Showing posts with label Proto Malayan. Show all posts
Showing posts with label Proto Malayan. Show all posts

Suku Dayak Punan Km-10

Di kecamatan Gunung Tabur terdapat suatu kelompok masyarakat Dayak yang dimukimkan, berada di wilayah kabupaten Berau provinsi Kalimantan Timur. Mereka disebut sebagai suku Dayak Punan Km-10.

pemukiman Dayak Punan Km-10
dibangun oleh PT Berau Coal
Menurut cerita bahwa pemukiman suku Dayak Punan Km-10 ini bukanlah pemukiman asli mereka. Tapi pada awalnya sekitar beberapa keluarga dayak dari etnis berbeda dimukimkan dan hidup dalam satu komunitas.

Tempat ini pada awalnya adalah sebuah perusahaan tambang batu bara PT Berau Coal, yang sengaja diperuntukkan untuk masyarakat Dayak yang pada awalnya hidup secara nomaden di hutan-hutan pedalaman. Perusahaan melalui program Community Development merasa bahwa beberapa warga atau keluarga yang hidup di hutan-hutan sekitar daerah operasional pertambangan perlu dibuatkan perumahan dan aktivitas yang layak sehingga kualitas hidup mereka meningkat.

Saat itu Community Development Officer (CDO) atau petugas pemberdayaan masyarakat dari PT Berau Coal, dibawah pimpinan Ir. Sudayat Kamamihardja (alm.), Bapak Ferdinand, Bapak Agung Triadi dan Alm Pak Dolof (asli pulau Buton tetapi menguasai dan kenal dengan hutan-hutan di Berau), mulai mencari orang-orang Dayak Punan ini di hutan-hutan. Perjuangan panjang kedua perintis tersebut akhirnya membuahkan hasil. Beberapa keluarga mau dirumahkan, bermula dari 7 keluarga lalu menjadi 11 keluarga, sekumpulan keluarga ini ternyata masih ada hubungan keluarga dan sebagian besar berasal dari suku yang sama suku Dayak Punan, hanya 1 KK orang saja berasal dari suku Dayak Tidung.

Pada awalnya masyarakat suku Dayak yang terbiasa hidup nomaden ini tidak merasa cocok dengan tempat ini, tapi karena tempat ini dibuat sealami mungkin, berada di tengah hutan, terdapat sungai mengalir, yaitu sungai Lati. Hingga lama kelamaan 11 KK ini pun merasa betah dan cocok menetap di tempat ini. Walaupun mereka berasal dari beberapa etnis yang berbeda, tapi saat ini mereka menyatu dalam satu nama suku Dayak Punan Km-10.

Desa Km-10 ini pun kemudian bergabung dengan desa Sambakungan, salah satu desa di kecamatan Gunung Tabur kabupaten Berau, hak-hak sipil dipenuhi seperti Kartu Keluarga dan keperluan lain. Dalam kehidupan sehari-hari mereka tetap melakukan aktifitas sebelum-sebelumnya seperti berburu dan meramu seperti kebiasaan mereka dahulu. Makanan pokok mereka adalah ubi atau keladi yang banyak tumbuh subur di hutan dengan lauk pauk dari hewan buruan. Hewan buruan mereka adalah ikan, burung, rusa atau payau, dan babi hutan.

Perusahaan PT Berau Caol secara periodik juga memberikan program bina rohani dengan cara mendatangkan pendeta, selain itu juga memberikan program kesehatan dengan cara bantuan pengobatan bagi orang sakit, sampai rawat inap ditanggung perusahaan, kunjungan tim medis dari perusahaan secara periodik.

Untuk anak-anak, perusahaan memberikan fasilitas pendidikan berupa bantuan biaya pendidikan dan asrama di kota Tanjung Redeb, sekitar 50 km dari pemukiman Km-10. Mereka ditempatkan dalam sebuah rumah dengan didampingi seorang pengasuh dan sekolah di sekolah reguler, itu bertujuan agar mereka dapat hidup seperti kualitas teman-teman mereka yang berada di kota.

Dengan keadaan mereka seperti ini kiranya kehidupan masyarakat suku dayak Km-10 semakin baik, berkat bantuan Program Community Development PT Berau Coal, yang peduli mengurus masyarakat dayak di pedalaman.

sumber:

Suku Dayak Dohoi


Suku Dayak Dohoi, merupakan salah satu dari sekian banyak suku Dayak yang ada di Kalimantan Barat yang mendiami wilayah sekitar perbatasan Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah. Populasi suku Dayak Dohoi ini lebih dari 100.000 orang.

Menurut pengelompokan dalam suku Dayak, suku Dayak Dohoi dimasukkan ke dalam sub suku Dayak Ot Danum. Pemukiman terbesar suku Dayak Dohoi adalah di kecamatan Ambalau dengan populasi lebih dari 14.500 orang menurut sensus tahun 1988. Di mana di wilayah ini suku Dayak Dohoi menjadi mayoritas. Tetangga mereka di wilayah ini adalah suku Dayak Kadorih.

Di masa lalu orang Dayak Dohoi terkenal logas, tohpas hohot, dan nyolung osak dahak ahLogas berarti "mudah naik darah", tohpas lohot berarti "tidak ragu-ragu kalau mengambil keputusan untuk membunuh", dan nyolung osak dahak berarti "orang yang tidak mengenal rasa takut sedikit pun". Pada masa lalu suku Dayak Dohoi memiliki perilaku sangat keras. Mereka punya prinsip, sekali ahpang yaitu "mandau terhunus", maka pantang disarungkan sebelum minum darah manusia. Karena wataknya itulah maka oleh orang dayak lainnya yang berada di sekitar daerah itu menamakan mereka sebagai Dohoi, untuk menyatakan bahwa "mereka ini adalah orang yang logas, tohpas lohot, dan nyolung osak dahak ah".

Masyarakat suku Dohoi berbicara menggunakan bahasa Dohoi yang termasuk rumpun bahasa Barito.

Setiap desa pemukiman suku Dayak Dohoi dihuni antara 100-400 orang. Tanah di sekeliling setiap desa (sekitar 2 - 3 km jauhnya) dianggap sebagai tanah milik desa. Setiap penduduk desa berhak menjual tanahnya bila dikehendaki, tetapi hanya kepada sesama penduduk desa. Tanah yang tetap kosong selama lebih dari 5 tahun bisa dimiliki oleh siapa saja di desa itu.

Suku Dohoi kadang disebut juga sebagai suku Ot Danum. Istilah "ot danum" memiliki arti "orang-orang yang tinggal di wilayah di sepanjang sungai". Pemukiman mereka membentang dari sungai Melawi sampai sungai Barito. Pemukiman mereka terletak di daerah terpencil di pedalaman, sehingga untuk mencapai pemukiman suku Dohoi ini bisa memakan waktu berhari-hari dengan menggunakan perahu melalui sungai Lamandau.

Pernikahan di antara saudara sepupu lebih disukai di antara suku Dohoi. Bila telah tercapai persetujuan (kesepakatan) oleh orang tua pasangan, keluarga mempelai laki-laki memberikan hadiah secara simbolis kepada keluarga mempelai wanita. Pemberian kedua diberikan ketika pertunangan diumumkan. Sesudah pernikahan dilangsungkan, dilakukan pembayaran kepada pengantin wanita.

Orang Dohoi sebagian besar adalah penganut animisme (percaya bahwa setiap benda memiliki roh) dan polytheisme (menyembah banyak dewa). Tapi pada dasarnya praktek keagamaan mereka berkisar di antara dua dewa, yang satu dilambangkan dengan Burung Enggang dan Ular air.
Upacara-upacara keagamaan bisa berupa acara-acara sederhana maupun pesta-pesta yang lama. Penduduk meminta bantuan Shaman (dukun) untuk mengobati penyakit mereka, yang dalam prakteknya seringkali kerasukan.

Mata pencaharian orang Dohoi adalah bercocok tanam di ladang. Mereka biasanya menumbuk padi pada malam hari, setelah seharian bekerja di ladang. Suara tumbukan bertalu-talu ini disambut dengan gembira gelak tawa di setiap hampir rumah tangga. Inilah keunikan suku Dohoi. Hasil panen disimpan pada tempat khusus yang disebut jorong, yaitu rumah yang terbuat dari satu tiang guna menghindari tikus. Rumah mereka berbentuk persegi panjang dan didirikan sekitar 2 - 5 m di atas tanah dengan tiang-tiang kayu (rumah panggung) dengan tangga bertingkat. Anjing, babi, dan ayam merupakan hewan peliharaan mereka. Mereka juga memelihara sapi untuk disembelih pada perayaan-perayaan besar. Orang Dohoi juga terkenal dalam kerajinan topi dan keranjang. Di luar kegiatan tersebut mereka juga kerap berburu ke hutan-hutan sekitar perkampungan mereka.

sumber:

Suku Bajo Wakatobi, Sulawesi

pemukiman orang Bajo di Wakatobi
Suku Bajo Wakatobi, adalah suku yang mendiami wilayah kabupaten Wakatobi yang terdiri dari kepulauan dan berada di provnsi Sulawesi Tenggara.

