Showing posts with label Sumatra Selatan. Show all posts
Showing posts with label Sumatra Selatan. Show all posts

Suku Tumi, Lampung

Skala Brak
pemukiman awal suku Tumi
Sebelum hadirnya suku bangsa Proto Malayan dan Deutro Malayan di daratan Lampung, yang konon katanya berasal dari daratan Skala Brak (Skala Beghak), yang sekarang terletak di kabupaten Lampung Barat. Ternyata telah ada sekelompok manusia yang hidup di Skala Brak ini. Mereka adalah Suku Tumi.

Kehadiran suku Tumi di Skala Brak ini tidak diketahui dari mana dan sejak kapan. Hanya dugaan, bahwa mereka telah hadir di tempat ini sudah sangat lama, karena telah memiliki pemukiman dan kerajaan. Menurut perkiraan suku Tumi berada di Skala Brak ini telah ada sejak abad 3 atau jauh sebelum masehi.

Suku Tumi ini diduga adalah suatu suku bangsa yang telah memiliki struktur atau bahkan merupakan sebuah kerajaan. Alasan ini diduga kuat karena adanya penemuan batu menhir zaman megalith. Pola hidup suku Tumi ini masih menganut animisme atau dinamisme. Sebagai pemujaan kepada alam yang dianggap punya kekuatan lebih besar dan menguasai hidup manusia, merupakan ritual dan kebiasaan hidup.

Tidak diketahui apakah suku Tumi berubah keyakinan dengan memeluk agama Hindu. Dari penelitian di wilayah tersebut, dari temuan Prasasti Bunuk Liwa yang beraliran Hindu Bhairawa menujuk angka 966 Saka (1074), yang diindikasikan mendapat pengaruh Hindu pada tahun 1074 Masehi. Prasasti ini agak membingungkan, mengingat prasasti ini masih sezaman dengan zaman Sriwijaya yang menganut agama Budha. Dari penemuan prasasti di Skala Brak ini berarti selain Kerajaan Sriwijaya yang Budha ternyata ada juga Kerajaan Hindu yang hadir di Skala Brak ini pada zaman yang sama.

Dari semua hal di atas, tidak diketahui secara pasti apakah Kerajaan Hindu di Skala Brak adalah milik suku Tumi atau bukan. Karena sepertinya suku Tumi telah ada jauh ribuan tahun sebelum adanya Kerajaan Hindu di Skala Brak tersebut. Kemungkinan Kerajaan Hindu tersebut adalah sisa-sisa dari pasukan Rajendra Chola yang sempat membangun Kerajaan dan bertikai dengan Kerajaan Sriwijaya pada masa itu.

Menurut cerita bahwa suku Tumi yang mendiami kawasan Skala Brak menyembah pohon besar yang dianggap sebagai “sesuatu yang menguasai hidup mereka”, berkekuatan Dewa. Pohon itu mereka sebut sebagai pohon Belasa Kepappang. Pohon Belasa Kepappang itu bercabang dua, satu cabang pohon nangka dan satunya pohon kayu sebukau. Getah sebukau konon sangat beracun, bila terkena kulit tubuh akan bisa menjadi luka mengoreng. Cara menyembuhkannya, dioles getah pohon nangka (cabang yang satunya).

Beberapa dugaan mengatakan bahwa suku Tumi ini berasal dari daratan Indochina dari wilayah Burma, yang bermigrasi ke wilayah ini sejak sebelum Masehi. Dugaan lain suku Tumi ini berasal dari wilayah India, yang memiliki ras Weddoid, seperti ras-ras Weddoid seperti suku Kubu di Jambi dan suku Lubu di Sumatra Utara yang juga hadir di daratan pulau Sumatra sebelum hadirnya bangsa-bangsa Proto Malayan.

Sekitar abad 5, dengan berkembangnya suku bangsa lain yang memasuki wilayah Skala Brak, semakin mempersempit ruang gerak suku Tumi, dan diperkirakan suku Tumi ini pun meninggalkan wilayahnya dan tersebar ke beberapa wilayah di Lampung dan Sumatra Selatan. Seiring dengan perjalanan suku Tumi meninggalkan wilayahnya, maka suku Tumi pun membaur dengan etnis lain yang lebih dominan, seperti suku Lampung dan beberapa etnis di Sumatra Selatan. Sehingga adat dan kebudayaan serta bahasa asli suku Tumi pun semakin tidak bisa ditelusuri lagi.

sumber:
  • indonesianspaceresearch.blogspot.com
  • melayuonline.com
  • foto:  rudimarfai.blogspot.com
  • wikipedia
  • dan sumber lain

Suku Anak Dalam

Suku Anak Dalam, adalah beberapa kelompok suku terasing yang tersebar di hutan pedalaman Sumatra Selatan.

Ada anggapan yang mengatakan bahwa suku Anak Dalam dan suku Kubu adalah sama. Memang dilihat dari kebiasaan dan gaya hidup sepertinya kedua kelompok suku ini terlihat sama. Tetapi apabila diperhatikan lebih seksama, ternyata kedua kelompok suku ini berbeda dari segi fisik. Suku Kubu berada di wilayah provinsi Jambi termasuk dalam ras Weddoid, memiliki kulit gelap dan berambut keriting. Sedangkan suku Anak Dalam berada di pedalaman hutan Sumatra Selatan yang memiliki ras Mongoloid, berkulit kuning, dan rambut kebanyakan lurus.

Suku Anak Dalam sendiri terdiri dari beberapa kelompok kecil, yang tersebar di pedalaman hutan Sumatra Selatan. Suku Anak Dalam secara fisik termasuk dalam ras Mongoloid, berkulit kuning dan berambut agak lurus.

Beberapa suku Anak Dalam di Sumatra Selatan adalah:

suku Rawas
Suku Rawas, adalah kelompok suku Anak Dalam yang mendiami wilayah hutan Musi Rawas Sumatra Selatan.
Masyarakat suku Rawas ini menggunakan bahasa Melayu dan berkulit kuning, bermata agak sipit dan berambut lurus. Kelompok inilah yang sering disebut Suku Anak Dalam. Suku Rawas ini termasuk dalam rumpun Proto Malayan.

.



suku Banyuasin
Suku Banyuasin, adalah kelompok yang disebut juga sebagai suku Anak Dalam, adalah salah satu suku yang menempati seluruh kecamatan di kabupaten Musi Banyuasin, yaitu di kecamatan Babat Toman, kecamatan Bayung Lencir, kecamatan Sungai Lilin dan kecamatan Banyuasin Dua dan kecamatan Banyuasin Tiga. Pemukiman mereka berada pada dataran rendah yang banyak ditemui rawa-rawa dan berada di daerah beberapa aliran sungai cabang dari sungai Musi.

selengkapnya tentang suku Banyuasin...


suku Teras
Suku Teras, adalah suatu komunitas suku terasing yang bermukim di sekitar sungai Teras di SP9 Cecar kabupaten Musirawas provinsi Sumatra Selatan. Suku Teras ini kadang disebut juga sebagai suku Anak Dalam. Karena mereka lebih memilih hidup secara terasing di pedalaman dari pada berbaur dengan masyarakat suku lain.

selengkapnya tentang suku Teras...





diolah dari berbagai sumber

Suku Lakitan

suku Lakitan
Suku Lakitan, adalah salah satu kelompok masyarakat yang terdapat di sekitar kota Lubuk Linggau dan terutama di sekitar sungai Lakitan, yang berada di kabupaten Musi Rawas provinsi Sumatra Selatan. Populasi suku Lakitan ini diperkirakan sebesar 15.000 orang.

Suku Lakitan ini termasuk salah satu rumpun Melayu. Bahasa yang mereka gunakan adalah bahasa Melayu yang mirip dengan bahasa Melayu Palembang. Mereka tinggal di daerah yang banyak dipenuhi rawa-rawa yang dekat dengan aliran sungai yang mengalir dekat wilayah pemukiman mereka.

Sebagian besar dari masyarakat suku Lakitan ini masih hidup dengan cara yang sangat sederhana. Banyak di antara anak-anak mereka yang tidak memiliki baju. Lokasi sekolah yang jauh dari daerah pemukiman mereka, membuat banyak anak-anak mereka yang tidak bersekolah. Karena kurangnya pendidikan, banyak dari mereka yang tidak mendapatkan pekerjaan yang tetap. Kebanyakan dari mereka hanya bekerja sebagai buruh harian. Keterampilan mereka umumnya sebagai tukang kayu, tukang tembok atau sebagai buruh tambang. Pekerjaan itu mereka dapatkan jauh dari perkampungan mereka, yaitu di kota-kota yang lebih maju di Sumatra Selatan.

