suku Dayak Punan Batu ini tidak banyak. Mereka lebih memilih hidup mengasingkan diri atau jauh dari kelompok masyarakat dayak lainnya. Gaya hidup mereka tetap mengikuti tradisi nenek moyang mereka sejak ratusan bahkan ribuan tahun lalu. Mereka adalah suku bangsa yang senang hidup mengembara. Mereka bernaung dan menggantungkan hidup pada sumber makanan yang tersedia di alam kepada mereka dan memanfaatkan gua-gua batu yang ada di tengah hutan pedalaman.

Pada dasarnya suku Dayak Punan Batu ini tidak memakan nasi dan hanya hidup dari hasil yang didapat dari hasil berburu, mengumpulkan ubi-ubian dan buah-buahan. Pada masa dahulu suku Dayak Punan Batu ditakuti oleh masyarakat lainnya yang berada di sekitar wilayah mereka, karena tradisi mengayau yang mereka jalankan terhadap siapa saja yang dianggap bisa mengganggu ketentraman hidup mereka. Tetapi, saat ini tradisi mengayau ini sudah tidak mereka lakukan, karena saat ini mereka telah bisa menerima kehadiran orang asing, dan berlaku ramah dan terbuka.

Mereka bukanlah suku primitif, hanya menjauhkan diri dari kelompok masyarakat lain. Terbukti mereka telah bisa menanak nasi dan membutuhkan minyak goreng. Kemungkinan perubahan ini karena kontak hubungan mereka dengan orang Punan Basap dan orang Punan Sajau yang beraktifitas di sarang burung walet di hutan Sajau. Kontak hubungan ini secara tidak langsung memberikan perubahan kepada mereka, dan mereka mengenal beras serta menanak nasi dan membutuhkan minyak goreng. Tak jarang orang Punan Batu turun gunung menuju kamp penjaga burung walet untuk meminta beras dan kebutuhan pokok lain. 

Para lansia tidak diajak keluar dan berburu, tetapi tetap berada di gubuk kecil yang dibangun dekat mulut goa. Sesekali, gubuk-gubuk ini dikunjungi sanak keluarga yang beristirahat setelah berburu. Di saat sedang berkumpul di gubuk kecil ini lah mereka saling bercengkerama dan berbagi cerita.

Anak-anak Punan Batu kebanyakan belum mengenal sekolah karena letak sekolah yang jauh. Jumlah warga Punan Batu terus menyusut, disebabkan beberapa dari mereka sering pindah ke tempat lain.

sumber:
  • joshuaproject.net
  • kebudayaan-dayak.org
  • berita.liputan6.com
  • gambar-foto: in-docs.org
  • wikipedia
  • dan sumber lain

Suku Dayak Kayaan Mendalam

seorang gadis
suku Dayak Kayaan Mendalam
Suku Dayak Kayaan Mendalam, adalah suatu identitas kelompok suku dari 3 suku kecil, yang berdiam di sekitar sungai Mendalam kecamatan Putussibau kabupaten Kapuas Hulu provinsi Kalimantan Barat. Suku Dayak Kayaan Mendalam ini berada di 3 desa, yakni desa Padua, desa Teluk Telaga dan desa Datah Dian. Wilayah perkampungan suku Dayak Kayaan Mendalam ini terdiri dari kampung sungai Ting, kampung Tanjung Karang, kampung Teluk Telaga dan kampung Datah Dian.

Suku Dayak Kayaan Mendalam, terdiri dari 3 suku kecil, yaitu:
  • Umaa’ Pagung
  • Umaa’ Suling
  • Umaa’ Aging

Ketiga suku kecil ini lah yang disebut sebagai suku Dayak Kayaan Mendalam. Ketiga suku kecil ini sempat dimasukkan ke dalam kelompok rumpun Kayan (Apo Kayan), tetapi mereka tidak menyetujui hal ini, karena menurut mereka mereka kelompok Kayaan, berbeda dengan kelompok Kayan. Walaupun mereka sebenarnya mengakui bahwa menurut sejarah mereka yang berdasarkan cerita dari turun temurun, kemungkinan nenek moyang mereka memang berasal dari Apo Kayan, yang bermigrasi sejak ratusan atau ribuan tahun yang lalu.

ritual Dange
suku Dayak Kayaan Mendalam
Mereka selalu memelihara budaya dari nenek moyang. Salah satunya adalah upacara syukuran atas berkah dan rahmat dari Tipang Tenangaan (Tuhan Allah), dalam bentuk upacara adat yang dinamai Dange. Dange memiliki makna yang sama dengan gawai Dayak. Dange adalah upacara adat yang selain untuk mengucap syukur pada Tuhan atas hasil perladangan, juga untuk mengumpulkan saudara-saudara mereka untuk saling meneguhkan, memaafkan dan saling bercerita pengalaman hidup.

Kehidupan sehari-hari masyarakat adat Dayak Kayaan Mendalam dalam bertahan hidup, pada umumnya mengandalkan sumber daya alam hutan sebagai sumber kehidupan mereka. Tanah di sekitar hutan digunakan untuk bercocok tanam, seperti berladang, menyadap karet, berkebun sayur-sayuran, berkebun buah-buahan, mencari kayu dan berburu binatang liar.

sumber:
  • agustinusmualang.blogspot.com
  • ceritadayak.com
  • gambar-foto; jasikacommunity.blogspot.com
  • gambar-foto: borneophotography.org
  • wikipedia
  • dan sumber lain

Rumpun Dayak Ngaju

Rumpun Dayak Ngaju, adalah suatu kelompok suku, yang terdiri dari puluhan suku-suku dayak yang dikelompokkan ke dalam rumpun Dayak Ngaju. Sebagian besar suku-suku yang termasuk ke dalam rumpun Dayak Ngaju berpusat di provinsi Kalimantan Tengah. Sedangkan beberapa lainnya berada di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Barat. Kata ngaju bisa berarti hulu atau bisa berarti kampung.

Rumpun Dayak Ngaju, terdiri dari:
  • Alai 
  • Amandit 
  • Arut  
  • Bajau
  • Bakumpai  
  • Balanga 
  • Balantikan 
  • Bara Je 
  • Bara Nio 
  • Bara Nyet 
  • Bara Raden (Mangkatip) 
  • Bara Urik 
  • Baradia
  • Barahayan 
  • Baraki 
  • Baranarai / Barune 
  • Barangas 
  • Batangkawa  
  • Bawa
  • Bawa Adeng 
  • Bentian 
  • Bukit 
  • Bulik 
  • Kahayan 
  • Kali 
  • Kapuas 
  • Katingan
  • Kayu Tangi 
  • Kuwing 
  • Labuhan Amas 
  • Lalang 
  • Lamandau 
  • Lampeang / Balai 
  • Lantu Ung 
  • Maanyan  
  • Maanyan Pantai
  • Maanyan Paku
  • Maanyan Jangkung
  • Maanyan Paju
  • Maanyan Benua Lima
  • Maanyan Paju Empat
  • Mendawai 
  • Mengkatip 
  • Mentabi
  • Mentaya
  • Mentebah 
  • Murung   
  • Pananyui 
  • Pasir 
  • Purrui 
  • Purung 
  • Ritap 
  • Sembuluh 
  • Seruyan 
  • Taboyan Teweh 
  • Tapin 
  • Tamuan  
  • Tebilun 
  • Tungka Ngaju 
  • Ulang 

sumber:
  • Sejarah Hukum Adat dan Adat Istiadat Kalimantan Barat 1975
  • melawikab.go.id
  • wikipedia
  • dan sumber lain

Suku Dayak Kayaan

suku dayak Kayaan
Suku Dayak Kayaan, adalah suku dayak yang hidup di dua negara, yaitu Malaysia dan Indonesia. Di Indonesia suku Kayaan, hidup di Kalimantan Barat, sedangkan di Malaysia, mereka hidup di Sarawak.

