Showing posts with label Kalimantan Barat. Show all posts
Showing posts with label Kalimantan Barat. Show all posts

Suku Dayak Dohoi


Suku Dayak Dohoi, merupakan salah satu dari sekian banyak suku Dayak yang ada di Kalimantan Barat yang mendiami wilayah sekitar perbatasan Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah. Populasi suku Dayak Dohoi ini lebih dari 100.000 orang.

Menurut pengelompokan dalam suku Dayak, suku Dayak Dohoi dimasukkan ke dalam sub suku Dayak Ot Danum. Pemukiman terbesar suku Dayak Dohoi adalah di kecamatan Ambalau dengan populasi lebih dari 14.500 orang menurut sensus tahun 1988. Di mana di wilayah ini suku Dayak Dohoi menjadi mayoritas. Tetangga mereka di wilayah ini adalah suku Dayak Kadorih.

Di masa lalu orang Dayak Dohoi terkenal logas, tohpas hohot, dan nyolung osak dahak ahLogas berarti "mudah naik darah", tohpas lohot berarti "tidak ragu-ragu kalau mengambil keputusan untuk membunuh", dan nyolung osak dahak berarti "orang yang tidak mengenal rasa takut sedikit pun". Pada masa lalu suku Dayak Dohoi memiliki perilaku sangat keras. Mereka punya prinsip, sekali ahpang yaitu "mandau terhunus", maka pantang disarungkan sebelum minum darah manusia. Karena wataknya itulah maka oleh orang dayak lainnya yang berada di sekitar daerah itu menamakan mereka sebagai Dohoi, untuk menyatakan bahwa "mereka ini adalah orang yang logas, tohpas lohot, dan nyolung osak dahak ah".

Masyarakat suku Dohoi berbicara menggunakan bahasa Dohoi yang termasuk rumpun bahasa Barito.

Setiap desa pemukiman suku Dayak Dohoi dihuni antara 100-400 orang. Tanah di sekeliling setiap desa (sekitar 2 - 3 km jauhnya) dianggap sebagai tanah milik desa. Setiap penduduk desa berhak menjual tanahnya bila dikehendaki, tetapi hanya kepada sesama penduduk desa. Tanah yang tetap kosong selama lebih dari 5 tahun bisa dimiliki oleh siapa saja di desa itu.

Suku Dohoi kadang disebut juga sebagai suku Ot Danum. Istilah "ot danum" memiliki arti "orang-orang yang tinggal di wilayah di sepanjang sungai". Pemukiman mereka membentang dari sungai Melawi sampai sungai Barito. Pemukiman mereka terletak di daerah terpencil di pedalaman, sehingga untuk mencapai pemukiman suku Dohoi ini bisa memakan waktu berhari-hari dengan menggunakan perahu melalui sungai Lamandau.

Pernikahan di antara saudara sepupu lebih disukai di antara suku Dohoi. Bila telah tercapai persetujuan (kesepakatan) oleh orang tua pasangan, keluarga mempelai laki-laki memberikan hadiah secara simbolis kepada keluarga mempelai wanita. Pemberian kedua diberikan ketika pertunangan diumumkan. Sesudah pernikahan dilangsungkan, dilakukan pembayaran kepada pengantin wanita.

Orang Dohoi sebagian besar adalah penganut animisme (percaya bahwa setiap benda memiliki roh) dan polytheisme (menyembah banyak dewa). Tapi pada dasarnya praktek keagamaan mereka berkisar di antara dua dewa, yang satu dilambangkan dengan Burung Enggang dan Ular air.
Upacara-upacara keagamaan bisa berupa acara-acara sederhana maupun pesta-pesta yang lama. Penduduk meminta bantuan Shaman (dukun) untuk mengobati penyakit mereka, yang dalam prakteknya seringkali kerasukan.

Mata pencaharian orang Dohoi adalah bercocok tanam di ladang. Mereka biasanya menumbuk padi pada malam hari, setelah seharian bekerja di ladang. Suara tumbukan bertalu-talu ini disambut dengan gembira gelak tawa di setiap hampir rumah tangga. Inilah keunikan suku Dohoi. Hasil panen disimpan pada tempat khusus yang disebut jorong, yaitu rumah yang terbuat dari satu tiang guna menghindari tikus. Rumah mereka berbentuk persegi panjang dan didirikan sekitar 2 - 5 m di atas tanah dengan tiang-tiang kayu (rumah panggung) dengan tangga bertingkat. Anjing, babi, dan ayam merupakan hewan peliharaan mereka. Mereka juga memelihara sapi untuk disembelih pada perayaan-perayaan besar. Orang Dohoi juga terkenal dalam kerajinan topi dan keranjang. Di luar kegiatan tersebut mereka juga kerap berburu ke hutan-hutan sekitar perkampungan mereka.

sumber:

Suku Embau

suku Embau,
telah menjadi Melayu
Suku Embau, adalah suatu kelompok masyarakat yang masih keturunan suku Dayak Embaloh, yang saat ini lebih menyatakan diri mereka sebagai Melayu. Suku Embau ini bermukim di sepanjang sungai Embau kabupaten Kapuas Hulu provinsi Kalimantan Barat.

Suku Embau, adalah keturunan dari suku Dayak Embaloh. Walaupun mereka masih berdarah dayak, tetapi mereka lebih suka menyebut diri mereka sebagai orang Embau, atau Melayu Embau.

Bahasa Embau yang asli diperkirakan telah punah dari peradaban sejak akhir abad ke-19. Bahasa Embau telah punah karena tidak ada lagi penutur bahasa ini. Menurut penuturan masyarakat Embau, pada awalnya mereka berbicara sehari-hari mengggunakan bahasa Embau (mirip dengan bahasa Dayak Embaloh), tetapi karena dominasi bahasa Melayu di daerah ini. Sering mereka dianggap aneh, karena menggunakan bahasa Embau, akhirnya secara perlahan-lahan bahasa Embau tergeser oleh bahasa Melayu. Pada saat ini suku Embau menggunakan bahasa Melayu, walaupun beberapa kata dalam bahasa Melayu yang mereka gunakan masih terdapat beberapa kata dalam bahasa Embau. Oleh karena itu bahasa yang mereka pakai sekarang disebut sebagai bahasa Melayu Embau.

Punahnya bahasa Embau, maka punah juga lah budaya asli suku Embau, karena saat ini mereka lebih suka melaksanakan berbagai acara adat mengikuti segala bentuk budaya Melayu. Bahkan perilaku dan cara berpakaian pun telah mengikuti cara-cara melayu.
Punahnya bahasa dan budaya Embau ini seiring dengan masuknya ajaran Islam dan para pendatang Melayu yang memenuhi wilayah suku Embau. Dengan kehadiran orang-orang Melayu ini, sehingga banyak terjadi kawin-campur antara orang Embau dengan orang-orang Melayu. Sehingga kebudayaan dan agama orang Melayu ini pun terserap ke dalam masyarakat Embau. Dan saat ini suku Embau secara mayoritas telah memeluk agama Islam.

sumber:
  • kebudayaan-dayak.org
  • adatnusantara.blogspot.com
  • wikipedia
  • dan sumber lain

Suku Dayak Kayaan Mendalam

seorang gadis
suku Dayak Kayaan Mendalam
Suku Dayak Kayaan Mendalam, adalah suatu identitas kelompok suku dari 3 suku kecil, yang berdiam di sekitar sungai Mendalam kecamatan Putussibau kabupaten Kapuas Hulu provinsi Kalimantan Barat. Suku Dayak Kayaan Mendalam ini berada di 3 desa, yakni desa Padua, desa Teluk Telaga dan desa Datah Dian. Wilayah perkampungan suku Dayak Kayaan Mendalam ini terdiri dari kampung sungai Ting, kampung Tanjung Karang, kampung Teluk Telaga dan kampung Datah Dian.

Suku Dayak Kayaan Mendalam, terdiri dari 3 suku kecil, yaitu:
  • Umaa’ Pagung
  • Umaa’ Suling
  • Umaa’ Aging

Ketiga suku kecil ini lah yang disebut sebagai suku Dayak Kayaan Mendalam. Ketiga suku kecil ini sempat dimasukkan ke dalam kelompok rumpun Kayan (Apo Kayan), tetapi mereka tidak menyetujui hal ini, karena menurut mereka mereka kelompok Kayaan, berbeda dengan kelompok Kayan. Walaupun mereka sebenarnya mengakui bahwa menurut sejarah mereka yang berdasarkan cerita dari turun temurun, kemungkinan nenek moyang mereka memang berasal dari Apo Kayan, yang bermigrasi sejak ratusan atau ribuan tahun yang lalu.

ritual Dange
suku Dayak Kayaan Mendalam
Mereka selalu memelihara budaya dari nenek moyang. Salah satunya adalah upacara syukuran atas berkah dan rahmat dari Tipang Tenangaan (Tuhan Allah), dalam bentuk upacara adat yang dinamai Dange. Dange memiliki makna yang sama dengan gawai Dayak. Dange adalah upacara adat yang selain untuk mengucap syukur pada Tuhan atas hasil perladangan, juga untuk mengumpulkan saudara-saudara mereka untuk saling meneguhkan, memaafkan dan saling bercerita pengalaman hidup.