Suku Bajo yang mendiami kabupaten Wakatobi ini diduga hadir di wilayah ini sekitar abad XVI. Dikatakan mereka berasal dari daerah China Selatan. Mereka termasuk suku bangsa Proto Malayan yang datang ke wilayah Asia Tenggara ini sejak 2000 tahun Sebelum Masehi. Mereka sempat bermukim di daratan Indochina dan bermigrasi ke daerah Semenanjung Malaysia dan akhirnya menyebar ke seluruh wilayah Asia Tenggara, termasuk ke wilayah mereka sekarang ini di Sulawesi Tenggara. Selain di Sulawesi Tenggara pemukiman orang Bajo juga banyak di daerah-daerah lain di Sulawesi. 

perempuan Bajo Wakatobi
Kehidupan suku Bajo di Wakatobi ini sebagian besar masih mempertahankan hidup di atas palema atau perahu beratap rumbia, sedangkan sebagian kecil sudah tinggal di darat dengan membangun rumah panggung yang terbuat dari kayu dan papan di atas laut, dan dekat dengan daratan. Akhir-akhir ini suku Bajo yang hidup di atas perahu semakin berkurang jumlahnya, karena mereka mulai ikut mendirikan rumah panggung di atas laut.

Suku Bajo Wakatobi ini dikenal sebagai sebagai pelaut yang tangguh. Walau popularitas suku Makassar, Bugis dan Mandar lebih dikenal sebagai pelaut, Namun, suku Bajo pernah disebut-sebut sebagai bagian dari Angkatan Laut Kerajaan Sriwijaya. Sehingga, ketangguhan dan keterampilannya mengarungi samudera jelas tidak terbantahkan. Bahkan perjalanan laut suku Bajo dikatakan sampai ke Madagascar Afrika.

Suku bajo di Wakatobi pada umumnya beragama Islam, namun mereka masih hidup dalam dimensi leluhur. Budaya mantera-mantera, sesajen serta percaya kepada roh jahat masih mendominasi kehidupan mereka. Dukun masih memegang peranan penting dalam menyembuhkan penyakit serta menolak bala atau memberikan rejeki. Mereka percaya terhadap roh-roh yang berada di lingkungan sekitarnya. Mereka percaya pantangan meminta minyak tanah, garam, air atau apapun setelah magrib. Mereka juga percaya dengan upacara tebus jiwa. Melempar sesajen ayam ke laut. Artinya kehidupan pasangan itu telah dipindahkan ke binatang sesaji. Ini dilakukan oleh pemuda yang ingin menikahi perempuan yang lebih tinggi status sosialnya.

suku Bajo Wakatobi
dalam film Mirror Never Lies
Kehidupan suku Bajo di Wakatobi rupanya menarik minat dunia luar, sehingga terbit sebuah film "The Mirror Never Lies" yang menggunakan latar Suku Bajo di Wakatobi, yang berhasil mencuri perhatian dalam BJIFF.

Masyarakat suku Bajo di Wakatobi, sepenuhnya menggantungkan hidup dari laut. Para laki-laki pergi ke laut mencari ikan, biasanya pekerjaan mencari ikan ini akan memakan waktu selama 2 hari, tapi kadang-kadang bisa mencapai selama seminggu.

sumber:
  • kenali-negrimu.blogspot.com
  • ahmilanakwajo.blogspot.com
  • sultra.antaranews.com
sumber lain dan foto:
  • beingindonesian.com
  • antarafoto.com
  • whateverbackpacker.com

Suku Bajo Kabaena, Sulawesi

suku Bajo di Kabaena
Suku Bajo Kabaena, adalah suatu masyarakat suku Bajo yang mendiami pulau Kabaena provinsi Sulawesi Tenggara.

Suku Bajo (Bajau) tersebar di beberapa daerah di Sulawesi Tenggara, selain di pulau Kabaena populasi suku Bajo terdapat juga di pulau Wakatobi. Persebaran Suku Bajo di pulau Kabaena antara lain kecamatan Kabaena Barat (desa Baliara Laut yang terdiri dari dusun Bambanipa Laut dan dusun Tanjung Malake, desa Baliara kepulauan dan desa Sikele yang terdiri dari dusun Tanjung Perak, dusun pulau Sagori dan dusun pulau Mataha). Sementara di kecamatan Kabaena Selatan tersebar di desa Batua dan desa Pangkalero dan di kecamatan Kabaena Utara terdiri dari desa Mapila.

Sejak lama, masyarakat suku Bajo telah menempati wilayah pesisir pulau Kabaena ini, hidup dengan kearifan dan budaya mereka sendiri. Laut adalah tumpuan utama mereka dalam memenuhi kebutuhan hidup ratusan orang anggota komunitas mereka dari tahun ke tahun.

Walaupun suku Bajo tersebar di beberapa pulau sekitarnya, tapi hampir tidak terdapat perbedaan dengan suku-suku bajo di daerah lain, masyarakat Bajo di wilayah ini hidup berdampingan dalam satu komunitas mereka dan menempati wilayah yang sedikit terpisah dengan komunitas lain, meskipun mereka secara administrasi pemerintahan dalam satu kesatuan dengan penduduk asli masyarakat Kabaena di desa ini. Rumah-rumah yang mereka huni secara keseluruhan berada di atas laut sehingga membuat komunitas suku lain agak sulit melakukan interaksi sengan mereka dalam kehidupan sehari-hari. Belum bisa dipastikan apa yang menyebabkan mereka sedikit menutup diri dengan komunitas lain.

Kegiatan melaut untuk mencari ikan adalah rutinitas utama mereka seiap harinya. Dari subuh mereka telah berangkat melaut untuk mencari ikan sampai pada siang hari, sehingga apabila pagi hari pemukiman mereka terlihat sepi, hanya anak-anak yang berada di rumah. pemukiman ini nanti terlihat ramai ketika siang hari sampai sore hari, kerana mereka telah kembali dari melaut.

sumber:

Suku To Aere, Sulawesi

Suku To Aere (Toaere), adalah salah satu suku tertua yang tedapat di daratan Sulawesi Tenggara.

Suku To Aere merupakan salah satu kelompok masyarakat yang menjadi penghuni pertama yang mendiami daerah aliran sungai Konaweha. Di tempat ini juga terdapat suku lain, yaitu suku To Laiwoi yang bersama-sama hidup di tepi sungai Konaweha, tetapi suku To Laiwoi ini menempati bagian hulu sungai, sedangkan suku To Aere menempati bagian tengah hingga ke hilir sungai Konaweha. Suku To Aere hidup dalam kelompok kecil yang mendiami daerah aliran sungai Konaweha.

Istilah "To Aere" berarti "orang yang hidup di air". Mereka adalah penduduk pertama yang menghuni daerah daerah Kolaka dan Kendari, termasuk daerah Ladongi, dan Lambandia.

Keberadaan suku To Aere saat ini diperkirakan tidak ada lagi, atau berbaur dengan suku-suku lain, atau juga telah terpecah dan tersebar menjadi beberapa suku-suku kecil yang mendiami beberapa daerah di kabupaten Konawe dan kabupaten Kolaka.

sumber:

Suku To Laiwoi, Sulawesi

Suku Laiwoi atau suku To Laiwoi, adalah salah satu suku tertua yang tedapat di daratan Sulawesi Tenggara.

Suku To Laiwoi merupakan penduduk yang mula-mula mendiami daerah Unenapo (Kolaka) yang kemudian menjadi wilayah Kerajaan Mekongga. Suku To Laiwoi mendiami daerah aliran sungai Konaweha bagian hulu sampai ke Pakue (Kolaka Utara) dahulu dihuni oleh orang To Laiwoi di wilayah Kodeoha. Suku To Laiwoi memiliki populasi kecil yang berdiam di pedalaman kecamatan Rate-rate, Ladongi, Mowewe, dan sebagian di wilayah kecamatan Pakue dan Lasusua. Kehadiran suku To Laiwoi ini dahulunya diduga bersama-sama dengan suku Moronene yang mendiami daerah pedalaman Wundulako dan Watubangga.

Suku To Laiwoi memiliki ciri ras mongoloid, mereka merupakan suku bangsa Proto Malayan, yang hadir di daratan Sulawesi Tenggara yang diduga sekitar 2000 tahun Sebelum Masehi. Pada awalnya mereka adalah bangsa nomaden menjelajah daratan pulau Sulawesi, hingga akhirnya menetap di pedalaman Sulawesi Tenggara. Dalam perjalanan hidup suku To Laiwoi ini di pedalaman Sulawesi, mereka sempat berinteraksi dengan penduduk lain yang juga hadir di daratan Sulawesi ini pada masa lalu.

Istilah "To Laiwoi" kalau diartikan dalam bahasa Mekongga, adalah "To" berarti "orang" dan "La" berarti "pinggir" dan "Iwoi" berarti "air". Jadi "To Laiwoi" berarti "orang yang hidup di pinggir air". Di wilayah ini dahulunya juga hidup suatu kelompok masyarakat yang dikenal sebagai suku To Aere, yang dalam bahasa Moronene, "To Aere" berarti "orang yang hidup di air". Walaupun suku To Laiwoi dan suku To Aere memiliki arti identitas yang sama, dan hidup di satu wilayah, tapi kemungkinan kedua suku ini adalah 2 kelompok etnis yang berbeda. Mereka adalah penduduk pertama yang menghuni daerah daerah Kolaka dan Kendari, termasuk daerah Ladongi, dan Lambandia.