Masyarakat suku Lakitan ini rata-rata hidup sebagai petani pada tanaman padi di sawah, hanya saja karena daerah mereka dipenuhi dengan rawa-rawa, sehingga sawah yang mereka garap juga tidak terlalu besar. Mereka juga menanam tanaman keras seperti pohon karet, pohon kelapa, kopi, lada dan kayu manis. Selain itu sebagian besar dari mereka bekerja sebagai buruh di perkebunan atau di industri. Selain itu mereka juga suka menangkap ikan di sungai atau di rawa-rawa untuk melengkapi kebutuhan hidup rumah tangga mereka.

sumber:
  • sabda.org
  • wikipedia
  • dan sumber lain

Suku Serawai

tari Andun
seni budaya suku Serawai di Bengkulu
Suku Serawai, adalah suatu komunitas suku yang berdiam di kabupaten Bengkulu Selatan, tersebar di kecamatan Sukaraja, Seluma, Talo, Pino, Kelutum, Manna dan Seginim. Suku Serawai selain terpusat di Bengkulu, mereka terdapat juga di beberapa daerah di provinsi Sumatra Selatan.

Suku Serawai memiliki kebiasaan merantau ke daerah lain dengan minat yang sangat tinggi. Banyak dari masyarakat suku Serawai merantau ke daerah lain, mulai dari Sumatra Selatan hingga ke wilayah Lampung.

Asal-usul suku Serawai tidak diketahui secara pasti, karena tidak adanya bukti-bukti sejarah yang tersimpan dalam masyarakat suku Serawai. Beberapa cerita asal-usul suku Serawai diperoleh dari cerita orang-orang tua yang memang masih mengingat cerita asal usul mereka, walaupun sebenarnya cerita asal usul suku Serawai ini masih berbau dongeng. Ada satu tulisan yang ditemukan di makam Leluhur Semidang Empat Dusun yang terletak di Maras, Talo. Tulisan tersebut ditulis di atas kulit kayu dengan menggunakan huruf kuno. Namun sayangnya, para ahli sejarah belum bisa membaca tulisan kuno tersebut.

suku Serawai
Sedangkan istilah "serawai", pun belum jelas artinya, sebagian orang Serawai nya sendiri mengatakan bahwa serawai berarti "satu keluarga". Kalau makna itu benar, maka dapatlah dilihat rasa persaudaraan atau kekerabatan antar sesama suku Serawai sangat kuat (khususnya mereka yang menumpang hidup di komunitas suku bangsa lainnya/merantau).
Sementara itu pendapat lain mengenai arti dari kata Serawai,

  • serawai berasal dari kata sawai, yang berarti cabang, yang mengatakan wilayah pemukiman mereka berasal dari dua cabang sungai, yaitu sungai Musi dan sungai Seluma yang dibatasi oleh bukit Campang;
  • Pendapat lain serawai berasal dari kata seran, yang bermakna celaka. Hal ini berhubungan dengan legenda anak raja dari hulu yang dibuang karena terkena penyakit menular. Anak raja ini dibuang ke sungai dan terdampar di muara, kemudian di situlah anak raja tersebut membangun negeri. 
  • Terakhir kata serawai berasal dari kata selawai yang berarti gadis atau perawan, berdasarkan pada cerita yang mengatakan bahwa suku Serawai adalah keturunan sepasang suami-istri. Sang suami berasal dari Rejang Sabah (penduduk asli pesisir pantai Bengkulu) dan istrinya adalah seorang puteri atau gadis yang berasal dari Lebong. Dalam bahasa Rejang dialek Lebong, puteri atau gadis disebut Selaweie. Kedua suami-isteri ini kemudian beranak-pinak dan mendirikan kerajaan kecil yang oleh orang Lebong dinamakan Selawai.
Suku Serawai berbicara dalam bahasa Serawai, yang termasuk ke dalam rumpun bahasa Melayu Tengah, tetapi lebih tua dari bahasa Melayu nya sendiri
Bahasa Serawai oleh masyarakat Serawai dalam setiap katanya selalu menggunakan kata "au". Bahasa dan adat Serawai ini dipakai oleh masyarakat yang berada di distrik Pino, Ulu Manna, Manna, dan Bengkenang yaitu dalam : Marga Anak Gumai, Marga Tanjung Raya, Marga VII Pucukan, Marga Anak Lubuk Sirih, Marga Anak Dusun Tinggi, Sumbai Besar Manna, Sumbai Kecil Manna dan Luar Khalifah Manna.

Suku Serawai sebenarnya memiliki aksara tulisan sendiri, yang menurut para ahli sejarah disebut dengan nama huruf Rencong. Sedangkan suku Serawai menamakan aksara ini sebagai Surat Ulu. Tata cara dan susunan bunyi huruf pada Surat Ulu hampir sama dengan dengan aksara Kaganga. Jadi pada masa lalu dalam hubungan komunikasi antara para pemimpin suku Serawai dan suku Rejang dapat saling berkomunikasi dengan menggunakan bentuk tulisan ini.

Masyarakat suku Serawai pada umumnya hidup pada sektor pertanian, khususnya perkebunan. Banyak dari mereka berusaha pada bidang tanaman perkebunan pada jenis tanaman keras, seperti cengkeh, kopi, kelapa, dan karet. Selain itu mereka juga mengusahakan tanaman pangan, palawija, hortikultura, dan peternakan untuk kebutuhan hidup. Di luar dari itu beberapa dari mereka memelihara hewan ternak untuk menambah penghasilan.

sumber:
  • word-dialect.blogspot.com
  • budayasukuserawai.blogspot.com
  • wikipedia
  • dan sumber lain
sumber-foto:
  • blog.djarumbeasiswaplus.org
  • ahmadkanedi.com

Suku Kikim

Suku Kikim, adalah suatu masyarakat adat yang bermukim di Sumatra Selatan. Populasi suku Kikim ini diperkirakan sebesar 15.000 orang.

Masyarakat suku Kikim sebenarnya telah memeluk agama Islam, tetapi sebagian besar dari mereka masih mengamalkan ajaran kepercayaan lama nenek moyang mereka, seperti kepercayaan animisme yang masih terlihat jelas dalam kehidupan mereka.

Satu acara adat suku Kikim yang terkenal adalah acara adat "Sedekah Rame", yaitu upacara makan bersama dengan orang-orang seluruh desa sambil duduk di tempat yang disebut Tanah Badahe Setue (Tanah Kesuburan Masa Depan) yang biasanya berlokasi di tengah sawah. Tempat itu dipilih sebagai suatu tempat untuk membakar dupa, mempersembahkan sesajen kepada mahluk halus atau roh penunggu sawah dengan menyalakan api unggun.

Umumnya orang Kikim bekerja sebagai petani, yang membuka lahan dengan sistem tebang-bakar, dan tinggal di dekat hutan dan berpindah-pindah karena tidak bisa menjaga kesuburan tanah. Itu sebabnya mereka membuka lahan dengan menebang pohon besar dan membakar semak-semak. Akibat dari perbuatan mereka ini, seringkali mereka dianggap sebagai penyebab kebakaran hutan yang sering kali terjadi di hutan Sumatera Selatan. Tetapi menurut mereka, sebenarnya kerusakan hutan maupun kebakaran hutan, tidaklah disebabkan oleh mereka, melainkan oleh perusahaan kayu besar yang secara illegal membakar hutan seenaknya.

sumber:
  • rumahdoakami.blogspot.com
  • wikipedia
  • dan sumber lain

Suku Daya

Suku Daya, adalah suatu komunitas masyarakat yang menetap di pinggir aliran sungai Ogan dekat dengan kota Simpang dan Pulauberingin dan sekitar kota Martapura. Terkonsentrasi di kabupaten Ogan Komering Ulu, meliputi kecamatan Baturaja Timur, Baturaja Barat, Simpang dan Muaradua. Populasi suku Daya ini diperkirakan telah mencapai lebih dari 50.000 orang, yang tersebar di beberapa tempat di provinsi Sumatra Selatan hingga ke wilayah provinsi Lampung.