Kehidupan sehari-hari masyarakat adat Dayak Kayaan Mendalam dalam bertahan hidup, pada umumnya mengandalkan sumber daya alam hutan sebagai sumber kehidupan mereka. Tanah di sekitar hutan digunakan untuk bercocok tanam, seperti berladang, menyadap karet, berkebun sayur-sayuran, berkebun buah-buahan, mencari kayu dan berburu binatang liar.

sumber:
  • agustinusmualang.blogspot.com
  • ceritadayak.com
  • gambar-foto; jasikacommunity.blogspot.com
  • gambar-foto: borneophotography.org
  • wikipedia
  • dan sumber lain

Suku Dayak Kayaan

suku dayak Kayaan
Suku Dayak Kayaan, adalah suku dayak yang hidup di dua negara, yaitu Malaysia dan Indonesia. Di Indonesia suku Kayaan, hidup di Kalimantan Barat, sedangkan di Malaysia, mereka hidup di Sarawak.

Suku Kayaan di Malaysia, telah mengalami kemajuan yang sangat jelas, karena di Malaysia orang-orang Kayaan cukup berpengaruh pada segala aspek baik pemerintahan, perdagangan, maupun pendidikan. Mereka jauh lebih maju dari suku Kayaan yang berada di Indonesia. Selain itu seni dan kebudayaan suku ini sering ditampilkan di berbagai event nasional dan internasional. Alat musik yang populer di kalangan suku Dayak Kayaan ini adalah "sape", sejenis alat musik petik, yang apabila dimainkan akan terdengar alunan melodi yang merdu dan sangat menarik.

upacara Adat Dange
Nama Kayaan diyakini berasal dari nama sungai di Kalimantan Timur, oleh karena itu mereka menyebut diri mereka sebagai orang Dayak Kayaan.

Satu hal yang menjadi perdebatan, adalah Ch. F. H. Duman dalam J. U. Lontaan (1975: 49), memasukkan suku Dayak Kayaan ke dalam rumpun Kayan (Apo Kayan), yang terdiri dari: 
  • Uma Pliau 
  • Uma Samuka 
  • Uma Puh 
  • Uma Paku 
  • Uma Bawang 
  • Uma Naving 
  • Uma Lasung 
  • Uma Daru 
  • Uma Juman 
  • Uma Leken 
Yang diambahkan ke kelompok 10 suku kecil di atas, adalah 3 suku kecil lain yang terdapat di kabupaten Kapuas Hulu provinsi Kalimantan Barat, yaitu:
  • Uma’ Aging
  • Uma’ Pagung
  • Uma’ Suling. 
tarian khas
suku Dayak Kayaan
Tetapi yang menjadi perdebatan bagi ke 3 kelompok suku kecil yang berada di kabupaten Kapuas Hulu ini, mereka tidak setuju bila dimasukkan ke dalam kelompok Kayan, mereka lebih suka disebut sebagai kelompok Kayaan. Bagi ke 3 suku kecil ini, penulisan Kayan, tidak menunjukkan kepada diri mereka, mereka tidak merasa sebagai Kayan. Karena mereka adalah Kayaan, bukan Kayan.

Sering menjadi hal yang membingungkan, karena bagi beberapa penulis menyatukan antara kelompok Kayaan dengan kelompok Kayan. Sepintas lalu dari segi nama, memang terlihat mirip, tetapi sebenarnya menurut mereka, bahwa antara kedua kelompok ini adalah kelompok yang berbeda.

Suku Dayak Kayaan di kabupaten Kapuas Hulu provinsi Kalimantan Barat, tersebar di sepanjang sungai Mendalaam. Mereka dikenal sebagai suku Dayak Kayaan Mendalam, yang tersebar di 9 kampung.

Suku Dayak Kayaan, saat ini adalah mayoritas pemeluk agama Kristen, terutama Kristen Katolik, sedangkan sebagian kecil adalah pemeluk Kristen Protestan.

Dalam kehidupan orang Dayak Kayaan terdapat semacam kasta. Kasta yang paling tinggi disebut Hivi (setaraf raja), Panyin (orang biasa) dan Diivan (budak). Kasta ini mirip dengan strata sosial dalam masyarakat Dayak Taman, Dayak Lau' dan Dayak Tamambalo. Tetapi dalam masyarakat Dayak Kayaan, jarang terdengar kezaliman dari strata yang paling tinggi dan berkuasa, kecuali kisah perlakuan kaum Hivi terhadap kaum Diivan yang berlaku sewenang-wenang terutama pada saat kaum Hivi meninggal.

sumber:
  • kebudayaan-dayak.org
  • gambar-foto: blog.djarumbeasiswaplus.org
  • gambar-foto: kebudayaan-dayak.org
  • gambar-foto: moreng178.blogspot.com
  • gambar-foto: jasikacommunity.blogspot.com
  • wikipedia
  • dan sumber lain

Suku Dayak Kayan (Apo Kayan)

suku Dayak Kayan
Suku Dayak Kayan (Apo Kayan), adalah suatu masyarakat dayak yang bermukim di sepanjang sungai Kayan. Sedangkan sungai Kayan merupakan anak sungai yang bermuara ke sungai Melawi. Bagian hulunya berada di kampung Gemare, Tebidah di kecamatan Kayan Hulu. Populasi suku Kayan diperkirakan berjumlah 30.000 orang.

Menurut legenda pada masyarakat Dayak Kayan, orang Kayan merupakan cikal bakal dari semua suku-suku kecil dayak yang berada di sepanjang sungai Kayan, yang terdiri dari suku Papak, suku Tebidah, suku Paya’, suku Goneh, suku Nanga, suku Kebahan dan suku Barai. Semua suuku-suku kecil dayak tersebut adalah keturunan suku Kayan, dan tergabung dalam rumpun Kayan, kecuali suku Dayak Lebang saja yang tidak berasal dari suku Kayan ini.

Orang-orang pertama yang membentuk komunitas suku Kayan, terdiri dari Apang Isai, Indai Isai, Madung Panjang, Madung Penda', Mambang Tobing Kumpang, dan Mia Balon Sasa'. Dari mereka semua ini lah yang menurunkan suku Kayan. Mereka semua bermukim di Tapang Sungai Emas.
Temenggung pertama yang memimpin orang Kayan adalah Temenggung Mangku, yang berasal dari Topan. Setelah itu dipimpin oleh Temenggung Tukut dari Lintang Tambuk dan Temenggung Sadu dari Nanga Masau.
Waktu memasuki daerah ini, mereka tidak langsung bermukim di daerah hulu, tetapi mereka mendirikan perkampungan di daerah Nanga Kayan. Setelah tinggal beberapa waktu, lalu pindah ke arah hulu Nanga Kayan, yaitu di wilayah sungai Kayan. Kemudian mereka pindah lagi ke arah bagian hilir Nanga Mau. Lalu periode berikutnya mereka lalu pindah lagi ke arah hulu Nanga Mau. Dari daerah bagian hulu Nanga Mau, lalu mereka pindah lagi ke arah dekat Nanga Tebidah dan pada akhir perjalanan, mereka menetap di Nanga Tebidah.

tari dan musik Dayak Kayan
Masyarakat suku Kayan menyadari, mereka bukan berasal dari sungai Kayan itu sendiri. Menurut mereka, bahwa mereka berasal dari luar daerah mereka sekarang, ketika para leluhur memasuki wilayah sungai Kayan, yang pada awalnya daerah ini masih belum berpenghuni. 
Ada sebuah pemikiran yang mengatakan bahwa nenek moyang suku Kayan kemungkinan berasal dari daerah Kalimantan Tengah, tepatnya dari daerah sungai Kahayan. Diperkirakan mereka memiliki hubungan dengan suku Dayak Ngaju. Lagi pula bila dilihat dari nama-nama orang Kayan pertama yang membentuk komunitas suku Kayan, nama-nama tersebut mendekati kepada nama-nama dari suku Dayak Ngaju. Sedangkan para peneliti berpendapat, suku Kayan adalah bagian dari rumpun Kenyah-Kayan-Bahau yang berasal dari Sarawak. Pada awalnya ketika memasuki wilayah Kalimantan Timur, mereka menetap di daerah Apau Kayan yang berada di daerah aliran sungai Kayan. Tetapi karena pada saat itu terjadi perang antara suku-suku dayak, mereka pun mencari daerah yang lebih aman, subur dan terisolir. Suku Kayan meninggalkan daerah Apau Kayan yang telah mereka tempati selama 300 tahun. Mereka bermigrasi menuju daerah yang lebih maju agar dapat lebih berkembang kehidupannya. Saat ini mereka menetap di daerah aliran sungai Wahau yang telah dihuni oleh suku Dayak Wehea di kabupaten Kutai Timur terutama di Desa Miau Baru sejak tahun 1969. Diperkirakan pada zaman Kerajaan Kutai Martadipura (Kutai Mulawarman), suku Kayan belum memasuki Kalimantan Timur. Suku Kayan diperkirakan termasuk salah satu suku yang belakangan memasuki pulau Kalimantan, yang diperkirakan berasal dari pulau Formosa (Taiwan).


