Showing posts with label Papua. Show all posts
Showing posts with label Papua. Show all posts

Suku Bauzi, Papua

suku Bauzi
Suku Bauzi, adalah salah satu suku dari sekian banyak suku di Papua, Indonesia. Populasi suku Bauzi menurut sensus tahun 1991 adalah sebesar 1.500 orang.

Suku Bauzi memiliki beberapa sebutan, yaitu Bazi, Baudi, Bauji dan Bauri. Suku Bauzi ini merupakan suku terasing di pedalaman tanah Papua. Mereka masih hidup sebagai masyarakat peramu yang bisa dikatakan tergolong suku paling terasing.

Lembaga Misi dan bahasa Amerika Serikat bernama Summer Institute of Linguistics (SIL), memasukkan suku ini dalam daftar 14 suku paling terasing. Badan Pusat Statistik (BPS) Papua pun tak ketinggalan memasukkan suku Bauzi ke dalam daftar 20 suku terasing yang telah teridentifikasi di Papua. Lokasi pemukiman yang berada di hutan belantara, pegunungan, lembah, rawa hingga sungai-sungai besar yang berkelok-kelok di sekitar kawasan Mamberamo, membuat suku ini nyaris tak bersentuhan dengan peradaban luar. Suku Bauzi masih hidup dengan cara-cara tradisional, yang tidak berubah sejak awal kedatangan mereka di pulau Papua ini.

Suku Bauzi diduga berasal dari daerah Waropen utara. Tapi mereka menyebar ke selatan danau Bira, Noiadi dan Neao tenggara, dua daerah yang terletak di perbukitan Van Rees Mamberamo. Suku Bauzi diperkirakan menyebar dengan menggunakan sampan menyusuri sungai atau berjalan kaki. Penyebaran mereka ke bagian utara dan tengah wilayah Mamberamo.

Laki-laki suku Bauzi masih mengenakan cawat (sejenis penutup sekitar alat kelamin, yang berupa selembar daun atau kulit pohon yang telah dikeringkan lalu diikat dengan tali pada ujung alat kelamin). Mereka juga memasang hiasan berupa tulang pada lubang hidung. Sedangkan perempuan mengenakan selembar daun atau kulit kayu yang diikat dengan tali di pinggang untuk menutupi auratnya. Tapi tidak memakai penutup dada.

Pada acara tradisi adat, laki-laki dewasa akan memakai hiasan di kepala dari bulu burung kasuari dan mengoles tubuh dengan air sagu.

Pada awalnya suku Bauzi ini tidak mengenal cara bercocoktanam, tapi dengan kehadiran para misionaris Kristen, suku ini akhirnya bisa mengenal cara-cara berkebun. Pada perkampungan pemukiman, mereka membangun rumah-rumah gubuk berdinding kulit kayu dan beratap daun rumbia (daun sagu) atau kulit pohon. Tempat hunian itu dibuat dengan bentuk rumah panggung. Suku Bauzi sama sekali tidak bisa berbicara dalam bahasa Melayu atau Indonesia. Mereka hanya berbicara dalam bahasa Bauzi. Masyarakat Bauzi pada awalnya menganut agama tradisional suku yang mengandung unsur animisme. Namun saat ini sekitar 65% telah memeluk agama Kristen yang diperkenalkan para Misionaris dari Eropa, Amerika dan dari Papua sendiri kepada masyarakat suku Bauzi. Sedangkan sisanya masih mempertahankan agama suku mereka.
Dalam kehidupan mereka tidak memiliki seorang pemimpin, sehingga ketika terjadi konflik di antara mereka, sulit untuk diselesaikan.

Para ahli bahasa (linguist) yang juga misionaris dari SIL dengan dibantu penterjemah lokal telah berusaha mempelajari bahasa dan dialek suku Bauzi selama bertahun-tahun. Upaya ini berhasil dengan penerbitan berbagai literaturetentang suku ini, termasuk penerjemahan Alkitab versi Perjanjian Baru ke dalam bahasa Bauzi oleh Dave dan Joice Briley. Dari catatan SIL, bahasa Bauzi memiliki sekitar 1350 kosakata yang terbagi dalam 3 dialek utama, yakni dialek Gesda Dae, Neao dan Aumenefa.

