Suku Bungku, Sulawesi

suku Bungku
pic: hariansobek
Suku Bungku, adalah salah satu suku yang terdapat di provinsi Sulawesi Tengah, tersebar di kecamatan Bungku Utara, kecamatan Bungku Tengah dan kecamatan Bungku Selatan. Populasi suku Bungku diperkirakan lebih dari 22.000 orang.

Orang Bungku menyebut dirinya sebagai "Tobungku". Mereka berbicara dalam bahasa mereka sendiri, yaitu bahasa Bungku atau bahasa Tobungku. Bahasa Bungku sempat dianggap sebagai dialek bahasa Kaili, tapi orang Bungku mengatakan bahwa bahasa Bungku bukan dialek bahasa Kaili, melainkan sebuah bahasa tersendiri sebagai induk bahasa di kawasan timur Sulawesi.
Bahasa Bungku terdiri dari beberapa kasta (tingkatan) bahasa, yaitu amat halus, halus, sedang dan kasar.
Orang Bungku saat ini lebih terkonsentrasi hidup di daerah pesisir dan di masa lalu orang Bungku dikenal sebagai salah satu suku bangsa dari suatu Kerajaan Maritim.

Di masa lalu orang Bungku pernah terkait hubungan dengan orang Bugis, terutama ketika masuknya para tokoh Islam Bugis ke dalam masyarakat suku Bungku.
Masyarakat suku Bungku secara mayoritas adalah penganut agama Islam Sufi. Mereka adalah penganut Islam yang taat. Beberapa pengamalan dalam hidup sangat kental dipengaruhi oleh budaya Islam, terlihat dalam beberapa tradisi adat dan kesenian mengandung unsur Islami.
Pengaruh animisme pada suku Bungku saat sebelum masuknya Islam pada kalangan masyarakat suku Bungku sedikit tidaknya masih terlihat dari fenomena dukun yang berpengaruh pada masyarakat Bungku. Dukun dalam bahasa Bungku disebut dengan istilah Sando.

Dalam sistem organisasi kemasyarakatan masyarakat Bungku terdiri dari beberapa struktur lapisan, yaitu: masyarakat raja (pau), bangsawan (mokole), rakyat biasa dan budak (ata). Sistem kekerabatan dalam masyarakat Bungku disebut tepoalu petutua’ia. Selain itu, juga dapat ditelusuri melalui sistem gotongroyong yang berlaku pada masyarakat seperti, metatulungi, mefalo-falo dan mo’ala oleo.

Suku Bungku memiliki berbagai macam kesenian seperti: seni beladiri silat (kuntaw dan manca), seni tetabuhan (tatabua) ndengu-ndengu, ganda dan rabana).

Pada masa pemerintahan kerajaan di tanah Bungku, terdapat 8 pesan filsafat yang maknanya cukup dalam namun kini sudah tidak ditemukan lagi pengamalannya dalam kehidupan sehari-hari, yaitu:
  1. baratantonga tompano pandeanto, tila mengkena pande motauanto” artinya seimbangkan ujung ketrampilan kita, bahagi sama ujung ketrampilan dan pengetahuan kita. 
  2. sopan santun dalam bahasa Bungku dikenal dengan istilah Kona’adati, konalelu, dan kona atora artinya bertingkah laku sesuai dengan tuntunan adat istiadat.
  3. kemandirian dalam bahasa Bungku identik dengan tumorampanta, tumadempanta atau lumakompanta artinya hidup sendiri, berdiri sendiri atau berjalan sendiri.
  4. taat terhadap orang tua merupakan kewajiban seorang anak. 
  5. disiplin dan cermat yang disebut katutu atau matutu
  6. tanggung jawab, 
  7. kejujuran dalam bahasa Bungku disebut kamoleoa atau moleo
  8. rasa pengabdian yang dikenal dengan safa montulungi yang juga diidentikkan dengan pongkokolaro.

Masyarakat suku Bungku pada umumnya berprofesi sebagai petani. Mereka menanam padi sawah maupun ladang, serta becocoktanam berbagai jenis sayur-sayuran dan buah-buahan. Beberapa tanaman keras juga mereka tanam-tumbuhkan seperti kelapa dan cocoa. Selain itu beberapa dari mereka memilih profesi sebagai pedagang dan lain-lain.

sumber bacaan:
  • bungkusulteng.blogspot.com
  • sabda.org
  • wikipedia
  • dan sumber lain
sumber foto:

5 comments:

  1. tulisan ini terkesan asal tulis. perlu diketahui :
    1. Suku tobungku berbicara dalam bahasa tobungku, bukan bahasa kaili. dan bahasa tobungku termasuk induk bahasa di kawasan timur sulawesi.
    2. Popolasi suku tobungku adalah lebih dari 40% populasi kabupaten morowali dgn penduduk sekitar 400.000.
    3. Asal usul suku tobungku tidak ada kaitan dengan suku bugis. kesamaan budaya dgn suku bugis dalam beberapa hal adalah dalam penerapan syariat islam karena bebrapa da'i asal bugis pernah beraktifitas di tobungku pada masa kerajaan dahulu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. oh begitu ya @Agromorowali
      terima kasih untuk koreksinya ya
      salam kenal

      Delete
  2. satu hal yang juga perlu diluruskan, suku tobungku tidak tinggal di pedalaman, tetapi kehidupan mereka di pinggir pantai dan cukup dikenal sebagai salah satu kerajaan maritim di pantai timur sulawesi pada masa lalu.

    ReplyDelete
  3. saya bangga jadi anak orang bungku

    ReplyDelete
  4. thanks for this info ... i've included some of it in my profiles of Indonesian people groups ... you might like to enjoy these on "Rainbow Cultures - Facebook page" https://www.facebook.com/pelangikebudayaan/

    ReplyDelete

Silahkan berkomentar di bawah ini, Kami mohon maaf, apabila terdapat kekeliruan atau ada yang tidak sesuai dengan pendapat pembaca, sehubungan dengan sumber-sumber yang kami terima bisa saja memiliki kekeliruan.
Dengan senang hati kami menerima segala kritik maupun saran pembaca, demi peningkatan blog Proto Malayan.
Salam dan terimakasih,