Suku To Laiwoi adalah orang yang mendiami tepian sungai, tepatnya di sekitar hulu sungai Konaweha. Mereka hidup dalam kelompok kecil di pedalaman kabupaten Konawe dan kabupaten Kolaka (kecamatan Unaaha kabupaten Konawe kecamatan Pakue, Lasusua, dan Mowewe kabupaten Kolaka) (Nsaha, 1978: 8).

Tarimana, 1985:37), mengatakan suku To Laiwoi (To Laiwuri) sebagai penghuni pertama yang mendiami wilayah Kerajaan Mekongga (sekarang kabupaten Kolaka), keturunannya di wilayah ini sekarang menamakan diri mereka sebagai orang Unenapo. Sedangkan yang mendiami wilayah Kerajaan Konawe (sekarang kabupaten Konawe) menamakan dirinya sebagai orang Konawe atau orang Tolaki, dan bagian utara Kerajaan Konawe dan yang mendiami sebelah utara wilayah Kerajaan Mekongga (sebelah utara kabupaten Kolaka) tetap menamakan dirinya sebagai To Laiwoi.

diolah dari berbagai sumber

Orang Katobengke, Sulawesi

Orang Katobengke, adalah salah satu kelompok masyarakat asli pulau Buton di Sulawesi Tenggara. Orang-orang Katobengke, hadir di daratan Sulawesi bersama-sama dengan orang Moronene dan orang Toaere, yang diperkirakan sekitar 2000 tahun Sebelum Masehi. Kehadiran orang-orang Katobengke ini menurut para ahli datang dari Gobi, Yunnan dan Indochina semenanjung Malaka bersama rombongan bangsa Protomalayan lainnya, seterusnya menyebar ke daerah selatan dan timur yang menjadi beberapa suku tua yang mendiami Sulawesi. Keranjang usungan (bhaki) yang dipakai orang Katobengke di pedalaman Buton memiliki kesamaan bentuk dengan keranjang usungan suku-suku di hindia belakang. Hal ini memperkuat dugaan bahwa orang Katobengke adalah migran dari daerah Hindia belakang yang meliputi kawasan China selatan dan Indochina,

Sebelum kehadiran orang Katobengke di Sulawesi, telah ada penduduk yang mendiami pulau Sulawesi, yaitu suku Tokira, Towuna, Toala, dan Towana yang memiliki ras weddoid, polynesia dan melanesia.

Masyarakat Katobengke adalah bagian dari masyarakat Buton yang heterogen. Mereka memiliki beberapa kepercayaan yang sedikit berbeda dengan masyarakat Buton lainnya, namun secara umum mereka juga sebagai orang Buton asli. Orang Katobengke telah hidup bersama dengan suku-suku lain di Buton. Orang Katobengke kadang dianggap bukan sebagai etnis yang terdapat di Buton, padahal etnis Katobengke memliki populasi yang lumayan besar, dan memiliki sejarah panjang termasuk memiliki peran penting dalam menyangga perjalanan Kerajaan Buton.

Pada masa Kesultanan Buton, orang Katobengke digolongkan sebagai golongan Papara, yang bisa diartikan sebagai golongan menengah bawah, yang pada masa itu penggolongan diterapkan oleh Kesultanan Buton untuk membagi masyarakatnya dalam 4 golongan sosial, yaitu:
  • Kaomu, 
  • Walaka, 
  • Papara,
  • Batua.
Masyarakat di dalam wilayah Kesultanan Buton didefinisikan ke dalam orang Wolio dan non-Wolio. Dua kategori tingkat sosial yang pertama, yakni  Kaomu  dan  Walaka, termasuk ke dalam kategori orang Wolio. Sebaliknya dua kategori tingkat sosial yang terakhir, yakni Papara  dan Batua,  termasuk dalam kategori bukan orang Wolio (non-Wolio). Golongan Kaomu merasa lebih tinggi tingkat sosialnya dengan golongan Walaka, walaupun sebenarnya sama-sama sebagai orang Wolio.
Menurut konsepsi budaya masyarakat Wolio, orang-orang dari Kaomu dan Walaka dibedakan dari orang-orang Papara dan Batua,  karena kedua kelompok yang pertama berasal dari orang Wolio dan dapat diketahui asal-usulnya berasal dari keturunan kerajaan, sedangkan dua kelompok yang terakhir berasal dari daerah pedalaman dan bukan dari keturunan kerajaan. Orang dari golongan Kaomu dan Walaka, menganggap Papara bukanlah dari keturunan kerajaan dan sehingga orang Kaomu dan Walaka merasa status mereka lebih tinggi dari orang golongan Papara. Sedangkan Batua, merupakan satu kategori tingkat sosial yang bersifat residual dari kelompok Papara.  Orang dari golongan Batua sebetulnya berasal dari kelompok Papara yang diturunkan derajatnya karena tidak bisa membayar hutang, atau melanggar adat, atau merupakan orang-orang yang ditangkap dalam perang di wilayah musuh.

Orang Katobengke yang dimasukkan ke dalam golongan Papara, tentunya sangat menolak sistem tingkatan sosial yang semakna dengan kasta ini, yang diterapkan oleh Kesultanan Buton dan Kesultanan Wolio ini. Orang Katobengke, merasa nama "Katobengke" begitu kuat berasosiasi dengan istilah "Papara". Maka dari itu mereka berusaha mengganti identitas mereka dari orang Katobengke menjadi orang Lipu.

Memprihatinkan kalau di Indonesia ini masih ada yang menerapkan sistem kasta seperti ini. Ini adalah cara-cara yang diterapkan mirip dengan masa zaman Hindu dahulu. Hal ini membuat perbedaan derajat antara satu kelompok dengan kelompok yang lain. Mengapa mengaku berasal dari golongan kasta tinggi tapi nasibnya melarat, padahal orang yang berasal dari kasta rendah ternyata hidupnya serba berkecukupan. Berasal dari kasta yang tinggi tidak menjamin hidup di masa depan. Tentunya sistem kasta seperti ini harus dihapuskan, karena sebagai manusia pada setiap sukubangsa adalah sederajat tidak ada yang lebih tinggi atau yang lebih rendah.

Orang Katobengke sebagai salah satu etnis tertua di Sulawesi Tenggara yang memiliki sejarah panjang serta budaya dan adat-istiadat sendiri, sebagaimana saat ini telah berkembang menjadi masyarakat yang maju. Banyak dari mereka yang telah merantau ke berbagai daerah di Indonesia dan berhasil menunjukkan eksistensi keberadaan mereka. Sebagian besar masyarakat Katobengke hidup pada bidang pertanian, seperti tanaman padi, jagung, ubi kayu, ubi jalar, sayuran dan buah-buahan. Tidak sedikit juga yang memilih profesi sebagai pegawai di sektor pemerintahan maupun swasta.

disadur dari:

Suku Ratahan

suku Ratahan
Suku Ratahan (Toulumalak atau Bentenan), adalah salah satu sub-suku Minahasa yang mendiami kecamatan Ratahan di provinsi Sulawesi Utara. Suku Ratahan, terutama berada di kabupaten Minahasa Tenggara, dan tersebar di sekitar kota Ratahan, di kampung-kampung Ratahan, Wioi, Wiau, Wongkai, Rasi, Molompar, Wawali, Minanga dan Bentenan. Populasi suku Ratahan diperkirakan sebesar 15.000 orang pada sensus tahun 1989.

Suku Ratahan, hidup berdampingan dengan suku Pasan di suatu wilayah, sehingga di antara kedua suku ini susah dibedakan, selain itu kedua suku ini menggunakan bahasa dan adat-istiadat yang sama. Suku Ratahan dahulu bernama suku Toulumalak. Suku ini berasal dari Pakasa'an Touwuntu, yang terdiri dari 2 walak, yaitu Toulumalak (sekarang menjadi suku Ratahan) dan suku Tousuraya (sekarang menjadi suku Pahan).

Suku Ratahan bergabung dengan perserikatan Minahasa sekitar tahun 1690. Menurut sejarah bahwa nenek moyang pada awalnya berasal dari Minahasa, tapi mereka berperang dan pindah ke daerah Sulawesi Tengah, tapi kemudian mereka kembali ke daerah Minahasa, dan memiliki keterkaitan darah pada masa lalu, sehingga mereka menggabungkan diri dalam adat-istiadat Minahasa.

patung Maringka
pendiri Ratahan 
Menurut sejarah Minahasa, disebutkan kaum Taranak yang dipimpin oleh Tonaas Wuntu, menuju ke Bentenan. Mereka mendirikan pemukiman di Ratan. Mereka ini lah yang disebut suku Ratahan. Sedangkan yang menuju ke Towuntu (Liwutung), disebut suku Tou Pasan. Sekelompok orang Tou Pasan mengadakan tumani dan bermukim di Tawawu (Tababo), Belang dan Watuliney, membaur dengan penduduk dari Taranak Ponosakan, yaitu keluarga Butiti, Wumbunan dan Tubelan yang datang dari Wulur Mahatus (Pontak), dan mereka disebut sebagai suku Tou Ponosakan.