Masyarakat suku Daya berbicara dalam bahasa Daya, yang mana bahasa ini termasuk dalam dialek bahasa Melayu, yang sering disebut juga sebagai dialek Daya. Tidak diketahui apakah orang Daya ini memiliki bahasa sendiri selain bahasa Melayu yang digunakan sekarang ini. Mengingat bahwa suku Daya ini adalah penduduk asli wilayah ini, dan tergolong ke dalam kelompok protomalayan, mereka telah ada sebelum kehadiran orang-orang Melayu di wilayah ini.

Istilah nama Daya sendiri tidak diketahui berasal dari mana, kemungkinan berasal dari salah satu marga suku Komering, seperti marga Daya. Apabila dilihat dari adat-istiadat dan budaya suku Daya ini sepertinya masih berkerabat dengan suku Komering, yang juga tinggal di wilayah ini. Istilah Daya ini walau mirip dengan nama suku Dayak di Kalimantan, tetapi tidak ada hubungan sama sekali, hanya kemiripan nama saja.

Sebagian besar orang Daya adalah pemeluk agama Islam, yang telah sejak lama berkembang di wilayah ini, dibawa oleh pendatang melayu yang juga bermukim di wilayah ini. Pada masa dahulu orang Daya mengamalkan kepercayaan animisme dan dinamisme, yang bertahan lama sampai masuknya agama Islam ke wilayah ini. Saat ini walaupun sebagian besar orang Daya telah memeluk agama Islam, tetapi beberapa dari mereka masih mengamalkan kepercayaan lama mereka berupa kegiatan mistis dan mengandung unsur animisme dan dinamisme.

Mayoritas penduduk suku Daya bermata pencaharian sebagai petani, terutama pada tanaman keras seperti pohon karet dan kopi. Selain itu beberapa dari mereka bekerja sebagai buruh pabrik, buruh pelabuhan, pekerja bangunan.

sumber:
  • melalatoa, j. 1995. ensiklopedi sukubangsa di indonesia. jilid a-k. jakarta: departemen pendidikan dan kebudayaan
  • sabda.org
  • uun-halimah.blogspot.com
  • wikipedia
  • dan sumber lain

Suku Aji

Suku Aji, atau kadang ada yang menyebut sebagai suku Haji, juga sebagai Marga Haji, adalah suatu komunitas masyarakat yang mendiami wilayah di desa Sukarami Aji, yang terletak sekitar ±15 km dari kota Muaradua ibukota kabupaten Ogan Komering Ulu Selatan.serta 4 km dari ibukota kecamatan buay sandang Aji. 

Desa Sukarami merupakan sebuah desa terpenting dalam sejarah suku Aji, karena desa Sukarami dan Kuripan Aji lah yang memelihara barang pusaka Sang Hyang Rakian Sakti (tokoh dalam mitos suku Aji).
Suku Aji, tersebar di sepanjang aliran sungai Selabung, sebuah sungai yang mengalir dari danau Ranau provinsi Sumatra Selatan. Suku Aji tersebar mulai dari provinsi Lampung, provinsi Sumatera Selatan dan provinsi Bengkulu.

Suku Aji dijuluki Raja Adat, Raja Hukum, Raja Basa “Pangeran Sang Aji Malihi adalah Raja Saka Aji Sai (marga Haji) yang mengadakan pepadun tentang bahasa dan adat dengan keempat Buay dari Lampung, Bengkulu dan Jambi yang menjadi wilayah kekuasaannya pada masa dahulu.

Suku Aji, pada umumnya hidup dari bidang pertanian, perkebunan kopi, perkebunan lada dan hasil bersawah. Masyarakat suku Aji sebagian besar adalah petani pribadi, mengolah tanah warisan leluhurnya.

sumber:
  • adityakhenzo.wordpress.com
  • wikipedia
  • dan sumber lain

Suku Penesak

perkampungan suku Penesak
Suku Penesak, adalah salah satu komunitas suku yang berada di kecamatan Tanjung Batu dan, kecamatan Pedamaran, keduanya di kabupaten Ogan Komering Ilir serta terdapat juga di desa Pangkalan Benteng kabupaten Banyu Asin provinsi Sumatera Selatan.

Suku Penesak berbicara dengan menggunakan bahasa Penesak, yang masih termasuk ke dalam rumpun bahasa Melayu, yang mirip dengan bahasa Ogan.

Konon, menurut cerita rakyat suku Penesak di Tanjung Batu, bahwa asal muasal penduduk asli suku Penesak di Tanjung Batu merupakan keturunan salah satu bangsawan kerajaan Sriwijaya yang pindah dari pusat kerajaan dan selanjutnya berdomisili di wilayah Tanjung Batu yang ada sekarang ini. Penduduk asli Tanjung Batu tersebut adalah suku Penesak.

Suku Penesak, pada umumnya mendirikan rumah dengan bentuk rumah panggung dari kayu dengan hiasan ornamen spesifik. Detail ukiran khas lokal pada bagian atap (listplank dan bubungan) skoor, pintu dan jendela.
Proses pembuatan rumah kayu secara knock down "bongkar pasang" sebagai bentuk keunikan lokal yang dimiliki hampir setiap penduduk suku Penesak di desa Tanjung Batu.
Ragam kerajinan tangan baik berupa kerajinan logam (emas, perak, alumunium dan tembaga), kerajinan tekstil (kain songket-tenunan) maupun anyaman (tikar).

Masyarakat suku Penesak, umumnya menggantungkan hidup dari hasil kerajinan dan pertukangan. Mereka terkenal sebagai perajin emas, perak, aluminium, tenun songket, bordir, perlengkapan pengantin adat, anyaman-anyaman dan pembuat rumah tradisional bongkar pasang. Profesi sebagai tukang kayu juga membuat perkampungan mereka di desa Tanjung Batu identik dengan sebutan "daerah tukang kayu" di Sumatera Selatan. Industri-industri kerajinan rakyat justru lebih berkembang dibandingkan bidang pertanian dan perikanan.

sumber:
  • karimsh.multiply.com
  • ciptakarya.pu.go.id
  • wikipedia
  • dan sumber lain
foto:
  • ciptakarya.pu.go.id

Suku Kisam

Suku Kisam, adalah suatu kelompok masyarakat adat atau suatu komunitas suku, yang berada di provinsi Sumatra Selatan.

Menurut penuturan beberapa masyarakat Kisam mengatakan bahwa mereka dahulunya berasal dari pecahan suku Pasemah (Besemah). Tetapi yang lain menyangkal hal ini, dan mengatakan bahwa walaupun mereka sebenarnya masih berkerabat dengan suku Besemah, tetapi mereka bukanlah pecahan atau keturunan dari suku Pasemah.

Wilayah pemukiman suku Kisam berada di suatu daerah pegunungan yang terletak di ujung barat kabupaten Ogan Komering Ulu Selatan.
Ada cerita dari daerah Pasemah, di daerah besemah ada daerah yang diberi nama prahu dipa, adalah suatu tempat penyebaran islam di Sumatera Selatan. Terdapat beberapa yang menolak dan tidak bersedia menerima agama Islam, melarikan diri ke hutan dan berdiam di daerah yang disebut Kisam.

Bebepara tokoh leluhur orang Kisam adalah:
  • puyang kedum, 
  • puyang tanjung rhaye, 
  • puyang seninting, 
  • puyang serunting sakti, 
  • puyang campang tige, 
  • puyang matah diangkat, 
  • puyang neraca,
  • dan lain-lain masih banyak lagi.
Para puyang ini diyakini membentuk dusun pemukiman, dan berkembang pesat memiliki banyak keturunan, yang mana wilayah pemukiman mereka kini telah menjadi desa dan kecamatan. Masyarakat kisam pada masa dahulu memiliki kebiasaan bergotong-royong. Mereka memiliki adat-istiadat Jaran Besemah atau "seganti setungguan". Tetapi saat ini kebiasaan gotong-royong ini hanya terlihat pada acara-acara adat dan acara adat kematian saja.