Suku Dayak Kayan (Apo Kayan), terdiri 10 suku kecil, yaitu: 
  • Uma Pliau 
  • Uma Samuka 
  • Uma Puh 
  • Uma Paku 
  • Uma Bawang 
  • Uma Naving 
  • Uma Lasung 
  • Uma Daru 
  • Uma Juman 
  • Uma Leken 
Sebenarnya selain 10 kecil di atas, ada 3 suku kecil lain yang ditambahkan ke dalam rumpun Kayan (Apo Kayan), yang terdapat di kabupaten Kapuas Hulu provinsi Kalimantan Barat, yaitu:
  • Uma’ Aging
  • Uma’ Pagung
  • Uma’ Suling. 
Tetapi hal ini menjadi perdebatan bagi ke 3 kelompok suku kecil yang berada di sekitar sungai Mendalaam, kabupaten Kapuas Hulu ini, mereka tidak setuju bila dimasukkan ke dalam kelompok Kayan. Mereka lebih suka disebut sebagai kelompok Kayaan. Bagi ke 3 suku kecil ini, penulisan Kayan, tidak menunjukkan kepada diri mereka, karena mereka tidak merasa sebagai Kayan. Jadi mereka adalah Kayaan, bukan Kayan. Mereka menyebut diri mereka sebagai suku Kayaan Mendalam.

gadis-gadis Dayak Kayan
Menurut sejarah suku Kayan, pada sekitar tahun 1863, suku Dayak Iban bermigrasi dan memasuki daerah hulu sungai Saribas dan sungai Rejang, dan menyerang suku Kayan yang berada di daerah hulu sungai. Perang dan serangan pengayauan menyebabkan suku-suku dayak lain juga terusir dari wilayahnya.

Di daerah Empakan terdapat beberapa sandung dan temaduk. Ada juga 12 buah adau’ atau sumur air asin yang bernama Dayang Iyang, Semanuk, Jabai, Gelagas, Pendak, Kenek, Engkabang, Baru, Engkudu, Batu Babi, Rangkupm dan Dapuh.

Orang Dayak Kayan mengenal suatu tradisi lisan seperti kana dan cara menceritakannya disebut bekana. Tradisi ini adalah cerita tentang kepahlawanan dan percintaan yang diceritakan dengan alunan yang khas. Di samping itu juga mereka mengenal kebiasaan begurau di dalam pesta atau sewaktu minum. Selain itu pada suku Kayan juga memiliki beberapa tarian yang selalu mereka tarikan setiap melaksanakan upacara adat, maupun dalam menyambut para tamu. Selain itu seni budaya suku Kayan juga sering ditampilkan di pentas nasional maupun internasional, sehingga suku Kayan beserta budayanya sangat populer di dunia Internasional.

sumber:
  • kebudayaan-dayak.org
  • dayakwithgoldenhair.wordpress.com
  • gambar-foto: pampangsuniaso.wordpress.com
  • gambar-foto: imanueltabab.blogspot.com
  • wikipedia
  • dan sumber lain

Suku Dayak De'sa

acara adat
suku Dayak De'sa
Suku Dayak De'sa, adalah suatu masyarakat adat yang mendiami 7 kecamatan di kabupaten Sekadau provinsi Kalimantan Barat, yaitu di kecamatan Sintang, kecamatan Kelam Permai, kecamatan Binjai Hulu, kecamatan Dedai, kecamatan Sungai Tebelian, kecamatan Sepauk dan kecamatan Tempunak.

Suku Dayak De'sa, dikelompokkan ke dalam rumpun Dayak Iban. Dari sejarah dan cerita turun temurun mereka terdapat kemiripan tentang cerita nenek moyang antara suku Dayak De'sa dengan suku Dayak Iban.

gadis suku Dayak De'sa
Masyarakat suku Dayak De'sa masih tinggal di Rumah Betang atau Rumah Panjang. Untuk tinggal di Rumah Betang semuanya diatur berdasarkan musyawarah. Biasanya pada Rumah Betang ini bisa terdapat sampai 33 kepala keluarga.

Masyarakat suku Dayak De'sa, walaupun dulunya adalah penganut kepercayaan yang mengandung unsur animisme dan dinamisme, tetapi saat ini mayoritas dari mereka memeluk agama Kristen. Hanya sebagian kecil yang masih mengamalkan agama kepercayaan asli mereka, itupun tinggal orang-orang tua yang lanjut usia saja.

Suku Dayak De'sa, di wilayah ini hidup berdampingan dengan suku Dayak Ketungau, suku Dayak Senganan dan suku Dayak Mualang. Perkampungan pada Rumah Betang suku Dayak De'sa, walaupun berada di tempat yang terasing dan terpencil di pedalaman, tetapi uniknya bisa dikatakan mereka sudah menerima hal-hal modern dari luar, seperti sudah memiliki generator pembangkit listrik (genset), televisi, radio bahkan parabola.

Suku Dayak De'sa memiliki beberapa tradisi budaya seperti:
  • Kana, merupakan suatu bagian dari tradisi lisan berbentuk cerita lirik, semacam syair panjang yang dituturkan oleh orang tertentu yang telah memiliki ketentuan (misalnya; usia, keturunan dan tentu juga keahlian).
  • Kanduok, suatu cerita berstruktur yang setengah dilagukan, biasanya mengenai riwayat-riwayat para tokoh-tokoh mitologi, seperti Kelieng, Kumang, dll.
  • Enselan, adalah bagian dari sebuah kegiatan upacara adat yang biasa dilakukan dalam kelompok masyarakat ini. Semacam mantra yang telah baku untuk memohon berkat kepada Sang Pemilik Kekuasaan mutlak.
  • Timang Muanyik, sejenis mantra yang hanya dibacakan ketika akan mengambil lebah madu. Dengan mantra ini, mereka yang ditugaskan mengambil madu di pohon akan dapat terhindar dari sengatan lebah.
  • Ngerenung, adalah bagian dari upacara adat dalam masyarakat Dayak De'sa, namun hampir tak pernah dilakukan lagi karena sudah langka dan sangat sulit untuk menemukan penutur atau penyaji ritualnya.
gadis-gadis Dayak Desa
sedang menari
Mata pencaharian utama suku Dayak De'sa, adalah pada bidang pertanian sederhana, yaitu beuma (berladang) di perbukitan dan payak, menyadap karet. Selain itu mereka juga berburu binatang liar di hutan, menangkap ikan di sungai-sungai yang melintas dekat pemukiman, memelihara hewan ternak seperti sapi, ayam dan babi, serta memelihara ikan di kolam. Sedangkan para perempuan akan menenun, yang nanti hasil tenunannya akan diperdagangkan di kalangan sendiri maupun ke masyarakat dayak di luar komunitas mereka.

sumber:
  • joshuaproject.com
  • agustinusmualang.blogspot.com
  • wisnupamungkas.wordpress.com
  • huma.or.id
  • gambar-foto: tenunikat.blogspot.com
  • gambar-foto: masbowi.wordpress.com
  • gambar-foto: travel.detik.com
  • wikipedia
  • dan sumber lain

Rumpun Dayak Punan

Rumpun Dayak Punan, adalah beberapa kelompok suku dayak yang sebagian besar masih mempertahankan hidup seperti yang dilakukan oleh nenek moyang mereka, yaitu hidup secara terasing dan primitif. Beberapa dari komunitas suku kecil Dayak Punan kian tahun kian menurun cenderung menuju kepunahan. Walau telah hidup berabad-abad, mereka tetap tak berubah dengan pola adat-istiadat dari leluhur yang mereka percaya. Beberapa kelompok suku dayak dari rumpun Dayak Punan, telah ada yang hidup lebih baik dan bisa berbaur dengan kelompok masyarakat dayak lainnya. Suku-suku dayak yang termasuk dalam Rumpun Dayak Punan tersebar mulai dari Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur hingga ke wilayah Malaysia, yaitu di Sabah dan Sarawak.

Rumpun Punan, adalah:
  • Punan Busang
  • Punan Penihing (Punan Aoheng)
  • Punan Batu
  • Punan Sajau
  • Punan Hovongan
  • Punan Uheng Kereho (Ot Nyawong) 
  • Punan Seputan (Dayak Seputan)
  • Punan Aput
  • Punan Merap
  • Punan Tubu
  • Punan Bukat (Dayak Bukat)
  • Punan Habongkot
  • Punan Panyawung (Ot Penyaung)
  • Punan Malinau
  • Punan Binai
  • Punan Mahkam
  • Punan Murung
  • Punan Merah (Ot Siau), 
  • Punan Serata
  • Punan Langasa
  • Punan Nya'an
  • Punan Ukit (Dayak Bukitan, Dayak Beketan)
  • Punan Lisum
  • Punan Kelay-Segah  
  • Punan Bah
  • Punan Batu 1
  • Punan Belahun (Punan Berun) 
  • Punan Lejuh
  • Punan Sama
  • Punan Biau
  • Punan Meluyou
  • Punan Lirung Belang
  • Punan Mina
  • Punan Pedan
  • Punan Lo'o Buong
  • Penan

gambar-foto
  • foto by: vivaborneo.blogspot.com

Suku Dayak Punan Uheng Kereho

acara adat Ketemenggunan
suku Dayak Punan Uheng Kereho
Suku Dayak Punan Uheng Kereho, hidup di daerah hulu sungai Kapuas dan sungai Keriau (Kereho), yang berada di wilayah provinsi Kalimantan Barat. Populasi suku Dayak Punan Uheng Kereho ini diperkirakan sebesar 2.500 orang.

Perkampungan suku Dayak Punan Uheng Kereho terdiri dari kampung Nanga Enap, kampung Nanga Erak, kampung Nanga Balang, kampung Sepan, kampung Salin, kampung Bu'ung dan kampung Belatung.

Suku Dayak Punan Uheng Kereho ini masih hidup di pedalaman, namun kehidupan mereka tergolong baik dan bisa dikatakan lebih lebih bermasyarakat dibanding kelompok Punan lain. Hanya saja wilayah pemukiman mereka terlalu jauh di pedalaman, jadi seakan-akan terisolasi dari dunia luar. Pendidikan dan perekonomian masih agak mengkhawatirkan, disebabkan transportasi hanya bisa melalui sungai.