Sejak pertama sekali diemukan, pada tahun 1975, suku ini terus dididik oleh para misionaris asing dan lokal yang bekerja mewartakan Injil. Hasil dari pekerjaan ini melahirkan pembangunan gereja yang digunakan sebagai tempat ibadah, sekaligus menjadi tempat pelayanan sosial bagi suku Bauzi. Pekerjaan penginjilan dan pelayanan kepada suku ini juga dilakukan Yayasan Penginjilan dan Pelayanan Masirei (YPPM) sekitar awal 1990-an. Tugas itu kemudian dilanjutkan lagi oleh Yayasan Bethani selama beberapa tahun. Sejak tahun 1995, Yayasan Amal Kasih juga bekerja secara khusus menangani suku Bauzi di kampung Fona hingga sekarang.

Kampung Fona kini menjadi salah satu pemukiman suku Bauzi yang berasal dari beberapa tempat. Kampung ini terbentuk dari hasil perintisan para misionaris. Disebut Fona karena suku Bauzi penghuninya berasal dari empat kampung terpencil yakni, Fokri, Oisia, Neao dan Aupidate. Tapi awalnya suku Bauzi lebih banyak bermukim di Kampung Neao. Kampung-kampung itu kini masuk dalam wilayah Distrik Kay, Kabupaten Mamberamo Raya. Misioraris-misionaris perintis seperti Dave dan JoiceBriley (asal AS) maupun Iris Bowman dan Janny Holster (asal Belanda) melakukan survei pertama di sekitar wilayah ini pada tahun 1984 dan 1985.

Sebagian besar suku ini hidup dengan meramu, berburu dan semi nomaden (berpindah-pindah). Karena itu, mereka membuat sejumlah peralatan seperti, panah, tombak, parang dan pisau untuk keperluan berburu.

Kegiatan utama mereka adalah berburu binatang hutan seperti babi hutan, burung kasuari, kuskus dan berbagai jenis burung. Hasil buruan dimasak dengan cara dibakar atau bakar batu. Selain itu suku Bauzi juga mengumpulkan sagu sebagai makanan pokok dan menanam umbi-umbian. Sedangkan sayuran bukanlah makanan bagi mereka, karena mereka tidak pernah mengkonsumsi sayur-sayuran. Walaupun mereka tinggal terpencil dan terasing, tapi mereka memiliki pengetahuan mengenai cara pengobatan alami dengan memanfaatkan tumbuh-tumbuhan hutan (etno-medicine). Sejak awal mereka hidup secara nomaden, menyesuaikan diri dengan kebutuhan makanan dan kenyamanan pada suatu wilayah. Mereka membangun bifak di pinggir sungai dan hutan untuk memudahkan proses perburuan, meramu atau berkebun.

sumber:
sumber lain dan foto:
  • little-dead-monster.co.cc

Suku Korowai

suku Korowai
Di selatan-timur Papua, ada sebuah suku dengan nama suku Korowai atau suku Kolufu, sedikit hal yang dapat diketahui tentang mereka sebelum tahun 1970-an. Mereka tinggal di bagian selatan dari bagian barat New Guinea dan dikatakan bahwa mereka dahulunya adalah manusia yang memakan daging manusia atau kanibal. Kulit mereka ditandai dengan bekas luka, hidung mereka ditusuk dengan tulang runcing, yaitu tulang burung yang dibengkokkan ke atas dari lubang hidung mereka. Ada sekitar 3000 orang Korowai yang masih tinggal di daerah-daerah, dan sebelum tahun 1970-an mereka tidak menyadari fakta bahwa ada kehidupan selain diri mereka sendiri.

Suku Korowai bertetangga langsung dengan suku Asmat yang hidup di utara Kabiur Dairam. Habitatnya dibatasi oleh dua sungai besar dan gunung-gunung di utara. Daerah hidup mereka adalah daerah berawa sekitar 600 km ². Di daerah yang secara normal sulit untuk hidup, ada hingga 2500 anggota Korowai hidup bersama dalam satu kelompok keluarga kecil. Suku Korowai adalah pemburu dan pengepul. Mereka memakan Sagu yang mereka ambil dari pohon Palm. Mereka memenuhi makanan protein utama mereka dari larva kumbang Capricorn. Hewan-hewan buruan mereka seperti babi hutan, burung kasuari, burung, ular, dan serangga kecil. Makanan nabati juga sangat penting bagi mereka. Terutama daun palem, pakis, sukun dan buah pandanae merah.

