Showing posts with label Kalimantan Tengah. Show all posts
Showing posts with label Kalimantan Tengah. Show all posts

Suku Dayak Dohoi


Suku Dayak Dohoi, merupakan salah satu dari sekian banyak suku Dayak yang ada di Kalimantan Barat yang mendiami wilayah sekitar perbatasan Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah. Populasi suku Dayak Dohoi ini lebih dari 100.000 orang.

Menurut pengelompokan dalam suku Dayak, suku Dayak Dohoi dimasukkan ke dalam sub suku Dayak Ot Danum. Pemukiman terbesar suku Dayak Dohoi adalah di kecamatan Ambalau dengan populasi lebih dari 14.500 orang menurut sensus tahun 1988. Di mana di wilayah ini suku Dayak Dohoi menjadi mayoritas. Tetangga mereka di wilayah ini adalah suku Dayak Kadorih.

Di masa lalu orang Dayak Dohoi terkenal logas, tohpas hohot, dan nyolung osak dahak ah. Logas berarti "mudah naik darah", tohpas lohot berarti "tidak ragu-ragu kalau mengambil keputusan untuk membunuh", dan nyolung osak dahak berarti "orang yang tidak mengenal rasa takut sedikit pun". Pada masa lalu suku Dayak Dohoi memiliki perilaku sangat keras. Mereka punya prinsip, sekali ahpang yaitu "mandau terhunus", maka pantang disarungkan sebelum minum darah manusia. Karena wataknya itulah maka oleh orang dayak lainnya yang berada di sekitar daerah itu menamakan mereka sebagai Dohoi, untuk menyatakan bahwa "mereka ini adalah orang yang logas, tohpas lohot, dan nyolung osak dahak ah".

Masyarakat suku Dohoi berbicara menggunakan bahasa Dohoi yang termasuk rumpun bahasa Barito.

Setiap desa pemukiman suku Dayak Dohoi dihuni antara 100-400 orang. Tanah di sekeliling setiap desa (sekitar 2 - 3 km jauhnya) dianggap sebagai tanah milik desa. Setiap penduduk desa berhak menjual tanahnya bila dikehendaki, tetapi hanya kepada sesama penduduk desa. Tanah yang tetap kosong selama lebih dari 5 tahun bisa dimiliki oleh siapa saja di desa itu.

Suku Dohoi kadang disebut juga sebagai suku Ot Danum. Istilah "ot danum" memiliki arti "orang-orang yang tinggal di wilayah di sepanjang sungai". Pemukiman mereka membentang dari sungai Melawi sampai sungai Barito. Pemukiman mereka terletak di daerah terpencil di pedalaman, sehingga untuk mencapai pemukiman suku Dohoi ini bisa memakan waktu berhari-hari dengan menggunakan perahu melalui sungai Lamandau.

Pernikahan di antara saudara sepupu lebih disukai di antara suku Dohoi. Bila telah tercapai persetujuan (kesepakatan) oleh orang tua pasangan, keluarga mempelai laki-laki memberikan hadiah secara simbolis kepada keluarga mempelai wanita. Pemberian kedua diberikan ketika pertunangan diumumkan. Sesudah pernikahan dilangsungkan, dilakukan pembayaran kepada pengantin wanita.

Orang Dohoi sebagian besar adalah penganut animisme (percaya bahwa setiap benda memiliki roh) dan polytheisme (menyembah banyak dewa). Tapi pada dasarnya praktek keagamaan mereka berkisar di antara dua dewa, yang satu dilambangkan dengan Burung Enggang dan Ular air.
Upacara-upacara keagamaan bisa berupa acara-acara sederhana maupun pesta-pesta yang lama. Penduduk meminta bantuan Shaman (dukun) untuk mengobati penyakit mereka, yang dalam prakteknya seringkali kerasukan.

Mata pencaharian orang Dohoi adalah bercocok tanam di ladang. Mereka biasanya menumbuk padi pada malam hari, setelah seharian bekerja di ladang. Suara tumbukan bertalu-talu ini disambut dengan gembira gelak tawa di setiap hampir rumah tangga. Inilah keunikan suku Dohoi. Hasil panen disimpan pada tempat khusus yang disebut jorong, yaitu rumah yang terbuat dari satu tiang guna menghindari tikus. Rumah mereka berbentuk persegi panjang dan didirikan sekitar 2 - 5 m di atas tanah dengan tiang-tiang kayu (rumah panggung) dengan tangga bertingkat. Anjing, babi, dan ayam merupakan hewan peliharaan mereka. Mereka juga memelihara sapi untuk disembelih pada perayaan-perayaan besar. Orang Dohoi juga terkenal dalam kerajinan topi dan keranjang. Di luar kegiatan tersebut mereka juga kerap berburu ke hutan-hutan sekitar perkampungan mereka.

sumber:

Suku Dayak Belantikan

acara adat suku Dayak Belantikan
Suku Dayak Belantikan, adalah suatu masyarakat adat dari suku dayak yang bermukim di kampung Sungkup di provinsi Kalimantan Tengah.

Suku Dayak Belantikan menurut pendapat para peneliti diduga awalnya berasal dari pulau Sumatra. Kehadiran mereka di pulau Kalimantan ini bersama-sama suku Dayak Delang dan Batang Kawa yang bermigrasi ke Kalimantan.

Pada masa dahulunya di Sumatra sedang terjadi tekanan dari pemerintahan Kerajaan Sriwijaya, yang mendesak suku-suku yang menetap di pesisir pantai. Sebagian lari ke hutan pedalaman, sedangkan nenek moyang suku Belantikan lebih memilih menghindar melalui laut, dan menyeberang sampai ke pulau Kalimantan. Pelarian suku Dayak Belantikan diikuti oleh suku Delang dan suku Batangkawa. 
Ada pemikiran bahwa dahulunya suku Dayak Belantikan, Dayak Delang dan Batangkawa, adalah berasal dari nenek moyang yang sama. Ketika mereka melakukan migrasi ke Kalimantan, mereka adalah satu kelompok, tetapi setelah sekian lama menetap di tempat yang baru, dua kelompok memisahkan diri dan membentuk komunitas sendiri. Ke-3 kelompok ini telah terpisah oleh jarak yang jauh untuk waktu yang lama, dan terbentuklah 3 suku yang berbeda, yaitu suku Dayak Belantikan, Dayak Delang dan Dayak Batangkawa.