Masyarakat suku Kisam, hidup sebagian besar sebagai petani, terutama pada perladangan.

sumber:
  • andrabasarman.blogspot.com
  • wikipedia
  • dan sumber lain

Suku Belida (Belide)

suku Belida
Suku Belida atau suku Belide, adalah suatu komunitas adat yang bermukim di sepanjang sungai Belida, bermuara di sungai Musi. Suku Belida ini juga ditemukan di tepi sungai Kelekar, sungai Rambang dan di daerah hilir sungai Lematang). Suku Belida tersebar di kabupaten Muara Enim, yaitu di kecamatan Gelumbang, kecamatan Lembak, kecamatan Sungai Rotan dan kecamatan Belida. Mereka juga terdapat di kotamadya Prabumulih yaitu di kecamatan Cambai, kecamatan prabumulih barat, kecamatan prabumulih timur, serta juga terdapat di Ogan Ilir dan sekitar Gandus kota Palembang Sumatra Selatan.

Di Indonesia, mungkin kalau ikan Belida banyak yang tahu, tapi kalau suku Belida, rasanya tidak banyak yang tahu, bahkan oleh penduduk di provinsi Sumatra Selatan sendiri, banyak yang tidak tahu tentang keberadaan suku Belida ini. Suku Belida telah lama menetap di sepanjang sungai Belida yang di sungai ini juga ditemukan populasi ikan Belida. Sejenis ikan yang dagingnya diolah untuk makanan khas sejenis krupuk yaitu Kemplang.
Asal usul suku Belida sendiri, tidak diketahui secara pasti, hanya dari penuturan masyarakat setempat, yang mengatakan bahwa suku Belida telah menetap berabad-abad di wilayah dekat sungai Belida ini. Merekalah penghuni pertama wilayah ini, sebelum kedatangan suku-suku Melayu ke wilayah ini.

Suku Belida dalam kesehariannya berbicara menggunakan bahasa Belide, yang mirip seperti bahasa Melayu Pesisir. Karena beberapa kata yang ditemukan mirip dengan bahasa Melayu. Secara bahasa, suku Belida ini dikelompokkan ke dalam rumpun bangsa Melayu.
Bahasa Belida memiliki logat yang berbeda dengan bahasa-bahasa lain di sekitar wilayah pemukiman mereka. Pada saat ini bahasa Asli Belida, sepertinya mengalami pergeseran, karena para penutur bahasa Belida diperkirakan hanya tinggal diucapkan oleh para orang Belida dewasa dan orang Belida lanjut usia. Para generasi mudanya lebih suka berbicara dalam bahasa Melayu, seperti bahasa Melayu Palembang. Bahasa Belida saat ini, banyak dipengaruhi oleh bahasa Melayu Palembang. Jadi para pemakai bahasa Belida yang Asli di wilayah Belida sendiri sudah sangat jarang, karena dominasi bahasa Melayu Palembang sebagai bahasa pengantar di wilayah tersebut. Suatu cara untuk membedakan orang Belida dengan orang Palembang sangat mudah, karena orang Belida kalau berbicara sangat kentara logatnya berbeda dengan logat orang Palembang.

contoh bahasa Belida saat ini (sudah terpengaruh bahasa Melayu Palembang)
  • deri mana = dari mana
  • nak kamana mingkak ni = mau kemana kalian ini
  • segela = semua, segala

Daerah Belida juga terkenal dengan aneka makanan khasnya, salah satunya adalah Pekasam atau Pede. Ikan fermentasi, yang disimpan dalam suatu wadah dan difermentasikan dalam waktu tertentu (sekitar 5 - 10 hari).

Suku Belida mayoritas adalah pemeluk agama Islam. Tradisi budaya dan adat-istiadat suku Belida, banyak dipengaruhi oleh budaya Melayu dan Islam, salah satunya adalah acara sedekah adat atau sedekah apem. Setiap keluarga diminta partisipasinya untuk membuat apem kuah, kemudian seluruh apem kuah yang telah dibuat oleh seluruh warga desa akan dikumpulkan di balai desa, dilanjutkan dengan acara baca doa bersama sebagai tanda syukur kepada Tuhan. Setelah acara doa bersama, maka apem kuah tadi dibagikan kepada seluruh warga desa untuk disantap bersama-sama.
Ada juga sedekah ketupat. Acara sedekah ini diminta partisipasi setiap keluarga untuk membuat ketupat yang terbuat dari daun rumbai/daun pandan dengan beberapa bentuk yang beragam. Setelah itu ketupat dikumpulkan di balai desa serta diadakan acara doa bersama sebagai tanda syukur kepada Allah SWT, lalu ketupat tersebut dimakan bersama-sama seluruh warga desa. Setelah acara, kulit-kulit bekas ketupat akan digantungkan di setiap pintu rumah warga desa.

Mata pencaharian masyarakat suku Belida pada umumnya adalah sebagai petani, terutama pada tanaman karet. Wilayah di sekitar pemukiman masyarakat Belida banyak ditanami pohon karet. Karet menjadi komoditas mata pencaharian masyarakat Belida. Sedangkan di wilayah dataran rendah di sekitar hilir sungai Lematang dan muara Belide, di sana masyarakat suku Belida juga bertani berbagai jenis tanaman seperti sayur-sayuran serta memelihara ikan ikan di daerah rawa.

sumber:
  • word-dialect.blogspot.com
  • skyscrapercity.com
  • karsela.blogspot.com
  • gambar-foto: skyscrapercity.com
  • wikipedia
  • dan sumber lain

Suku Palembang

pakaian adat
suku Palembang
Suku Palembang, atau Orang Palembang, adalah salah satu masyarakat adat yang menempati kota Palembang provinsi Sumatra Selatan. Suku Palembang memenuhi lebih dari setengah penduduk kota Palembang.

Suku Palembang dalam kehidupan mereka terdiri dari 2 kelompok yang membedakan strata sosial mereka, yaitu:
  1. kelompok Wong Jeroo, adalah keturunan bangsawan/hartawan dan stausnya berada setingkat di bawah orang-orang Istana dari Kerajaan Palembang, pada masa lalu yang berpusat di Palembang, 
  2. kelompok Wong Jabo, adalah rakyat biasa. 

Ada pendapat yang mengatakan bahwa pada awalnya suku Palembang adalah merupakan hasil dari asimilasi dari beberapa suku bangsa Arab, Cina dan Melayu, yang bermigrasi ke wilayah Palembang ini pada berabad-abad yang lalu dan hidup berdampingan sekian lama, dan terjadi perkawinan-campur selama berabad-abad. Dari ketiga suku bangsa ini lah lahir suatu etnik yang disebut suku Palembang yang memiliki budaya dan adat-istiadat tersendiri.
Tetapi beberapa dari masyarakat Palembang lainnya justru menolak hal tersebut, dan mengatakan bahwa suku Palembang adalah suatu komunitas adat tersendiri, dan sebagai penghuni pertama wilayah Palembang, jauh sebelum kehadiran bangsa Arab, Cina dan Melayu. Mungkin saja terjadi perkawinan-campur antara suku Palembang dengan beberapa suku bangsa pendatang tersebut, tetapi justru beberapa suku bangsa pendatang tersebut lah yang ikut masuk ke dalam budaya dan adat-istiadat suku Palembang.

Suku Palembang dalam kesehariannya berbicara dalam bahasa Palembang, yang dikategorikan sebagai bahasa Melayu, yang sering disebut sebagai bahasa Melayu Palembang. Bahasa Palembang ini mirip dengan bahasa Melayu Riau dan bahasa Melayu Malaysia, hanya saja memakai dialek "o".  Bahasa Melayu Palembang ini memiliki dua diale bahasa, yaitu baso Palembang Alus dan baso Palembang Sari-Sari.

Kebanyakan masyarakat suku Palembang, suka tinggal di rumah yang dibangun di atas permukaan air. Rumah orang Palembang yang paling populer adalah rumah Limas yang berbentuk rumah panggung dan dibangun di atas air di pinggiran sungai Musi.  Orang Palembang termasuk ahli dalam membuat beberapa jenis makanan, beberapa makanan asli buatan orang Palembang yang telah dikenal di Indonesia, adalah pempek, lenggang dan tekwan. Di antara ketiga jenis makanan khas Palembang ini yang paling terkenal adalah pempeknya.