Sebagian besar orang Korowai adalah pemburu dan mengumpulkan makanan. Keahlian berburu mereka sangat baik dan memiliki keterampilan memancing. Mereka juga suka berkebun dan sekarang bergeser ke arah budidaya. Suku Korowai memiliki pengaturan tugas berdasarkan gender, seperti penyusunan jenis tertentu makanan Sagu dan ritual upacara keagamaan di mana hanya orang dewasa laki-laki yang terlibat. Beberapa Korowai sejak awal 1990-an telah menghasilkan pendapatan tunai dari hasil bekerja sama dengan perusahaan wisata yang mempromosikan wisata tour ke daerah Korowai. Dalam industri pariwisata, peluang penghasilan mereka terbatas seperti saat kelompok wisata di desa melakukan pesta sagu, membawa koper, dan atraksi/tarian traditional.

Sebagian besar keluarga Korowai tinggal di rumah pohon yang mereka bangun sendiri. Struktur kepemimpinan didasarkan pada kualitas laki-laki yang kuat bukan pada institusi. Perang antar klan sering terjadi terutama karena sihir dan konflik terkait ilmu sihir.

Patriclan adalah sistem di mana kendali garis keturunan ditangan ayah seseorang. Termasuk pewarisan harta benda. Dalam masyarakat Korowai bentuk turun ranjang adalah lumrah.

Suku Korowai telah dilaporkan masih mempraktekkan ritual kanibalisme hingga sekarang. Antropolog menduga kanibalisme tidak lagi dilakukan oleh klan Korowai yang sering berhubungan dengan pihak luar. Laporan terakhir menunjukkan bahwa klan tertentu telah dibujuk untuk mendorong pariwisata dengan mengabadikan mitos bahwa mereka masih merupakan praktek aktif.

Arsitektur panggung yang tinggi merupakan cirri khas dari rumah Korowai, jauh di atas terhindar dari banjir, Ketinggian dan ketebalan dari panggung merupakan kumpulan kayu besi , juga berfungsi untuk melindungi rumah dari serangan pembakaran di mana gubuk yang dibakar akan bisa membuat penghuninya cepat keluar. Bentuknya juga merupakan bentuk pertahanan dari serangan klan lain yang menangkap wanita dan anak-anak yang akan dijadikan budak atau korban kanibalisme.

sumber:

  • http://raafay-awan.blogspot.com/2011/03/krorwai-tribe-people-who-eat-human.html
  • http://en.wikipedia.org/wiki/Korowai_people

Suku Una

suku Una
Hanya ada satu tempat di Bumi ini di mana manusia masih membuat alat dari batu yang dipoles yaitu di Guinea Baru, pulau terbesar kedua di dunia, letaknya di Utara Australia. Sampai tahun 1960-an, daerah ini sama sekali belum dikenal oleh seluruh umat manusia.
Populasi Suku Una ada Sekitar 3500 orang. Mereka tinggal di 40 desa dan dusun di wilayah Una sepanjang lereng selatan pusat cordillera dari Pegunungan Jayawijaya. Sistem dari lembah di mana Una tinggal terbentang dari utara ke selatan dan terletak sekitar antara '139o50 - 140o20 Bujur timur dan 4o32' - 4o54 'lintang selatan dalam kecamatan Jayawijaya provinsi Papua.

Kapak Una
Suku Una masih memiliki rahasia membuat kapak dari batu basal (adzes). Setiap desa Una memiliki ahli pemotong batu atau ahli pembuat kapak yang memiliki sebidang tambang, yang dilindungi oleh para tetua. Kedudukan Ahli pemotong batu adalah sama dengan kedudukan seorang dukun besar dan sangat dihormati. Mereka sangat dihormati karena merupakan sumber kesejahteraan masyarakat.

Ahli Pemotong batu percaya bahwa bentuk awal dari sebuah kapak ada dalam batu besar atau batu utama. Mereka bekerja dengan penuh konsentrasi untuk mendapatkan gambaran mental dari alat dan membuatnya seperti yang seharusnya. Pelatihan untuk menjadi ahli pemotong batu memakan waktu tiga sampai empat tahun. Seorang pemotong batu mulai memahat pada usia 15, tetapi mereka harus menunggu sampai mereka berumur 35 untuk membuat kapak yang mereka bikin simetris dan sesuai dengan model dasar budaya mereka, tanpa pengawasan seorang master. Kapak adalah alat yang sangat efektif. Mata kapak mempunyai berat berkisar 125-600 gram berat dan dirancang untuk berbagai penggunaan yang berbeda sesuai dengan panjang dan kekuatan mereka. Bentuk pegangan kapak serta corak hasil pahatan batu menunjukkan identitas daerah kapak itu berasal. Setelah sebuah kapak selesai, Kapak itu dianggap sebagai perpanjangan lengan pria itu.