Masyarakat suku Dayak Belantikan, adalah masyarakat yang ramah dan terbuka terhadap komunitas suku dayak lain. Saat ini banyak dari mereka yang telah berbaur dengan masyarakat lain, tetapi mereka tetap kokoh menjaga dan mempertahankan budaya serta adat-istiadat mereka dengan baik.

Suku Dayak Belantikan, sebagian besar hidup dengan pola pertanian berladang, memanfaatkan hutan untuk sumber daya hidup mereka, seperti berburu, mengumpulkan rotan serta menyadap getah karet. Selain itu mereka juga menangkap ikan di sungai-sungai yang melintas dekat perkampungan mereka.
Saat ini kehidupan suku Dayak Belantikan sudah lebih maju. Beberapa dari mereka telah bekerja di sektor pemerintah dan swasta.

diolah dari berbagai sumber

gambar-foto: orangutanfoundation.wildlifedirect.org

Suku Dayak Bawo

suku Dayak Bawo
Suku Dayak Bawo, hidup dan bermukim di kabupaten Barito Selatan, berada di kecamatan Gunung Bintang Awai di desa Patas, dekat dengan Buntok (ibukota kabupaten Barito Selatan). Perkampungan suku Bawi ini masih terlihat rumah-rumah panggung yang dilengkapi perlengkapan upacara keagamaan dan perlengkapan tradisional masyarakat setempat. Selain di daerah kabupaten Barito Selatan provinsi Kalimantan Tengah, suku Dayak Bawo juga ditemukan di kabupaten Kutai provinsi Kalimantan Timur.

Suku Dayak Bawo, populasinya tidak banyak, sebagian besar menetap di hulu sungai Ayuh dan di kaki pegunungan Muller-Schwaner di daerah perbatasan provinsi KalimantanTengah dan Kalimantan Timur.

Suku Dayak Bawo pernah memiliki sebuah kerajaan yang bernama Kerajaan Gunung Bawo, sekitar tahun 1700 Masehi. Kerajaan Gunung Bawo ini dipimpin oleh seorang kepala suku yang bergelar Tambuang. Gelar ini dapat diberikan kepada orang Dayak Bawo, apabila memiliki sifat kepemimpinan yang baik, berwibawa, kesaktian tinggi, kehidupan di atas rata-rata, dan memiliki hubungan darah dari Tambuang sebelum-sebelumnya.
Kerajaan Gunung Bawo dibubarkan oleh Belanda yang ingin mengusai kerajaan Gunung Bawo, tetapi rakyatnya menentang, sehingga masyarakat Bawo meninggalkan kerajaan Gunung Bawo. Sebagian besar menetap di sungai Ayuh dan kaki pegunungan Muller dan Schwaner.

Suku Bawo saat ini masih mempertahankan agama nenek moyang mereka, yaitu agama Kaharingan, tetapi beberapa dari mereka telah memeluk agama Kristen.

Balian, adalah semacam dukun tapi bukan dalam arti dukun sebenarnya. Pengobatan dan perawatan bagi anggota suku Dayak Bawo yang sakit akan dilaksanakan secara sukarela dan kekeluargaan oleh sang Balian ini. Balian adalah seseorang yang mengetahui cara pengobatan berdasarkan obat-obatan alami yang didapat dari alam, diserta mantra-mantra ampuh yang sebagian besar memang dapat disembuhkan oleh sang Balian.

Suku Dayak Bawo, berhubungan dengan masyarakat dayak lainnya hanya melalui jalur sungai. Dalam perjalanan menuju perkampungan suku dayak lain, melalui sungai akan ditempuh selama berhari-hari.

Masyarakat Dayak Bawo hidup secara tradisional, dengan pola pertanian berladang berpindah, mencari hasil hutan seperti rotan, damar. Tapi saat ini mereka mulai menanam pohon karet untuk mendapatkan getah karet. Sejak mendapat hasil dari getah pohon karet inilah, kebiasaan lama yang berladang berpindah mulai ditinggalkan oleh mereka.

sumber:

  • Gimong Awan (Pemerhati Budaya Dayak Kalimantan Tengah)
  • gambar-foto: boykomar.multiply.com
  • wikipedia
  • dan sumber lain

Asal Usul Suku Dayak Siang (Mitologi)

Suku Dayak Siang, atau Ot Siang, adalah suatu masyarakat adat suku dayak yang bermukim di kecamatan Tanah Siang kabupaten Murung Raya provinsi Kalimantan Tengah.

Mitologi Asal Usul suku Dayak Siang
Dalam mitologi, sejarah suku Dayak Siang, bahwa suku Dayak Siang diturunkan oleh Ranying Hattala Langit (Tuhan Pencipta) di Puruk Kambang Tanah Siang, di sekitar wilayah desa Oreng kecamatan Tanah Siang Selatan.

Orang pertama dari suku Dayak Siang pertama kali lahir di Lowu Korong Pinang dari pasangan suami-istri Langkit dan Mongei. Lama kelamaan penduduk orang Siang berkembang di Lowu Tomolum (sekarang desa Tamorum), yang merupakan tempat atau perkampungan para sangiang atau para dewa yang luhur dan suci.
Lowu Korong pinang dan lowu Tamolum adalah dua lowu (kampong) dan mempunyai komunikasi budaya dan adat istiadat yang sangat berkembang dan beragam.