Di perkampungan suku Dayak Punan Uheng Kereho ini, tingkat pendidikan untuk anak-anak bisa dikatakan sangat minim sekali. Bisa dikatakan hanya beberapa orang saja yang bersekolah setingkat SD, apalagi sampai ke tingkat yang lebih tinggi seperti SMA atau ke Perguruan Tinggi.

gadis-gadis
Punan Uheng Kereho
Orang Dayak Punan Uheng Kereho, yakin setelah kematian, hubungan antara yang mati dan yang hidup tetap terhubung. Hubungan tersebut tetap berlangsung melalui tahapan ritual. Satu hari setelah penguburan, masyarakat Punan Uheng Kereho akan melaksanakan adat Pebureng atau berpantang. Berpantang menurut Kepala Adat Komoplek. Berpantang intinya adalah berdukacita, yang dilaksanakan selama tujuh hari.

Kehidupan sehari-hari suku Dayak Punan Uheng Kereho ini, adalah berladang di hutan dekat perkampungan, serta berburu juga mereka lakukan di saat tidak ada kegiatan di ladang. Selain itu mereka juga menangkap ikan di sungai-sungai yang melintas dekat perkampungan.

sumber:
  • joshuaproject.net
  • forum.kompas.com
  • kebudayaan-dayak.org
  • laurensgawing.multiply.com
  • gambar-foto: laurensgawing.multiply.com
  • word-dialect.blogspot.com
  • wikipedia
  • dan sumber lain

Suku Dayak Punan Hovongan

suku Dayak Punan Hovongan
Suku Dayak Punan Hovongan, mendiami daerah hulu sungai Hovongan, anak cabang sungai Kapuas di Kalimantan Barat. Populasi suku Dayak Hovongan diperkirakan hampir sebesar 2000 orang.

Dahulunya suku Dayak Punan Hovongan hidup secara nomaden, membuka area baru untuk perladangan, dengan metode tebas-tebang dan bakar. Pada masa sekarang ini mereka lebih memilih untuk menetap, sambil menerapkan sistem pertanian gilir balik (berladang). Mereka hidup di beberapa kampung, yang terdiri dari kampung Nanga Lapung, kampung Nanga Bungan, kampung Tanjung Lokang, kampung Belatung dan kampung Hovo'ung. Di kampung Belatung dan kampung Hovo'ung, suku Dayak Punan Hovongan hidup bersama kelompok masyarakat lain.

Seorang pemimpin adat masyarakat suku Dayak Punan Hovongan, disebut Temenggung, yang memimpin segala kedaulatan wilayah ketemenggungan. Berbeda dengan kepala adat yang mengatur segala adat-istiadat suku.

seorang ibu
suku Dayak Punan Hovongan
Salah satu tradisi suku Dayak Punan yang populer di kalangan mereka adalah Menyangon. Tradisi menyangon ini adalah semacam menyanyi dan berpantun, yang menggunakan bahasa Dayak Punan Hovongan. Menyangon ini sangat unik karena seperti bercerita tetapi diikuti dengan irama yang agak monoton, tetapi sangat menarik dan enak didengar.

Kehidupan masyarakat suku Dayak Punan Hovongan ini pada dasarnya adalah pada bidang pertanian berladang, serta kebiasaan sejak masa lalu adalah berburu binatang liar di hutan, dan mengumpulkan hasil hutan untuk keperluan hidup mereka. Tetapi sejak ada lokasi penambangan emas di wilayah mereka, saat ini banyak dari mereka yang turut serta untuk memilih pekerjaan menjadi penambang emas sungai.

sumber:
  • joshuaproject.net
  • gambar-foto: buletinbetungkerihun.wordpress.com
  • gambar-foto: travel.detik.com
  • wikipedia
  • dan sumber lain

Suku Dayak Punan Merah (Ot Siau)

Suku Dayak Punan Merah (Ot Siau), disebut juga sebagai Punan Kaki Merah, adalah satu dari beberapa suku pedalaman yang masih mempertahankan cara hidup yang sangat sederhana, malah bisa dikatakan nyaris primitif. Suku Ot Siau ini sangat misterius, karena berita tentang keberadaannya hanyalah berdasarkan penuturan masyarakat dayak lain yang mengatakan pernah bertemu dengan suku Dayak Punan Merah ini. Suku Dayak Punan Merah ini memiliki ciri unik, yaitu tangan dan kaki berwarna merah. Sebutan lain untuk suku Dayak Punan Merah ini adalah suku Ot Siau. Mungkin diberi nama Siau karena tangan dan kakinya mirip dengan kaki burung Siau.

Beberapa kelompok suku Punan yang sudah berbaur dengan masyarakat lain, seperti Punan Murung, yang berada di Barito Hulu, mengatakan bahwa mereka tidak pernah bertemu langsung dengan suku Dayak Ot Siau, hanya sekedar mendengar cerita dari mulut ke mulut saja mengenai keberadaan suku Dayak Ot Siau ini. Tetapi mereka yakin, bahwa keberadaan suku Dayak Ot Siau atau suku Dayak Punan Merah ini bermukim di sekitar hulu sungai Borak.

Suku Ot Siau yang hidup mengembara di hutan pedalaman, disebut sebagai orang Punan "asli", yang hidup di rimba belantara dan di dalam goa-goa yang gelap. Kaki dan tangan mereka diwarnai merah dengan daun saronang atau jarenang. Seluruh tubuh mereka dilapis dengan sejenis jamur yang mengandung fosfor sehingga tampak menyala di kegelapan. Oleh karena itu juga suku Dayak Ot Siau ini mendapat sebutan sebagai suku Dayak Punan Merah atau Punan Kaki Merah.

Beberapa orangtua dari masyarakat dayak lain, hanya mengatakan pernah melihat jejak kaki, tetapi tidak pernah melihat orangnya. Menurut mereka, hal itu terjadi karena orang Ot Siau memiliki kata lamunan, semacam mantra sakti untuk menghilangkan diri di balik daun.

sumber:
  • (vb-01/Marko Mahin: Dosen Agama dan Budaya Dayak di Sekolah Tinggi Teologi Gereja Kalimantan Evangelis Banjarmasin dan Peneliti di Lembaga Studi Dayak-21)
  • benuadayak.blogspot.com
  • wikipedia
  • dan sumber lain

Suku Dayak Punan

laki-laki dayak Punan
Suku Dayak Punan, adalah satu dari banyak suku dayak yang tersebar di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur. Dayak Punan juga ada di Sabah Malaysia dan Serawak Malaysia.
Populasi suku Dayak Punan diperkirakan sebesar 8.956 orang, dan terbesar di Kalimantan Timur. 

Suku Dayak Punan tersebar pada 77 kampung atau lokasi pemukiman. Suku Dayak Punan memiliki 14 sub-suku yang dikelompokkan dalam rumpun Punan, beberapa diantaranya adalah Punan Hovongan, Punan Uheng Kereho dan Punan Kelay. Beberapa dari komunitas suku kecil Punan kian tahun kian menurun bahkan dikhawatirkan cenderung menuju kepunahan. Walau telah hidup berabad-abad, mereka tetap tak berubah dengan pola adat-istiadat dari leluhur mereka yang dipercayai.

gadis dayak Punan
Menurut cerita yang tersimpan pada cerita turun temurun, leluhur suku Dayak Punan datang dari sebuah negeri yang bernama "Yunnan", sebuah daerah dari datara tinggi di Cina bagian Selatan. Mereka berasal dari suatu komunitas yang konon adalah keluarga salah satu kerajaan Cina yang kalah berperang dan kemudian menghindar bersama perahu-perahu, dalam perjalanan mereka terdampar di tanah Pulau Kalimantan. Di tempat baru ini mereka merasa cocok dan aman, dan mereka pun menetap hingga kini.

Suku Dayak Punan, lebih memilih hidup di hutan pedalaman, bahkan di goa-goa, walaupun mereka sebenarnya bukanlah suku primitif tetapi lebih memilih untuk hidup seperti cara hidup leluhur mereka. Mereka selalu berpindah pindah dari satu tempat ke lain tempat dan terus menghindar dari kelompok manusia lain, karena menurut mereka ini adalah keinginan para leluhur, untuk menghindar dari orang-orang asing. Apabila ada yang meninggal di antara mereka, setelah upacara penguburan, biasanya mereka serentak akan pindah ke daerah lain. Mereka percaya kalau roh dari orang yang meninggal akan gentayangan yang akan membuat mereka tak merasa tenteram. Masyarakat Dayak Punan ini disebut juga bangsa nomaden (pengembara) yang hidup dalam satu kelompok tanpa berpisah-pisah.

Di hulu Barito terdapat 3 desa yang dianggap sebagai perkampungan orang Dayak Punan, yaitu Tumbang Karamu, Tumbang Tunjang dan Tumbang Topus. Penduduk ketiga desa ini mengaku sebagai keturunan orang Punan, dan mereka menyebut diri mereka sebagai orang Dayak Punan. Tetapi masyarakat yang berada di desa Tumbang Topus, diperkirakan sudah tidak asli lagi sebagai orang Dayak Punan, karena telah terjadi kawin-campur antara orang Dayak Punan dan orang Dayak Siang-Murung, Dayak Bahau, Dayak Benuaq dan Dayak Ot Danum atau Dayak Kahayan. Lagipula beberapa kesenian budaya serta ritual kematian yang dilaksanakan oleh masyarakat Punan di desa Tumbang Topus ini, adalah cenderung mengikuti tradisi budaya Dayak Ot Danum atau Dayak Siang Murung.

tatapan tajam dari dayak Punan
Makanan mereka adalah makanan yang masih mentah seperti sayur sayuran hutan yang berasal dari pohon nibung atau banding (teras dala), daun pakis, atau labu hutan yang mudah didapat di hutan. Makanan utama mereka adalah umbi dan umbut umbutan hutan, ditambah dengan daging buruan yang mereka temukan. Untuk daging inipun jarang mereka masak. Jika ada binatang buruan yang didapat mereka lebih suka menjemur daging-daging tersebut di matahari panas sehingga menjadi daging asinan atau dendeng.