Masyarakat suku Palembang, memiliki tradisi yang telah dijalankan selama beberapa abad sebagai pedagang, sebagian kecil menjajakan dagangannya di atas permukaan air sungai Musi dengan menggunakan perahu. Selain menjadi pedagang, orang Palembang juga banyak yang berhasil menduduki sektor penting di pemerintahan Sumatra Selatan, dan juga tidak sedikit yang berhasil di perantauan dalam segala bidang, termasuk menjadi pejabat pemerintahan Indonesia dan beberapa sukses menjadi artis, sedangkan yang lain juga banyak bekerja di sektor swasta dan lain-lain.

sumber:
  • archive.kaskus.co.id
  • dianulumia.blogspot.com
  • wikipedia
  • dan sumber lain

Suku Lintang

Suku Lintang, adalah suatu masyarakat adat yang mendiami kawasan pegunungan Bukit Barisan di provinsi Sumatera Selatan dan wilayah provinsi Bengkulu. Di pemukiman, mereka hidup berdampingan dengan suku Pasemah dan Rejang. Secara rumpun bangsa, mereka diklasifikasikan sebagai bagian dari suku Melayu. Kebanyakan mereka membuat pemukiman di sepanjang sungai Musi.
Di provinsi Sumatra Selatan mereka tinggal di sekitar kota Batulintang yang berada di aliran sungai Musi, Tebingtinggi kabupaten Empat Lawang. Sedangkan di provinsi Bengkulu, pemukiman mereka berada di Gunung Melintang.


Di Indonesia mungkin banyak yang belum mengetahui tentang suku Lintang, Lintang sebenarnya adalah nama dari sebuah sungai yang melintas dari desa Sematu lintang Kanan sampai Air Lintang Jembatan Gunung Meraksa. Sungai ini bernama sungai Lintang, dan masyarakat yang sejak awal telah tinggal pertama kali di wilayah ini lah yang disebut sebagai masyarakat suku Lintang. Asal usul suku Lintang sendiri tidak diketahui secara pasti, sebenarnya ada beberapa cerita rakyat Lintang yang bercerita tentang sejarah asal usul mereka, tetapi dianggap hanyalah sebuah mitos yang belum bisa dibuktikan kebenarannya. Diperkirakan suku Lintang ini berasal dari keturunan beberapa suku yang telah terlebih dahulu berada di wilayah ini. Seperti suku Pasemah, suku Komering dan suku Rejang, dan kemungkinan juga dari keturunan suku bangsa deutro-melayu yang mendarat di wilayah ini pada masa beberapa abad yang lalu.

Masyarakat suku Lintang berbicara dalam bahasa Lintang, yang mana bahasa Lintang ini dikelompokkan ke dalam rumpun bahasa Melayu. Bahasa Lintang ini mirip dengan bahasa Pasemah, Semendo dan bahasa lain seperti bahasa Lampung dan bahasa Bengkulu. 

Masyarakat suku Lintang ini sangat ramah kepada siapapun termasuk kepada para orang asing, dan mereka sangat mematuhi adat-istiadat mereka. Masyarakat suku Lintang secara keseluruhan memeluk agama islam, dan sangat taat sebagai muslim. Di wilayah pemukiman suku Lintang, banyak ditemui mesjid dan pesantren.

Suku Melayu Lintang dalam keseharian hidup dari bidang pertanian, seperti berkebun kopi, bertani sawah, menanam kemiri, pohon karet dan berbagai jenis sayur-sayuran. Selain itu mereka juga memelihara berbagai jenis hewan ternak seperti sapi, kerbau, kambing, ayam, bebek dan lain-lain. Walaupun mereka hidup di sekitar sungai Musi, kehidupan sebagai nelayan ternyata tidak terlalu menarik bagi mereka..

sumber:
  • archive.kaskus.co.id
  • sabda.org
  • forumlintangempatlawang.blogspot.com
  • wikipedia
  • dan sumber lain

Suku Kayu Agung

tarian
suku kayu agung
Suku Kayu Agung, adalah suatu komunitas masyarakat adat yang berada di kabupaten Ogan Komering Ilir yang beribukota Kayu Agung di provinsi Sumatera Selatan. Wilayah pemukiman suku Kayu Agung ini dilintasi oleh sungai Komering.

Suku Kayu Agung dalam kesehariannya berbicara dalam 2 bahasa, yaitu bahasa Kayu Agung dan bahasa Ogan. Bahasa Kayu Agung mirip dengan bahasa Melayu, walaupun banyak terdapat perbedaan. Suku Kayu Agung dalam lingkungan sesama orang Kayu Agung akan berbicara dalam bahasa Kayu Agung, tetapi bila berhubungan dengan orang Ogan, maka mereka akan berbicara dalam bahasa Ogan yang diucapkan oleh suku Ogan yang banyak bermukim di Kota Agung ini. Suku Kayu Agung ini selain hidup berdampingan dengan suku Ogan, di pemukiman mereka ini juga terdapat suku Komering.

Istilah "kayu agung" menjadi identitas suku Kayu Agung, mungkin karena komunitas ini adalah penghuni asli Kota Agung, sehingga komunitas suku mereka disebut sebagai suku Kayu Agung. Selain di kecamatan Kayu Agung, mereka juga tersebar di beberapa desa di wilayah kecamatan Mesuji pada beberapa desa seperti desa Sungai Sodong, desa Sungai Badak, desa Nipah Kuning dan desa Pagar Dewa. Secara sejarah suku Kayu Agung sebenarnya masih berkerabat dengan suku Ogan, dengan kata lain berasal dari satu rumpun yang sama.

acara pernikahan
suku Kayu Agung
Masyarakat suku Kayu Agung secara mayoritas telah beragama Islam, tetapi dalam praktek keseharian mereka, banyak dari mereka yang tetap menjalankan tradisi kepercayaan lama, seperti kepercayaan terhadap dunia roh. Mereka percaya kalau roh orang mati bisa kembali dan mengganggu ketentraman mereka. Oleh karena itu, sebelum mayat dikubur harus dimandikan dengan bunga dari bermacam-macam jenis agar roh dari orang yang mati lupa jalan pulang ke rumahnya. Mereka juga percaya terhadap dukun yang membantu dalam upacara pertanian, baik saat menanam maupun saat panen. Selain itu ada mereka memiliki tempat keramat yang dianggap sebagai tempat bersemayamnya roh-roh.

Kehidupan suku Kayu Agung dalam mempertahankan hidup pada dasarnya sebagai petani. Sebagian besar dari mereka hidup dari bertani pada persawahan di daerah rawa-rawa. Selain itu banyak juga yang memilih profesi sebagai pedagang serta membuat kerajinan gerabah dari tanah liat.

sumber:
  • archive.kaskus.co.id
  • gambar-foto: dimasprab.student.umm.ac.id
  • wikipedia
  • dan sumber lain

Suku Lematang

pakaian adat suku Lematang
Suku Lematang, adalah suatu komunitas masyarakat yang berdiam di provinsi Sumatra Selatan, di daerah Lematang yang berada di antara kabupaten Muara Enim dan kabupaten Lahat. Daerah suku Lematang ini berbatasan dengan daerah Kikim dan Enim. Pemukiman suku Lematang ini berada di sepanjang sungai Lematang, tidak terlalu jauh dari kota Muaraenim dan kota Prabumulih. Wilayah pemukiman orang Lematang berada di 4 kecamatan, salah satunya kecamatan Merapi yang terdiri dari 37 buah desa di antaranya desa Muara Lawai, desa Gedung Agung, desa Banjarsari, desa Kota Agung, desa Tanjung baru, desa Arahan dan lain-lain.

Asal usul orang Lematang diperkirakan berasal dari kelompok suku bangsa deutro-malayan yang bermigrasi secara besar-besaran dari daratan Indochina. Pada awalnya hidup di daerah pesisir, tetapi karena berkembangnya kerajaan Sriwijaya dan ingin memperluas wilayah kekuasaannya dengan menyerang setiap wilayah pemukiman di sekitar kerajaan Sriwijaya, maka mereka pun terdesak masuk lebih ke pedalaman melalui aliran sungai Musi, hingga masuk ke aliran sungai Lematang dan mendirikan pemukiman di tempat ini.
Ada sebuah cerita yang tersimpan dari mulut ke mulut, dari generasi ke generasi, bahwa masyarakat suku Lematang masih keturunan dari orang-orang yang berasal dari kerajaan Sriwijaya.
Bahasa Lematang, mirip dengan bahasa Melayu, tetapi walau mirip, sebenarnya terdapat banyak perbedaan.