Suku Kayaan di Malaysia, telah mengalami kemajuan yang sangat jelas, karena di Malaysia orang-orang Kayaan cukup berpengaruh pada segala aspek baik pemerintahan, perdagangan, maupun pendidikan. Mereka jauh lebih maju dari suku Kayaan yang berada di Indonesia. Selain itu seni dan kebudayaan suku ini sering ditampilkan di berbagai event nasional dan internasional. Alat musik yang populer di kalangan suku Dayak Kayaan ini adalah "sape", sejenis alat musik petik, yang apabila dimainkan akan terdengar alunan melodi yang merdu dan sangat menarik.

upacara Adat Dange
Nama Kayaan diyakini berasal dari nama sungai di Kalimantan Timur, oleh karena itu mereka menyebut diri mereka sebagai orang Dayak Kayaan.

Satu hal yang menjadi perdebatan, adalah Ch. F. H. Duman dalam J. U. Lontaan (1975: 49), memasukkan suku Dayak Kayaan ke dalam rumpun Kayan (Apo Kayan), yang terdiri dari: 
  • Uma Pliau 
  • Uma Samuka 
  • Uma Puh 
  • Uma Paku 
  • Uma Bawang 
  • Uma Naving 
  • Uma Lasung 
  • Uma Daru 
  • Uma Juman 
  • Uma Leken 
Yang diambahkan ke kelompok 10 suku kecil di atas, adalah 3 suku kecil lain yang terdapat di kabupaten Kapuas Hulu provinsi Kalimantan Barat, yaitu:
  • Uma’ Aging
  • Uma’ Pagung
  • Uma’ Suling. 
tarian khas
suku Dayak Kayaan
Tetapi yang menjadi perdebatan bagi ke 3 kelompok suku kecil yang berada di kabupaten Kapuas Hulu ini, mereka tidak setuju bila dimasukkan ke dalam kelompok Kayan, mereka lebih suka disebut sebagai kelompok Kayaan. Bagi ke 3 suku kecil ini, penulisan Kayan, tidak menunjukkan kepada diri mereka, mereka tidak merasa sebagai Kayan. Karena mereka adalah Kayaan, bukan Kayan.

Sering menjadi hal yang membingungkan, karena bagi beberapa penulis menyatukan antara kelompok Kayaan dengan kelompok Kayan. Sepintas lalu dari segi nama, memang terlihat mirip, tetapi sebenarnya menurut mereka, bahwa antara kedua kelompok ini adalah kelompok yang berbeda.

Suku Dayak Kayaan di kabupaten Kapuas Hulu provinsi Kalimantan Barat, tersebar di sepanjang sungai Mendalaam. Mereka dikenal sebagai suku Dayak Kayaan Mendalam, yang tersebar di 9 kampung.

Suku Dayak Kayaan, saat ini adalah mayoritas pemeluk agama Kristen, terutama Kristen Katolik, sedangkan sebagian kecil adalah pemeluk Kristen Protestan.

Dalam kehidupan orang Dayak Kayaan terdapat semacam kasta. Kasta yang paling tinggi disebut Hivi (setaraf raja), Panyin (orang biasa) dan Diivan (budak). Kasta ini mirip dengan strata sosial dalam masyarakat Dayak Taman, Dayak Lau' dan Dayak Tamambalo. Tetapi dalam masyarakat Dayak Kayaan, jarang terdengar kezaliman dari strata yang paling tinggi dan berkuasa, kecuali kisah perlakuan kaum Hivi terhadap kaum Diivan yang berlaku sewenang-wenang terutama pada saat kaum Hivi meninggal.

sumber:
  • kebudayaan-dayak.org
  • gambar-foto: blog.djarumbeasiswaplus.org
  • gambar-foto: kebudayaan-dayak.org
  • gambar-foto: moreng178.blogspot.com
  • gambar-foto: jasikacommunity.blogspot.com
  • wikipedia
  • dan sumber lain

Suku Dayak Paser

suku Dayak Paser
Suku Dayak Paser, adalah suatu komunitas masyarakat adat yang disebut suku Dayak Paser, yang berada di kabupaten Paser provinsi Kalimantan Timur. Populasi suku Dayak Paser saat ini diperkirakan sebesar 56.000 orang.

Sebagian besar suku Dayak Paser saat ini bermukim di wilayah pedalaman di kawasan Hutan Lindung Gunung Lumut kabupaten Paser provinsi Kalimantan Timur. Sebelum bermukim di tempat mereka sekarang ini, dahulunya mereka berasal dari daerah Balikpapan dan Penajam. Kemungkinan karena banyaknya arus pendatang baru dari luar yang memasuki wilayah mereka dahulu, sehingga memaksa mereka mencari tempat yang lebih tenang dan damai yaitu di kawasan Hutan Lindung Gunung Lumut, tempat mereka sekarang ini. Sebenarnya di kabupaten Penajam Paser Utara dan Balikpapan, masih terdapat kelompok kecil suku Dayak Paser yang tetap bertahan dan tidak ikut bermigrasi ke wilayah kabupaten Paser. Selain itu juga terdapat di kota Balipapan dan kabupaten Kotabaru.

seorang ibu suku Dayak Paser
Mayoritas suku Dayak Paser adalah pemeluk agama Islam. Pada masa lalu mereka pernah mendirikan Kesultanan Pasir (Kerajaan Sadurangas). Budaya dan adat istiadat suku Dayak Paser dipengaruhi oleh budaya Melayu. Tetapi saat ini mereka mulai menggali kembali budaya-budaya asli dayak yang mereka miliki sebelum dipengaruhi budaya melayu.
Suku Dayak Paser, tidak seperti suku-suku dayak lainnya yang mengaku telah menjadi Melayu setelah memeluk Islam, tetapi orang Dayak Paser bangga mengaku sebagai bagian dari Dayak, atau sebagai orang Dayak.

Bahasa yang diucapkan oleh suku Dayak Paser, sangat akrab dengan bahasa Dayak Lawangan, sehingga bahasa Dayak Paser kadang dianggap sebagai dialek bahasa Dayak Lawangan.

sumber:
  • sejarahpaser.blogspot.com
  • clinicoustic.blogspot.com
  • wikipedia
  • dan sumber lain

Asal Usul Suku Dayak Bugau (Mitologi)

suku Dayak Bugau
Suku Dayak Bugau, adalah masyarakat adat suku dayak yang hidup di kabupaten Sintang, yaitu di kecamatan Ketungau Hulu, yang mendiami desa Jasa, desa Rasau, desa Sungai Bugau, desa Nanga Bugau dan desa Sebadak, selain itu juga terdapat di kampung Senaning, Sungai Antu, Engkeruh, Sebuluh, Lubuk Pucung, Pangkalan Parit, Riam Sejawak, Wak Sepan, Birong, Rentong, Nyelawai dan Kedang Ran. Di kecamatan Ketungau Hulu, suku Dayak Bugau hidup berdampingan bersama suku Dayak Mandau, Dayak Kumpang, Dayak Embara dan Dayak Sebaruk.

Asal-usul orang Dayak Bugau secara mitologis. Manusia pertama kali diciptakan oleh Yang Mahakuasa melalui malaikatnya dari sejenis kayu yang disebut kayu Kumpang. Manusia yang tercipta dari kayu Kumpang itu hanya bisa berteriak. Ternyata dia tidak menjadi manusia yang sempurna.

Melihat kayu tersebut tidak menjadi manusia, maka diciptakan lagi manusia dari pangkal pisang Luran dan tanah Alau. Dari bahan itu dibentuk 2 manusia, yaitu laki-laki dan perempuan. Calon manusia itu ditaruh di atas piring dan ditutup dengan selimut. Selama tujuh hari lamanya, piring yang berisi calon manusia itu ditaruh di persimpangan jalan tujuh simpang. Selama itu pula para malaikat datang dengan membawa tombak dan parang. Mereka mengacu-ngacukan tombak dan parang itu ke calon manusia tersebut. Maka calon manusia itu pun memekik.