Suku Dayak Punan pada masa lalu sangat ditakuti oleh suku dayak lainnya karena sangat handal dalam bertarung dan berperang. Mereka adalah head hunter atau pemburu kepala atau kayau. Termasuk dalam kategori suku kanibal karena mempunyai kebiasaan memenggal, memakan hati dan isi perut lawannya adalah hal yang lumrah mereka lakukan. Mereka juga punya kebiasaan memakan bagian punggung sebelah kanan musuhnya yang tewas dalam perang karena bagian tubuh itulah yang diyakini paling enak dimakan.

Mereka selalu waspada dan siap berkelahi dengan siapapun, termasuk binatang-binatang buas di dalam hutan. Tradisi siap tempur ini diwarisi sejak zaman nenek moyang mereka. Hebatnya, mereka memiliki keahlian bela-diri yang sangat tangguh dan berbeda dengan ilmu bela-diri secara umum yang ada di masyarakat. Mungkin ilmu bela-diri yang mereka miliki adalah bekal yang mereka bawa dari daratan Cina tempat asal-usul leluhur mereka.

Sebenarnya ada beberapa masyarakat dayak yang memiliki nama Punan, yang tersebar di Kalimantan maupun di Malaysia. Tetapi anehnya, walaupun bernama suku sama, di antara mereka semua tidak memiliki hubungan kerabat sama sekali.

Saat ini terdapat lebih dari 20 suku Dayak Punan yang berbeda etnis (tidak berhubungan satu sama lain) yang ditemukan di pulau Kalimantan yang disebut sebagai suku Dayak Punan.
Suku-suku Punan adalah;
  • Punan Busang
  • Punan Penihing (Punan Aoheng)
  • Punan Batu
  • Punan Sajau
  • Punan Hovongan
  • Punan Uheng Kereho (Ot Nyawong)
  • Punan Seputan (Dayak Seputan)
  • Punan Aput
  • Punan Merap
  • Punan Tubu
  • Punan Bukat (Dayak Bukat)
  • Punan Habongkot
  • Punan Panyawung (Ot Penyaung)
  • Punan Malinau
  • Punan Binai
  • Punan Mahkam
  • Punan Murung
  • Punan Merah (Ot Siau), 
  • Punan Serata, 
  • Punan Langasa, 
  • Punan Nya'an
  • Punan Ukit (Dayak Bukitan, Dayak Beketan)
  • Punan Lisum
  • Punan Kelay-Segah  
  • Punan Bah
  • Punan Batu 1
  • Punan Belahun (Punan Berun) 
  • Punan Lejuh
  • Penan
Di Sarawak Malaysia terdapat suku Dayak Punan Bah dan suku Dayak Penan, tetapi tidak memiliki hubungan sama sekali dengan suku-suku Punan lainnya. Di Malaysia, suku Dayak Punan dikelompokkan di bawah rumpun Dayak Kajang bersama dengan Dayak Sekapan, Dayak Kejaman, Dayak Lahanan dan Dayak Sihan. Selain itu suku Dayak Punan di Malaysia, sering dianggap bagian dari orang Dayak Ulu seperti suku Dayak Kayan dan Dayak Kenyah.

perempuan dayak Punan
Suku Dayak Punan diyakini adalah salah satu suku yang paling awal menetap di bagian tengah pulau Kalimantan, sungai Rajang dan daerah Balui bersama dengan Dayak Sekapan, Dayak Kejaman dan Dayak Lahanan. Tidak lama setelah kedatangan suku Dayak Punan, diikuti oleh migrasi massa dari bangsa suku bangsa Kayan, kemudian diikuti oleh suku bangsa Iban menduduki daerah Rejang dan Balui sekitar 2000 tahun yang lalu. Kehadiran 2 suku bangsa pendatang baru ini memaksa masyarakat Punan mundur ke Kakus dan kemudian terdesak lagi lebih ke pedalaman.

Pada tahun 2006, ditemukan lebih dari 10 etnis Punan lagi serta pemukiman Dayak Punan dalam bentuk Rumah Panjang, yang ditemukan di sepanjang daerah Rejang, Kakus, Kemena dan Jelalong sungai, yang dihuni beberapa etnis suku Punan.
Pemukiman-pemukiman Lovuk (kampung) Rumah Panjang beberapa suku Dayak Punan adalah:
  • Punan Lovuk Sama
  • Punan Lovuk Bah
  • Punan Lovuk Biau
  • Punan Lovuk Meluyou
  • Punan Lovuk Lirung Belang, (pada suku Punan ini, rumah panjang dulu disebut sebagai Rumah Bilong, sekarang disebut Rumah Ado)
  • Punan Lovuk Mina
  • Punan Lovuk Pedan (Rumah Nyipa Tingang)
  • Punan Lo'o Buong (Jelalong atau Rumah Adi)
Jumlah suku Dayak Punan di Sarawak Malaysia diperkirakan sekitar 3000 - 5000 orang.

Kehidupan mereka sehari-hari adalah tergantung apa yang diberikan alam hutan kepada mereka setiap harinya. Hutan adalah rumah dan hidup mereka. Tanpa hutan, maka mereka akan kesusahan dalam melanjutkan hidup mereka. Mereka bisa juga berhubungan dagang dengan masyarakat lain, tetapi semua barang dagangan hanya ditukar secara barter (pertukaran). Mereka menawarkan barang barteran seperti rotan, damar, kayu gaharu dan sarang burung walet. Barang akan dibarter dengan garam, gula, tembakau atau rokok, kadang dengan kain.

sumber:
  • forum.kompas.com
  • findarticles.com
  • benuadayak.blogspot.com
  • gambar-foto: speleo.fr
  • gambar-foto: pacifislandtravel.com
  • gambar-foto: bharatanews.com
  • wikipedia
  • dan sumber lain

Suku Dayak Ot (Ote)

Suku Dayak Ot (Ote), adalah kelompok masyarakat suku dayak yang masih bertahan hidup di pedalaman hutan perbukitan, antara Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat.

Suku Dayak Ot ini, dikelompokkan ke dalam bagian dari rumpun Dayak Punan. Suku Dayak Ot, terdiri dari beberapa kelompok suku yang lebih kecil, 2 di antaranya yang pernah ditemukan adalah Ot Siau dan Ot Penyaung. Orang Dayak Ot ini, ditakuti oleh masyarakat dayak lain di sekitarnya, karena mereka bisa melepas sumpit mereka terhadap orang yang mencurigakan atau yang dianggap mengganggu ketentraman hidup mereka. Kaki mereka sangat ringan, kalau berjalan sangat cepat, seperti melayang di atas rerumputan.

Keberadaan Dayak Ot atau Orang Ot ini, pada beberapa tulisan masih simpang siur, antara ada atau tidak ada, dikarenakan sangat susah menemukan lokasi hidup mereka. Kehidupan orang Ot ini menurut penuturan masyarakat di hulu sungai Barito, bahwa Orang Ot ini adalah bagian dari rumpun Punan. Orang Ot yang pernah ditemukan oleh masyarakat di sana, terdapat 2 kelompok yang hidup di hutan pedalaman dan tinggal di goa-goa. Kelompok tersebut adalah Orang Ot Siau yang mereka sebut sebagai Punan Kaki Merah dan satu lagi adalah Orang Ot Penyaung.

Orang Ot atau Dayak Ot ini, lebih memilih hidup di pedalaman dan sengaja menghindar dari kelompok manusia lain di luar komunitas mereka. Walaupun sebenarnya mereka bukanlah suku primitif, tapi mereka lebih memilih untuk hidup seperti cara hidup nenek moyang mereka yang bergaya primitif, yang hidup di dalam goa-goa di hutan pedalaman kalimantan. Sesekali mereka bisa melakukan hubungan dengan masyarakat dayak di sekitarnya, seperti melakukan barter hasil hutan, tetapi barter tidak dilakukan secara langsung, melainkan barang diletakkan pada suatu tempat, dan kemudian masyarakat kampung mengambil barang tersebut yang ditukarkan dengan garam, beras, tembakau dan kain.

sumber:
  • word-dialect.blogspot.com 
  • kaltengpos.com 
  • arsiteknusantara.blogspot.com 
  • wikipedia 
  • dan sumber lain


Suku Dayak Bubung

Suku Dayak Bubung, kadang disebut juga sebagai suku Dayak Bentiang, yang termasuk pecahan dari suku Dayak Tengon dari Kumba-Bidayuh, yang sudah berbaur dengan penduduk dayak di sekitarnya, yang bukan keturunan orang Sungkung. Populasi suku Dayak Bubung pada sensus tahun 1998 adalah sebesar 870 orang, serta tambahan masyarakat suku Dayak Bubung yang berada di kampung Jangkak dan kampung India’. Penyebaran suku Dayak Bubung yang berada di perkampungan Bentiang terdiri dari empat kampung asli, serta beberapa kampung lain yang menjadi tempat perpindahan suku Dayak Bubung, yaitu kampung Bentiang Samokong, kampung Bentiang Samame’, kampung Bentiang Sijanjung, kampung Bentiang Ma’ Domong, kampung Jangkak serta kampung India’.