Una Batu
Senjata-senjata ini sangat dihargai tinggi dalam pertukaran atau barter. Mereka secara teratur melakukan barter dengan suku-suku tetangga untuk busur, panah, bulu burung, jaring atau kalung dari taring anjing di mana itu menjadi barang berharga bagi suku

Una Alat
Keahlian Suku Una adalah representasi dari keahlian dan ketrampilan zaman prasejarah yang telah berlalu. Dengan demikian mereka adalah penjaga tradisi keahlian jaman lampau, para penjaga dari memori umat manusia.

sumber:

  • http://jpdutilleux.com/COLLECTIONS/UNA.HTML

Suku di Papua


Papua, termasuk pulau yang dihuni oleh beratus-ratus suku-bangsa yang sebagai penduduk asli pulau Papua. Diperkirakan saat ini jumlah suku-suku di pulau Papua adalah sebanyak 319 suku. Keunikan suku-suku di Papua ini adalah karena memiliki ras yang berbeda dengan suku-suku yang ada di Indonesia bagian lain, mereka bukanlah bagian dari ras Proto Malayan maupun Deutro Malayan. Suku-suku di Papua memiliki ras yang berbeda dengan suku-suku lain di Asia Tenggara, karena mereka memiliki ras Melanesia atau Negroid, sama dengan suku-suku di Afrika. Memiliki struktur fisik yang kekar, berkulit gelap dan rambut keriting. Pada masa dahulu bangsa-bangsa di Afrika menyebar ke seluruh Asia hingga ke wilayah Asia Pasifik. Diperkirakan suku Papua ini adalah manusia pertama yang hadir di wilayah Asia Tenggara ini, puluhan ribu tahun sebelum masuknya bangsa-bangsa Melayu. Mereka berasal dari daratan Afrika sejak zaman es, ketika daratan Asia masih menyatu dengan kepulauan-kepulauan di Asia Tenggara ini.