Sang laki-laki menyebut diri Muga dan yang perempuan menyebut diri Rama. Mereka menyebutkan nama-nama itu karena merasa seakan-akan diancam dengan tombak dan parang yang diacukan kepada mereka berdua. Walaupun berbentuk manusia dan dapat memekik, kedua calon manusia itu belum menjadi manusia yang sempurna. Setelah hidup bersama sekian lama, sepasang manusia ini memiliki keturunan yang belum sempurna pula. Setelah 7 keturunan, maka manusia yang belum sempurna itu mulai menurunkan manusia “purba”. Mulai saat itulah manusia baru diakui betul sebagai manusia dan memiliki adat. Karena ada adat inilah maka manusia tidak lagi bertingkah seperti hewan. (sumber: Mozaik Dayak).

Setelah berbagai turun-temurun, ada beberapa tokoh yang cukup menonjol, yaitu si Bui Nasi yang membawa manusia pada kebiasaannya untuk memakan makanan pokok nasi. Lalu ada si Putong Kempat, yang kawin dengan Aji Melayu. Keturunan mereka inilah yang menjadi orang Melayu.

Menurut orang Dayak Bugau sendiri, dalam cerita asal usul ini terdapat kejanggalan, diceritakan si Putong Kempat, merupakan salah satu tokoh dalam penciptaan manusia pertama kawin dengan perempuan bernama Aji Melayu, yang merupakan orang dari keturunan Jawa pada masa Majapahit. Cerita asal-usul ini putus sampai di sini. Tidak ada yang tahu kelanjutan cerita asal-usul tersebut. Yang menjadi kejanggalan lain, adalah "pada zaman Majapahit", sedangkan orang Bugau yang pertama hadir jauh ribuan tahun sebelum ada kerajaan Majapahit.

Dalam cerita mitologi asal usul lain, dari suku Dayak Bugau, adalah bahwa orang dayak itu berteman dengan makhluk halus yang bernama si Buah Kana. Si Buah Kana ini, walaupun makhluk halus namun memiliki fisik dan tubuh seperti manusia. Waktu itu si Buah Kana dan manusia hidup dalam satu rumah betang. Kini bekas-bekas Rumah Panjang (tembawai), yang ditempati Buah Kana dan manusia itu banyak terdapat di Sekapat (Ketungau Tengah), Lubuk Lidung (Ketungau Tengah), Sungai Kelintik, Sungai Idai (Ketungau Hulu), Tampun Juah di Hulu Sungai Saih (Kabupaten Sanggau), dan masih banyak lagi.

Dari kelompok si Buah Kana itu ternyata ada yang tidak suka dengan manusia, tetapi ada juga yang suka. Oleh karena itu, Buah Kana mengadakan bada’, yaitu memberi tanda-tanda yang dibuat dari darah atau kotoran yang dipercikkan ke rumah-rumah. Tanda-tanda itu tidak serempak. Apabila tanda yang diberikan dari darah maka rumah-rumah akan terpercik-percik dengan darah, begitu juga jika tanda yang dibuat dari kotoran. Semua tanda itu merupakan peringatan bahwa sudah tiba saatnya antara Buah Kana dengan manusia harus berpisah. Kalau tidak dituruti, maka bada’, dapat menyebabkan peperangan atau wabah sampar.

Selanjutnya kelompok si Buah Kana pindah dari Tampun Juah dan membuat pemukiman di Binjai, di Nibung Berayah (sekarang di Binjai, dekat Empura, Ketungau Hulu). Ketika Buah Kana pindah ke Binjai, manusia membuntutinya. Karena Buah Kana dan manusia pindah maka Tampun Juah pun menjadi kosong. Di Tampun Juah ada sebuah Lubuk yang kalau ada orang mandi di situ maka orang tersebut tidak akan pernah pulang lagi.

Di Nibung Berayah, manusia dan kelompok Buah Kana hidup di betang yang berdekatan. Namun si Ijau dan si Keling (Buah Kana yang kakak beradik) selalu bertentangan sikapnya terhadap manusia. Tindakan si Ijau selalu menjadikan manusia dirugikan, misalnya ia membawa anak manusia menyelam dari hulu hingga hilir. Dengan demikian anak manusia itu pun mati. Ia juga menyentik orang yang sedang bunting hingga keguguran atau anak itu terlahir tetapi mati. Sebaliknya, si Keling justu menjadi pihak yang menghidupkan kembali anak-anak dan bayi-bayi yang mati itu.

Karena pertentangan-pertentangan yang terjadi tersebut, akhirnya Buah Kana pindah dari Nibung Berayah ke tempat yang belum diketahui. Namun yang jelas kepindahan mereka diikuti oleh manusia. Ketika manusia pindah mengikuti Buah Kana tersebut, ada beberapa manusia yang kembali lagi ke Nibung Berayah karena ketinggalan tempat sirih pinangnya. Sebagian manusia turun dari sampan dan menunggu mereka yang kembali ke Nibung Berayah di Pintas Engkajang. Sementara itu, rombongan Buah Kana yang menunggu itu tidak sabar. Akhirnya dengan sampan yang mereka kendarai, mereka berangkat terlebih dahulu. Setelah sampan manusia yang digunakan untuk mengambil tempat sirih datang, manusia mengejar Buah Kana yang telah berangkat terlebih dahulu. Tibalah manusia itu di Nanga Melawi. Di situ mereka kehilangan jejak Buah Kana, mereka bingung apakah Buah Kana itu milir Kapuas atau mudik ke Melawi. Saat itu di Melawi tidak ada manusia. Karena kehilangan jejak, maka kelompok manusia tersebut membuat tempat tinggal di sekitar sungai Senentang yang letaknya berhadapan dengan sungai Melawi. Di sinilah saat putus generasi kedua.

Generasi yang berkembang hingga sekarang merupakan keturunan dari generasi penceritaan yang ketiga. Tidak diceritakan secara jelas bagaimana muncul dan berkembangnya generasi ini. Namun demikian, ada beberapa pangkat-pangkat sebagai berikut.
  • Demung, adalah pangkat yang disandang oleh orang kaya. 
  • Tuak, adalah pangkat yang disandang oleh ahli perang. 
  • Tunggul/Pangkal, adalah pangkat yang disandang oleh orang yang pandai. 
  • Manang,
  • Bedamang, adalah pangkat yang disandang oleh orang yang ahli perang dan ahli obat. 
  • Manuk Sabung, adalah pangkat yang disandang oleh orang yang dianggap pemberani. 

Tradisi lisan yang masih hidup adalah kana. Suatu seni cerita dengan cara melantunkannya dengan irama yang agak monoton, tetapi tetap enak dan menarik didengar. Tokohnya yang paling terkenal adalah si Keling dan si Kumang. Kesenian lisan lain yang masih hidup dan bertahan dalam budaya suku Dayak Bugau, adalah jandeh, didi, renung dan ngerasak.


sumber:
  • kebudayaan-dayak.org
  • gambar-foto: picasaweb.google.com
  • wikipedia
  • dan sumber lain

Suku Dayak Bemali (Bah Mali)

Suku Bemali atau suku Dayak Bemali, hidup di tengah-tengah kelompok suku Dayak Seping, di sekitar sungai Belaga dan sungai Tinjar, di Sarawak Malaysia.

Suku Dayak Bemali ini termasuk ke dalam rumpun Kajang. Orang Dayak Bemali di wilayah ini berhubungan erat berkerabat dengan orang Dayak Seping, karena diantara mereka banyak terjadi kawin-campur antara suku Dayak Bemali dan suku Dayak Seping, atau antara suku Bemali-suku Seping-suku Kejaman.