Bahasa Dayak Bubung juga disebut sebagai bahasa Badeneh, bahasa ini juga diucapkan oleh suku Dayak Tengon, hanya terjadi perbedaan dialek yang tidak terlalu berbeda. Bahasa Badeneh atau bahasa Bubung diucapkan oleh masyarakat dayak yang tinggal di perkampungan Bentiang serta orang-orang yang pindah dari perkampungan Bentiang ke kampung-kampung lain di sekitarnya.

Istilah Bentiang adalah istilah sekarang yang diberikan oleh pemerintah daerah untuk menamakan kampung Bubung. Sedangkan kampung Bubung sebenarnya adalah merupakan kampung asli suku Dayak Bentiang, sedangkan penduduk setempat menamakan kampung mereka sebagai kampung Kedo’. Kampung Bentiang dahulunya terbagi menjadi 4 kampung, yaitu kampung Bubung (kampung suku Dayak Bentiang Asli), kampung Asem, kampung India’ dan kampung Jangkak.

Menurut cerita masyarakat di kampung Bubung, bahwa pada zaman dahulu ada sebuah kampung yang bernama kampung Sigayoi, yang terletak di hulu Sungai Pade. Pada waktu itu, terjadi perselisihan antar kampung, yaitu antara kampung Sigayoi dan kampung Jangkak. Perselisihan ini menimbulkan situasi yang semakin memanas. Akhirnya orang-orang dari kampung Sigayoi menuangkan racun di sungai tempat orang dari kampung Jangkak mandi dan mengambil air minum. Hal ini dilakukan karena kampung Sigayoi berada di hulu sungai. Sesudah menuangkan racun tersebut, terjadilah kematian yang misterius di kampung Jangkak. Penduduk yang selamat, pindah ke kampung Pare, kampung Jangkok dan kampung Suti. Pada akhirnya di kampung Jangkak tinggal dua kepala keluarga yang tetap bertahan. Karena merasa jumlah 2 kepala keluarga ini terlalu sedikit, maka kedua kepala keluarga ini memanggil 2 orang dari Bentiang untuk tinggal di kampungnya, yang bernama si Katun dan si Biau. Si Biau merasa kampung ini masih kurang orang. Dengan demikian, Si Katun memanggil lagi sanak saudaranya untuk tinggal di kampung Bubung. Dengan kejadian ini nama Biau pun diabadikan menjadi nama sebuah kampung, yaitu kampung Sebiau.
Namun, tidak lama, si Katun sebagai seorang Timanggong (kepala kampung) di kampung Sebiau, nama kampung Sebiau ini diubah menjadi kampung Jangkak. Bahasa mereka yang pada mulanya disebut sebagai bahasa Suti Bamayo’ berubah menjadi bahasa Bubung (Bentiang) Badeneh. Saat ini Bubung yang asli Bentiang terbagi menjadi Bentiang Sijanjung, Bentiang Semokong, Bentiang Ma’ Domong dan Bentiang Semame’ ditambah Jangkak dan India’ (Silia’).

sumber:
  • word-dialect.blogspot.com
  • kebudayaan-dayak.org
  • wikipedia
  • dan sumber lain

Suku Dayak Tengon

Suku Dayak Tengon (Bi Hngon, Bidayuh Kumba), bermukim di perkampungan Tengon, yang berada di dataran tinggi atau puncak bukit, dengan suhu udara yang selalu sejuk. Populasi suku Dayak Tengon diperkirakan sebesar 1.068 orang menurut sensus 1998.

Suku Dayak Tengon tersebar di perkampungan yang terdiri dari 5 kampung, yaitu kampung Tengon Kulum, kampung Tengon Pelai’, kampung Tengon Upas, kampung Tengon Kadik I (Bakguh) dan kampung Tengon Kadik II (Nyaloi), seluruh perkampungan ini berada di provinsi Kalimantan Barat.

Suku Dayak Tengon berbicara dalam bahasa Tengon yang disebut juga sebagai bahasa Badeneh, kadang disebut juga disebut sebagai bahasa Bidayuh atau bahasa Kumba. Bahasa Tengon memiliki ciri khas yang berbeda dengan bahasa-bahasa dayak lain, suara yang dikeluarkan ketika berbicara lebih banyak melalui hidung (sengau). Secara karakter bahasa ini dikelompokkan ke dalam rumpun bahasa Bidayuhik.

Istilah Bi Hngon berarti "orang Tengon". Suku Dayak Tengon oleh kelompok etnis lain, dianggap juga sebagai Dayak Kumba yang menuturkan bahasa Bidayuh. Karena nenek moyang orang Tengon berasal dari daerah di sepanjang aliran sungai Sekumba yang berhulu di pegunungan Tamong, Sungkung dan dataran tinggi sekitarnya. Menurut mereka, bahwa nenek moyang orang Tengon berasal dari negeri Cina. Kerabat serumpun mereka adalah orang Dayak Sempatung, orang Dayak Sungkung dan beberapa kelompok sub-suku Bidayuh di sekitar wilayah pemukiman suku Dayak Tengon.

Sekitar tahun 1700-1800 Masehi, Lim Thok Khian berlayar dari negerinya di provinsi Quang Dong menuju ke Asia Tenggara. Sampailah rombongan ini di Kalimantan, tepatnya di daerah Kalimantan Barat sekarang, di sekitar kabupaten Sambas. Menurut mereka istilah sambas berasal dari bahasa Cina, yaitu sam nyiaan. Sam artinya "tiga" dan nyiaan artinya "suku". Jadi diartikan menjadi "tiga suku", dan kata sambas berarti "tiga bangsa".
Rombongan pertama yang datang ini semuanya laki-laki. Sekelompok dari mereka menetap di kabupaten Sambas dan kawin dengan penduduk asli, yaitu orang dayak (Jackson, 1970). Sedangkan kelompok lain mudik ke hulu menelusuri sungai Sambas, masuk ke sungai Kumba menuju ke Seluas dan menuju ke Sungkung. Di tempat ini mereka mengawini penduduk setempat dan beranak cucu. Keturunan mereka akhirnya menyebar ke Tengon, Sempatung, serta Bentiang. Sungai Kumba adalah sungai yang berhulu di pengunungan Niut. Keturunan dari Cina-Dayak (Pa Tong La), akhirnya berpindah dari Sungkung ke wilayahwilayah di sekitar Gunung Niut, seperti di Tengon, Bentiang dan Sempatung.

Dari bukti-bukti yang ada saat ini, menjelaskan bahwa suku Dayak Tengon, diperkirakan adalah keturunan dari bangsa Cina, dengan bukti adanya adalah sebuah Gong asal Negeri Cina yang merupakan warisan untuk anak cucunya. Nama gong tersebut adalah Baneh. Sekarang, keturunan Lim Thok Khian ini sudah sampai pada keturunan yang ke delapan.

Berikut urutan keturunan Lim Thok Khian, berasal dari Thongsan China.
  • Lim Thok Khian memperanakkan Lim Tonal.
  • Lim Tonal memperanakkan Lim Tai Yut.
  • Lim Tai Yut memperanakkan Lim Nyan.
  • Lim Nyan memperanakkan Lim Kawek.
  • Lim Kawek memperanakkan Ipan.
  • Ipan memperanakkan Tabi.
  • dan seterusnya keturunannya menjadi atau berbaur dengan beberapa kelompok suku dayak seperti suku Dayak Tengon, suku Dayak Sungkung, suku Dayak Sempatung dan sebagian kecil lain keturunan berbaur dengan suku Dayak Bentiang.

sumber:

  • kebudayaan-dayak.org
  • matematika-edo.blogspot.com
  • wikipedia
  • dan sumber lain

Suku Dayak Suti

suku Dayak Suti
Suku Dayak Suti, bermukim di wilayah adat Binua Suti. Wilayah adat suku Dayak Suti ini berada di kabupaten Landak dan di kecamatan Suti (Sanggau Ledo) kabupaten Bengkayang dan kecamatan Air Besar kabupaten Pontianak. Populasi masyarakat suku Dayak Suti khusus yang berada di kecamatan Air Besar kabupaten Pontianak diperkirakan sebesar 1.397 orang.

Bahasa Suti sebagian besar diucapkan di kecamatan Air Besar kabupaten Pontianak dan di kecamatan Suti Kabupaten Bengkayang. Bahasa yang diucapkan oleh suku Dayak Suti adalah bahasa Suti Bamayo’. Bahasa Suti Bamayo' ini termasuk ke dalam rumpun bahasa Bidayuhik.

Penyebaran orang-orang Suti terdapat di wilayah adat Suti atau Binua Suti. Perkampungan suku Dayak Suti sekarang bernama kampung Suti Semarang, kampung Suti Lama di Kecamatan Suti (Bengkayang) serta kampung Jangkok, kampung Neboi dan kampung Pare’ di kecamatan Air Besar kabupaten Landak.

Asal usul suku Dayak Suti berdasarkan dari cerita turun temurun, "Suti" adalah nama seorang gadis yang tinggal di kampung Suti (dulunya kecamatan Sanggau Ledo). Lalu gadis ini kawin dengan seorang pemuda yang bernama "Semarang". Karena itu tempat mereka tinggal sampai sekarang ini bernama Suti Semarang. Keturunan dari Suti Semarang menempati wilayah yang sekarang ini masuk ke dalam wilayah adat Binua Suti. Keturunan mereka kemudian disebut orang Suti yang berbahasa Suti Bamayo’. Pemukiman mereka berada di kampung Pare’, kampung Jangkok, kampung Jangkak dan kampung Neboi.

tarian suku Dayak Suti
Berdasarkan klasifikasi suku, maka suku Dayak Suti serumpun dengan suku Dayak Sikukng, suku Dayak Tadietn, suku Dayak Tameng, suku Dayak Liboy, suku Dayak Tawaeq, suku Dayak Tengon dan suku Dayak Sapatoi.