Orang Ratahan pada masa dahulu menganut sistem kepercayaan tradisional yang bersifat monotheisme dan mengandung unsur animisme. Pada saat bangsa Eropa tiba di Minahasa, agama Kristen diterima dengan tangan terbuka. Pada mulanya agama Kristen Katolik disebarkan oleh misionaris bangsa Spanyol dan Portugis abad ke-16 dan 17 dan dilanjutkan abad ke-19, Belanda masuk di Minahasa, agama Kristen Protestan berkembang dengan pesat, banyak penganut Katolik beralih ke Protestan. Penyebaran Protestan dilakukan oleh zendeling (pekabar injil Belanda) berkebangsaan Jerman dan Belanda. Kedudukan kolonial Belanda yang bertahan selama tiga abad di Minahasa menyebabkan orang Ratahan banyak memeluk aliran Protestan.

Masyarakat suku Ratahan, hidup pada bidang pertanian. Mereka menanam padi, sayur dan buah-buahan. Beberapa tanaman keras seperti cengkeh, kopra dan salak menjadi tanaman utama mereka. Para perempuan banyak yang berprofesi sebagai penenun kain khas Bentenan. Selain itu bidang profesi lain juga mereka tekuni seperti menjadi pedagang, guru, pegawai dan lain-lain.

sumber:
sumber lain dan foto:
  • pinaesaan.blog.com
  • onaytololiu.blogspot.com

Suku Pasan

musik bambu
suku Pasan
Suku Pasan (Tousuraya), adalah salah satu sub-suku Minahasa yang mendiami kecamatan Pasan di provinsi Sulawesi Utara. Suku Pasan tersebar di kecamatan Pasan, di kampung kampung Towuntu, Tolambukan, Watulinei dan Liwutung. Populasi suku Pasan diperkirakan sekitar 15.000 orang pada sensus tahun 1989.

Suku Pasan, hidup berdampingan dengan suku Ratahan di suatu wilayah, sehingga di antara kedua suku ini agak susah dibedakan, lagipula kedua suku ini menggunakan bahasa dan adat-istiadat yang sama. Suku Pasan dahulu bernama suku Tousuraya. Suku ini berasal dari Pakasa'an Touwuntu, yang terdiri dari 2 walak, yaitu Tousuraya (sekarang menjadi suku Pahan) dan Toulumalak (sekarang menjadi suku Ratahan).

Menurut cerita sejarah Minahasa, pada masa lalu Raja Babontehu, menaklukkan daerah Teluk Tomini. Lalu sang Raja itu mengawini seorang Putri Raja dari teluk Tomini dan menetap di tempat itu. Setelah sekian lama keturunan mereka semakin banyak. Pada suatu saat sang Raja tersebut dikalahkan oleh Raja Loloda Bolaang Mongondow. Lalu sang Raja membawa membawa keturunan-keturunannya beserta pengikutnya ke daerah Minahasa (diperkirakan di Manado). Seluruh keturunan dan pengikutnya yang berasal dari Teluk Tomini banyak yang melakukan kawin-campur orang Minahasa. Setelah beberapa lama, mereka melanjutkan perjalanan menuju daerah yang lebih aman di sebelah Timur (Tenggara) Minahasa dan keturunan-keturunannya inilah yang disebut sebagai Suku Pasan.

Menurut versi lain sejarah Minahasa, disebutkan kaum Taranak yang dipimpin oleh Tonaas Wuntu, menuju ke Bentenan. Mereka mendirikan pemukiman di Ratan. Mereka ini lah yang disebut suku Ratahan. Sedangkan yang menuju ke Towuntu (Liwutung), disebut suku Tou Pasan. Sekelompok orang Tou Pasan mengadakan tumani dan bermukim di Tawawu (Tababo), Belang dan Watuliney, membaur dengan penduduk dari Taranak Ponosakan, yaitu keluarga Butiti, Wumbunan dan Tubelan yang datang dari Wulur Mahatus (Pontak), dan mereka disebut sebagai suku Tou Ponosakan.

Seperti suku Ratahan, masyarakat suku Pasan juga kebanyakan hidup pada bidang pertanian. Pada tanaman padi, jagung, cengkeh, kopra dan lain-lain. Berbagai bidang profesi juga mereka jalani, seperti pedagang, pegawai, guru dan sebagainya.

sumber:
sumber lain dan foto:
  • 4shared.com

Suku Bantik

tari Mahambak
suku Bantik
Suku Bantik (Tou Bantik), adalah sub-suku Minahasa di Sulawesi Utara. Suku Bantik tersebar di sebelah barat daya kota Manado, yaitu di Malalayang, Kalasei dan sebelah utara Manado, yaitu di Buha, Bengkol, Talawaan Bantik, Bailang, Molas, Meras serta Tanamon di kecamatan Sinonsayang Minahasa Selatan dan juga terdapat di Ratahan dan wilayah Mongondouw.

Suku Bantik, termasuk keturunan Toar dan Lumimuut, tapi mereka tidak memiliki Pakasa’an, karena menurut legenda, mereka terlambat datang dalam musyawarah di Watu Pinawetengan.

Suku Bantik memiliki adat-istiadat, kebiasaan dan ciri-ciri muka dari kelompok sub-suku Minahasa. Mereka berbicara dalam bahasa Bantik, yang agak berbeda dengan bahasa Minahasa pada umumnya. Bahasa Bantik sendiri lebih mirip dengan bahasa-bahasa dari Sulawesi Tengah.

Salah satu budaya tari suku Bantik yang terkenal adalah Tari Mahamba, adalah suatu tarian yang indah yang diperagakan apabila ada acara-acara tertentu pada masyarakat suku Bantik. Selain itu mereka juga memiliki Tari Perang dan lain-lain.

Masyarakat suku Bantik mayoritas adalah pemeluk agama Kristen, seperti suku-suku Minahasa lainnya yang pada umumnya memeluk agama Kristen. Agama Kristen diperkenalkan ke dalam kalangan orang Bantik oleh para misionaris Belanda, sejak awal kedatangan orang Belanda di wilayah ini.

Menurut cerita bahwa suku Bantik ini pada awalnya berasal dari wilayah Sulawesi Tengah, yang bermigrasi pertamakali di wilayah Bolaang Mongondow. Kemudian mereka ikut dengan pasukan Bolaang Mongondow untuk memerangi suku-suku Minahasa. Tapi ketika pasukan Bolaang Mongondow dikalahkan oleh pasukan Minahasa di Maadon, Lilang (Kema), mereka tetap tinggal di sekitar teluk Manado, dan tidak mau kembali ke wilayah Bolaang Mongondow.
Karena mereka bekas pasukan Bolaang Mongondow, mereka diharuskan membayar upeti kepada Raja Boloaang Mongondow. Tapi hal itu membuat mereka diejek oleh orang-orang Minahasa, sebagai budak-budak Bolmong.

tari perang
Menurut legenda Tou Bantik, bahwa dulunya mereka berasal dari Sulawesi Utara, tapi mereka bermigrasi ke sebuah pulau yang bernama pulau Panimbulrang. Di sana mereka hidup pada beberapa kampung, hidup tentram dan memiliki penduduk yang besar. Di pulau Panimbulrang inilah mereka disebut “Orang Bantik”. Di sana mereka hidup lama disertai dengan perkembangan-perkembangan kebudayaannya. Letak pulau Panimblurang tersebut saat ini tidak diketahui dengan pasti. Menurut cerita orang tua-tua, lokasi pulau “Panimbulrang” berada di sebelah utara, antara kepulauan Talaud dan Philipina. Tapi karena terjadi suatu bencana alam, pulau Panimbulrang diterjang air bah, sehingga seluruh perkampungan mereka tenggelam dan mereka pun menyeberang kembali ke Sulawesi Utara.

Saat ini suku Bantik, telah menjadi salah satu dari kelompok Minahasa. Walaupun dari segi bahasa dan adat-istiadat berbeda dengan bahasa dan adat-istiadat Minahasa, tapi mereka berasal dari satu keturunan, yaitu dari keturunan Toar dan Lumimuut, sehingga mereka bergabung dalam satu kesatuan Minahasa.

sumber:
  • deutromalayan.blogspot.com
  • bode-talumewo.blogspot.com
  • wikipedia
sumber lain dan foto:
  • senibudayakita.com
  • tribunnews.com

Suku Tombulu

suku Tombulu
Suku Tombulu, adalah termasuk suku tua di tanah Malesung (Proto Minahasa/ Minahasa Tua) di Sulawesi Utara. Suku Tombulu, tersebar di kota Tomohon, kecamatan Tombariri, kecamatan Pineleng, kecamatan Tombulu, kecamatan Wori, Likupang Barat dan ibukota Sulawesi Utara kota Manado. Populasi suku Tombulu diperkirakan sekitar 60.000 orang pada sensus 1981.

Suku Tombulu, memiliki 8 klan (walak), yaitu:
  • Tomohon (Tou Muung)
  • Sarongsong
  • Tombariri
  • Kakaskasen
  • Ares
  • Maumbi (Kalawat Atas)
  • Kalawat Wawa (Klabat Bawah) di Paniki
  • Likupang.