Suku Dayak Bemali, dulunya tinggal sebagai komunitas terpisah, namun karena penurunan jumlah penduduk yang sangat cepat dalam populasi mereka, akhirnya mereka memilih untuk hidup bergabung dengan suku Dayak Seping sejak tahun 1956.

Pada pemukiman Rumah Panjang Tunggal pada Koyan Panjang. Jumlah mereka sangat kecil, dan karena mereka adalah suatu kelompok masyarakat adat dari keturunan kawin-campur yang melibatkan mitra suku Dayak Seping, belum dapat dikatakan mereka sebagai bagian dari suku Seping.

diiolah dari beberapa sumber

Suku Dayak Seping

suku Dayak Seping
Suku Dayak Seping, adalah suatu komunitas masyarakat adat yang berada di sekitar sungai Belaga dan sungai Tinjar, di wilayah Sarawak Malaysia.

Suku Dayak Seping ini adalah suatu kelompok minoritas dari beberapa suku-suku kecil, yang bertahan dari kelompok masyarakat yang lebih besar (mayoritas). Mereka tetap menjaga identitas budaya dan bahasa mereka agar tetap utuh.

Suku Dayak Seping, mengklaim bahwa mereka sebagai kelompok pertama yang menempati kawasan sungai Belaga yang telah meninggalkan jejak mereka pada lanskap sebagai bukti keberadaan mereka. Pada awalnya mereka tinggal di suatu Rumah Panjang, kira-kira tahun 1956. Rumah Panjang suku Dayak Seping dihuni oleh 16 rumah tangga di daerah Koyan panjang, di sekitar sungai Belaga. Pada awal tahun 1960 sebagian besar dari penduduk suku Dayak Seping bermigrasi ke sungai Tinjar di distrik Baram. Sedangkan 4 rumah tangga bertahan di Koyan Panjang. Setelah hampir 20 tahun tinggal di Tinjar, sebagian kembali ke tanah air leluhur mereka di sungai Belaga.
Saat ini, suku Dayak Seping yang terdiri dari pemukiman Rumah Panjang. Hidup dengan 28 rumah tangga dengan jumlah penduduk sebesar 205 orang.
Di wilayah mereka ini juga terdapat suatu komunitas lain yang mengaku sebagai orang orang Dayak Bemali (Bah Mali) yang termasuk ke dalam kelompok rumpun Kajang. Orang Dayak Bemali ini adalah sebuah kelompok budaya dan bahasa yang masih berhubungan dengan orang Dayak Seping, tetapi dalam kenyataannya mereka keturunan dari perkawinan campuran antara Bemali dan Seping, atau Bemali-Seping-Kejaman.

tradisi adat suku Dayak Seping
Menurut sebuah narasi lisan oleh seorang penatua suku Dayak Seping, Lian Beng, bahwa orang Seping adalah pemukim asli dari sungai Belaga. Awalnya mereka terdiri dari 7 rumah panjang: dua di Segiam Long, dan masing-masing di Seduk Long Tegelem Long, Semakat Long, Belaan Panjang (dalam koyan, anak sungai Belaga) dan Long LGA. Dahulu kala, sebuah peristiwa supranatural terjadi, mereka membunuh naga dan dimasak. Karena itu, 7 rumah panjang berubah menjadi batu atau tersapu hilir dengan banjir raksasa. Semua orang meninggal, kecuali 2 orang bersaudara yang selamat. Dua orang bersaudara ini lari menaiki Penyuan, anak sungai kiri-bank sebenarnya dari sungai Belaga. Setelah bertahun-tahun jelajah hutan, mereka menjadi orang dewasa, dan hidup sebagai suami-istri, memiliki banyak keturunan dan menghidupkan kembali sebuah komunitas baru suku Dayak Seping. Mereka tinggal selama bertahun-tahun di sepanjang sungai Seping, anak sungai dari Belepeh yang merupakan anak sungai yang mengalir ke Murum Balui tersebut. Setelah tinggal di sungai Seping, masyarakat suku Dayak Seping, pindah dan kembali ke tanah air asli mereka di sungai Belaga. Perjalanan kembali mereka dipimpin oleh Lakui sebagai pemimpin mereka. Mereka menduduki kembali sungai Belaga sebagai satu komunitas pada Rumah Panjang.


sumber:
  • dayakwithgoldenhair.wordpress.com
  • facebook.com
  • gambar-foto: belagahomestaysarawak.com
  • gambar-foto: mpkotamarudu.my
  • wikipedia
  • dan sumber lain

Suku Dayak Kayan (Apo Kayan)

suku Dayak Kayan
Suku Dayak Kayan (Apo Kayan), adalah suatu masyarakat dayak yang bermukim di sepanjang sungai Kayan. Sedangkan sungai Kayan merupakan anak sungai yang bermuara ke sungai Melawi. Bagian hulunya berada di kampung Gemare, Tebidah di kecamatan Kayan Hulu. Populasi suku Kayan diperkirakan berjumlah 30.000 orang.

Menurut legenda pada masyarakat Dayak Kayan, orang Kayan merupakan cikal bakal dari semua suku-suku kecil dayak yang berada di sepanjang sungai Kayan, yang terdiri dari suku Papak, suku Tebidah, suku Paya’, suku Goneh, suku Nanga, suku Kebahan dan suku Barai. Semua suuku-suku kecil dayak tersebut adalah keturunan suku Kayan, dan tergabung dalam rumpun Kayan, kecuali suku Dayak Lebang saja yang tidak berasal dari suku Kayan ini.

Orang-orang pertama yang membentuk komunitas suku Kayan, terdiri dari Apang Isai, Indai Isai, Madung Panjang, Madung Penda', Mambang Tobing Kumpang, dan Mia Balon Sasa'. Dari mereka semua ini lah yang menurunkan suku Kayan. Mereka semua bermukim di Tapang Sungai Emas.
Temenggung pertama yang memimpin orang Kayan adalah Temenggung Mangku, yang berasal dari Topan. Setelah itu dipimpin oleh Temenggung Tukut dari Lintang Tambuk dan Temenggung Sadu dari Nanga Masau.
Waktu memasuki daerah ini, mereka tidak langsung bermukim di daerah hulu, tetapi mereka mendirikan perkampungan di daerah Nanga Kayan. Setelah tinggal beberapa waktu, lalu pindah ke arah hulu Nanga Kayan, yaitu di wilayah sungai Kayan. Kemudian mereka pindah lagi ke arah bagian hilir Nanga Mau. Lalu periode berikutnya mereka lalu pindah lagi ke arah hulu Nanga Mau. Dari daerah bagian hulu Nanga Mau, lalu mereka pindah lagi ke arah dekat Nanga Tebidah dan pada akhir perjalanan, mereka menetap di Nanga Tebidah.

tari dan musik Dayak Kayan
Masyarakat suku Kayan menyadari, mereka bukan berasal dari sungai Kayan itu sendiri. Menurut mereka, bahwa mereka berasal dari luar daerah mereka sekarang, ketika para leluhur memasuki wilayah sungai Kayan, yang pada awalnya daerah ini masih belum berpenghuni. 
Ada sebuah pemikiran yang mengatakan bahwa nenek moyang suku Kayan kemungkinan berasal dari daerah Kalimantan Tengah, tepatnya dari daerah sungai Kahayan. Diperkirakan mereka memiliki hubungan dengan suku Dayak Ngaju. Lagi pula bila dilihat dari nama-nama orang Kayan pertama yang membentuk komunitas suku Kayan, nama-nama tersebut mendekati kepada nama-nama dari suku Dayak Ngaju. Sedangkan para peneliti berpendapat, suku Kayan adalah bagian dari rumpun Kenyah-Kayan-Bahau yang berasal dari Sarawak. Pada awalnya ketika memasuki wilayah Kalimantan Timur, mereka menetap di daerah Apau Kayan yang berada di daerah aliran sungai Kayan. Tetapi karena pada saat itu terjadi perang antara suku-suku dayak, mereka pun mencari daerah yang lebih aman, subur dan terisolir. Suku Kayan meninggalkan daerah Apau Kayan yang telah mereka tempati selama 300 tahun. Mereka bermigrasi menuju daerah yang lebih maju agar dapat lebih berkembang kehidupannya. Saat ini mereka menetap di daerah aliran sungai Wahau yang telah dihuni oleh suku Dayak Wehea di kabupaten Kutai Timur terutama di Desa Miau Baru sejak tahun 1969. Diperkirakan pada zaman Kerajaan Kutai Martadipura (Kutai Mulawarman), suku Kayan belum memasuki Kalimantan Timur. Suku Kayan diperkirakan termasuk salah satu suku yang belakangan memasuki pulau Kalimantan, yang diperkirakan berasal dari pulau Formosa (Taiwan).