Seorang keturunan dari Langkit dan Mongai yang bernama Tingang Ontah, diambil oleh Dewa Dalung serta dibawa ke langit untuk belajar hukum adat, dimana sekarang hukum adat tersebut diberlakukan dan ditaati oleh seluruh keturunan orang Dayak Siang. Inti dari ajaran nya, terutama tentang hubungan manusia dengan sesama dan alam sekitarnya, serta menyelamatkan tempat-tempat yang secara adat dilindungi atau tidak boleh diganggu, seperti: Tajahan/Pahewan, Kaleka, Sepan dan lain-lain. Konservasi kawasan ini juga dapat membantu masyarakat untuk mempertahankan prinsip-prinsip predikat Manusia Garing dan Manusia Tingang, dimana Manusia Garing dan Manusia Tingang, merupakan manusia yang bertugas selaku pengurus lingkungan dalam Garis-garis Besar Belom Bahadat (Norma Kesopanan), yaitu terhadap unsur flora, seperti: Ma`ancak, Manumbal/Manyanggar dan sebagainya, dan juga terhadap unsur fauna, seperti: Mampun/Mahanjean, Ngariau/Ngaruhei, dan hal lain yang menyangkut ritual budaya seperti Tiwah dan lain sebagainya.
Dijelaskan lebih jauh, selaku pengurus lingkungan hidup (bukan penguasa), maka manusia mengurusi 5 (lima) unsur yang terdiri dari:
  • unsur flora dan fauna, 
  • sesama manusia, 
  • para arwah,
  • roh-roh gaib, 
  • makhluk manusia, yang terdiri dari 3 unsur, yaitu: jiwa/sukma bereng (jasad), hambaruan dan salumpuk (roh). 
Oleh karena manusia mengurus ke 5 unsur tersebut, maka prinsip pelayanan sebagai wujud kesopanan, memerlukan ruang dan waktu yang tepat dan sesuai

Ada seorang tokoh bernama Cahawung, terjatuh ponyangnya (jimat) di atas yang berada di hulu sungai Tingon (anak sugai Bantian), yang mana bukit tersebut dinamakan Puruk Batun Ponyang. Di tempat yang sama ada kejadian yang menimpa seorang dewa bernama Oling, tangannya terluka terkena Mandau (senjata khas dayak) dan darahnya tak bisa berhenti keluar, lalu genangan darahnya berubah menjadi Lawang (danau) yang sekarang disebut sebagai Lawang Kelami, yang terletak antara desa Tomolum dan desa Mongkolisoi. Hal tersebut menyebabkan para dewa–dewi yang yang mendiami desa Tomolum pindah ke Lowu Uut Sungoi yang dinamakan sebagai Sungoi Cahai Langit. Sampai sekarang masih terdapat bukti, yaitu sebuah bukit yang dinamakan Keleng Lunjan yang dapat dilihat di Lowu Tokung di bukit Tokung ini bila digali tanahnya akan ditemukan pecahan-pecahan guci.
Lowu Korong Pinang kemudian berkembang dan berpindah ke Lowu Dirung Jumpun, dari sini berpindah lagi ke Lowu Pina Lunuk atau Lowu Olung Owuh, dan pindah lagi ke Lowu Olung Mohoi, kemudian pindah lagi ke lowu Bangan Tawan. Adapun lowu Tomolum juga mengalami beberapa kali perpindahan yaitu ke Lowu Lawang Ulit Bakoi, Siwo, lalu ke Lowu Haju, lalu ke Datah Lahung, lowu Kalang Sisu, lowu Kuhung Apat dan Likun Puan dan kembali lagi ke Datah Lahung.


Rumpun Dayak Punan

Rumpun Dayak Punan, adalah beberapa kelompok suku dayak yang sebagian besar masih mempertahankan hidup seperti yang dilakukan oleh nenek moyang mereka, yaitu hidup secara terasing dan primitif. Beberapa dari komunitas suku kecil Dayak Punan kian tahun kian menurun cenderung menuju kepunahan. Walau telah hidup berabad-abad, mereka tetap tak berubah dengan pola adat-istiadat dari leluhur yang mereka percaya. Beberapa kelompok suku dayak dari rumpun Dayak Punan, telah ada yang hidup lebih baik dan bisa berbaur dengan kelompok masyarakat dayak lainnya. Suku-suku dayak yang termasuk dalam Rumpun Dayak Punan tersebar mulai dari Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur hingga ke wilayah Malaysia, yaitu di Sabah dan Sarawak.

Rumpun Punan, adalah:
  • Punan Busang
  • Punan Penihing (Punan Aoheng)
  • Punan Batu
  • Punan Sajau
  • Punan Hovongan
  • Punan Uheng Kereho (Ot Nyawong) 
  • Punan Seputan (Dayak Seputan)
  • Punan Aput
  • Punan Merap
  • Punan Tubu
  • Punan Bukat (Dayak Bukat)
  • Punan Habongkot
  • Punan Panyawung (Ot Penyaung)
  • Punan Malinau
  • Punan Binai
  • Punan Mahkam
  • Punan Murung
  • Punan Merah (Ot Siau), 
  • Punan Serata
  • Punan Langasa
  • Punan Nya'an
  • Punan Ukit (Dayak Bukitan, Dayak Beketan)
  • Punan Lisum
  • Punan Kelay-Segah  
  • Punan Bah
  • Punan Batu 1
  • Punan Belahun (Punan Berun) 
  • Punan Lejuh
  • Punan Sama
  • Punan Biau
  • Punan Meluyou
  • Punan Lirung Belang
  • Punan Mina
  • Punan Pedan
  • Punan Lo'o Buong
  • Penan

gambar-foto: 
  • foto by: vivaborneo.blogspot.com

Suku Dayak Punan Panyawung (Ot Penyaung)

Suku Dayak Punan Panyawung, atau Ot Penyaung, adalah satu komunitas masyarakat dayak yang hidup dan bermukim di daerah Tumbang Jojang hulu sungai Busang provinsi Kalimantan Tengah dekat dengan sungai Mahakam.

Suku Dayak Punan Panyawung, dikelompokkan ke dalam rumpun Punan. Suku Dayak Punan Panyawung tidak berhubungan kerabat apapun dengan suku-suku dayak yang dikelompokkan ke dalam rumpun Punan. Istilah "punan", kemungkinan dulunya ditujukan kepada kelompok dayak yang masih mempertahankan gaya hidup seperti yang dilakukan oleh nenek moyang mereka atau gaya hidup yang hampir primitif.

Kehidupan masyarakat suku Dayak Punan Panyawung seperti orang Ot Siau (Punan Kaki Merah) diperkirakan sampai saat ini masih hidup terasing di pedalaman. Mereka sengaja menghindar dari kelompok komunitas suku-suku lain yang mereka anggap bisa membawa bencana bagi mereka. Sehingga sampai saat ini mereka gampang curiga terhadap kehadiran orang asing yang melintas dekat pemukiman mereka.

Pada tahun 1915 sampai tahun 1916, seorang Norwegia bernama Carl Lumholtz, melakukan ekspedisi Barito-Muller-Mahakam (1915-1916). Dalam ekspedisinya, memasuki hutan pedalaman Kalimantan yang masih asli. Carl Lumholtz, bertemu dengan sekelompok orang yang hidup di tengah hutan pedalaman, yang disebut sebagai suku Dayak Panyawung.