Asal-usul suku Tombulu, menurut cerita rakyat (legenda/ mitos) seperti yang ditulis Pdt.M.Ph. Wilken dan Graflaand, yang tersimpan secara turun temurun dalam masyarakat suku Tombulu, adalah nenek moyang pertama di Minahasa adalah Opo Toar dan Lumimuut. Menurut ceritanya mereka hanyut terbawa arus dari arah utara, lalu terdampar di pantai barat Minahasa, di batu karang yang dinamai Batu Kapal yang terletak di daerah Sapa (kecamatan Tenga kabupaten Minahasa Selatan sekarang). Mereka hanyut terbawa arus air bah. Dalam tulisan Dr. Riedels Zano Simezuk Wangko, air bah merendam seluruh dataran sampai ke puncak gunung Lokon, Gunung Mahwu, dan gunung Soputan.
Opo Toar dan Lumimuut, berdiam di sekitar gunung Wulur Mahatus. Kemudian pindah ke sekitar Niutakan dekat Tompasu Baru. Di Tempat baru ini Opo Toar kawin dengan Lumimuut. Setelah sekian lama ternyata jumlah mereka bertambah banyak dan memenuhi daerah itu, sehingga mereka mulai menyebar ke seluruh Malesun (Minahasa). Awalnya terdapat 25 kepala keluarga yang menyebar, salah satunya antara lain keluarga Pinontoan dan istrinya Ambilingan dengan 6 orang anaknya. Mereka datang ke dataran gunung Lokon. Keturunan dari keluarga inilah yang diyakini menurunkan "suku Tombulu".

Suatu tulisan di Facebook, yang diposting oleh Kennedy Polakitan, menceritakan penyebaran suku Tombulu berdasarkan sejarah Minahasa. Pada awal penyebaran suku Tombulu sekitar abad 10, suku Tombulu di Wanua Meijesu diperintah oleh Lumoindong putra dari Walian Pukul, ditimpa wabah penyakit yang menewaskan banyak penduduk. Oleh karena itu suku Tombulu terpencar dan keluar mencari pemukiman baru. Tempat-tempat yang dituju sebagai pemukiman baru dan terbentuknya beberapa walak pada suku Tombulu, adalah:
  1. Tonaas Tumbelwoto, memimpin sebagian orang Tombulu pergi tumani ke Wanua Tula’u hingga terbentuklah walak Saronsong,
  2. Sebagian rakyat berpindah ke Kinilow Tu’a. Tonaas Ka’awoan meninggalkan Kinilow Tu’a memimpin sebagian orang Tombulu pergi kearah barat ke suatu tempat yang terdapat rumput yang dinamai Wariri, sebagian orang yang menetap di sana disebut Touwariri, lalu sebutannya menjadi orang Tombariri.
  3. Selanjutnya dari sana sebagian rakyat yang dipimpin oleh Walian Lokon Mangundap, Kalele, Apor, Karundeng, Kapalaan, dan Posumah,  mendirikan negeri baru yang dinamai Katinggolan yang merupakan cikal bakal dari terbentuknya Wanua Woloan.
  4. Tonaas Mokoagow juga meninggalkan Kinilow Tu’a dan pergi tumani ke Wanua Mu’ung dan Kamasi membentuk Tou Mu’ung (Tomohon).
  5. Tonaas Ticonumu dan Tuerah pergi tumani ke Wanua Kakaskasen dan membentuk Walak Kakaskasen,
  6. Tonaas Lolong lasut dan Ruru pergi tumani ke Wanua Wenang dan Ares membentuk Walak Ares (di kota Manado sekarang).
  7. Dari Kinilow Tu’a beberapa taranak pergi tumani ke Wanua kali dari sana Tonaas Alow pergi melintasi sungai wenang utara, lalu tumani ke Wanua Kalawat atas dan membentuk Kalawat atas yang kemudian berubah menjadi Kalawat Maumbi.
  8. Dari Kalawat Atas keluar Tonaas Kondoy, Wangko Saumanan pergi ke barat tumani ke Wanua Kalawat Kalewosan yang kemudian menjadi Wanua ure, kini disebut Komo Luar. Kalawat Kalewosan ini kemudian menjadi Kalawat Wawa, ibu negeri Wanua ure.
  9. Tonaas Kalengkongan beserta sebagian rakyat meninggalkan Kalawat Atas dan Kalawat Wawa, pergi tumani ke Wanua Likupang. Menimbulkan Walak Likupang.
Jadi suku Tombulu telah pecah menjadi beberapa walak. Tetapi pada abad 15, Tonaas Dotulong, Tidajoh Koagow dari Pakasaan Tonsea telah merampas Wilayah Dimembe, suatu wilayah yang sangat luas sekali.

masyarakat Tombulu
Orang Tombulu dalam keseharian di dalam lingkungan sesama orang Tombulu, menggunakan bahasa Tombulu. Bahasa Tombulu ini merupakan salah satu dialek bahasa Minahasa. Bahasa Tombulu lumayan terkenal, karena beberapa lagu daerah yang populer kebanyakan berasal dari bahasa Tombulu, seperti lagu "O Ina Ni Keke".

Dalam hal kepercayaan, seperti sub-suku Minahasa lain pada umumnya memeluk agama Kristen, begitu pula suku Tombulu ini adalah pemeluk agama Kristen. Agama Kristen telah lama berkembang dalam lingkungan masyarakat suku Tombulu, Diperkirakan mereka memeluk agama Kristen sejak kehadiran bangsa Portugis, Spanyol dan Belanda ke tanah Minahasa ini.

Masyarakat suku Tombulu pada dasarnya hidup sebagai petani. Mereka menanam padi di sawah dan ladang. Selain padi mereka juga menanam beberapa jenis sayur-sayuran dan buah-buahan. Juga beberapa tanaman keras seperti cengkeh dan kopra.

sumber:
sumber lain dan foto:
  • pakatuans.blogspot.com
  • search.wn.com

Suku Tountemboan

Suku Tountemboan (Tontemboan), merupakan sub-suku Minahasa, yang berdiam di kabupaten Minahasa bagian selatan di provinsi Sulawesi Utara. Populasi suku Tountemboan diperkirakan sekitar 150.000 orang.

Suku Tountemboan, berkedudukan di Minahasa bagian Selatan yang mendiami daerah Langowan, Tompaso, Kawangkoan, Sonder, Tareran, Tumpaan, Amurang dan daerah di sepanjang kuala Ranoyapo yaitu di daerah Motoling, Kumelembuai, Ranoyapo, Tompaso Baru, Modoinding, Tenga dan Sinonsayang.

Suku ini berasal dari pakasa'an Tompakewa yang terdiri dari 6 walak:
  • Tompaso
  • Langowan
  • Tombasian
  • Rumoong
  • Tongkimbut atas (Kawangkoan)
  • Tongkimbut bawah (Sonder).

Orang Tountemboan berbicara menggunakan bahasa Tountemboan. Bahasa Tountemboan merupakan salah satu dialek dari bahasa Minahasa.

Bahasa Tountemboan memiliki 2 dialek, yaitu:
  • dialek Matana’i (Sonder dan sekitarnya)
  • dialek Makela’i meliputi kecamatan Langowan, Tompaso’ dan sebagian Tompaso’ Baru.

tari perang "Cakalele"
suku Tountemboan
Mitos leluhur orang Tountemboan, bahwa mereka juga berasal dari keturunan Lumimu-ut, tapi dengan versi yang sedikit berbeda. Menurut bentuk mitos ini, pada awalnya hanya ada lautan dan batu besar yang disapu oleh gelombang, dan setelah itu seekor bangau berkeringat, dari keringatnya menghasilkan seorang dewa perempuan yang disebut Lumimu-ut (Loeang-Sermata).
Dinasehati oleh bangau itu akan keberadaan “negeri asali”, kemudian dia mengambil dua genggam tanah yang ia sebarkan di atas batu, dan maka ia menciptakan dunia, dimana ia menanam benih semua tanaman dan pohon, agar mirip dengan “negeri asali”. 
Setelah menciptakan bumi, Lumimu-ut naik ke gunung, lalu angin barat bertiup dan membuatnya hamil. Seiring waktu ia melahirkan seorang anak laki-laki, dan saat ia telah tumbuh menjadi dewasa, sang ibu menyuruhnya mencari seorang istri, namun sejauh ia mencari, ia tidak menemukan satupun. Maka Lumimu-ut memberinya tongkat yang panjangnya sama dengan tinggi badannya, memintanya mencari seorang perempuan yang harus lebih pendek dari tinggi tongkat ini, dan bila ia menemukan perempuan demikian, maka ia ditakdirkan untuk menikahinya.
Ibu dan anak ini kemudian berpisah, satu pergi ke kanan dan satu ke kiri, dan mereka keliling dunia, hingga akhirnya bertemu kembali, tanpa saling kenal, dan saat sang anak mencocokkan tinggi badan ibunya dengan tongkat, tinggi badan ibunya ternyata lebih pendek dari tongkat, karena tanpa sepengetahuannya, tongkat itu bertambah panjang. Karena itu, maka ia pun menikahi sang ibu, dan mereka melahirkan banyak anak, yang keturunannya menjadi leluhur orang-orang Tountemboan..