Suku Dayak Kayan (Apo Kayan), terdiri 10 suku kecil, yaitu: 
  • Uma Pliau 
  • Uma Samuka 
  • Uma Puh 
  • Uma Paku 
  • Uma Bawang 
  • Uma Naving 
  • Uma Lasung 
  • Uma Daru 
  • Uma Juman 
  • Uma Leken 
Sebenarnya selain 10 kecil di atas, ada 3 suku kecil lain yang ditambahkan ke dalam rumpun Kayan (Apo Kayan), yang terdapat di kabupaten Kapuas Hulu provinsi Kalimantan Barat, yaitu:
  • Uma’ Aging
  • Uma’ Pagung
  • Uma’ Suling. 
Tetapi hal ini menjadi perdebatan bagi ke 3 kelompok suku kecil yang berada di sekitar sungai Mendalaam, kabupaten Kapuas Hulu ini, mereka tidak setuju bila dimasukkan ke dalam kelompok Kayan. Mereka lebih suka disebut sebagai kelompok Kayaan. Bagi ke 3 suku kecil ini, penulisan Kayan, tidak menunjukkan kepada diri mereka, karena mereka tidak merasa sebagai Kayan. Jadi mereka adalah Kayaan, bukan Kayan. Mereka menyebut diri mereka sebagai suku Kayaan Mendalam.

gadis-gadis Dayak Kayan
Menurut sejarah suku Kayan, pada sekitar tahun 1863, suku Dayak Iban bermigrasi dan memasuki daerah hulu sungai Saribas dan sungai Rejang, dan menyerang suku Kayan yang berada di daerah hulu sungai. Perang dan serangan pengayauan menyebabkan suku-suku dayak lain juga terusir dari wilayahnya.

Di daerah Empakan terdapat beberapa sandung dan temaduk. Ada juga 12 buah adau’ atau sumur air asin yang bernama Dayang Iyang, Semanuk, Jabai, Gelagas, Pendak, Kenek, Engkabang, Baru, Engkudu, Batu Babi, Rangkupm dan Dapuh.

Orang Dayak Kayan mengenal suatu tradisi lisan seperti kana dan cara menceritakannya disebut bekana. Tradisi ini adalah cerita tentang kepahlawanan dan percintaan yang diceritakan dengan alunan yang khas. Di samping itu juga mereka mengenal kebiasaan begurau di dalam pesta atau sewaktu minum. Selain itu pada suku Kayan juga memiliki beberapa tarian yang selalu mereka tarikan setiap melaksanakan upacara adat, maupun dalam menyambut para tamu. Selain itu seni budaya suku Kayan juga sering ditampilkan di pentas nasional maupun internasional, sehingga suku Kayan beserta budayanya sangat populer di dunia Internasional.

sumber:
  • kebudayaan-dayak.org
  • dayakwithgoldenhair.wordpress.com
  • gambar-foto: pampangsuniaso.wordpress.com
  • gambar-foto: imanueltabab.blogspot.com
  • wikipedia
  • dan sumber lain

Asal Usul Suku Dayak Siang (Mitologi)

Suku Dayak Siang, atau Ot Siang, adalah suatu masyarakat adat suku dayak yang bermukim di kecamatan Tanah Siang kabupaten Murung Raya provinsi Kalimantan Tengah.

Mitologi Asal Usul suku Dayak Siang
Dalam mitologi, sejarah suku Dayak Siang, bahwa suku Dayak Siang diturunkan oleh Ranying Hattala Langit (Tuhan Pencipta) di Puruk Kambang Tanah Siang, di sekitar wilayah desa Oreng kecamatan Tanah Siang Selatan.

Orang pertama dari suku Dayak Siang pertama kali lahir di Lowu Korong Pinang dari pasangan suami-istri Langkit dan Mongei. Lama kelamaan penduduk orang Siang berkembang di Lowu Tomolum (sekarang desa Tamorum), yang merupakan tempat atau perkampungan para sangiang atau para dewa yang luhur dan suci.
Lowu Korong pinang dan lowu Tamolum adalah dua lowu (kampong) dan mempunyai komunikasi budaya dan adat istiadat yang sangat berkembang dan beragam.

Seorang keturunan dari Langkit dan Mongai yang bernama Tingang Ontah, diambil oleh Dewa Dalung serta dibawa ke langit untuk belajar hukum adat, dimana sekarang hukum adat tersebut diberlakukan dan ditaati oleh seluruh keturunan orang Dayak Siang. Inti dari ajaran nya, terutama tentang hubungan manusia dengan sesama dan alam sekitarnya, serta menyelamatkan tempat-tempat yang secara adat dilindungi atau tidak boleh diganggu, seperti: Tajahan/Pahewan, Kaleka, Sepan dan lain-lain. Konservasi kawasan ini juga dapat membantu masyarakat untuk mempertahankan prinsip-prinsip predikat Manusia Garing dan Manusia Tingang, dimana Manusia Garing dan Manusia Tingang, merupakan manusia yang bertugas selaku pengurus lingkungan dalam Garis-garis Besar Belom Bahadat (Norma Kesopanan), yaitu terhadap unsur flora, seperti: Ma`ancak, Manumbal/Manyanggar dan sebagainya, dan juga terhadap unsur fauna, seperti: Mampun/Mahanjean, Ngariau/Ngaruhei, dan hal lain yang menyangkut ritual budaya seperti Tiwah dan lain sebagainya.
Dijelaskan lebih jauh, selaku pengurus lingkungan hidup (bukan penguasa), maka manusia mengurusi 5 (lima) unsur yang terdiri dari:
  • unsur flora dan fauna, 
  • sesama manusia, 
  • para arwah,
  • roh-roh gaib, 
  • makhluk manusia, yang terdiri dari 3 unsur, yaitu: jiwa/sukma bereng (jasad), hambaruan dan salumpuk (roh). 
Oleh karena manusia mengurus ke 5 unsur tersebut, maka prinsip pelayanan sebagai wujud kesopanan, memerlukan ruang dan waktu yang tepat dan sesuai

Ada seorang tokoh bernama Cahawung, terjatuh ponyangnya (jimat) di atas yang berada di hulu sungai Tingon (anak sugai Bantian), yang mana bukit tersebut dinamakan Puruk Batun Ponyang. Di tempat yang sama ada kejadian yang menimpa seorang dewa bernama Oling, tangannya terluka terkena Mandau (senjata khas dayak) dan darahnya tak bisa berhenti keluar, lalu genangan darahnya berubah menjadi Lawang (danau) yang sekarang disebut sebagai Lawang Kelami, yang terletak antara desa Tomolum dan desa Mongkolisoi. Hal tersebut menyebabkan para dewa–dewi yang yang mendiami desa Tomolum pindah ke Lowu Uut Sungoi yang dinamakan sebagai Sungoi Cahai Langit. Sampai sekarang masih terdapat bukti, yaitu sebuah bukit yang dinamakan Keleng Lunjan yang dapat dilihat di Lowu Tokung di bukit Tokung ini bila digali tanahnya akan ditemukan pecahan-pecahan guci.
Lowu Korong Pinang kemudian berkembang dan berpindah ke Lowu Dirung Jumpun, dari sini berpindah lagi ke Lowu Pina Lunuk atau Lowu Olung Owuh, dan pindah lagi ke Lowu Olung Mohoi, kemudian pindah lagi ke lowu Bangan Tawan. Adapun lowu Tomolum juga mengalami beberapa kali perpindahan yaitu ke Lowu Lawang Ulit Bakoi, Siwo, lalu ke Lowu Haju, lalu ke Datah Lahung, lowu Kalang Sisu, lowu Kuhung Apat dan Likun Puan dan kembali lagi ke Datah Lahung.