Pada dasarnya orang Lematang sangat terbuka dan selalu bersikap ramah tamah dalam menyambut setiap tamu yang hadir di wilayah pemukiman mereka. Selain itu rasa kebersamaan juga nampak dari kehidupan setiap masyarakat suku Lematang ini. Terlihat dari sikap gotong-royong dan tolong-menolong.


salah satu pemukiman suku Lematang
Rumah orang Lematang biasanya dibangun dengan bentuk rumah panggung. Kadang mereka membangun rumah di atas permukaan air di pinggiran sungai. Tradisi rumah seperti ini adalah tradisi dari sejak zaman nenek moyang mereka yang tetap dipertahankan oleh sebagian besar masyarakat suku Lematang. Lagipula wilayah pemukiman suku Lematang ini banyak terdapat rawa-rawa, jadi model rumah panggung ini lah yang menjadi pilihan paling tepat untuk ditempati.Rumah-rumah ini memiliki tempat duduk yang menghadap ke jalan raya di bagian depan rumah yang disebut pance. Pance adalah tempat untuk bersantai baik dengan sesama anggota keluarga maupun dengan orang yang berkunjung.

Masyarakat Lematang, memiliki 2 sistem adat pernikahan:
  • calon mempelai laki-laki akan menjadi anggota keluarga penuh dari calon mempelai perempuan, semua biaya pernikahan ditanggung oleh pihak perempuan.
  • mempelai laki-laki bersama mempelai perempuan diperbolehkan meninggalkan mertuanya untuk mencari pekerjaan di daerah lain, namun jaminan masa tua mertua tetap menjadi tanggung jawab mereka.

Apabila orang dari luar suku Lematang menikah dengan salah satu orang Lematang, maka mereka harus menikah secara Islam. Setelah acara pernikahan, mereka diberikan kebebasan untuk memeluk agama lain. Namun, setelah berpindah agama ia masih diterima sebagai anggota keluarganya, tetapi tidak diakui lagi sebagai masyarakat Lematang.

Harta warisan diserahkan kepada anak perempuan. Akibatnya banyak anak laki-laki yang merantau untuk mencari nafkah. Pendapat mereka mengenai adat-istiadat mereka, adalah bahwa,adat-istiadat mereka tidak berbeda dengan Lahat dan Muara Enim.

Masyarakat Lematang saat ini secara mayoritas memeluk agama Islam, namun dalam keseharian banyak dari mereka yang masih mempercayai dan terlibat dalam ilmu-ilmu gaib. Mereka adalah penganut Islam yang taat. Satu hal yang patut dipuji adalah dalam dalam pandangan hidup orang Lematang adalah mereka sangat menghargai agama di luar agama yang mereka anut. Menurut mereka bahwa semua agama itu baik dan selalu bertujuan baik terhadap penganutnya.

Pada dasarnya masyarakat Lematang hidup pada bidang pertanian, seperti persawahan dan perladangan. Namun saat ini banyak dari orang Lematang yang telah bekerja di sektor pemerintahan maupun swasta, dan juga pada sektor-sektor lain. Pada pendidikan masih banyak generasi muda Lematang yang kurang mendapatkan tingkat pendidikan yang layak sehingga perlu mendapat perhatian yang lebih dari pemerintah daerah setempat.

sumber:
  • disdukcapil.musi-rawas.go.id
  • siswa.univpancasila.ac.id
  • archive.kaskus.co.id
  • gambar-foto: tua-tradisionil.blogspot.com
  • gambar-foto: mongabay.co.id
  • wikipedia
  • dan sumber lain

Suku Rawas

anak-anak suku Rawas
Suku Rawas, salah satu suku yang bermukim di dekat sungai Rawas dan sungai Musi sebelah utara, tepatnya berada di kecamatan Rawas Ulu, Rawas Ilir, dan Muararupit, yang seluruh kecamatan tersebut berada di kabupaten Musi Rawas provinsi Sumatra Selatan. Populasi suku Rawas diperkirakan sebesar 150.000 orang.

Pada beberapa tulisan dikatakan bahwa suku Rawas ini dianggap sebagai suku Anak Dalam juga, seperti suku Banyuasin, suku Teras dan suku Kubu. Karena masyarakat suku Rawas ini lebih suka hidup jauh dari perkampungan suku-suku lain, dan memilih tempat yang terpencil dan terasing. Sehingga bagi para peneliti dan penulis di beberapa situs, sering menyebutkan suku Rawas ini sebagai suku terasing.

Walaupun suku Rawas hidup secara terasing, tetapi mereka tidaklah primitif. Karena saat ini apabila diperhatikan kehidupan mereka yang terlihat sangat sederhana, sebenarnya mereka telah mengenal beberapa budaya dari era modern, seperti memiliki kompor minyak, radio dan televisi, bahkan beberapa telah memiliki genset (generator pembangkit listrik yang berukuran kecil.

suku Rawas
Masyarakat suku Rawas, saat ini sebagian besar masih meyakini dan mempercayai hal-hal yang berhubungan dengan dunia roh. Mereka percaya bahwa roh-roh di alam dapat mempengaruhi nasib mereka.

Suku Rawas berbicara dalam bahasa Rawas, yang apabila dilihat dari perbendaharaan kata yang dimiliki oleh bahasa Rawas terdapat kemiripan dengan bahasa Melayu. Hanya saja bahasa Rawas, sepertinya lebih tua dari bahasa Melayu pada umumnya.

Suku Rawas sebagian besar hidup sebagai petani, terutama pada tanaman karet yang di tanam hampir di segala tempat di dekat pemukiman suku Rawas. Selain itu mereka juga banyak yang berprofesi sebagai penangkap ikan di sungai-sungai yang melintas dekat pemukiman mereka.

sumber:
  • archive.kaskus.co.id
  • sabda.org
  • gambar-foto: mentarigroups.com
  • gambar-foto; halamancurup.blogspot.com
  • wikipedia
  • dan sumber lain

Suku Teras (Anak Dalam)

suku Teras
Suku Teras, adalah suatu komunitas suku terasing yang bermukim  di sekitar sungai Teras di SP9 Cecar kabupaten Musirawas provinsi Sumatra Selatan. Suku Teras ini kadang disebut juga sebagai suku Anak Dalam. Karena mereka lebih memilih hidup secara terasing di pedalaman dari pada berbaur dengan masyarakat suku lain.

Suku Teras ini sebenarnya berasal dari keturunan suku Gumai dari marga Gumai Talang yang bermigrasi dari daerah Lahat. Komunitas suku Teras ini terbentuk dari sekelompok masyarakat suku Gumai Talang yang melarikan diri dari tentara Belanda pada masa penjajahan Belanda. Sekian lama suku ini bermukim di tempat yang pada masa dahulu dianggap sebagai suatu tempat yang aman, jauh dari jangkauan tentara Belanda.

seorang ibu dengan anak
suku Teras
Suku Teras ini hidup dengan cara yang sangat sederhana, dan berada pada wilayah yang terasing. Sehingga suku Teras ini disebut juga sebagai "suku terasing". Dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari, suku Teras ini masih memanfaatkan sumber alam yang ada di sekitar pemukiman mereka. Kehidupan suku Teras pada saat ini mulai mengikuti lajunya perkembangan teknologi. Beberapa dari penghuni daerah ini telah memiliki televisi, genset, bahkan beberapa orang telah memiliki handphone.

Pada masa dahulu, suku Teras ini mengamalkan tradisi animisme dan dinamisme, sesuai dengan adat dan budaya para nenek moyang mereka. Saat ini sebagian besar dari mereka telah memeluk agama Islam. Walaupun begitu beberapa tradisi adat yang masih mengandung unsur animisme dan dinamisme tetap mereka praktekkan. Apabila salah satu anggota suku ini yang mengalami sakit, mereka lebih memilih untuk dibawa ke dukun daripada dibawa ke dokter. Lagipula lokasi perkampungan lain yang memiliki fasilitas kesehatan sangat jauh apabila dilalui dengan berjalan kaki.

sumber:
>  tutorial-tech.blogspot.com
>  wikipedia
>  gambar-foto: tutorial-tech.blogspot.com
>  dan sumber lain

Suku Gumai

Suku Gumai (Gumay), adalah salah satu suku yang mendiami beberapa daerah di kabupaten Lahat provinsi Sumatra Selatan. Suku Gumai terdiri dari 3 marga, yaitu Marga Gumai Talang, Marga Gumai Lembak dan Marga Gumai Ulu. Ketiga komunitas marga (klan) ini saling hidup berdampingan pada suatu wilayah yang menjadi cikal bakal kota Lahat. Ketiga marga ini hidup dalam satu adat, yaitu adat Gumai.