Masih di wilayah adat suku Dayak Suti terdapat sebuah batu besar yang terbelah dua membentang di sungai Sambas. Batu tersebut dinamakan Batu Masaki. Menurut cerita rakyat suku Daya Suti, batu tersebut dulunya adalah seekor babi hutan. Ternyata babi hutan tersebut bukanlah sembarang babi hutan, karena ternyata babi hutan tersebut adalah babi hutan yang sakti. Karena pada saat dipotong babi hutan tersebut langsung menjelma menjadi batu. Misteri batu ini sampai sekarang masih menjadi teka-teki bagi masyarakat suku Dayak Suti dan menjadi sebuah legenda.

Kehidupan pertanian berladang berpindah, dulunya dipraktekkan oleh suku Dayak Suti ini, tetapi saat ini banyak dari mereka yang telah memilih untuk membuka lahan perladangan menetap. Selain itu berburu dan menangkap ikan juga mereka lakukan di saat tidak ada kegiatan di ladang.

sumber:
  • institutdayakologi.wordpress.com
  • kebudayaan-dayak.org
  • gambar-foto: ginselma.blogspot.com
  • gambar-foto: haltesuroso.blogspot.com
  • wikipedia
  • dan sumber lain

Suku Dayak Mali

suku Dayak Mali
Suku Dayak Mali, adalah sebutan untuk salah satu suku dayak yang bermukim di kecamatan Balai-Batang Tarang dan sebagian kecil di kecamatan Tayan Hilir kabupaten Sanggau provinsi Kalimantan Barat. Masyarakat suku Dayak Mali tersebar di 14 kampung di wilayah kecamatan Balai-Batang Tarang dan juga di 7 kampung yang berada di wilayah kecamatan Tayan Hilir. Populasi suku Dayak Mali diperkirakan sebesar 6.963 orang.

Perkampungan di wilayah kecamatan Balai-Batang Tarang, terdiri dari kampung Temiang Mali, Mak Kawing, Tamang, Segalang, Pelipit, Semunsur, Sei Boro’, Munggu’ Mayang, Titi Benia, Sebual, Kelinsai,Munggu’ Lumut, Sei Pantutn, dan Tibung. Sementara itu, di kecamatan Tayan Hilir, terdiri dari kampung Stengko, Kelempu’, Sei Jaman, Meranti, dan Jelimo’.

suku Dayak Mali
Di luar kabupaten Sanggau, orang Dayak Mali juga terdapat di Binua Angan kabupaten Landak, di Ambawang kabupaten Pontianak dan juga di hilir sungai Kualatn kecamatan Balai Berkuak kabupaten Ketapang yang hidup pada wilayah hunian Setontong Membawang dan Setontong Kelabit.

Asal-usul suku Dayak Mali, merupakan migrasi dan kehadiran suku Dayak Mali ada di Batang Tarang kabupaten Sanggau. Penyebaran suku ini diperkirakan terjadi pada tahun 1920. Dari Batang Tarang mereka menggunakan perahu melalui sungai-sungai melakukan perjalanan hingga menyebar ke tempat-tempat hunian mereka sekarang ini. Awalnya migrasi suku Dayak Mali ini untuk mencari tempat dan lahan baru guna membuka lahan pemukiman untuk berladang. Diperkirakan ini terjadi atas dorongan sebuah misionaris di kabupaten Sanggau.

Pada awal kehadiran mereka di tempat mereka sekarang ini, disambut secara adat oleh masyarakat suku Dayak Kualatn yang terlebih dahulu bermukim di wilayah ini. Suku Dayak Kualatn, menyepakati bahwa mereka diperbolehkan mendapat tanah dan membuka lahan untuk perladangan. Tetapi suku Dayak Mali harus mengikuti adat istiadat (hukum adat) suku Dayak Kualatn. Walau begitu, suku Dayak Mali tetap dapat memelihara budaya asli mereka, hanya saja hukum adat yang berlaku di tengah masyarakat mereka harus mengikuti hukum adat Dayak Kualatn.

Bahasa Mali berbeda dengan bahasa Dayak Kualatn yang mayoritas di wilayah ini, sehingga kebanyakan masyarakat suku Dayak Mali fasih menuturkan bahasa Dayak Kualatn. Oleh karena itu dalam berkomunikasi dengan suku Dayak Kualatn, kebanyakan masyarakat suku Dayak Mali akan menggunakan bahasa Dayak Kualatn. Bahasa Dayak Mali merupakan bahasa yang khas di antara beberapa hunian kelompok suku dayak di sungai Kualatn (Kualatn Hilir).

tari Perang suku Dayak Mali
Secara kelompok suku, suku Dayak Mali dikelompokkan ke dalam rumpun Dayak Klemantan atau Dayak Darat.

Suku Dayak Mali terbagi dalam beberapa sub-suku:


  • Dayak Mali (bahasa utama/Induk), meliputi kecamatan Balai, Sanggau sampai perbatasan Kecamatan Tayan Hilir, Sanggau. sebagian daerah Simpang Hulu, Ketapang. Dialek: Bahasa Mali, Beruak, Keneles, Tae
  • Dayak Mali Peruan, meliputi daerah Sosok, kecamatan Tayan Hulu, Sanggau. Sebagian ada di kabupaten Landak. Dialek: Bahasa Peruan
  • Dayak Mali Taba, sebagian/sepanjang daerah di kecamatan Balai, Sanggau sampai ke Tayan Hulu. Dialek: Bahasa Taba/Keneles
  • Dayak Mali Keneles, sebagian kecamatan Balai, Sanggau; sebagian kecamatan Tayan Hilir, Sanggau; sebagian kecamatan Meliau, Sanggau; sebagian kecamatan Toba, Sanggau, Teraju. Dialek: Bahasa Keneles
Suku Dayak Mali sebagian besar menganut Kristen Katolik dan sebagian lain Kristen Protestan. Dari penuturan beberapa orang Dayak Mali, bahwa segelintir orang Dayak Mali masih mempraktekkan agama asli suku dayak yang animisme dan dinamisme. Namun secara umum mengaku dirinya beragama Kristen Katolik dan Kristen Protestan. Beberapa orang Dayak Mali juga ada yang memeluk Islam, tetapi dikarenakan terjadi kawin mawin dengan suku Melayu. Sehingga orang Dayak Mali yang telah memeluk Islam, biasanya tidak mau mengaku sebagai orang dayak lagi, tetapi telah menjadi melayu.

Beberapa tradisi dalam suku Dayak Mali, adalah;
  • Ngayau, (tradisi memenggal kepala musuh), tradisi ini sudah ditinggalkan oleh masyarakat suku Dayak Mali, karena tidak sesuai dengan ajaran agama manapun, dan terlalu sadis.
  • Ganjor'ro/Gawai, adalah pesta adat selepas panen atau pesta bersyukur setelah panen padi.
  • Noton'gh, adalah upacara untuk memberi makan kepada kepala nenek moyang. upacara ini masih terpelihara dengan baik dikampung-kampung tertentu yang memiliki/menyimpan kepala manusia zaman dulu.
  • Belien'gh (Balian), adalah orang yang bekerja pada upacara adat dayak yang bertugas untuk berurusan dengan Dunia Atas dan Dunia Bawah dari para roh manusia yang telah meninggal. Balian juga dapat bertugas memanggil Jubata sebagai Juru Damai dalam suatu peristiwa yang menjadi topik pada suatu upacara adat, tugas ini seperti yang dilakukan oleh tukang tawar dalam upacara adat tersebut.
  • Ngangkong,
  • Bepamang,
  • Bebayer (Mulang Niat),
  • Berancak, adalah upacara untuk membersihkan kampung dari segala macam perbuatan jahat. berancak biasanya dilaksanakan selama 7 hari.
Masyarakat suku Dayak Mali hidup dalam bidang pertanian. Mereka telah menjalankan tradisi berladang yang merupakan suatu tradisi yang sudah lama ada sejak masa nenek moyang mereka. Pada zaman dahulu nenek moyang suku Dayak Mali adalah nomaden, yang melaksanakan perladangan berpindah. Waktu membuka ladang baru, harus mengadakan perjanjian dengan alam semesta terutama kepada Sisil (penunggu tanah dan ladang). Dahulu mereka percaya bahwa manusia harus memberi makan dan membuat perjanjian agar Sisil tersebut mau pindah ke tempat yang lain. Kalau tidak maka penunggu tanah dan ladang, bisa marah dan mengutuk manusia yang membuka ladang itu.

sumber:
  • cetak.kompas.com
  • kebudayaan-dayak.org
  • gambar-foto: suaraborneo.com
  • gambar-foto: suaraborneo.com
  • gambar-foto: tribunnews.com
  • youtube.com
  • wikipedia
  • dan sumber lain

Suku Dayak Ransa

Suku Dayak Ransa, adalah salah satu dari sekian banyak suku dayak di Kalimantan Barat, yang hidup dan bermukim di kecamatan Menukung kabupaten Melawi provinsi Kalimantan Barat.

Suku Dayak Ransa, berbicara menggunakan bahasa Ransa.

Dulunya suku Dayak Ransa adalah penganut agama asli suku dayak, seperti "Kaharingan" agama asli suku Dayak Ngaju di Kalimantan Tengah. Saat ini agama asli suku Dayak Ransa ini telah banyak ditinggalkan, karena sebagian besar dari mereka telah menganut agama Kristen, kebanyakan beragama Katolik, sedangkan sisanya beragama Protestan.