Asal Usul Suku Dayak Agabag (Mitologi)

suku Dayak Agabag
Suku Dayak Agabag, adalah suatu masyarakat adat suku dayak yang mendiami beberapa kecamatan, yaitu di kecamatan Sembakung, kecamatan Sebuku, kecamatan Lumbis dan sebagian kabupaten Bulungan, seluruhnya berada di kawasan utara Kalimantan Timur.

Mitologi Asal usul suku Dayak Agabag

Menurut mitologi yang hidup dan berkembang pada masyarakat Dayak Agabag. Ada 7 bersaudara yang disebut sebagai Tulu Aga-aka. Menurut mereka Tulu Aga-aka ini, sebagai manusia pertama pada awal mula kehidupan di dunia ini.

Mereka meyakini, bahwa mereka berasal dari suatu zat yang membentuk semua yang ada di dunia ini (Namisi da Tanah). Pada suatu hari 3 dari 7 bersaudara Tulu Aga-aka, yang bernama Yaki Kaligot, Apaling dan Alomod, membuat kesepakatan untuk meninggalkan daerah Agabag untuk mengembara, tetapi Yaki Kaligot memilih bertahan untuk tinggal di daerah Agabag. Yaki Kaligot memiliki ukuran tubuh yang paling tinggi diperkirakan sekitar 20 meter. (tentang manusia raksasa di kalimantan pernah diungkapkan pada suatu situs, pernah ditemukan tulang tengkorak manusia setinggi 20 meter).

Setelah sekian lama hidup menyendiri Yaki Kaligot berencana untuk mencari pendamping hidup. Dalam suatu perjalanan untuk mencari hewan buruan Yaki Kaligot bertemu dengan seorang perempuan yang memiliki tubuh besar juga yang bernama Yadu Kulimbong atau Yadu Boton. Setelah pertemuan ini, merekapun hidup bersama di daerah Agabag. Begitu lama mereka hidup bersama akhirnya Yadu Kulimbong atau Yadu Boton melahirkan anak laki-laki yang diberi nama Pangimong dan anak kedua mereka seorang perempuan yang diberi nama Dala Ety.

Beberapa waktu kemudian Yaki Kaligot pun meninggal (kuburan sekarang masih ada di dekat sungai Sumalumung). Tak berselang lama Yadu Kulimbong pun juga meninggal. Akhirnya tinggal kedua anak mereka yang hidup yang tidak tahu bagaimana mencari makan.

Setelah sekian lama mereka hidup menggantungkan diri pada alam Yaki Pangimong mendapat mimpi, dalam mimpinya Yaki Pangimong disuruh membuka lahan untuk dijadikan ladang. Setelah melakukan pembuatan ladang, sesuai dengan petunjuk mimpinya, ladangpun selesai dikerjakan. Tetapi Yaki Pangimong tidak tahu harus menanam ladangnya dengan tanaman apa. Karena kelelahan Yaki Pangimong pun tertidur, sekali lagi Yaki Pangimong mendapat petunjuk melalui mimpinya. Dalam mimpinya dikatakan bahwa untuk mendapat bibit tanaman yang hendak ditanam di ladangnya, dia harus membunuh adik satu-satunya yang dia cintai. Setelah Yaki Pangimong bangun dari tidurnya Yaki Pangimong sulit untuk melakukan apa yang ada dalam mimpinya.
Hati Yaki Pangimong menjadi gundah dan setelah mempertimbangkan sekian lama, ladang yang di kerjakannya sudah mulai tumbuh ilalang dan rumput. Melihat hal itu, Yaki Pangimong pun memanggil adiknya dan menyuruh dia berbalik. Yaki Pangimong beralasan untuk mencari kutu yang ada di rambut adiknya yang dia sayangi. Adiknya pun mau dan mulailah Yaki Pangimong mencari kutu rambutnya adiknya. Yaki Pangimong sangat sedih, sambil mencari kutu rambut dia meneteskan air mata dan jatuh di bahu adinya, Dala Ety. Adiknya bertanya: (kulo okou aka pantangi sino pokon nasusan nu pinyawomu nu guang daguon mu am balen mu yak dakon), "kenapa kakak menangis kalau memang ada sesuatu, kakak terus terang saja", kata adiknya. Yaki Pangimong pun menjawab, "tidak ada".

Sesudah mereka bercakap-cakap, beberapa saat kemudian mereka diam dan tiba-tiba bumi dan segala isinya menjadi hening dan seakan-akan tidak bergerak. Yaki Pangimong pun berlahan-lahan menguhunuskan sebilah pisau dari punggungnya dan menusuk tulang belikat adiknya. Setelah Yaki Pangimong menusuk adiknya, dia membawa adiknya belari di tengah ladangnya sesuai dengan mimpinya. Darah Dala Ety pun tercecer di tengah ladang, selang beberapa waktu ternyata darah Dala Ety tumbuh menjadi padi, kepalanya jadi labu dan singkatnya seluruh anggota tubuh Dala Ety menjadi tanaman yang ada seperti sekarang ini.

Setelah semuanya itu terjadi Yaki Pangimong pun menyesali perbuatannya dan mulai rindu dengan adiknya, hari-harinya dia lalui dengan penyesalan dan tangis. Suatu ketika dimana padi dimana padi di ladang Yaki Pangimong sudah mulai berbuah Yaki Pangimong tertidur, dalam tidurnya ia bermimpi, dia ditanya: (asagit kou ki di yali mu?), "apakah kamu rindu dengan adikmu?". Yaki Pangimong menjawab "ya". Kemudian dia diperintahkan: "kalau kamu mau adikmu kembali kamu cari diantara padi di ladangmu yang paling subur dan lalu kamu ikat dengan kulit kayu (kulit nu Putuul). Setelah Yaki Pangimong melakukan semua perintah itu, tiba-tiba, sang adik Dala Ety, berdiri dihadapannya. Kakak beradik ini pun hidup bersama kembali

Selang beberapa mereka hidup bersama, perlahan-lahan mulai tumbuh rasa saling membutuhkan diantara mereka berdua. Suatu ketika Yaki Pangimong mengajak adiknya Dala Ety untuk jala-jalan ke hutan mencari buah-buahan karena pada saat itu musim buah. Mereka berjalan dan menelusuri dataran rendah, tiba-tiba mereka berdua melihat secara bersamaan dua ekor tupai sedang melakukan hubungan (Ampaa).

Melihat hal itu ke dua adik kakak itu mempraktekkan apa yang mereka lihat. Setelah melakukan hubungan intim tersebut, tiba-tiba semua tanaman yang mereka tanam menjadi mati seperti habis diserang hama. Mulai saat itu muncullah istilah Asumbang (Sumbang). Perilaku ini merupakan pelanggaran dan aib untuk orang Agabag. Untuk menebus hal itu mereka mereka berdua harus berpisah. Yaki Pangimong harus berlari ke arah terbitnya matahari dan kemudian disusul adiknya. Pada saat Yaki Pangimong lari semua pohon yang dia lewati mati, melihat hal itu adiknya pun menyusul lari ke arah kakaknya. Dengan berlari kencang badan dan kaki Dala Ety luka-luka dan lecet-lecet karena kena batu dan duri. Ternyata pohon yang dilewatinya yang semula mati, hidup kembali karena kena percikan darah Dala Ety (sekarang yang dikenal dawak).