Mata pencaharian mereka masih tradisional selaras dengan alam, berburu, dan sebagai nomaden yang bergerak dari satu daerah ke daerah lain. Mereka tidak memiliki pemukiman tetap. Mereka mematuhi keyakinan agama asli mereka yang memiliki unsur campuran animisme dan dinamisme.

sumber:
  • joshuaproject.net
  • word-dialect.blogspot.com
  • (vb-01/Marko Mahin: Dosen Agama dan Budaya Dayak di Sekolah Tinggi Teologi Gereja Kalimantan Evangelis Banjarmasin dan Peneliti di Lembaga Studi Dayak-21)
  • benuadayak.blogspot.com
  • oranghutantours.com
  • wikipedia
  • dan sumber lain

Suku Dayak Punan Murung

gadis suku Dayak Punan Murung
Suku Dayak Punan Murung, adalah suatu komunitas masyarakat yang berada di kabupaten Murung Raya provinsi Kalimantan Tengah. Masyarakat suku Dayak Punan Murung ini tersebar di 3 kampung, yaitu kampung Tumbang Topus, Tumbang Karamu dan Tumbang Tujang, ketiga kampung ini berada di bagian hulu sungai Barito.

Masyarakat dayak yang tersebar di kabupaten Murung Raya, hampir seluruhnya adalah bagian dari rumpun rumpun Ot Danum, kecuali suku Dayak Punan Murung ini berbeda sendiri dengan yang lainnya, karena mereka adalah bagian dari rumpun Punan. Secara asal usul, mereka adalah keturunan dari orang Punan, yang kini bermukim di wilayah hulu sungai Barito, yang berada di kabupaten Murung Raya. Oleh karena itu mereka disebut sebagai suku Dayak Punan Murung.

Suku Dayak Punan Murung yang hidup di kabupaten Murung Raya ini hidup di antara suku-suku dayak yang berada dalam satu rumpun Ot Danum. Oleh karena itu sangat mempengaruhi budaya dan adat-istiadat suku Dayak Punan Murung, sehingga di tempat ini mereka mengikuti dan menjalankan segala bentuk ritual dan adat-istiadat rumpun Ot Danum. Budaya suku Dayak Punan, yang tetap mereka pertahankan adalah tinggal bahasa Dayak Punan saja. Selain itu banyak juga terjadi kawin-campur antara orang Dayak Punan Murung dengan suku-suku dayak lainnya. Hal ini menyebabkan keaslian suku Dayak Punan di wilayah ini agak berkurang, tetapi walaupun begitu, mereka dengan tegas tetap mengakui bahwa mereka adalah suku Dayak Punan, atau tepatnya suku Dayak Punan Murung.

Seperti kebanyakan suku-suku dayak lainnya di kabupaten Murung Raya, kehidupan sehari-hari mereka dalam bertahan hidup adalah pada bidang pertanian berladang, serta memanfaatkan segala hasil hutan, seperti mencari rotan, berburu binatang liar, dan menangkap ikan di sungai-sungai yang melintas dekat pemukiman mereka. Belum banyak dari masyarakat suku Dayak Punan Murung yang bekerja di sektor pemerintahan, maupun swasta, karena sebagian besar dari mereka tetap teguh dengan tradisi lama nenek moyang mereka, yakni hidup dengan alam.

sumber:
  • benuadayak.blogspot.com
  • gambar-foto: vivaborneo.blogspot.com
  • wikipedia
  • dan sumber lain

Suku Dayak Punan Merah (Ot Siau)

Suku Dayak Punan Merah (Ot Siau), disebut juga sebagai Punan Kaki Merah, adalah satu dari beberapa suku pedalaman yang masih mempertahankan cara hidup yang sangat sederhana, malah bisa dikatakan nyaris primitif. Suku Ot Siau ini sangat misterius, karena berita tentang keberadaannya hanyalah berdasarkan penuturan masyarakat dayak lain yang mengatakan pernah bertemu dengan suku Dayak Punan Merah ini. Suku Dayak Punan Merah ini memiliki ciri unik, yaitu tangan dan kaki berwarna merah. Sebutan lain untuk suku Dayak Punan Merah ini adalah suku Ot Siau. Mungkin diberi nama Siau karena tangan dan kakinya mirip dengan kaki burung Siau.

Beberapa kelompok suku Punan yang sudah berbaur dengan masyarakat lain, seperti Punan Murung, yang berada di Barito Hulu, mengatakan bahwa mereka tidak pernah bertemu langsung dengan suku Dayak Ot Siau, hanya sekedar mendengar cerita dari mulut ke mulut saja mengenai keberadaan suku Dayak Ot Siau ini. Tetapi mereka yakin, bahwa keberadaan suku Dayak Ot Siau atau suku Dayak Punan Merah ini bermukim di sekitar hulu sungai Borak.

Suku Ot Siau yang hidup mengembara di hutan pedalaman, disebut sebagai orang Punan "asli", yang hidup di rimba belantara dan di dalam goa-goa yang gelap. Kaki dan tangan mereka diwarnai merah dengan daun saronang atau jarenang. Seluruh tubuh mereka dilapis dengan sejenis jamur yang mengandung fosfor sehingga tampak menyala di kegelapan. Oleh karena itu juga suku Dayak Ot Siau ini mendapat sebutan sebagai suku Dayak Punan Merah atau Punan Kaki Merah.

Beberapa orangtua dari masyarakat dayak lain, hanya mengatakan pernah melihat jejak kaki, tetapi tidak pernah melihat orangnya. Menurut mereka, hal itu terjadi karena orang Ot Siau memiliki kata lamunan, semacam mantra sakti untuk menghilangkan diri di balik daun.

sumber:
  • (vb-01/Marko Mahin: Dosen Agama dan Budaya Dayak di Sekolah Tinggi Teologi Gereja Kalimantan Evangelis Banjarmasin dan Peneliti di Lembaga Studi Dayak-21)
  • benuadayak.blogspot.com
  • wikipedia
  • dan sumber lain

Suku Dayak Punan

laki-laki dayak Punan
Suku Dayak Punan, adalah satu dari banyak suku dayak yang tersebar di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur. Dayak Punan juga ada di Sabah Malaysia dan Serawak Malaysia.
Populasi suku Dayak Punan diperkirakan sebesar 8.956 orang, dan terbesar di Kalimantan Timur. 

