Suku Banyuasin

perkampungan suku Banyuasin
di bantaran sungai Musi
Suku Banyuasin disebut juga sebagai suku Anak Dalam, adalah salah satu suku yang menempati seluruh kecamatan di kabupaten Musi Banyuasin, yaitu di kecamatan Babat Toman, kecamatan Bayung Lencir, kecamatan Sungai Lilin dan kecamatan Banyuasin Dua dan kecamatan Banyuasin Tiga. Pemukiman mereka berada pada dataran rendah yang banyak ditemui rawa-rawa dan berada di daerah beberapa aliran sungai cabang dari sungai Musi.

Masyarakat suku Banyuasin sebagian besar masih percaya terhadap berbagai takhyul, tempat keramat dan benda-benda yang dianggap memiliki kekuatan gaib. Beberapa kelompok dari mereka masih menjalani upacara yang berhubungan dengan dunia mistis dan menjalankan pantangan adat.
Saat ini sebagian dari mereka telah memeluk agama Islam dan juga agama Kristen, sedangkan sebagian lain masih mempertahankan kepercayaan asli mereka.

anak-anak suku Banyuasin
Suku Banyuasin ini, sepertinya agak dilupakan oleh pemerintah daerah setempat, karena beberapa perkampungan atau pemukiman mereka, masih sangat jauh dari tingkat sejahtera. Kehidupan yang sangat miskin mereka alami, dengan tiadanya sarana kesehatan maupun pendidikan.

Salah satu adat-istiadat suku Banyuasin yang menarik, yaitu suatu upacara pengobatan dengan menggunakan tari-tarian tradisional yang diberi nama Tari Basalek. Tari ini dilaksanakan untuk memberikan pengobatan pada anggota suku yang menderita sakit. Tarian ini dilakukan pada malam hari dan kadang-kadang bisa dilakukan sepanjang malam sampai pagi. Penarinya biasanya terdiri dari 7 orang dan merupakan gabungan laki-laki dan perempuan. Penari dengan menggunakan pakaian tradisional biasanya mengelilingi api unggun dekat dengan ramuan sesaji. Ramuan sejaji, terdiri dari bahan rempah-rempah seperti punjung, daging ayam yang telah dipanggang dan berbagai macam bunga. Anggota suku yang sakit ditempatkan di dekat sesaji dan para penari terus berkeliling sambil membaca mantra.

pemukiman suku Banyuasin
Mereka mendiami kawasan Taman Nasional Bukit 12 di Jambi, Riau dan sebagian Sumatera Selatan. Di mata Suku Anak Dalam, hutan adalah segalanya, yang menjadi sumber kehidupan, den tempat mereka berlindung serta mencari makan. Beberapa kelompok suku Banyuasin ini, sebenarnya telah ada yang telah direlokasikan pada suatu tempat, dan memperoleh kehidupan yang lebih baik. Kelompok yang telah direlokasi ini bermata pencaharian pada bidang pertanian, seperti bertani di sawah dan ladang.

Kegiatan lain yang tetap dilakukan oleh masyarakat suku Banyuasin ini, adalah berburu di hutan, seperti berburu babi hutan, rusa dan binatang apapun yang ditemukan di hutan, serta mencari rotan dan menangkap ikan.

sumber:
  • archive.kaskus.co.id
  • sabda.org
  • mubakab.go.id
  • indosiar.com
  • gambar-foto: tribunnews.com
  • gambar-foto: blogs.nimd.org
  • gambar-foto: arkeologi.palembang.go.id
  • wikipedia
  • dan sumber lain

2 comments:

  1. Artikel nya bagus! Mohon izin artikel nya saya share!

    ReplyDelete
    Replies
    1. silahkan...
      trims sudah berkunjung,
      salam kenal

      Delete

Silahkan berkomentar di bawah ini, Kami mohon maaf, apabila terdapat kekeliruan atau ada yang tidak sesuai dengan pendapat pembaca, sehubungan dengan sumber-sumber yang kami terima bisa saja memiliki kekeliruan.
Dengan senang hati kami menerima segala kritik maupun saran pembaca, demi peningkatan blog Proto Malayan.
Salam dan terimakasih,