Showing posts with label Suku Terasing. Show all posts
Showing posts with label Suku Terasing. Show all posts

Suku Bauzi, Papua

suku Bauzi
Suku Bauzi, adalah salah satu suku dari sekian banyak suku di Papua, Indonesia. Populasi suku Bauzi menurut sensus tahun 1991 adalah sebesar 1.500 orang.

Suku Bauzi memiliki beberapa sebutan, yaitu Bazi, Baudi, Bauji dan Bauri. Suku Bauzi ini merupakan suku terasing di pedalaman tanah Papua. Mereka masih hidup sebagai masyarakat peramu yang bisa dikatakan tergolong suku paling terasing.

Lembaga Misi dan bahasa Amerika Serikat bernama Summer Institute of Linguistics (SIL), memasukkan suku ini dalam daftar 14 suku paling terasing. Badan Pusat Statistik (BPS) Papua pun tak ketinggalan memasukkan suku Bauzi ke dalam daftar 20 suku terasing yang telah teridentifikasi di Papua. Lokasi pemukiman yang berada di hutan belantara, pegunungan, lembah, rawa hingga sungai-sungai besar yang berkelok-kelok di sekitar kawasan Mamberamo, membuat suku ini nyaris tak bersentuhan dengan peradaban luar. Suku Bauzi masih hidup dengan cara-cara tradisional, yang tidak berubah sejak awal kedatangan mereka di pulau Papua ini.

Suku Bauzi diduga berasal dari daerah Waropen utara. Tapi mereka menyebar ke selatan danau Bira, Noiadi dan Neao tenggara, dua daerah yang terletak di perbukitan Van Rees Mamberamo. Suku Bauzi diperkirakan menyebar dengan menggunakan sampan menyusuri sungai atau berjalan kaki. Penyebaran mereka ke bagian utara dan tengah wilayah Mamberamo.

Laki-laki suku Bauzi masih mengenakan cawat (sejenis penutup sekitar alat kelamin, yang berupa selembar daun atau kulit pohon yang telah dikeringkan lalu diikat dengan tali pada ujung alat kelamin). Mereka juga memasang hiasan berupa tulang pada lubang hidung. Sedangkan perempuan mengenakan selembar daun atau kulit kayu yang diikat dengan tali di pinggang untuk menutupi auratnya. Tapi tidak memakai penutup dada.

Pada acara tradisi adat, laki-laki dewasa akan memakai hiasan di kepala dari bulu burung kasuari dan mengoles tubuh dengan air sagu.

Pada awalnya suku Bauzi ini tidak mengenal cara bercocoktanam, tapi dengan kehadiran para misionaris Kristen, suku ini akhirnya bisa mengenal cara-cara berkebun. Pada perkampungan pemukiman, mereka membangun rumah-rumah gubuk berdinding kulit kayu dan beratap daun rumbia (daun sagu) atau kulit pohon. Tempat hunian itu dibuat dengan bentuk rumah panggung. Suku Bauzi sama sekali tidak bisa berbicara dalam bahasa Melayu atau Indonesia. Mereka hanya berbicara dalam bahasa Bauzi. Masyarakat Bauzi pada awalnya menganut agama tradisional suku yang mengandung unsur animisme. Namun saat ini sekitar 65% telah memeluk agama Kristen yang diperkenalkan para Misionaris dari Eropa, Amerika dan dari Papua sendiri kepada masyarakat suku Bauzi. Sedangkan sisanya masih mempertahankan agama suku mereka.
Dalam kehidupan mereka tidak memiliki seorang pemimpin, sehingga ketika terjadi konflik di antara mereka, sulit untuk diselesaikan.

Para ahli bahasa (linguist) yang juga misionaris dari SIL dengan dibantu penterjemah lokal telah berusaha mempelajari bahasa dan dialek suku Bauzi selama bertahun-tahun. Upaya ini berhasil dengan penerbitan berbagai literaturetentang suku ini, termasuk penerjemahan Alkitab versi Perjanjian Baru ke dalam bahasa Bauzi oleh Dave dan Joice Briley. Dari catatan SIL, bahasa Bauzi memiliki sekitar 1350 kosakata yang terbagi dalam 3 dialek utama, yakni dialek Gesda Dae, Neao dan Aumenefa.