Suku Dayak Punan tersebar pada 77 kampung atau lokasi pemukiman. Suku Dayak Punan memiliki 14 sub-suku yang dikelompokkan dalam rumpun Punan, beberapa diantaranya adalah Punan Hovongan, Punan Uheng Kereho dan Punan Kelay. Beberapa dari komunitas suku kecil Punan kian tahun kian menurun bahkan dikhawatirkan cenderung menuju kepunahan. Walau telah hidup berabad-abad, mereka tetap tak berubah dengan pola adat-istiadat dari leluhur mereka yang dipercayai.

gadis dayak Punan
Menurut cerita yang tersimpan pada cerita turun temurun, leluhur suku Dayak Punan datang dari sebuah negeri yang bernama "Yunnan", sebuah daerah dari datara tinggi di Cina bagian Selatan. Mereka berasal dari suatu komunitas yang konon adalah keluarga salah satu kerajaan Cina yang kalah berperang dan kemudian menghindar bersama perahu-perahu, dalam perjalanan mereka terdampar di tanah Pulau Kalimantan. Di tempat baru ini mereka merasa cocok dan aman, dan mereka pun menetap hingga kini.

Suku Dayak Punan, lebih memilih hidup di hutan pedalaman, bahkan di goa-goa, walaupun mereka sebenarnya bukanlah suku primitif tetapi lebih memilih untuk hidup seperti cara hidup leluhur mereka. Mereka selalu berpindah pindah dari satu tempat ke lain tempat dan terus menghindar dari kelompok manusia lain, karena menurut mereka ini adalah keinginan para leluhur, untuk menghindar dari orang-orang asing. Apabila ada yang meninggal di antara mereka, setelah upacara penguburan, biasanya mereka serentak akan pindah ke daerah lain. Mereka percaya kalau roh dari orang yang meninggal akan gentayangan yang akan membuat mereka tak merasa tenteram. Masyarakat Dayak Punan ini disebut juga bangsa nomaden (pengembara) yang hidup dalam satu kelompok tanpa berpisah-pisah.

Di hulu Barito terdapat 3 desa yang dianggap sebagai perkampungan orang Dayak Punan, yaitu Tumbang Karamu, Tumbang Tunjang dan Tumbang Topus. Penduduk ketiga desa ini mengaku sebagai keturunan orang Punan, dan mereka menyebut diri mereka sebagai orang Dayak Punan. Tetapi masyarakat yang berada di desa Tumbang Topus, diperkirakan sudah tidak asli lagi sebagai orang Dayak Punan, karena telah terjadi kawin-campur antara orang Dayak Punan dan orang Dayak Siang-Murung, Dayak Bahau, Dayak Benuaq dan Dayak Ot Danum atau Dayak Kahayan. Lagipula beberapa kesenian budaya serta ritual kematian yang dilaksanakan oleh masyarakat Punan di desa Tumbang Topus ini, adalah cenderung mengikuti tradisi budaya Dayak Ot Danum atau Dayak Siang Murung.

tatapan tajam dari dayak Punan
Makanan mereka adalah makanan yang masih mentah seperti sayur sayuran hutan yang berasal dari pohon nibung atau banding (teras dala), daun pakis, atau labu hutan yang mudah didapat di hutan. Makanan utama mereka adalah umbi dan umbut umbutan hutan, ditambah dengan daging buruan yang mereka temukan. Untuk daging inipun jarang mereka masak. Jika ada binatang buruan yang didapat mereka lebih suka menjemur daging-daging tersebut di matahari panas sehingga menjadi daging asinan atau dendeng.

Suku Dayak Punan pada masa lalu sangat ditakuti oleh suku dayak lainnya karena sangat handal dalam bertarung dan berperang. Mereka adalah head hunter atau pemburu kepala atau kayau. Termasuk dalam kategori suku kanibal karena mempunyai kebiasaan memenggal, memakan hati dan isi perut lawannya adalah hal yang lumrah mereka lakukan. Mereka juga punya kebiasaan memakan bagian punggung sebelah kanan musuhnya yang tewas dalam perang karena bagian tubuh itulah yang diyakini paling enak dimakan.

Mereka selalu waspada dan siap berkelahi dengan siapapun, termasuk binatang-binatang buas di dalam hutan. Tradisi siap tempur ini diwarisi sejak zaman nenek moyang mereka. Hebatnya, mereka memiliki keahlian bela-diri yang sangat tangguh dan berbeda dengan ilmu bela-diri secara umum yang ada di masyarakat. Mungkin ilmu bela-diri yang mereka miliki adalah bekal yang mereka bawa dari daratan Cina tempat asal-usul leluhur mereka.

Sebenarnya ada beberapa masyarakat dayak yang memiliki nama Punan, yang tersebar di Kalimantan maupun di Malaysia. Tetapi anehnya, walaupun bernama suku sama, di antara mereka semua tidak memiliki hubungan kerabat sama sekali.

Saat ini terdapat lebih dari 20 suku Dayak Punan yang berbeda etnis (tidak berhubungan satu sama lain) yang ditemukan di pulau Kalimantan yang disebut sebagai suku Dayak Punan.
Suku-suku Punan adalah;
  • Punan Busang
  • Punan Penihing (Punan Aoheng)
  • Punan Batu
  • Punan Sajau
  • Punan Hovongan
  • Punan Uheng Kereho (Ot Nyawong)
  • Punan Seputan (Dayak Seputan)
  • Punan Aput
  • Punan Merap
  • Punan Tubu
  • Punan Bukat (Dayak Bukat)
  • Punan Habongkot
  • Punan Panyawung (Ot Penyaung)
  • Punan Malinau
  • Punan Binai
  • Punan Mahkam
  • Punan Murung
  • Punan Merah (Ot Siau), 
  • Punan Serata, 
  • Punan Langasa, 
  • Punan Nya'an
  • Punan Ukit (Dayak Bukitan, Dayak Beketan)
  • Punan Lisum
  • Punan Kelay-Segah  
  • Punan Bah
  • Punan Batu 1
  • Punan Belahun (Punan Berun) 
  • Punan Lejuh
  • Penan
Di Sarawak Malaysia terdapat suku Dayak Punan Bah dan suku Dayak Penan, tetapi tidak memiliki hubungan sama sekali dengan suku-suku Punan lainnya. Di Malaysia, suku Dayak Punan dikelompokkan di bawah rumpun Dayak Kajang bersama dengan Dayak Sekapan, Dayak Kejaman, Dayak Lahanan dan Dayak Sihan. Selain itu suku Dayak Punan di Malaysia, sering dianggap bagian dari orang Dayak Ulu seperti suku Dayak Kayan dan Dayak Kenyah.