Untuk memenuhi sumber kehidupan sehari-hari, mereka memanfaatkan sumber daya alam yang digunakan untuk berladang, bersawah, menanam/menyadap karet, berkebun sayur-sayuran, menangkap ikan, berburu binatang liar di hutan, mengambil kayu di hutan untuk bangunan rumah. Selain itu mereka juga memelihara hewan ternak seperti ayam, sapi dan babi. Beberapa dari masyarakat suku Dayak Ransa sudah bekerja sebagai pegawai negeri dan karyawan swasta.

sumber:

  • agustinusmualang.blogspot.com
  • huma.or.id
  • wikipedia
  • dan sumber lain

Suku Dayak Tobak

Suku Dayak Tobak (Toba', Tobak, Tobag), dikenal juga sebagai suku Dayak Tebang Benua, adalah suatu masyarakat suku dayak yang bermukim di desa Tebang Benua kecamatan Tayan Hilir kabupaten Sanggau dan kecamatan Tobak kabupaten Sanggau provinsi Kalimantan Barat. Suku Dayak Tobak ini juga terdapat di kabupaten Ketapang.

Suku Dayak Tobak yang bermukim di kabupaten Ketapang dikenal sebagai orang Cempede'.

Bahasa Dayak Tobak atau Dayak Tebang Benua ini dikenal dengan istilah bahasa Tebang atau bahasa Tobak. Bahasa Tobak ini memperlihatkan ciri bahasa Melayik. Menurut Wurm dan Hattori (1983), suku Dayak Tobak dipetakan sebagai kelompok Bidayuhik. 

Penyebaran suku Dayak Tobak meliputi 3 kecamatan yang berada di 2 kabupaten, yaitu:
  1. kecamatan Tayan Hilir (kabupaten Sanggau), di kampung Tebang Benua, Munggu’ Bungkang, Semoncol, Sejangkar, Pulo Rawa, Selandak, Rapun, Gontek/Lancak, Cempedak, Mayak, Tenggayong, Teluk, Ampar, Jelawat, Muling, Sejotang, Batu Besi, Selingan, Jeramun, Jongko’, Sayok, Rama, Kedoko’, Terentang, Lalang, Ntajo, Lais, Jang, Gempar, kampung Baru Kapuas, Semenduk, Mberas, Kisam, Jonti, dan Pulau Cempede’. 
  2. kecamatan Tobak (kabupaten Sanggau), di kampung Kelapu, sungai Lomas, Tanjung Beringin, Kuala Labai, Bagan Asam, Bagan Aur, Bantel, Sansat, Sayu, Setarakng, Sebemban, Segasik, Ngkeramas, Beginjan, sungai Galing dan Sungai Mayam, 
  3. kecamatan Balai Berkuak (kabupaten Ketapang) yaitu di kampung Sekucing, Kenatu dan Sei Layang. 

Pada suku Dayak Tobak, tanah merupakan nafas kehidupan, sehingga memiliki arti penting dalam kehidupan masyarakat dayak dalam dimensi ekologis, transenden, sosial budaya dan eksistensi suku. Sungai juga sangat penting bagi mereka, selain menghasilkan berbagai sumber makanan seperti ikan, sungai juga sebagai sarana untuk menuju kampung lain dan berhubungan dengan masyarakat suku dayak di luar komunitas mereka.
Kehidupan pertanian menjadi aktivitas sehari-hari bagi mereka seperti pertanian berladang. Hutan juga menjadi tempat yang akrab karena pada saat senggang para laki-laki suku Dayak Tobak akan pergi berburu binatang liar di hutan, serta mengumpulkan hasil hutan untuk kebutuhan hidup mereka.

sumber:
  • kebudayaan-dayak.org
  • eprints.undip.ac.id
  • dayakbaru.com
  • wikipedia
  • dan sumber lain

Dayak Tebang Kualatn

Suku Dayak Tebang Kualatn, adalah suku dayak yang bermukim di hilir sungai Kualatn kabupaten Ketapang provinsi Kalimantan Barat, meliputi kampung Munggu’ Naning dan kampung Sekucing Baru. Kedua perkampungan suku Dayak Tebang ini hanya dapat dapat ditempuh melalui jalur sungai. Sungai menjadi sarana utama untuk berhubungan dengan kelompok masyarakat lain. Populasi suku Dayak Tebang diperkirakan sebesar 475 orang.

Suku Dayak Tebang Kualatn, ini sempat dianggap sama dengan suku Dayak Tebang Banua di pulau Cempede' di bagian hilir sungai Tayan kabupaten Sanggau. Padahal suku Dayak Tebang Kualatn ini adalah suku yang berbeda dengan suku Dayak Tebang Banua di pulau Cempede'. Dikatakan berbeda karena bahasa yang dipakai oleh kedua suku yang bernama sama ini juga berbeda.

Suku Dayak Dayak Tebang Kualatn berbicara dalam bahasa Benyupm, penyebarannya melalui jalur sungai dan menempati lahan pinggir sungai Kualatn. Tempat itu ketika itu belum ada penghuninya. Di tempat baru ini mereka memulai hidup, menetap dan memelihara kebudayaannya.

Asal usul suku Dayak Tebang Kualatn, kalau dilihat dari nama Tebang, diperkirakan dulunya mereka berasal dari wilayah desa Tebang pulau Cempede' bagian hilir sungai Tayan kabupaten Sanggau, dan kemungkinan juga suku Dayak Tebang Kualatn adalah keturunan dari suku Dayak Tebang Banua dari pulau Cempede'. Dimana masyarakat suku dayak yang bermukim di pulau Cempede' ini juga menamakan diri mereka sebagai suku Dayak Tebang yang berbicara memakai bahasa Cempede’, oleh karena itu suku Dayak Tebang di pulau Cempede ini kadang disebut sebagai suku Dayak Cempede'. Tetapi kalau dilihat dari bahasa yang digunakan oleh kedua suku yang bernama sama ini ternyata berbeda, mengindikasikan bahwa suku Dayak Tebang dari Kualatn bukanlah berasal dari desa Tebang Banua di Cempede'.

sumber:
  • kebudayaan-dayak.org 
  • kaltimpost.co.id 
  • kaltengpos.web.id 
  • dayakbaru.com 
  • wikipedia 
  • dan beberapa sumber lain


Suku Dayak Darok

Suku Dayak Darok (Daro'), adalah salah satu suku dayak yang bermukim di kecamatan Bonti kabupaten Sanggau provinsi Kalimantan Barat. Populasi suku Dayak Darok ini diperkirakan sebesar 1.938 orang.

Pada tahun 1974, kehidupan suku Dayak Darok ini masih hidup terasing, sepertinya pada masa dahulu mereka menjauhkan diri dari kelompok suku dayak lainnya. Pada zaman dahulu suku dayak suka berperang dengan sesama suku dayak lainnya, yang masih menerapkan tradisi kayau, sehingga membuat mereka mencari tempat lebih jauh ke pedalaman.

Saat ini orang Dayak Darok sudah bisa berinteraksi dengan suku dayak lainnya, dan di kecamatan Bonti tempat mereka bermukim saat ini mereka hidup bertetangga dan berdampingan dengan suku-suku dayak lainnya, seperti Dayak Ribun, Dayak Tingin, Dayak Mayau, Dayak Sami dan Dayak Selayang.

Masyarakat suku Dayak Darok berbicara dalam bahasa Dayak Darok. Bahasa Darok ini memiliki ciri-ciri khusus, terdapat bunyi yang tidak lazim dijumpai dalam bahasa-bahasa dayak di kalimantan, khususnya di kabupaten Sanggau, yaitu terdapat bunyi konsonan frikatif bilabial bersuara [B], bunyi konsonan rangkap [d] dan [h] setengah bunyi sehingga menghasilkan bunyi frikatif dental bersuara [D].

Nama Darok sendiri menurut kelompok masyarakat dayak yang hidup di sekitar pemukiman orang Dayak Darok berarti "rawan dikunjungi". Nama Darok ini hakikatnya terkesan menakutkan. Apabila dilihat dari sejarah masa lalu suku Dayak Darok. Wilayah pemukiman suku Dayak Darok sering terkena musibah seperti wabah sampar. Selain itu, banyak mitos yang menceritakan larangan untuk mengunjungi suku ini. Saat sekarang ini pemaknaan bahwa istilah Darok berkesan menakutkan tidak lagi terjadi, karena sebenarnya suku ini terbuka terhadap siapapun dan sangat ramah untuk dikunjungi seperti suku dayak lainnya.

Kehidupan masyarakat suku Dayak Darok sebagian besar masih erat dengan kehidupan alam, seperti membuka ladang dengan pola tebang, tebas dan bakar, di saat senggang tidak ada kegiatan di ladang, para laki-laki akan berburu binatang ke hutan seperti babi hutan atau binatang lain. Selain itu mereka juga mengumpulkan hasil hutan untuk kebutuhan mereka sehari-hari dan menangkap ikan di sungai-sungai yang melintas dekat perkampungan.

sumber:
  • melalatoa, j. 1995. ensiklopedi sukubangsa di indonesia. jilid a--k. jakarta: departemen pendidikan dan kebudayaan.
  • alloy, sujarni, dkk., mozaik dayak: keberagaman subsuku dan bahasa dayak di kalimantan barat, institut dayakologi, pontianak, 2008.
  • kebudayaan-dayak.org
  • wikipedia
  • dan sumber lain