Orang Katobengke, Sulawesi

Orang Katobengke, adalah salah satu kelompok masyarakat asli pulau Buton di Sulawesi Tenggara. Orang-orang Katobengke, hadir di daratan Sulawesi bersama-sama dengan orang Moronene dan orang Toaere, yang diperkirakan sekitar 2000 tahun Sebelum Masehi. Kehadiran orang-orang Katobengke ini menurut para ahli datang dari Gobi, Yunnan dan Indochina semenanjung Malaka bersama rombongan bangsa Protomalayan lainnya, seterusnya menyebar ke daerah selatan dan timur yang menjadi beberapa suku tua yang mendiami Sulawesi. Keranjang usungan (bhaki) yang dipakai orang Katobengke di pedalaman Buton memiliki kesamaan bentuk dengan keranjang usungan suku-suku di hindia belakang. Hal ini memperkuat dugaan bahwa orang Katobengke adalah migran dari daerah Hindia belakang yang meliputi kawasan China selatan dan Indochina,

Sebelum kehadiran orang Katobengke di Sulawesi, telah ada penduduk yang mendiami pulau Sulawesi, yaitu suku Tokira, Towuna, Toala, dan Towana yang memiliki ras weddoid, polynesia dan melanesia.

Masyarakat Katobengke adalah bagian dari masyarakat Buton yang heterogen. Mereka memiliki beberapa kepercayaan yang sedikit berbeda dengan masyarakat Buton lainnya, namun secara umum mereka juga sebagai orang Buton asli. Orang Katobengke telah hidup bersama dengan suku-suku lain di Buton. Orang Katobengke kadang dianggap bukan sebagai etnis yang terdapat di Buton, padahal etnis Katobengke memliki populasi yang lumayan besar, dan memiliki sejarah panjang termasuk memiliki peran penting dalam menyangga perjalanan Kerajaan Buton.

Pada masa Kesultanan Buton, orang Katobengke digolongkan sebagai golongan Papara, yang bisa diartikan sebagai golongan menengah bawah, yang pada masa itu penggolongan diterapkan oleh Kesultanan Buton untuk membagi masyarakatnya dalam 4 golongan sosial, yaitu:
  • Kaomu, 
  • Walaka, 
  • Papara,
  • Batua.
Masyarakat di dalam wilayah Kesultanan Buton didefinisikan ke dalam orang Wolio dan non-Wolio. Dua kategori tingkat sosial yang pertama, yakni  Kaomu  dan  Walaka, termasuk ke dalam kategori orang Wolio. Sebaliknya dua kategori tingkat sosial yang terakhir, yakni Papara  dan Batua,  termasuk dalam kategori bukan orang Wolio (non-Wolio). Golongan Kaomu merasa lebih tinggi tingkat sosialnya dengan golongan Walaka, walaupun sebenarnya sama-sama sebagai orang Wolio.
Menurut konsepsi budaya masyarakat Wolio, orang-orang dari Kaomu dan Walaka dibedakan dari orang-orang Papara dan Batua,  karena kedua kelompok yang pertama berasal dari orang Wolio dan dapat diketahui asal-usulnya berasal dari keturunan kerajaan, sedangkan dua kelompok yang terakhir berasal dari daerah pedalaman dan bukan dari keturunan kerajaan. Orang dari golongan Kaomu dan Walaka, menganggap Papara bukanlah dari keturunan kerajaan dan sehingga orang Kaomu dan Walaka merasa status mereka lebih tinggi dari orang golongan Papara. Sedangkan Batua, merupakan satu kategori tingkat sosial yang bersifat residual dari kelompok Papara.  Orang dari golongan Batua sebetulnya berasal dari kelompok Papara yang diturunkan derajatnya karena tidak bisa membayar hutang, atau melanggar adat, atau merupakan orang-orang yang ditangkap dalam perang di wilayah musuh.

Orang Katobengke yang dimasukkan ke dalam golongan Papara, tentunya sangat menolak sistem tingkatan sosial yang semakna dengan kasta ini, yang diterapkan oleh Kesultanan Buton dan Kesultanan Wolio ini. Orang Katobengke, merasa nama "Katobengke" begitu kuat berasosiasi dengan istilah "Papara". Maka dari itu mereka berusaha mengganti identitas mereka dari orang Katobengke menjadi orang Lipu.

Memprihatinkan kalau di Indonesia ini masih ada yang menerapkan sistem kasta seperti ini. Ini adalah cara-cara yang diterapkan mirip dengan masa zaman Hindu dahulu. Hal ini membuat perbedaan derajat antara satu kelompok dengan kelompok yang lain. Mengapa mengaku berasal dari golongan kasta tinggi tapi nasibnya melarat, padahal orang yang berasal dari kasta rendah ternyata hidupnya serba berkecukupan. Berasal dari kasta yang tinggi tidak menjamin hidup di masa depan. Tentunya sistem kasta seperti ini harus dihapuskan, karena sebagai manusia pada setiap sukubangsa adalah sederajat tidak ada yang lebih tinggi atau yang lebih rendah.

Orang Katobengke sebagai salah satu etnis tertua di Sulawesi Tenggara yang memiliki sejarah panjang serta budaya dan adat-istiadat sendiri, sebagaimana saat ini telah berkembang menjadi masyarakat yang maju. Banyak dari mereka yang telah merantau ke berbagai daerah di Indonesia dan berhasil menunjukkan eksistensi keberadaan mereka. Sebagian besar masyarakat Katobengke hidup pada bidang pertanian, seperti tanaman padi, jagung, ubi kayu, ubi jalar, sayuran dan buah-buahan. Tidak sedikit juga yang memilih profesi sebagai pegawai di sektor pemerintahan maupun swasta.

disadur dari:

1 comments:

  1. kami orang katobengke tidak pernah berusaha menghilangkan jati diri kami sebagai orang katobengke,dan pemahaman terkait pembagian kasta dalam kesultanan buton adalah pembodohan sejarah,,ingat dan ingat buton adalah kesultanan bukan kerajaan,kesultanan menganut ajaran islam dimana dalam islam tidak ada pembagian kasta,dari ratu pertama sampai sultan terakhir buton beragama islam,,,liwu morikana ada di tanah orang katobengke, makam betoambari ada di katobengke, sulaa tombi (penancapan bendera buton pertama) ada di tanah orang katobengke,,kalampa yang konon katanya jadi tempat pelabuhan pertama orang buton ada di katobengke, yang jadi pertanyaan kenapa semua itu ada di katobengke??saran saya saudara tidak usah mengutak atik sejarah kami,saudara belajar utak atik silsilah keluarga saudara saja dulu...trims

    ReplyDelete

Silahkan berkomentar di bawah ini, Kami mohon maaf, apabila terdapat kekeliruan atau ada yang tidak sesuai dengan pendapat pembaca, sehubungan dengan sumber-sumber yang kami terima bisa saja memiliki kekeliruan.
Dengan senang hati kami menerima segala kritik maupun saran pembaca, demi peningkatan blog Proto Malayan.
Salam dan terimakasih,