Suatu upacara yang dilakukan untuk mendamaikan dan darah binatang yang korban menjadi simbol kehidupan kemballi. Setelah Dala Ety dapat mengejar Yaki Pangimong mereka kembali berkumpul.

Selang beberapa bulan kumudian Dala Ety melahirkan Yaki Sadol. Yaki Sadol dalam hidupnya memiliki kelebihan (orang sakti). Menurut keyakinan turun temurun dipercayai oleh orang Agabag terdapat bekas kaki Yaki Sadol dimana sekarang dapat yang kita temui di atas batu-batu di wilayah sungai Long Bulu. Batu dan bekas kaki Yaki Sadol masih ada sampai saat ini.

Yaki Sadol memiliki istri bernama Yadu Polod, Yadu Polod berasal dari tumbuhan Polod sendiri. Dalam sejarah Dayak Agabag, mulai pada masa ini lah manusia pertama sekali menggunakan api. Yadu Polod memiliki anjing yang setia, dalam kesehariannya Yadu Polod menelusuri sungai dan pengunungan untuk mencari makanan. Suatu ketika anjingnya ikut dengan Yadu Polod. Dalam perjalanan tiba-tiba anjingnya menggonggong daun. Yadu polod pun melihat dan menghampiri. Ternyata anjingnya menggonggong sehelai daun (orang Dayak Agabag memberi nama pada daun itu, sebagai daun Apa, dan daun apa ini bagi masyarakat suku Dayak Agabag digunakan untuk penyedap rasa).

Setelah itu Yadu Polod melanjutkan perjalanannya, tidak jauh dari tempat semula dia mendapatkan Daun Apa. Anjing mengonggong lagi dan Yadu Polod pun berkata dalam hati apa lagi yang digonggong anjingnya?. Yadu Polod mendatangi dan ternyata yang digonggong anjingnya adalah sebatang pohon. Sambil mengonggong anjingnya mengibaskan kakinya di pohon itu, dimana terdapat lumut yang mirip dengan kapas. Yadu Polod pun mengikisnya dari pohon itu (orang Dayak Agabag menyebutnya sebagai todok). Yadu Polod kemudian mengambil todok, lau melanjutkan perjalanan.

Tidak lama berselang anjingnya menggonggong pohon bambu (orang Dayak Agabag menyebut sebagai tiikan), Yadu Polod mengambilnya juga. Dalam perjalanan pulang anjing Yadu Polod mengonggong lagi kali ini yang digonggong anjingnya adalah batu putih, Yadu Polod pun memungut batu itu. Setelah sampai dirumah Yadu Polod bertanya dalam hatinya apa arti dan apa kegunaan dari semuanya ini?.

Dalam tidurnya, Yadu Polod bermimpi bahwa itu adalah bahan untuk menyalakan api dan daun apa sebagai penyedap rasa. Setelah bangun dari tidurnya Yadu Polod mempraktekkan petunjuk mimipinya ternyata terbukti dan pada saat itu mulailah masyarakat Dayak Agabag mengenal adanya api. Tak lama kemudian Yadu Polod bertemu dengan Yaki Sadol dan Yaki Sadol pun mengambil Yadu Polod sebagai istrinya.

Setelah sekian lama Yaki Sadol hidup bersama dengan Yadu Polod mereka memiliki beberapa anak, salah satunya bernama Yadu Bongon. Yadu bongon hidup bersama Yaki Sadol dan Yadu Polod, berbeda dengan keluarganya yang lain. Setelah kedua orang tuanya meninggal hiduplah Yadu Bongon sebatang kara tak tahu dimana sanak saudaranya yang lain.

Dalam mempertahankan hidupnya Yadu Bongon selalu mencari udang di sungai kecil. Suatu ketika Yadu Bongon mendapat udang sungai yang lebih besar dari biasanya gampasan. Yadu Bongon pun melihatnya, lama kelamaan tempat Yadu Bongon memelihara Gampasan tersebut tidak muat lagi, maka Yadu Bongon pun melepasakan gampasan tersebut ke sungai dan setiap hari diberi makan. Suatu saat gampasan itu bertarung dengan buaya, dan mengalami luka yang serius dimana buaya kalah dan lari sementara Gampasan naik kepingir sungai dan mati. Setelah Yadu Bongon mengetahui hal itu, dia sangat sedih, setiap hari Yadu Bongon menangis.

Pada suatu saat Yadu Bongon bermimpi, dimana dia harus mengumpulkan tulang Gampasan tesebut dan memasukkannya ke dalam tempayan (sampah ogong). Tempayan itu diletakkan di atas kayu lalu dibakar. Setelah bagun dari tidurnya Yadu Bongon langsung melaksanakan yang terdapat dalam mimpinya. Pada saat tengah membakar, tempayan tempat tulang Gampasan dimasukkan Tempayan itu pecah dan pada saat yang bersamaan berdirilah seorang laki-laki yang muda, kekar dan Yadu Bongon memberi nama pada laki-laki itu Yaki Maningan. Setelah hidup bersama sekian lama mereka memiliki banyak anak, Yaki Maningan dan Yadu Bongon memiliki umur panjang. Pada zaman kejayaan Yaki Maningan banyak tantangan yang dihadapinya, mulai dari pemusnahan Tanyiouw (mahluk raksasa pemakan manusia), Piak (sejenis naga), Kanji dan Kudong (penyakit kusta). Sejak zaman kudong ini, anak cucunya Yaki Maningan terpencar ke pegunungan dan hulu-hulu sungai karena masing-masing mau menyelamatkan diri. Mulai zaman ini terjadi penyebaran masyarakat adat Dayak Agabag ke daerah pengunungan, dimana pada masa itu cara mempertahankan hidup dilakukan dengan berpindah-pindah dari satu pegunungan ke pegunungan lain, dari sungai yang satu ke sungai lain dan dari daratan satu ke daratan lainnya. Setelah terpisah dalam waktu yang lama Dayak Agabag terjebak pada tahap mengayau (agaayoua). Pada masa ini hiduplah beberapa orang pemberani (Ulun Masioog) diantaranya mulai dari Yaki Bumbulis, Yaki Sukat Balungkung, Kalamuku Nansyak, Yaki Pangkayungon, Yaki Linggit, Yaki Lumbis, Buayo Putut, dan banyak lagi Ulun Masioog lainnya yang tersebar di seluruh sungai yang ada di Lumbis, Sembakung dan Sebuku dan sungai Sadimulut, bahkan sampai di Linuang Kayam, Tanah Lia da Liu Gau.

Pada masa kini (Agayou) orang pemberani (Ulun Masioog) yang menegakkan Hukum Adat, dimana Ulun Masioog disegani oleh masyarakat yang lain. Untuk menyandang gelar Ulun Masioog pada masa itu tidak semudah kita bayangkan. Hal itu di ukur dari banyaknya kepala manusia yang pernah dipenggal, apabila terdapat seorang yang paling banyak memperoleh kepala, maka dialah menjadi penguasa dan menegakkan Hukum Adat pada komunitasnya.

Pada zaman penjajahan belanda hidup beberapa orang pemberani (Ulun Masioog), seperti Pangeran Taali, Pangeran Luayang dan banyak lagi lainnya. Pada saat ini terjadi gejolak dimana Pangeran Taali membunuh serdadu Belanda di Mansalong dan membagi-bagikan bagian tubuh serdadu Belanda ini kepada masyarakat kampung yang lain untuk dimakan. Akibat perbuatannya itu Pangeran Taali ditangkap.

Pada masa Kesultanan Bulungan, wilayah Dayak Agabag saat itu berada di bawah kekuasaan pemerintahan Kesultanan Bulungan. Cara yang digunakan oleh Sultan Bulungan untuk menguasai Dayak Agabag, adalah dengan mengangkat Pangeran Taali dan Pangeran Luayang menjadi Pangeran di Kesultanan Bulungan, sehingga dengan bergabungnya dua tokoh Dayak Agabag ini ke dalam lingkungan Kesultanan Bulungan, maka suku Dayak Agabag pun berada di bawah kekuasaan Kesultanan Bulungan, hal ini berlangsung hingga tahun 1947-an.