keterangan:
  • pakasaan = anak suku
  • walak      = klan/ sub-suku lebih kecil di bawah pakasaan/ kelompok kecil seketurunan
sumber:
  • deutromalayan.blogspot.com
  • bode-talumewo.blogspot.com
  • wikipedia
sumber lain dan foto:
  • tountemboan.blogspot.com

Suku Toundanouw

Suku Toundanouw, adalah suatu sub-suku Miinahasa yang menetap di daerah banyak danau, salah satu danau terbesar di daerah pemukiman orang Toundanouw ini adalah danau Bulilin, yang berada di kabupaten Minahasa Tenggara provinsi Sulawesi Utara.

danau Bulilin
Istilah orang Toundanouw ini mirip dengan salah satu etnis Minahasa lain, yang dikenal sebagai orang Tondano, tapi 2 kelompok ini berbeda, karena orang Tondano menetap di daerah sekitar danau Tondano, sedangkan orang Toundanouw hidup di sekitar danau Bulilin yang berada di kabupaten Minahasa Tenggara. Yang menarik dari orang Toundanouw ini adalah, sebelum ada istilah Tondano di daerah Tondano, mereka telah menamakan diri mereka sebagai orang Toundanouw. Selain itu ditinjau dari asal-usul nenek moyang, orang Toundanouw dan orang Tondano berasal dari nenek moyang yang sama, yaitu berasal dari keturunan orang-orang dari Tifore (Tafure atau Tidore), yang pada awalnya menetap di daerah Atep yang hijrah ke pedalaman. Sehingga kedua etnis ini memiliki kebiasaan yang sama, yaitu hidup di sekitar danau.

Pada masa lalu, ketika suku-suku di Minahasa belum bersatu, sering terjadi peperangan antar suku, bahkan sempat terjadi pengayauan (potong kepala) di antara mereka. Melihat peperangan antar walak (kelompok Taranak) terus berlangsung, sekitar tahun 670, beberapa Walian dan Tonaas menyadari akan pentingnya suatu musyawarah di dalam usaha menciptakan kembali akan persatuan dan kesatuan yang berlangsung di sekitar kaki Gunung Tonderukan. Di tempat itu, terdapat sebuah batu “Tumotowa” tempat pelaksanaan ritual Poso (J. G. F. Riedel, The Minahasa, 1862). Kendati berlangsung alot, namun musyawarah yang dipimpin oleh Tonaas Kapero yang berasal dari kelompok Pasiowan Telu bersama Muntu Untu dari golongan Makarua Siow sebagai panitera/notulis dan Mandey sebagai saksi, berhasil mencapai beberapa kesepakatan penting, di antaranya:
  • menerima penetapan pembagian pemukiman setiap kaum Taranak
  • setiap kaum Taranak dapat mengembangkan ketentuan adat dan ritual yang tetap berlandaskan kepercayaan terhadap Empung Walian Wangko (Tuhan Yang Maha Agung) dan opo (leluhur).
  • setiap kaum Taranak dapat mengembangkan bahasa sesuai kehendak masing-masing, namun semuanya tetap mengaku sebagai satu Kasuruan, yang tidak dapat dicerai-beraikan oleh siapapun.
Selanjutnya pembagian wilayah pemukiman diatur dan dibagi menjadi 7 Taranak, salah satunya adalah Kaum Taranak yang dipimpin oleh Tonaas Kamboyan, menuju ke dataran sekitar Danau Bulilin, tempat asal mereka semula dan mendiami pemukiman di Bukit Batu, Kali dan Abur. Kelompok dan keturunan mereka inilah yang disebut orang Toundanouw, yang berarti "orang yang tinggal di sekitar air".

Pakasa'an Toundanouw berasal dari Pakasa'an Tountewoh, yang terpecah menjadi 3 pakasa'an, yaitu Pakasa'an Tonsea, Pakasa'an Tondano dan Pakasa'an Toundanouw. 
Sedangkan Pakasa'an Toundanouw terdiri dari 2 walak, yaitu walak Tombatu dan walak Tonsawang, yang sekarang menjadi etnis tersendiri di wilayah kabupaten Minahasa Tenggara.
Walak Tombatu dan walak Tonsawang, hidup berdampingan di satu wilayah di kabupaten Minahasa Tenggara, dan banyak terjadi perkawinan silang di antara mereka, sehingga saat ini mereka lebih populer dengan sebutan sebagai orang Tonsawang, tapi mereka juga tetap mengakui diri mereka sebagai satu kesatuan sebagai orang Toundanouw.

keterangan:
  • pakasa'an :  kelompok (anak suku Minahasa)
  • walak        :  klan (kelompok yang lebih kecil dari pakasa'an)
sumber:
sumber lain dan foto:
  • mop-1.blogspot.com

Suku Tombatu

tempat wisata di danau Bulilin
Suku Tombatu, adalah suatu komunitas masyarakat yang menetap di kabupaten Minahasa Tenggara provinsi Sulawesi Utara.

Tombatu (Toumbatu), adalah suatu Walak yang berasal dari Pakasaan Toundanouw, yang terbagi 2 walak, salah satunya adalah Walak Tombatu, sedangkan satu lagi adalah Walak Tonsawang.
Asal-usul orang Tombatu yang dari pecahan Pakasaan Toundanouw daerahnya terdapat beberapa danau dan danau yang terbesar adalah danau Bulilin. Oleh karena itu orang Tombatu disebut juga sebagai orang Toundanouw.
Orang Tombatu banyak berbaur dengan orang Tonsawang dan terjadi perkawinan campur, dan menetap di daerah yang sama, sehingga antara kedua kelompok ini agak susah dibedakan, sehingga saat ini cenderung disamakan sebagai orang Tonsawang.

Penyebaran orang Tombatu adalah di desa Molompar Satu, Molompar dua, Kuyanga, Tombatu 1, Tombatu 2, Tombatu 3, Betelen, Mundung, Mundung 1, Esandom, Winorangian, Tonsawang (Nevy Kawulusan).  Letak daerah Tombatu berada di sebelah selatan gunung Soputan, sekitar 15 km dari ibukota kabupaten: Ratahan.

orang Tombatu
Masyarakat Tombatu hampir seluruhnya memeluk agama Kristen Protestan, yang berkembang di kalangan masyarakat Tombatu sejak abad 19. Sebenarnya sejak abad 16 mereka telah memeluk agama Kristen Katolik. Tapi sejak kehadiran Belanda di wilayah mereka, banyak orang Tombatu yang beralih ke agama Kristen Protestan. Di pemukiman orang Tombatu banyak terdapat gereja dari berbagai denominasi gereja. Gereja yang paling menonjol adalah gereja GMIM, Pantekosta, Advent dan Katolik. Putra-putri Tombatu banyak yang menjadi pendeta dan gembala sidang di perantauan, misalnya Noch Supit gembala GPdI di Riau, Pdt. Piet Tiouw di Bagansiapi-api, Pdt. James Pangau di Jakarta, Ferdinand Kindangen di daerah Sulawesi Selatan, Pdt. Buce Pelleng di Tonasa - Makassar, Pdt. DR. Ruddy Alow, M.Div {Bandung); dan Pdt. Freddy Tondatuon (Sulteng).

Masyarakat Tombatu memiliki tradisi gotong royong yang disebut "Mapalus". Anggota mapalus dalam jumlah puluhan disebut Kelup. Kelompok kelup tersebut biasanya membangunkan anggota mereka pada jam 03.00 subuh dengan terompet. Suara terompet tersebut akan membangunkan masyarakat seluruh kampung. Anggota "Mapalus" segera bangun, mempersiapkan diri untuk berangkat ke kebun. Dalam perjalanan ke kebun, mereka berjalan berjejer seperti "kaki seribu" yang diiringi dengan berbagai alat musik, seperti tambur, gendang, dan lain-lain, yang dipukul secara berirama oleh 4-5 orang, sampai ke tempat tujuan. Mereka bekerja selama 8 jam sehari. Petang hari mereka akan pulang berjalan kaki dengan cara yang sama dan menuju kampung, biasanya banyak anak-anak yang berdiri di pinggir jalan menanti kedatangan grup Mapalus, karena waktu mereka berangkat pagi-pagi, anak-anak itu belum bangun.

Masyarakat Tombatu, seperti kelompok sub-suku Minahasa pada umumnya hidup pada bidang pertanian terutama pada kopra, cengkeh dan vanili. Dahulu mereka sempat menanam padi di sawah, tapi beberapa tahun belakangan areal sawah di daerah Tombatu banyak yang ditimbun dengan tanah dan dibangun rumah-rumah penduduk, yang menjadi perkampungan baru bagi penduduk Tombatu.

sumber:
sumber lain dan foto:
  • youtube.com
  • griyawisata.com

Suku Toulour

Suku Toulour, adalah salah satu sub-suku Minahasa yang bermukim di kabupaten Minahasa provinsi Sulawesi Utara. Populasi suku Toulour ini diperkirakan lebih dari ... orang.

Suku Toulour kadang disebut juga sebagai orang Tondano, mereka mendiami daerah sekeliling danau Tondano sampai di pantai Timur Minahasa (Tondano Pante) yaitu daerah Tondano, Kombi, Eris, Lembean Timur, Kakas, Remboken. Pakasaan Toulour terbagi atas dua walak yaitu Tondano Toulimambot di bagian barat dan Tondano Touliang di bagian barat.