Setelah terbentuknya masa pemerintahan Republik Indonesia, wilayah adat marga suku Gumai dibagi menjadi dua kecamatan. Dan wilayah pemukiman ketiga marga ini pun terpisah oleh dua sebutan nama wilayah, yaitu kecamatan Pulau Pinang tempat beradanya Marga Gumai Lembak dan Gumai Ulu, sedangkan Gumai Talang menjadi bagian dari kecamatan Kota Lahat.

Istilah marga yang pada awalnya adalah suatu istilah menyebut klan atau wilayah adat pada suku Gumai. Tetapi beberapa waktu belakangan ini, marga semakin penting fungsinya, karena saat ini beberapa anggota suku Gumai telah mencantumkan marga Gumai di belakang nama depannya. Misalnya Rudi Gumai atau Natalia Gumai. Penggunaan marga yang disandingkan dengan nama depan, menunjukkan tempat asal usul, keturunan maupun nama keluarga, yang menjadi identitas diri bagi masyarakat suku Gumai.

Peranan marga pada suku Gumai, merupakan suatu sistem hukum adat bagi masyarakat suku Gumai. Bagi ketiga marga Gumai, yaitu Marga Gumai Talang, Gumai Ulu dan Gumai Lembak, ini menjadi identitas bahwa mereka berasal dari satu rumpun yang sama.
Suku Gumai dalam meneruskan keturunan mereka berdasarkan sistem patrilineal, yang mana marga diturunkan berdasarkan garis keturunan bapak. Jadi sang anak menerus garis keturunan sang bapak menurut marga asal mereka.

Bahasa yang diucapkan oleh masyarakat suku Gumai, disebut sebagai bahasa Lematang. Bahasa Lematang ini juga diucapkan oleh suku Lematang yang hidup di bagian lain di Sumatra Selatan. Walaupun suku Gumai berbicara dengan bahasa yang sama dengan suku Lematang, tetapi di antara kedua suku ini tidaklah Serumpun. Suku Gumai justru serumpun dengan suku Pasemah dan suku Semidang. Mereka juga memiliki aksara kuno, yaitu aksara ke-ge-nge (huruf rincung) yang disebut juga sebagai Surat Ulu.

Seni dan kebudayaan suku Gumai terdiri dari beberapa tari-tarian, lagu-lagu daerah dan sastra lisan, seperti guritan dan pantun bersahut serta pencak silat serta alat musik yang menjadi ciri khas suku Gumai yang berupa ginggung, serdam, rebab, kenung dan gong.

Suku Gumai saat ini secara mayoritas adalah pemeluk agama Islam yang taat melaksanakan syariat dalam agama yang mereka anut.
Salah satu upacara suku Gumai adalah Ritual Adat Sedekah, yang mengandung tradisi kuno seperti pada masa sebelum mereka memeluk agama Islam, yaitu beberapa upacara adat yang masih terkandung unsur animisme dan dinamisme, yang kemungkinan berasal dari masa nenek moyang mereka. Upacara ritual adat ini berupa sesaji yang terdiri dari bubur malam 14, bubur biasa, kue apam, lemang, punjung telur, daun sirih, daun gambir, kapur sirih, ayam putih kuning, ayam putih pucat dan cangkir-cangkir yang berisi air jernih. Adat sedekah malam 14 ini semacam suatu untuk berkomunikasi antara Jurai Kebali’an (seorang pimpinan Gumai) dengan Tuhan.

Tentang asal-usul suku Gumai ini, memiliki banyak versi yang rata-rata hanya cerita rakyat berbentuk mitos-mitos yang tidak dapat dibuktikan kebenarannya. Namun diperkirakan suku Gumai ini adalah salah satu dari bangsa deutro malayan yang hijrah bermigrasi secara besar-besaran menuju asia tenggara, yang mana salah satu kelompok adalah suku Gumai yang mendarat di pantai Sumatra sebelah timur.
Salah satu cerita rakyat Gumai, adalah bahwa asal muasal keturunan suku Gumai pertama kali berawal dari bukit Siguntang. Dikisahkan tentang seorang yang bernama Diwe Gumai lah yang menjadi orang Gumai pertama, yang keturunannya menjadi masyarakat suku Gumai sekarang.
Cerita rakyat lain, mengisahkan bahwa suku Gumai sebenarnya masih berkerabat dengan suku Lampung, yang kemungkinan besar mereka satu nenek moyang dengan suku Lampung, atau bisa juga mereka berasal dari keturunan suku Lampung yang bermigrasi ke wilayah suku Gumai sekarang ini.

Kehidupan masyarakat Gumai bersifat gotong royong dalam usaha pertanian dan usaha kemasyarakatan lainnya. Pada masa dahulu, suku Gumai ini termasuk suku-bangsa yang menerapkan hidup secara nomaden yang mempraktekkan hidup secara berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat yang lain, demi mencari lahan baru untuk membuka perladangan. Dahulu mereka juga berburu binatang liar di hutan untuk memenuhi sumber kehidupan mereka. Saat ini mereka telah memasuki era yang lebih maju, dan telah hidup menetap serta membuka lahan pertanian sawah dan perladangan.

sumber:
  • archive.kaskus.co.id
  • sejarah.fib.ugm.ac.id
  • wikipedia
  • dan sumber lain

Suku Sekayu

Suku Sekayu, adalah salah satu komunitas masyarakat yang bermukim di kabupaten Musi Banyuasin provinsi Sumatera Selatan. Populasi suku Sekayu diperkirakan lebih dari 250.000 orang. Suku Sekayu dianggap sebagai sub-suku dari suku Musi.

suku Sekayu
sedang menangkap ikan Pari sungai
Suku Sekayu hidup di rumah-rumah yang didirikan di tepi sungai atau di atas permukaan air sungai di sungai Musi, sehingga terkadang mereka disebut sebagai "orang sungai". Dari sejak dahulu mereka sudah hidup menetap di wilayah ini. Mereka adalah suku bangsa yang betah hidup di wilayah mereka sendiri, jarang melakukan perantauan atau bermigrasi ke daerah lain. Pergerakan mereka biasanya paling jauh hanya sampai kota Palembang.

Rumah-rumah orang Sekayu ini berbentuk rumah panggung. Sebagian besar mereka mendirikan rumah mereka di atas permukaan sungai, atau di tepian, tetapi ada juga yang membangun rumah agak jauh dari sungai.

Sistem kekerabatan pada msyarakat Sekayu berdasarkan hubungan patrilineal. Para istri wajib memelihara peraturan dan keharmonisan rumah tangga. Tradisi orang Sekayu adalah selalu menginginkan anak laki-laki, karena dianggap sebagai jaminan bakal negeri (memperkuat kuasa mereka) dan jaminan kelanjutan garis keturunan mereka (negakke jurai) atau marga.

Bahasa yang diucapkan oleh masyarakat Sekayu, adalah bahasa Melayu Sekayu, yang masih dekat dan mirip dengan bahasa Palembang. Bahasa Sekayu dikelompokkan ke dalam rumpun bahasa Malayic.
Sedangkan asal usul orang Sekayu tidak diketahui secara pasti. Tetapi dari salah satu cerita rakyat suku Sekayu mengatakan bahwa mereka dahulunya berasal dari suatu tempat yang jauh di seberang laut, datang ke tanah ini bersama-sama dengan suku Palembang yang kemungkinan adalah kerabat mereka pada masa lalu.
Pendapat lain mengatakan bahwa orang Sekayu merupakan bagian dari sub-suku Musi, yang berada di kabupaten Musi Banyuasin, Banyuasin, Musi Rawas, Musi Rawas Utara, kota Lubuk Linggau, dan kota palembang

Masyarakat Sekayu hampir seluruhnya adalah penganut agama Islam, dan hanya sebagian kecil yang memeluk agama Kristen. Setiap desa di Sekayu selalu terdapat bangunan rumah ibadah mesjid atau langgar. Tetapi walaupun pada umumnya mereka telah beragama, tetapi sebagian besar dari mereka masih menjalankan beberapa praktek okultisme dan kepercayaan animisme yang mungkin berasal dari masa nenek moyang mereka dahulu. Mereka sering pergi ke dukun (ahli nujum) di saat menghadapi masalah dan kesulitan.