Setelah Kesultanan Bulungan melebur ke Negara Kesatuan Indonesia, masyarakat suku Dayak Agabag secara otomatis tergabung di dalamnya. Pada dekade 1970-an, konon istilah "Agabag", pada suku Dayak Agabag diberi nama oleh para pendatang suku Dayak Tenggalan. Kata "Agabag", dikatakan berasal dari kata "Abag" (cawat) dalam bahasa Tenggalan, tetapi kalau dikaji secara mendalam kata "Agabag", sudah lama ada pada bahasa Dayak Agabag, sebelum hadirnya suku Dayak Tenggalan.

Beberapa orang dari generasi Dayak Agabag melakukan pengkajian secara mendalam terhadap suku yang disebut Tenggalan/ Tengalan dan ternyata nama ini muncul pada dekade 1970-an dan tidak memiliki ikatan psikologis, sosial dan kultural terhadap suku Dayak Agabag. Untuk menggali kembali sejarah ini yang sempat hilang ini maka digelarkan acara adat yang dihadiri oleh seluruh masyarakat dan Tokoh-Tokoh adat Dayak Agabag yang disebut dengan ILAU. Dalam Ilau tersebut tergalilah keberadaan suku Dayak Agabag secara mendalam.


sumber:
  • armhando.com
  • dayakpost.com
  • wong168.wordpress.com
  • wikipedia
  • dan sumber lain

Suku Dayak De'sa

acara adat
suku Dayak De'sa
Suku Dayak De'sa, adalah suatu masyarakat adat yang mendiami 7 kecamatan di kabupaten Sekadau provinsi Kalimantan Barat, yaitu di kecamatan Sintang, kecamatan Kelam Permai, kecamatan Binjai Hulu, kecamatan Dedai, kecamatan Sungai Tebelian, kecamatan Sepauk dan kecamatan Tempunak.

Suku Dayak De'sa, dikelompokkan ke dalam rumpun Dayak Iban. Dari sejarah dan cerita turun temurun mereka terdapat kemiripan tentang cerita nenek moyang antara suku Dayak De'sa dengan suku Dayak Iban.

gadis suku Dayak De'sa
Masyarakat suku Dayak De'sa masih tinggal di Rumah Betang atau Rumah Panjang. Untuk tinggal di Rumah Betang semuanya diatur berdasarkan musyawarah. Biasanya pada Rumah Betang ini bisa terdapat sampai 33 kepala keluarga.

Masyarakat suku Dayak De'sa, walaupun dulunya adalah penganut kepercayaan yang mengandung unsur animisme dan dinamisme, tetapi saat ini mayoritas dari mereka memeluk agama Kristen. Hanya sebagian kecil yang masih mengamalkan agama kepercayaan asli mereka, itupun tinggal orang-orang tua yang lanjut usia saja.

Suku Dayak De'sa, di wilayah ini hidup berdampingan dengan suku Dayak Ketungau, suku Dayak Senganan dan suku Dayak Mualang. Perkampungan pada Rumah Betang suku Dayak De'sa, walaupun berada di tempat yang terasing dan terpencil di pedalaman, tetapi uniknya bisa dikatakan mereka sudah menerima hal-hal modern dari luar, seperti sudah memiliki generator pembangkit listrik (genset), televisi, radio bahkan parabola.

Suku Dayak De'sa memiliki beberapa tradisi budaya seperti:
  • Kana, merupakan suatu bagian dari tradisi lisan berbentuk cerita lirik, semacam syair panjang yang dituturkan oleh orang tertentu yang telah memiliki ketentuan (misalnya; usia, keturunan dan tentu juga keahlian).
  • Kanduok, suatu cerita berstruktur yang setengah dilagukan, biasanya mengenai riwayat-riwayat para tokoh-tokoh mitologi, seperti Kelieng, Kumang, dll.
  • Enselan, adalah bagian dari sebuah kegiatan upacara adat yang biasa dilakukan dalam kelompok masyarakat ini. Semacam mantra yang telah baku untuk memohon berkat kepada Sang Pemilik Kekuasaan mutlak.
  • Timang Muanyik, sejenis mantra yang hanya dibacakan ketika akan mengambil lebah madu. Dengan mantra ini, mereka yang ditugaskan mengambil madu di pohon akan dapat terhindar dari sengatan lebah.
  • Ngerenung, adalah bagian dari upacara adat dalam masyarakat Dayak De'sa, namun hampir tak pernah dilakukan lagi karena sudah langka dan sangat sulit untuk menemukan penutur atau penyaji ritualnya.
gadis-gadis Dayak Desa
sedang menari
Mata pencaharian utama suku Dayak De'sa, adalah pada bidang pertanian sederhana, yaitu beuma (berladang) di perbukitan dan payak, menyadap karet. Selain itu mereka juga berburu binatang liar di hutan, menangkap ikan di sungai-sungai yang melintas dekat pemukiman, memelihara hewan ternak seperti sapi, ayam dan babi, serta memelihara ikan di kolam. Sedangkan para perempuan akan menenun, yang nanti hasil tenunannya akan diperdagangkan di kalangan sendiri maupun ke masyarakat dayak di luar komunitas mereka.

sumber:
  • joshuaproject.com
  • agustinusmualang.blogspot.com
  • wisnupamungkas.wordpress.com
  • huma.or.id
  • gambar-foto: tenunikat.blogspot.com
  • gambar-foto: masbowi.wordpress.com
  • gambar-foto: travel.detik.com
  • wikipedia
  • dan sumber lain

Rumpun Dayak Punan

Rumpun Dayak Punan, adalah beberapa kelompok suku dayak yang sebagian besar masih mempertahankan hidup seperti yang dilakukan oleh nenek moyang mereka, yaitu hidup secara terasing dan primitif. Beberapa dari komunitas suku kecil Dayak Punan kian tahun kian menurun cenderung menuju kepunahan. Walau telah hidup berabad-abad, mereka tetap tak berubah dengan pola adat-istiadat dari leluhur yang mereka percaya. Beberapa kelompok suku dayak dari rumpun Dayak Punan, telah ada yang hidup lebih baik dan bisa berbaur dengan kelompok masyarakat dayak lainnya. Suku-suku dayak yang termasuk dalam Rumpun Dayak Punan tersebar mulai dari Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur hingga ke wilayah Malaysia, yaitu di Sabah dan Sarawak.

Rumpun Punan, adalah:
  • Punan Busang
  • Punan Penihing (Punan Aoheng)
  • Punan Batu
  • Punan Sajau
  • Punan Hovongan
  • Punan Uheng Kereho (Ot Nyawong) 
  • Punan Seputan (Dayak Seputan)
  • Punan Aput
  • Punan Merap
  • Punan Tubu
  • Punan Bukat (Dayak Bukat)
  • Punan Habongkot
  • Punan Panyawung (Ot Penyaung)
  • Punan Malinau
  • Punan Binai
  • Punan Mahkam
  • Punan Murung
  • Punan Merah (Ot Siau), 
  • Punan Serata
  • Punan Langasa
  • Punan Nya'an
  • Punan Ukit (Dayak Bukitan, Dayak Beketan)
  • Punan Lisum
  • Punan Kelay-Segah  
  • Punan Bah
  • Punan Batu 1
  • Punan Belahun (Punan Berun) 
  • Punan Lejuh
  • Punan Sama
  • Punan Biau
  • Punan Meluyou
  • Punan Lirung Belang
  • Punan Mina
  • Punan Pedan
  • Punan Lo'o Buong
  • Penan

gambar-foto
  • foto by: vivaborneo.blogspot.com