Penduduk Minahasa sekitar kota Tondano, menyebut diri mereka sebagai "orang Toulour", atau "orang Tondano / orang Tou nDano”. Orang Toulour berbicara dalam bahasa Toulour, yang disebut juga sebagai bahasa Tondano.

Asal-usul orang Tondano, menurut cerita, dahulu serombongan pendatang, orang-orang Tifore, yang datang dari pesisir Timur (Atep). Orang-orang Tifore ini melakukan kawin campur dengan orang Toumbulu, dan menetap di daerah bagian barat danau (yang sekarang disebut danau Tondano). Dari keturunan inilah yang menurunkan orang-orang Tondano. Mereka mendirikan pemukiman di sekitar danau Tondano.

Istilah "Tondano" diduga berasal dari bahasa Tountemboan, yaitu "Touw un Dano", yang berarti "orang danau". Sedangkan istilah "Toulour" berasal dari bahasa Tonsea dan Tombulu, yaitu "Tou Lour", yang berarti "orang air".

Daerah pemukiman suku Toulour ini berada di dua daerah utama, yaitu Touliang (sebelah timur sungai) dan Toulimambot (sebelah barat sungai). Pada zaman kolonial Belanda, daerah ini oleh Belanda dinamakan distric Toulour dengan kotanya adalah Tondano. Oleh karena itu penduduk di daerah ini menyebut diri mereka sebagai orang Toulour, tapi juga sebagai orang Tondano.

Sebenarnya ada satu etnis lain yang menggunakan nama mirip, salah satu etnis Minahasa yang menamakan diri mereka sebagai orang Toundanouw. Yang menarik dari orang Toundanouw ini adalah, sebelum ada istilah Tondano di daerah Tondano, mereka telah menamakan diri mereka sebagai orang Toundanouw. Satu hal lain yang juga menarik adalah orang Toundanouw ini juga berasal dari keturunan orang Tifore. Mereka menetap di daerah Atep yang hijrah ke pedalaman.

Menurut Dr. J.G.F. Riedel, dalam bukunya (De Minahasa in 1825), tertulis bahwa pendatang-pendatang dari Tifore menetap di pesisir Timur (Atep), merambah ke pedalaman dalam 2 kelompok, yaitu:
  • Kelompok ke-1, menuju Utara, masuk ke wilayah orang Tonsea dan mendirikan pemukiman yang disebut Lumijang. Kelompok inilah yang menetap di sekitar danau, kemudian dinamakan Tou nDano, atau Tou Lour (dalam bahasa Tonsea/ Tombulu). Mereka lah yang menjadi orang Tondano atau orang Toulour.
  • Kelompok ke-2, menuju ke Selatan dan membuat pemukiman Awouw, Topiriwan dan Watu. Mereka menyebut diri mereka sebagai orang Toundanouw. Dari keturunan mereka terbagi menjadi 2 kelompok kecil, yaitu, yang disebut Tou Watu atau Tombatu, dan satu lagi diduga adalah Tonsawang.

Ada suatu versi yang sedikit berbeda tentang orang Toulour, menurut cerita beberapa Tetua Minahasa, dikatakan bahwa sejak kehadiran orang Minahasa di sekitar danau Tondano, mereka menamakan diri mereka sebagai orang Tondano. Kemudian mereka terbagi menjadi 3 walak, yaitu Kakas, Romboken dan Toulour. Dari sini lah, terlihat maka orang Toulour, selain menyebut diri mereka sebagai orang Toulour, mereka juga mengaku sebagai orang Tondano. Karena mereka adalah pecahan langsung salah satu dari 3 walak Tondano.

Dalam budaya orang Toulour, mereka memiliki suatu tradisi beladiri yang tetap terpelihara, yaitu beladiri khas walak Tolour biasa dikenal dengan nama ilmu beladiri Sakalele soma'tanu rano wo reghes (silat sakti air dan angin). Sakalele ini memiliki 36 jurus, yang sangat hebat. Ilmu beladiri Sakalele memiliki jurus-jurus dicipta berdasar pergerakan  alam, air dan angin di danau Tondano.

Orang Toulour, pada umumnya hidup sebagai petani. Beberapa orang bekerja sebagai nelayan penangkap ikan di danau Tondano. Sedangkan pada bidang profesi lain, mereka bekerja sebagai pedagang, guru, pegawai dan lain-lain.

sumber:
  • deutromalayan.blogspot.com
  • bode-talumewo.blogspot.com
  • paulgrw: anak suku Toundanow
  • wikipedia
sumber lain dan foto:
  • toudanowaya.multiply.com

Suku Tondano

Suku Tondano, adalah salah satu sub-suku Minahasa yang mendiami kabupaten Minahasa di provinsi Sulawesi Utara. Populasi suku Tondano diperkirakan sekitar 92.000 orang.

Suku Tondano mendiami wilayah di sekitar pesisir danau Tondano. Suku Tondano terdiri dari beberapa suku kecl atau walak, yaitu:
  • Kakas
  • Remboken
  • Toulour
    • Touliang 
    • Toulimambot 

rumah adat suku Tondano
Karena Walak Toulour menjadi 2 bagian, sehingga walak Tondano menjadi 4 - 5 walak. Selain menyebut diri mereka sesuai dengan nama walak mereka, misalnya "orang Toulour", "orang Kakas" atau "orang Touliang", mereka menyebut diri mereka juga sebagai "orang Tondano". Jadi saat ini istilah orang Tondano, berarti menunjuk kepada walak-walak tersebut di atas, karena orang Tondano nya sendiri telah membagi diri mereka menjadi beberapa walak sesuai dengan daerah yang mereka tempati, tapi tetap satu kesatuan sebagai orang Tondano.

Orang Tondano, memiliki karakter yang keras hati dan rajin. Dalam keseharian, mereka adalah orang yang ramah dan terbuka terhadap siapa saja, termasuk terhadap para pendatang yang hadir di wilayah mereka.

Masyarakat suku Tondano pada umumnya memeluk agama Kristen. Keagamaan dalam masyarakat suku Todano berkembang dengan kokoh. Mereka sering mengadakan pertemuan di gereja. Agama Kristen diperkirakan masuk ke dalam kalangan masyarakat Tondano sudah sejak abad ke-16, yang dibawa oleh orang Portugis dan Spanyol, dan dikembangkan oleh orang Belanda.

gadis Tondano
Para perempuan dalam banyak hal lebih aktif dari kaum pria. Hal ini berlaku sejak masa silam, dalam hal urusan-perbatasan, pemberontakan, dan seterusnya. Gejala ini terlihat pula sewaktu akan dibangun Gereja baru, dalam pekerjaan penginjilan, dalam biblestudy. Kaum perempuan memiliki rapat pertemuan keagamaan sendiri, di mana persoalan diperbincangkan dengan mantap serta dilaksanakan. Dari sini ternyatalah bahwa agama telah menjadi urusan rakyat. Hal ini menunjukkan bahwa peran perempuan di tanah Minahasa telah sama derajat dengan kaum laki-laki sejak zaman dahulu, jauh sebelum adanya Kartini di pulau Jawa.

Masyarakat Tondano, hidup sebagai petani dan nelayan. Selain itu mereka juga bekerja pada bidang profesi lain, seperti menjadi pedagang, guru, pegawai dan bekerja di sektor swasta. Saat ini banyak dari masyarakat Tondano yang merantau ke luar daerah seperti ke Manado, Medan dan kota-kota di Sumatra lainnya, kota-kota di Kalimantan, kota-kota di Jawa, Papua dan lain-lain.

sumber:
sumber lain dan foto:
  • tondanogreatpower.blogspot.com
  • situs-berita-terbaru.blogspot.com

Suku Tonsawang

Suku Tonsawang (Tounsawang), merupakan salah satu sub-suku Minahasa yang terdapat di provinsi Sulawesi Utara. Suku Tonsawang, bermukim di kecamatan Tombatu dan Touluaan. Populasi suku Tonsawang diperkirakan lebih dari 20.000 orang pada sensus tahun 1981.

Suku Tonsawang ini berasal dari Pakasa'an Toundanouw, menurut sejarah, dikatakan bahwa dahulu di daerah pantai Amurang terdapat sebuah danau, dan arah tenggara danau terdapat sebuah daerah perbukitan bernama Batu, di tempat itu berdiam sekelompok orang yang menyebut dirinya sebagai orang “Toundanouw”, yang berarti "orang dari air". Orang Toundanouw ini terbagi menjadi 2 kelompok, salah satunya adalah yang sekarang disebut sebagai orang Tonsawang., sedangkan kelompok satu lagi disebut orang Tombatu.

Menurut cerita lain, nenek moyang orang Tonsawang, dikatakan berasal dari pulau kecil Mayu dan Tafure (Tifore atau Tidore) di selat Maluku yang mendarat di Atep, kemudian melanjutkan perjalanan ke Tompaso, dan kemudian melanjutkan perjalanan lagi menuju ke tempat mereka sekarang ini.

Walaupun mereka menyebut diri mereka sebagai orang Tonsawang, tapi kadang-kadang mereka menyebut diri mereka juga sebagai orang Toundanouw. Karena dilihat dari asal-usul, bahwa orang Tonsawang bersama orang Tombatu, adalah berasal dari keturunan orang Toundanouw.