perempuan dayak Punan
Suku Dayak Punan diyakini adalah salah satu suku yang paling awal menetap di bagian tengah pulau Kalimantan, sungai Rajang dan daerah Balui bersama dengan Dayak Sekapan, Dayak Kejaman dan Dayak Lahanan. Tidak lama setelah kedatangan suku Dayak Punan, diikuti oleh migrasi massa dari bangsa suku bangsa Kayan, kemudian diikuti oleh suku bangsa Iban menduduki daerah Rejang dan Balui sekitar 2000 tahun yang lalu. Kehadiran 2 suku bangsa pendatang baru ini memaksa masyarakat Punan mundur ke Kakus dan kemudian terdesak lagi lebih ke pedalaman.

Pada tahun 2006, ditemukan lebih dari 10 etnis Punan lagi serta pemukiman Dayak Punan dalam bentuk Rumah Panjang, yang ditemukan di sepanjang daerah Rejang, Kakus, Kemena dan Jelalong sungai, yang dihuni beberapa etnis suku Punan.
Pemukiman-pemukiman Lovuk (kampung) Rumah Panjang beberapa suku Dayak Punan adalah:
  • Punan Lovuk Sama
  • Punan Lovuk Bah
  • Punan Lovuk Biau
  • Punan Lovuk Meluyou
  • Punan Lovuk Lirung Belang, (pada suku Punan ini, rumah panjang dulu disebut sebagai Rumah Bilong, sekarang disebut Rumah Ado)
  • Punan Lovuk Mina
  • Punan Lovuk Pedan (Rumah Nyipa Tingang)
  • Punan Lo'o Buong (Jelalong atau Rumah Adi)
Jumlah suku Dayak Punan di Sarawak Malaysia diperkirakan sekitar 3000 - 5000 orang.

Kehidupan mereka sehari-hari adalah tergantung apa yang diberikan alam hutan kepada mereka setiap harinya. Hutan adalah rumah dan hidup mereka. Tanpa hutan, maka mereka akan kesusahan dalam melanjutkan hidup mereka. Mereka bisa juga berhubungan dagang dengan masyarakat lain, tetapi semua barang dagangan hanya ditukar secara barter (pertukaran). Mereka menawarkan barang barteran seperti rotan, damar, kayu gaharu dan sarang burung walet. Barang akan dibarter dengan garam, gula, tembakau atau rokok, kadang dengan kain.

sumber:
  • forum.kompas.com
  • findarticles.com
  • benuadayak.blogspot.com
  • gambar-foto: speleo.fr
  • gambar-foto: pacifislandtravel.com
  • gambar-foto: bharatanews.com
  • wikipedia
  • dan sumber lain

Suku Dayak Ot (Ote)

Suku Dayak Ot (Ote), adalah kelompok masyarakat suku dayak yang masih bertahan hidup di pedalaman hutan perbukitan, antara Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat.

Suku Dayak Ot ini, dikelompokkan ke dalam bagian dari rumpun Dayak Punan. Suku Dayak Ot, terdiri dari beberapa kelompok suku yang lebih kecil, 2 di antaranya yang pernah ditemukan adalah Ot Siau dan Ot Penyaung. Orang Dayak Ot ini, ditakuti oleh masyarakat dayak lain di sekitarnya, karena mereka bisa melepas sumpit mereka terhadap orang yang mencurigakan atau yang dianggap mengganggu ketentraman hidup mereka. Kaki mereka sangat ringan, kalau berjalan sangat cepat, seperti melayang di atas rerumputan.

Keberadaan Dayak Ot atau Orang Ot ini, pada beberapa tulisan masih simpang siur, antara ada atau tidak ada, dikarenakan sangat susah menemukan lokasi hidup mereka. Kehidupan orang Ot ini menurut penuturan masyarakat di hulu sungai Barito, bahwa Orang Ot ini adalah bagian dari rumpun Punan. Orang Ot yang pernah ditemukan oleh masyarakat di sana, terdapat 2 kelompok yang hidup di hutan pedalaman dan tinggal di goa-goa. Kelompok tersebut adalah Orang Ot Siau yang mereka sebut sebagai Punan Kaki Merah dan satu lagi adalah Orang Ot Penyaung.

Orang Ot atau Dayak Ot ini, lebih memilih hidup di pedalaman dan sengaja menghindar dari kelompok manusia lain di luar komunitas mereka. Walaupun sebenarnya mereka bukanlah suku primitif, tapi mereka lebih memilih untuk hidup seperti cara hidup nenek moyang mereka yang bergaya primitif, yang hidup di dalam goa-goa di hutan pedalaman kalimantan. Sesekali mereka bisa melakukan hubungan dengan masyarakat dayak di sekitarnya, seperti melakukan barter hasil hutan, tetapi barter tidak dilakukan secara langsung, melainkan barang diletakkan pada suatu tempat, dan kemudian masyarakat kampung mengambil barang tersebut yang ditukarkan dengan garam, beras, tembakau dan kain.

sumber:
  • word-dialect.blogspot.com 
  • kaltengpos.com 
  • arsiteknusantara.blogspot.com 
  • wikipedia 
  • dan sumber lain


Suku Dayak Murung

penari suku Dayak Murung
Suku Dayak Murung, merupakan satu suku dayak yang berada di kabupaten Murung Raya di hulu Barito provinsi Kalimantan Tengah. Mereka berdiam di sepanjang aliran sungai Barito.

