Suku Kabaena, Sulawesi

pulau Kabaena
Suku Kabaena, adalah suku yang bermukim di pulau Kabaena kabupaten Baombana provinsi Sulawesi Tenggara.

Suku Kabaena hidup di pulau yang sepanjang garis pantainya banyak bisa ditemukan hamparan batu-batu permata biru yang berkilauan terkena sinar matahari. Selain itu di pulau ini diduga banyak terdapat kandungan emas. Pulau Kabaena ini juga menjadi salah satu tujuan wisata bagi para wisatawan asing maupun lokal. Karena keindahan pulau ini sudah terkenal sebagai salah satu tempat wisata di pulau Sulawesi.

Di pulau Kabaena selain suku Kabaena sebagai penduduk asli pulau ini, juga ada etnis lain yang menghuni pulau ini, yaitu suku Bajo yang bermukim di kecamatan Kabaena Barat.

Masyarakat suku Kabaena adalah orang ramah dan sopan terhadap siapa saja. Mayoritas orang Kabaena memeluk agama Islam. Agama Islam menjadi agama yang kuat di kalangan orang Kabaena. Mereka juga muslim yang taat. Dalam masyarakat Kabaena ada istilah Wonua Measalaro yang berarti "kampung satu rasa". Wonua Measalaro membangun dan menguatkan ikatan sosial masyarakat Kabaena yang dalam bahasa Kabaena disebut Tokotu’a.

Pulau Kabaeana dulu dikenal sebagai pulau penghasil beras bagi Kesultanan Buton. Kata "kabaena" berasal dari bahasa Buton. "Kobaena" berarti "pemilik beras". Dahulu Kabaena terkenal dengan produksi beras dan kerbaunya. Pulau ini juga mendapat sebutan Witangkarambau, dalam bahasa Moronene berarti “tanah kerbau”. Dahulu banyak kerbau yang hidup di pulau ini. Pada zaman dahulu kerbau dijadikan mahar dalam perkawinan. Mahar untuk melamar seorang anak gadis sebanyak 12 ekor dan janda 8 ekor kerbau. Tapi masa sekarang ini kerbau bisa diganti dengan sapi atau kambing.

Saat ini pulau Kabaena sendiri mulai terancam dengan masuknya perusahaan-perusahaan tambang yang ingin mengeruk kekayaan di pulau Kabaena. Dengan masuknya perusahaan-perusahaan tambang ini, dikuatirkan akan mengganggu keseimbangan alam di pulau Kabaena, termasuk mengganggu masyarakat Kabaena yang selama ini hidup dengan tentram, dan juga mengganggu spesies endemik yang berada di pulau Kabaena. Resiko yang paling parah adalah hilang atau tenggelamnya pulau akibat rusaknya daratan dengan lubang-lubang tambang yang ditinggalkan.

Dirasakan oleh masyarakat Kabaena keseluruhan saat ini tidak mendapat tanggapan dan perhatian dari Pemerintah Daerah, terlebih gubernurnya pun justru dengan ambisinya ingin menjadikan Sulawesi Tenggara sebagai percontohan untuk industri pertambangan tanpa memikirkan akibatnya. Lokasi pertambangan di Sulawesi Tenggara terbanyak di pulau Kabaena hingga sangat dikhawatirkan ke depannya bila tidak dihentikan pulau Kabaena akan tenggelam karena eksploitasi tambang nikel yang berlebihan. Kekhawatiran pulau kabaena akan tenggelam sangat memungkinkan karena pertambangan nikel adalah pengerukan dan pengapalan tanah.

tari Lumense
Masyarakat Kabaena yang tinggal di pesisir terkenal dengan produksi gula Kabaena. Gula Kabaena ini adalah salah satu gula khas Kabaena. Gula ini diracik dari hasil campuran antara saripati pohon enau yang dicampur dengan kelapa muda, dan setelah itu kemudian dimasak dalam tempat khusus lalu dikeringkan secara alamiah. Hasil dari pencampuran lalu dibungkus dalam satu kemasan khas hingga siap untuk disantap. Setiap wisatawan yang berkunjung ke kawasan wisata ini selalu menjadikan Gula Kabaena sebagai salah satu bingkisan berharga yang nilainya sama dengan souvenir-souvenir seperti di daerah lainnya.

sumber:
sumber lain dan foto:
  • mataair-cinta.blogspot.com
  • greatbuton.blogspot.com

0 comments:

Post a Comment

Silahkan berkomentar di bawah ini, Kami mohon maaf, apabila terdapat kekeliruan atau ada yang tidak sesuai dengan pendapat pembaca, sehubungan dengan sumber-sumber yang kami terima bisa saja memiliki kekeliruan.
Dengan senang hati kami menerima segala kritik maupun saran pembaca, demi peningkatan blog Proto Malayan.
Salam dan terimakasih,