Lesung Batu Nawo Oki
Di wilayah pemukiman suku Tonsawang, terdapat peninggalan sejarah yang dikenal dengan nama Lesung Nawo Oki yang telah berumur ratusan tahun. Penemuan ini menunjukkan bahwa di wilayah hunian suku Tonsawang ini sejak dahulu telah dihuni manusia, yaitu dengan adanya Lesung Nawo Oki ini. Lesung Batu Nawo Oki ini berkaitan erat dengan legenda Raja Nawo Oki, yaitu nama pemimpin orang Tonsawang pada masa lalu, sekitar abad 17.

Masyarakat suku Tonsawang, mayoritas adalah pemeluk agama Kristen. Agama Kristen berkembang dengan pesat di daerah ini sejak masuknya bangsa Portugis, Spanyol dan Belanda ke daerah ini sekitar akhir abad 17.

Suku Tonsawang pada umumnya hidup sebagai petani. Menanam berbagai jenis tanaman, seperti padi dan jagung serta sayur-sayuran dan buah-buahan. Selain itu mereka juga menanam tanaman keras seperti cengkeh, kopra dan lain-lain.

sumber:
sumber lain dan foto:
  • ardypelealu.wordpress.com

Suku Tonsea

suku Tonsea
Suku Tonsea, adalah suatu suku tua Minahasa yang terdapat di provinsi Sulawesi Utara. Suku Tonsea ini terutama bermukim di kabupaten Minahasa Utara meliputi daerah semenanjung Sulawesi, kota Bitung, Airmadidi, Kauditan, Kema, kota Bitung, Tatelu, Talawaan dan Likupang Timur. Populasi suku Tonsea diperkirakan lebih dari 90.000 orang pada sensus tahun 1989.

Suku Tonsea berasal dari pakasa'an Tountewoh, yang merupakan anak suku Minahasa. Orang Tonsea berbicara menggunakan bahasa Tonsea. Bahasa Tonsea merupakan salah satu dialek bahasa Minahasa.

Bahasa Tonsea memiliki beberapa dialek, yaitu: 
  • dialek Maumbi
  • dialek Airmadidi
  • dialek Likupang
  • dialek Kauditan
  • dialek Klabat
  • dialek Bitung

Waruga
tempat bersejarah
di Airmadidi
Dialek-dialek di atas, tidaklah terlalu berbeda jauh, karena setiap pemakai dialek yang berbeda wilayah bisa saling berkomunikasi dengan baik menggunakan dialeknya masing-masing, apabila bertemu.
Pada masa sekarang ini, bahasa Tonsea sendiri mengalami penurunan dalam jumlah penuturnya, akibat dominasi dari bahasa Melayu Manado yang cenderung semakin dipakai oleh golongan generasi muda suku Tonsea.

Pada abad 17, suku Tonsea dipimpin oleh seorang yang bernama Xaverius Dotulong, sebagai pemimpin dari suku Tonsea yang berkedudukan di Kema. Saat berkorespondensi dengan Gubernur Ternate Robertus Padtbrugge, Xaverius Dotulong menggunakan bahasa Melayu yang ternyata sudah banyak digunakan oleh pedagang-pedagang yang berdagang di wilayah kepulauan Maluku. Xaverius Dotulong adalah anak dari Runtukahu Lumanauw yang tinggal di Kema dan merintis pembangunan pertama kali di wilayah adat suku Tonsea.

Silsilah Dotulong:




































Masyarakat suku Tonsea mayoritas pemeluk agama Kristen. Agama Kristen tumbuh dengan kuat dalam kehidupan masyarakat suku Tonsea, terlihat dari banyaknya bangunan gereja yang berdiri di setiap pemukiman masyarakat suku Tonsea. Mereka sering mengadakan kegiatan di gereja. Kegiatan gereja adalah sangat penting bagi kehidupan mereka.

Masyarakat suku Tonsea, pada umumnya berprofesi sebagai petani. Mereka menanam beberapa jenis sayuran, termasuk jagung, beberapa jenis buah-buahan. Selain itu mereka juga menanam tanaman keras seperti cengkeh. Pada bidang profesi lain, orang Tonsea berprofesi sebagai pedagang, guru, pegawai negeri dan di sektor-sektor swasta. Saat ini banyak orang Tonsea yang merantau ke daerah lain, seperti Manado, Makasar atau ke pulau-pulau lain, seperti Papua, Maluku, Sumatra, Jawa dan Kalimantan.

sumber:
sumber lain dan foto:
  • pesonaminut.blogspot.com
  • klabatnews.com

Suku Kakas

Suku Kakas, adalah suatu suku kecil, salah satu klan Tondano yang merupakan sub-suku Minahasa di provinsi Sulawesi Utara.

Suku Kakas terutama mendiami kecamatan Kakas di kabupaten Minahasa, yang termasuk bagian dari Pakasa'an Tondano, yang terdiri dari 4 walak, yaitu:
  • Kakas
  • Remboken
  • Touliang
  • Toulimambot

Suku Kakas, hadir di wilayah Kakas ini diperkirakan sekitar abad 16. Pada awalnya mereka datang mencari daerah baru untuk menggarap tanah ladang dan sawah. Orang Kakas pada masa itu hidup sebagai petani, dengan menerapkan praktek pertanian perladangan berpindah. Tapi setelah sekian lama mereka di tempat ini, rupanya tempat ini dirasa cocok untuk didiami, sehingga mereka mendirikan suatu perkampungan, yang lama kelamaan menjadi pemukiman bagi suku Kakas di daerah ini.

suku Kakas
Kebaktian di Gereja
Orang Kakas berbicara dalam bahasa Tondano (Toulour) dengan dialek Kakas. Bahasa Kakas berakar dari bahasa Tondano, tapi terdapat sedikit perbedaan dalam dialek, tapi tidak terlalu berarti, karena antara orang Kakas dan orang Tondano, tetap bisa berkomunikasi dengan baik dan saling memahami maksud lawan bicaranya.

Orang Kakas mayoritas memeluk agama Kristen. Mereka mengenal agama Kristen sekitar tahun 1830 dari seorang penginjil dari schwarts yang berkhotbah di daerah Kakas. Agama Kristen berkembang pesat dan menjadi keyakinan yang kuat di kalangan masyarakat Kakas ini. Sejak masuknya Belanda di wilayah ini, maka pembangunan gedung gereja dan sekolah serta fasilitas kesehatan banyak didirikan oleh Belanda. Hal ini mendapat sambutan yang baik dari masyarakat suku Kakas.

sumber:

Suku Anak Dalam

Suku Anak Dalam, adalah beberapa kelompok suku terasing yang tersebar di hutan pedalaman Sumatra Selatan.

Ada anggapan yang mengatakan bahwa suku Anak Dalam dan suku Kubu adalah sama. Memang dilihat dari kebiasaan dan gaya hidup sepertinya kedua kelompok suku ini terlihat sama. Tetapi apabila diperhatikan lebih seksama, ternyata kedua kelompok suku ini berbeda dari segi fisik. Suku Kubu berada di wilayah provinsi Jambi termasuk dalam ras Weddoid, memiliki kulit gelap dan berambut keriting. Sedangkan suku Anak Dalam berada di pedalaman hutan Sumatra Selatan yang memiliki ras Mongoloid, berkulit kuning, dan rambut kebanyakan lurus.

Suku Anak Dalam sendiri terdiri dari beberapa kelompok kecil, yang tersebar di pedalaman hutan Sumatra Selatan. Suku Anak Dalam secara fisik termasuk dalam ras Mongoloid, berkulit kuning dan berambut agak lurus.

Beberapa suku Anak Dalam di Sumatra Selatan adalah:

suku Rawas
Suku Rawas, adalah kelompok suku Anak Dalam yang mendiami wilayah hutan Musi Rawas Sumatra Selatan.
Masyarakat suku Rawas ini menggunakan bahasa Melayu dan berkulit kuning, bermata agak sipit dan berambut lurus. Kelompok inilah yang sering disebut Suku Anak Dalam. Suku Rawas ini termasuk dalam rumpun Proto Malayan.

.



suku Banyuasin
Suku Banyuasin, adalah kelompok yang disebut juga sebagai suku Anak Dalam, adalah salah satu suku yang menempati seluruh kecamatan di kabupaten Musi Banyuasin, yaitu di kecamatan Babat Toman, kecamatan Bayung Lencir, kecamatan Sungai Lilin dan kecamatan Banyuasin Dua dan kecamatan Banyuasin Tiga. Pemukiman mereka berada pada dataran rendah yang banyak ditemui rawa-rawa dan berada di daerah beberapa aliran sungai cabang dari sungai Musi.

selengkapnya tentang suku Banyuasin...


suku Teras
Suku Teras, adalah suatu komunitas suku terasing yang bermukim di sekitar sungai Teras di SP9 Cecar kabupaten Musirawas provinsi Sumatra Selatan. Suku Teras ini kadang disebut juga sebagai suku Anak Dalam. Karena mereka lebih memilih hidup secara terasing di pedalaman dari pada berbaur dengan masyarakat suku lain.

selengkapnya tentang suku Teras...





diolah dari berbagai sumber