Suku Dayak Murung, sebenarnya mereka juga adalah suku Dayak Siang, tetapi bukan bagian dari sub-suku Dayak Siang, mereka adalah suku Dayak Siang yang telah lama hidup di daerah pinggiran sungai Barito dan sungai Bomban, salah satu kampungnya adalah desa Murung (Lebu Murung), karena itu mereka disebut sebagai suku Dayak Murung atau suku Dayak Siang Murung. Sedangkan suku Dayak Siang, menetap di kecamatan Tanah Siang, walaupun juga berada di wilayah kabupaten Murung Raya, tetapi mereka menetap di tanah asli suku Dayak Siang, yaitu kecamatan Tanah Siang.

Dari segi budaya, adat-istiadat dan bahasa tidak ada perbedaan sama sekali antara suku Dayak Murung dengan suku Dayak Siang. Selain itu mereka juga terlibat banyak kekerabatan yang sangat erat. Hanya karena telah terpisah dalam waktu yang sangat lama, dari nama awal mereka sebagai Dayak Siang, maka identitas penamaan suku mereka pun terjadi penambahan di belakang nama suku menjadi Dayak Siang Murung, dan lama kelamaan menjadi Dayak Murung.

gadis suku Dayak Murung
Suku Dayak Murung, membuat perkampungan mereka di sepanjang aliran sungai Barito yaitu di sisi kanan Sungai Barito, yang disebut dengan desa Murung (Lebu Murung). Di sebelah sisi kiri sungai Barito hidup suku dayak lain, yaitu suku Dayak Bakumpai, bermukim di desa Bakumpai (Lebu Bakumpai). Dari muara sungai banyak terdapat pohon bamban (tumbuhan hutan) sampai puncak ongkong (batu) bamban. Lalu sungai ini diberi nama Bamban atau yang lebih populer disebut Sungai Bumban (dalam bahasa Murung, bamban disebut bumban). Desa ini dulunya hutan belantara yang ditumbuhi pohon bakung. Dirung artinya teluk, bakung adalah sejenis pohon pisang tetapi rendah dan tidak berbuah. 

Pada masa sering terjadinya perang antar suku dayak, dalam tradisi kayau, masyarakat setempat menanam pohon bakung di teluk sungai untuk membuat benteng pertahanan. Teluk bakung/teluk sungai berada di desa Dirung Bakung. Dalam kehidupan sehari-hari, suatu kebiasaan orang Dayak Murung yang berjalan seperti orang berbaris/berderet memanjang ke belakang, merupakan hal yang aneh bagi kebanyakan orang, tetapi inilah yang terjadi dan nyata adanya. Hal itu dikarenakan warga terbiasa berjalan di hutan melewati jalan setapak yang hanya bisa di lewati satu orang. Anehnya kalau mereka berjalan di jalan yang cukup besar pun, seperti desa mereka sendiri dan bisa dilewati banyak orang, mereka tetap berjalan seperti orang berbaris/berderet memanjang ke belakang. 

Masyarakat suku Dayak Murung secara umum hidup sebagai petani, mengingat sekitar desa mereka banyak kebun karet. Di samping itu ada yang bekerja sebagai petani peladang (berpindah), berkebun, mencari ikan di sungai serta mendulang emas dan intan secara tradisional. Sedangkan yang bekerja di sektor pemerintahan hanya sedikit.

sumber:
  • soni amelia: mail-archive.com
  • gambar-foto: wisayamelayu.com
  • gambar-foto: thmtj64.blogspot.com
  • wikipedia
  • dan sumber lain

Suku Dayak Siang

suku Dayak Siang
Suku Dayak Siang, adalah satu dari puluhan suku dayak yang tersebar di Kalimantan Tengah, yang berada di  kecamatan Laung Tuhup, kecamatan Barito Tuhup Raya, kecamatan Murung dan Tanah Siang atau di daerah Puruk Cahu serta sungai Laung dan sungai Bomban, selain itu juga terdapat di sekitar sungai Babuat. Populasi suku Dayak Siang diperkirakan sebesar 86.000 orang.

Suku Dayak Siang sebenarnya terdiri dari 2 kelompok suku, yaitu Siang yang disebut sebagai Dayak Siang dan Murung yang disebut sebagai Dayak Siang Murung, dimana Dayak Siang Murung kebanyakan mendiami daerah pinggiran sungai Barito dan sungai Bomban dan Dayak Siang tersebar di Tanah Siang, yaitu di sekitar sungai Laung dan sungai Babuat.

laki-laki suku Dayak Siang
Menurut legenda mitologi, sejarah suku Dayak Siang, bahwa suku Dayak Siang adalah salah satu kelompok suku yang diturunkan oleh Ranying Hattala Langit (Tuhan Pencipta) di Puruk Kambang Tanah Siang sekitar wilayah desa Oreng kecamatan Tanah Siang Selatan, kabupaten Murung Raya provinsi Kalimantan Tengah yang diturunkan dengan Palangka Bulau.

Istilah Siang, berasal dari sejarah yang berawal di sungai Mantiat.Di hulu sungai ini ada sebuah pohon yang diberi nama siang, karena kayu telah tua dan lapuk, maka kayu ini tumbang, dan bekas tumbangnya pohon ini kemudian menjadi aliran sungai yang mengalir ke sungai Mantiat Pari di desa Mantiat Pari sekarang. Orang yang hidup di Lowu Korong Pinang menggunakan air sungai yang berasal dari pohon siang ini, akhirnya masyarakat yang hidup di Lowu Korong Pinang ini kemudian disebut sebagai suku Dayak Siang. Suku Dayak Siang ini kemudian berkembang membentuk beberapa perkampungan baru dan tersebar di beberapa tempat hingga sekarang ini. Sedangkan kampong atau lowu, tempat asal usul mereka adalah Lowu Tomolum yang sekarang ini bernama desa Tambelum. Desa Tambelum yang menjadi pemukiman pertama suku Dayak Siang ini telah ada jauh sebelum zaman Belanda dan sebelum adanya Negara Republik Indonesia ini.

tarian suku Dayak Siang
Kepercayaan suku Dayak Siang, sejak zaman dahulu telah memeluk agama Kaharingan sebagai agama asli sebagian besar suku-suku dayak di Kalimantan. Saat ini sebagian besar masyarakat suku Dayak Siang tetap mempertahankan agama Kaharingan, sedangkan sebagian lain telah memeluk agama Kristen dan juga agama Islam. Tetapi walaupun sebagian dari suku Dayak Siang telah memeluk agama Kristen dan Islam, beberapa tradisi Kaharingan masih mereka laksanakan, seperti upacara Tiwah yang terkenal di kalangan masyarakat dayak di Kalimantan Tengah.