Hampir seluruh masyarakat Sekayu hidup pada bidang pertanian. Mereka menanam padi sawah atau padi ladang, selain itu mereka juga menanam ubi kayu, jagung, kacang tanah dan kedelai. Sementara itu tanaman karet, cengkeh dan kopi juga menjadi sektor perkebunan utama mereka. Pada kerajinan industri rakyat yang terkenal dari wilayah Sekayu adalah berupa batu-bata dan genteng. Masyarakat Sekayu yang bermukim di Palembang, beberapa dari mereka sukses menduduki sektor pekerjaan penting, mulai dari guru, dosen universitas, ahli riset, hartawan dan pengembang lahan dan pekerja galangan. 

sumber:
  • archive.kaskus.co.id
  • sabda.org
  • wikipedia
  • dan sumber lain

Suku Semendo (Semende)

suku Semendo
Suku Semendo (Semende), adalah salah satu etnis yang berada di kecamatan Semendo kabupaten Muara Enim provinsi Sumatera Selatan. Populasi suku Semendo diperkirakan sebesar 105.000 orang.

Masyarakat suku Semendo, berbicara dalam bahasa Semendo, yang termasuk ke dalam rumpun bahasa Melayu. Bahasa Semendo banyak terdapat kemiripan dengan bahasa Palembang. Bahasa yang digunakan dalam pergaulan sehari-hari pada bahasa Semendo pada umumnya berakhiran "e." Suatu ciri khas dari karakter bahasa Melayu.

Asal usul suku Semendo secara pasti tidak diketahui darimana, salah satu versi cerita rakyat yang menyatakan suku Semendo dahulunya hidup bersama-sama dengan suku Palembang, sebelum masa pemerintahan Kerajaan Sriwijaya. Kemungkinan karena tekanan dari kekuasaan Kerajaan Sriwijaya yang memperluas wilayah kekuasaannya, mendesak suku ini masuk lebih ke pedalaman Sumatra Selatan. Sepertinya suku Semendo ini berasal dari suku bangsa deutro-malayan yang bermigrasi secara besar-besaran ke wilayah Asia Tenggara dari daratan Indochina pada awal tahun Masehi sekitar abad 3 Masehi, yang mana kelompok Semendo ini mendarat di pesisir Sumatra Selatan dan sempat bermukim sekian lama di wilayah pesisir, hidup bersama-sama kelompok deutro-malayan lainnya, seperti suku Palembang dan lain-lain.

acara pernikahan suku Semendo
Seluruh adat-istiadat dan budaya dalam masyarakat suku Semendo terlihat jelas sangat dipengaruhi oleh budaya Melayu Islam. Dari musik rebana, lagu daerah dan tarian seluruhnya dipengaruhi oleh budaya melayu Islam. Salah satu adat pada suku Semendo adalah adat Tunggu Tubang, yaitu adat yang mengatur hak warisan pada keluarga, adat ini menentukan hak atas warisan adalah anak wanita yang paling tua. Warisan berbentuk sebidang sawah dan sebuah rumah yang diwariskan dari generasi ke generasi secara terus menerus. Adat inilah yang menyebabkan tingginya hasrat untuk merantau bagi anak laki-laki. Budaya dan adat-istiadat Islami yang diamalkan suku Semendo ini diperkirakan berasal dari bangsa-bangsa Melayu yang membawa budaya mereka dari daratan Riau atau Malaysia.

Ajaran Islam pada masyarakat suku Semendo sangat kuat dalam kehidupan masyarakat Semendo. Mereka sangat patuh menjalankan syariat Islam secara rutin dan teratur, sesuai dengan rukun Islam. Hampir di setiap tempat terdapat tempat ibadah bagi masyarakat ini. Selain itu pesantren juga banyak terdapat di wilayah suku Semendo ini, yang secara khusus mendidik putra-putri suku Semendo menjadi penyebar agama Islam di daerahnya.

Suku Semendo membutuhkan peningkatan pengolahan lahan pertanian agar dapat dikerjakan dengan lebih modern. Saat ini telah ada proyek kerja sama yaitu : proyek penggilingan kopi, perikanan dan percontohan perikanan. Proyek ini perlu didukung dan dikembangkan lagi untuk lebih meningkatkan taraf hidup masyarakat. Mereka juga membutuhkan peningkatan dalam bidang pendidikan.

Masyarakat Semendo hidup dari hasil pertanian terutama pada tanaman padi sawah dan ladang, yang diolah dengan cara tradisional. Pada umumnya mereka menanam kopi jenis Robusta dalam kegiatan mereka sehari-hari. Dari daerah suku Semendo ini jumlah produksi kopi Robusta pada setiap panen bisa mencapai 300 ton per tahun. Selain itu masyarakat suku Semendo ini juga bergerak pada bidang perikanan dan pembibitan ikan.

sumber:
  • archive.kaskus.co.id
  • sabda.org
  • scribd.com
  • wanenoor.blogspot.com
  • gambar-foto: skyscrapercity.com
  • gambar-foto: ainisaid.blogspot.com
  • wikipedia
  • dan sumber lain

Suku Mangsang

rumah suku Mangsang
Suku Mangsang, adalah suatu suku yang berada di kecamatan Bayung Lencir kabupaten Musi Banyuasin provinsi Sumatera Selatan. Suku Mangsang ini hidup di pedalaman dan tergolong sebagai suku terasing yang bermukim di tepi sungai desa Mangsang.

Suku Mangsang ini oleh masyarakat lain yang berada di luar wilayah ini kadang juga menyebut mereka sebagai suku Anak Dalam, bersama suku Banyuasin yang juga hidup terasing.

Kehidupan suku Mangsang, dibandingkan dengan suku-suku lain yang juga bermukim di sekitar wilayah ini sangat jauh berbeda. Kemiskinan sangat kentara pada kehidupan suku Mangsang ini. Sarana pendidikan yang sangat tidak layak serta tidak memiliki sarana kesehatan. Banyak generasi muda suku Mangsang ini yang tidak bersekolah, sedangkan kalau ada yang sakit, harus berjalan kaki menuju desa lain yang jaraknya sangat jauh untuk mendapatkan layanan kesehatan. Akibat jauhnya desa lain yang memiliki sarana kesehatan, kebanyakan warga suku Mangsang apabila sedang sakit tidak pernah diobati, hanya menunggu keajaiban sembuh sendiri, atau menggunakan obat-obatan kampung hasil ramuan sendiri. Sepertinya suku Mangsang ini menjadi salah suku yang agak dilupakan oleh pemerintah daerah setempat.

pemukiman suku Mangsang
Suku Mangsang, hidup secara terasing di pedalaman wilayah kabupaten Musi Banyuasin. Dahulunya suku Mangsang ini hidup secara nomaden, menjelajah hutan rimba untuk membuka ladang berpindah dengan pola tebang-tebas dan bakar, Tetapi saat ini mereka telah menetap pada suatu pemukiman yang disebut desa Mangsang.

Asal usul suku Mangsang tidak diketahui secara pasti. Kemungkinan suku Mangsang ini adalah pendatang deutro-malayan, yang hadir di pulau Sumatra pada masa sebelum kerajaan Sriwijaya.
Bahasa yang diucapkan oleh suku Mangsang ini tergolong dalam bahasa Melayu, walau agak berbeda dengan bahasa Melayu pada umumnya. Tetapi masih terdapat hubungan erat dengan bahasa-bahasa Melayu lainnya yang terdapat di provinsi Sumatra Selatan ini.

sarana pendidikan suku Mangsang
sangat sederhana
Kehidupan sehari-hari suku Mangsang, saat ini telah mencoba pada bidang pertanian, walaupun dengan teknik yang sederhana. Selain itu mereka juga memanfaatkan hasil hutan seperti mencari rotan dan berburu binatang liar untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka sehari-hari. Mereka juga memanfaatkan sungai untuk menangkap ikan di sungai yang berada di desa mereka.

sumber:

  • berita-muba.blogspot.com
  • gambar-foto: berita-muba.blogspot.com
  • gambar-foto: flickr.com
  • wikipedia
  • dan sumber lain