Suku-suku di Papua
  • Abau
  • Adora
  • Aero
  • Aghu
  • Aiduma
  • Aikwakai
  • Air Mati
  • Airo Sumaghaghe
  • Airoran
  • Aiso
  • Amabai
  • Amanab
  • Amberbaken
  • Amungme
  • Amungme, Amung, Hamung
  • Anu
  • Araikurioko
  • Arandai
  • Arfak
  • Arguni
  • Asienara
  • Asmat
  • Atam, Hatam
  • Atogoim, Autohwaim
  • Atori
  • Auyu
  • Awyi, Awye
  • Awyu, Away
  • Ayamaru
  • Ayfat
  • Baburua, Babiriwa, Babirua, Barua
  • Baham
  • Banlol
  • Barau
  • Baso
  • Bauzi (Bazi, Baudi, Bauji, Bauri)
  • Bedoanas
  • Berik
  • Betch-Mbup
  • Bgu, Bonggo
  • Biak-Numfor, Mafoorsch, Noefor
  • Biga
  • Biksi
  • Bipim
  • Bira
  • Bismam
  • Boneraf
  • Borto
  • Brazza
  • Bresi
  • Bunru
  • Buruwai
  • Busami
  • Citak Mitak, Cicak
  • Damal
  • Dani, Ndani
  • Dem, Lem
  • Demisa
  • Demta
  • Dera
  • Dive, Dulve
  • Dosobou
  • Dou, Doufou
  • Dubu
  • Edopi
  • Eipomek
  • Ekagi, Ekari
  • Emari Ducur
  • Emumu
  • Eritai
  • Faia
  • Faoau
  • Faranyao
  • Fayu
  • Foau
  • Gebe
  • Gressi, Gressik
  • Hambai
  • Hattam
  • Hmanggona, Hmonono
  • Humboldt
  • Hupla
  • Iha
  • Imimkal
  • Inanwatan
  • Irarutu, Irahutu
  • Iresim
  • Iri
  • Iriemkena
  • Isirawa, Okwasar
  • Ittik-tor
  • Iwur
  • Jaban
  • Jair
  • Janggu
  • Jinak, Zinak
  • Joerat
  • Kaeti
  • Kaigir, Kayagar Kayigi
  • Kaimo
  • Kais
  • Kalabra
  • Kambrau, Kamberau
  • Kamoro
  • Kaniran
  • Kanum
  • Kapauku
  • Kapauri, Kapori
  • Kaptiau
  • Karas
  • Karfasia
  • Karon
  • Kasueri
  • Kaugat
  • Kaunak
  • Kauwol, Kauwor
  • Kawe
  • Kaygir
  • Kayumerah
  • Keburi
  • Kembrano
  • Kemtuk, Kemtuik
  • Kerom
  • Keron
  • Ketengban
  • Kiamorep
  • Kimagama Kaladar
  • Kimaghama
  • Kimbai
  • Kimyal
  • Koiwai Kaiwai, Kawiai
  • Kokoda
  • Kokonau
  • Kombai
  • Konerau
  • Korapun
  • Korowai  
  • Korufa
  • Kotogut Kupel
  • Kuangsu
  • Kupol
  • Kuri
  • Kurudu
  • Kwerba, Air Mati, Nabuk
  • Kwesten
  • Lakahia
  • Lani
  • Lau
  • Lha
  • Maden
  • Madidwana
  • Madik
  • Mairasi
  • Mander
  • Mandobo
  • Manem
  • Manikion
  • Maniwa
  • Mansim
  • Manyuke
  • Mapi
  • Marau
  • Marengge, Maremgi
  • Marind Anim
  • Maswena
  • Mawes
  • Me Mana
  • Meibrat
  • Meiyakh
  • Mekwai, Menggei, Mengwei, Mung
  • Memana
  • Meninggo
  • Meoswar
  • Mer, Miere
  • Mey Brat
  • Meyah, Meyak
  • Mimika
  • Mintamani
  • Mire
  • Modan
  • Moi, Mooi
  • Moire
  • Molof
  • Mombum
  • Momuna
  • Moni
  • Mooi
  • Mor
  • Moraid
  • Morwap
  • Mosana
  • Mosena
  • Mukamuga
  • Munggui
  • Muri
  • Murop
  • Muyu
  • Nabi
  • Nabuk
  • Nafri
  • Nagramadu
  • Nalca
  • Namatote
  • Nararafi
  • Ndom, Dom
  • Nduga, Ndugwa, Dauwa
  • Nefarpi
  • Nerigo
  • Ngalik, Yali Yalik
  • Ngalum
  • Nimboran, Nambrung
  • Nisa
  • Onin
  • Oria, Uria
  • Oser
  • Palamul
  • Palata
  • Papasena
  • Patimuni
  • Pesekhem
  • Pisa
  • Pom
  • Pyu
  • Riantana
  • Roon
  • Safan
  • Sailolof
  • Samarokena
  • Sangke
  • Sapran
  • Sarmi
  • Sasawa
  • Sause
  • Sawa
  • Saweh
  • Sawi
  • Sawung
  • Sawuy
  • Seget
  • Sekar
  • Seko, Seka, Sko
  • Sela
  • Semimi
  • Sempan
  • Sentani
  • Serui, Serui laut, Arui
  • Siamai
  • Sikari
  • Silimo
  • Simori
  • Skofro
  • Sobei
  • Somage
  • Sough
  • Suabau, Suabo
  • Surai
  • Syiaga-Yenimu
  • Tabati
  • Tabla
  • Tabu
  • Tandia
  • Taori
  • Tapiro
  • Tapuma
  • Tarfia, Tarpia
  • Taurap
  • Tehid, Tehit, Tehiyit
  • Timorini
  • Tinam
  • Tomini
  • Tori
  • Turu
  • Umari
  • Una  
  • Unisiarau
  • Unurum
  • Urangmirin
  • Uria
  • Urundi
  • Ururi
  • Uruway
  • Usku
  • Voi
  • Waigeo
  • Waina
  • Waipam
  • Waipu
  • Walsa
  • Wambon
  • Wamesa
  • Wanam
  • Wandamen
  • Wandub Wambon
  • Wanggom, Wanggo
  • Wano
  • Warembori
  • Waris
  • Waropen, Worpen
  • Wembi
  • Wodani
  • Woi
  • Wolani, Woda, Wodani
  • Woriasi
  • Yaban
  • Yabi
  • Yagay
  • Yahadian
  • Yahrai
  • Yahray
  • Yaly (Yali)
  • Yapen
  • Yeti
  • Yey

sumber:
  • papua.go.id
  • foto: papuatrekking.com
  • wikipedia
  • dan sumber lain