Masyarakat suku Dayak Siang sejak zaman dahulu sampai sekarang secara turun temurun hidup sebagai petani, yaitu berladang, berkebun dan berternak.
Proses membuka lahan untuk berladang bagi masyarakat adat suku Dayak Siang dilakukan dengan penuh perhitungan dan perencanaan yang matang, karena banyak hal yang harus dipenuhi syaratnya, agar lingkungan alam setempat tetap seimbang kelestariannya untuk kepentingan hidup masyarakat adat. Masyarakat adat hidup dari alam, sehingga alam dan semua makhluk baik tumbuhan/binatang yang ada dalam lingkungan alam tersebut menjadi jaminan bagi orang Dayak Siang untuk kelangsungan hidupnya di masa yang akan datang. 

sumber:
  • word-dialect.blogspot.com
  • gambar-foto: dodonk.blogspot.com
  • gambar-foto: skyscrapercity.com
  • gambar-foto: flickr.com
  • kebudayaan-dayak.org
  • wikipedia
  • dan sumber lain

Suku Dayak Beginci

orang Dayak Beginci
Suku Dayak Beginci, berada di sepanjang aliran sungai Batang Kawa (daerah perbatasan Kalimantan Barat dengan Kalimantan Tengah) dan di Lubuk Kakap terdapat kelompok suku yang diebut sebagai orang Beginci Darat, selain itu di Kampung Baru terdapat satu kelompok suku yang mendiami Sungai Bihak yang menyebut mereka adalah bagian atau sub suku dari suku Dayak Beginci, dan mereka juga mengaku bahwa mereka adalah orang Beginci. Di sebelah hulu sungai Bihak terdapat juga satu kelompok suku lagi yang menyebut diri mereka sebagai suku Dayak Beginci Laut, di kampung Sira, desa Batu Lapis kecamatan Hulu Sungai kabupaten Ketapang
Populasi suku Dayak Beginci diperkirakan sebesar 750 orang.

rumah adat suku Dayak Beginci
Sebuah cerita turun temurun menceritakan bahwa nenek moyang suku Dayak Beginci ini berasal dari provinsi Kalimantan Tengah, dan tersebar di beberapa wilayah di kabupaten Ketapang provinsi Kalimantan Barat. Konon menurut penuturan masyarakat di wilayah tempat pemukiman suku Dayak Beginci tersebut bahwa dulunya wilayah ini termasuk wilayah Kalimantan Tengah.

Kehidupan masyarakat suku Dayak Beginci saat ini, sama seperti suku-suku dayak lainnya yang masih erat dengan kehidupan alam, seperti berladang di lahan tebas dan bakar, berburu ke hutan dan menangkap ikan di sungai. Mereka juga memelihara ternak seperti ayam dan babi. Selain itu tidak sedikit juga yang telah bekerja di sektor pemerintahan dan sektor swasta.

sumber:
  • kebudayaan-dayak.org
  • Alloy, Sujarni, dkk.,MOZAIK DAYAK: Keberagaman Subsuku dan Bahasa Dayak di Kalimantan Barat, Institut Dayakologi, Pontianak, 2008.
  • bihaksakayuqsunge.blogspot.com
  • wikipedia
  • dan sumber lain

Suku Dayak Tamuan

tarian suku Dayak Tamuan
(mannaismayaadventure.com)
Suku Dayak Tamuan, berada di kecamatan Seruyan provinsi Kalimantan Tengah, yang bermukim dan hidup di sepanjang aliran sungai Cempaga dan sungai Seruyan.

Suku Dayak Tamuan memiliki kebiasaan hidup dalam bidang pertanian dengan nenanam padi dan juga berkebun. Suku Dayak Tamuan ini mengelola tanah dengan cara tebas, tebang dan bakar, tanah dibuka untuk ditanami, misalnya saja padi. Masyarakat suku Dayak Tamuan melakukan pertanian pada lahan tanah datar ataupun bertingkat dengan cara berpindah (ladang berpindah).
Tanah yang ditanam (dalam ladang berpindah) itu berada di luar lingkungan desa, tanah inilah yang diwariskan secara turun temurun. Tanah warisan ini akan dikelola dan dijaga secara turun temurun. Tanah Ulayat ini bersifat hukum adat dan dilindungi oleh hukum publik.

Suku Dayak Tamuan pada masa dahulu teguh dengan agama Kaharingan, tetapi saat ini mayoritas dari masyarakat suku Dayak Tamuan telah memeluk agama Kristen.

Terdapat suku dayak lain yang memiliki nama suku hampir sama dengan suku Dayak Tamuan, yaitu suku Dayak Tomun yang berada di kabupaten Lamandau., tetapi menurut penuturan suku Dayak Tamuan, bahwa mereka tidak sama dengan suku Dayak Tomun, tidak ada hubungan sosial, kultural maupun berkerabat, tetapi mereka tidak membantah apabila dikatakan masih satu rumpun dengan suku Dayak Tomun.
Ada versi cerita turun temurun suku Dayak Tamuan yang mengatakan bahwa bahwa nenek moyang mereka berasal dari tanah Sumatra. Tetapi ini belum diteliti secara mendalam oleh para peneliti. Tetapi kalau melihat dari asal usul suku-suku dayak di Kalimantan, bahwa asal usul suku dayak berasal dari daratan mongolia yang bermigrasi ke Formosa Taiwan, dan sebagian dari kelompok selanjutnya menyeberang lautan melalui Filipina dan Sumatra, hingga sampai ke pulau Kalimantan, berdasarkan hal ini kemungkinan memang suku Dayak Tamuan ini berasal dari Formosa Taiwan, karena di Formosa Taiwan banyak terdapat kemiripan budaya dengan suku dayak Tamuan.
Suku Dayak Tamuan, tidak selalu hidup dengan kehidupan alam seperti hutan dan bertani di tengah hutan dan juga memelihara beberapa hewan ternak seperti ayam dan babi. Saat ini mereka juga melangkah lebih maju seperti bekerja di sektor pemerintah dan sektor swasta, serta menjadi guru serta menjalani usaha mandiri.

sumber:
  • groups.yahoo.com
  • mannaismayaadventure.com
  • sabahforum.com
  • wikipedia
  • dan sumber lain