Sejak pertama sekali diemukan, pada tahun 1975, suku ini terus dididik oleh para misionaris asing dan lokal yang bekerja mewartakan Injil. Hasil dari pekerjaan ini melahirkan pembangunan gereja yang digunakan sebagai tempat ibadah, sekaligus menjadi tempat pelayanan sosial bagi suku Bauzi. Pekerjaan penginjilan dan pelayanan kepada suku ini juga dilakukan Yayasan Penginjilan dan Pelayanan Masirei (YPPM) sekitar awal 1990-an. Tugas itu kemudian dilanjutkan lagi oleh Yayasan Bethani selama beberapa tahun. Sejak tahun 1995, Yayasan Amal Kasih juga bekerja secara khusus menangani suku Bauzi di kampung Fona hingga sekarang.

Kampung Fona kini menjadi salah satu pemukiman suku Bauzi yang berasal dari beberapa tempat. Kampung ini terbentuk dari hasil perintisan para misionaris. Disebut Fona karena suku Bauzi penghuninya berasal dari empat kampung terpencil yakni, Fokri, Oisia, Neao dan Aupidate. Tapi awalnya suku Bauzi lebih banyak bermukim di Kampung Neao. Kampung-kampung itu kini masuk dalam wilayah Distrik Kay, Kabupaten Mamberamo Raya. Misioraris-misionaris perintis seperti Dave dan JoiceBriley (asal AS) maupun Iris Bowman dan Janny Holster (asal Belanda) melakukan survei pertama di sekitar wilayah ini pada tahun 1984 dan 1985.

Sebagian besar suku ini hidup dengan meramu, berburu dan semi nomaden (berpindah-pindah). Karena itu, mereka membuat sejumlah peralatan seperti, panah, tombak, parang dan pisau untuk keperluan berburu.

Kegiatan utama mereka adalah berburu binatang hutan seperti babi hutan, burung kasuari, kuskus dan berbagai jenis burung. Hasil buruan dimasak dengan cara dibakar atau bakar batu. Selain itu suku Bauzi juga mengumpulkan sagu sebagai makanan pokok dan menanam umbi-umbian. Sedangkan sayuran bukanlah makanan bagi mereka, karena mereka tidak pernah mengkonsumsi sayur-sayuran. Walaupun mereka tinggal terpencil dan terasing, tapi mereka memiliki pengetahuan mengenai cara pengobatan alami dengan memanfaatkan tumbuh-tumbuhan hutan (etno-medicine). Sejak awal mereka hidup secara nomaden, menyesuaikan diri dengan kebutuhan makanan dan kenyamanan pada suatu wilayah. Mereka membangun bifak di pinggir sungai dan hutan untuk memudahkan proses perburuan, meramu atau berkebun.

sumber:
sumber lain dan foto:
  • little-dead-monster.co.cc

Orang Tolare, Sulawesi

Orang Tolare, adalah sebutan yang ditujukan untuk sekelompok orang yang berdiam di daerah pedalaman kabupaten Donggala provinsi Sulawesi Tengah.

Istilah Tolare berasal dari "Tona ri Lare", yang dari bahasa Kaili berarti "orang yang berdiam di Lare", tapi memiliki arti lain, yaitu "orang yang tinggal di pedalaman" atau "orang yang tinggal di pegunungan". Menurut penduduk desa lain, di kabupaten Donggala, bahwa orang Tolare ini suka berpindah-pindah.
Mereka tersebar di wilayah Palu, pesisir barat dan timur leher pulau sulawesi, pesisir barat Donggala, pegunungan sebelah selatan lembah Palu, hingga ke arah timur yakni Poso, Ampana dan Luwuk.

orang Tolare
Dahulu istilah "tolare" sering disebutkan untuk orang-orang yang tinggal di pegunungan, yang kadang turun ke lembah untuk menjual hasil bumi. Mereka berjalan beriringan di sepanjang jalan, walaupun jalan terlihat lebar, mungkin karena mereka terbiasa jalan di jalan setapak di daerah perkampungan mereka. Sering juga istilah Tolare ditujukan untuk menyatakan kelompok etnis Kaili Da'a.

Orang Tolare dalam kesehariannya berbicara dalam bahasa Tolare yang merupakan sub-dialek dari bahasa Kaili.

Orang Tolare hidup dengan menanam beberapa tanaman seperti jagung, ubi kayu dan ubi jalar. Mereka mengumpulkan madu dari hutan. Selain itu mereka juga ahli dalam membuat parang, yang kadang hasilnya dijual ke pasar-pasar di kota.

sumber:

Suku Kahumamahon, Sulawesi

Suku Kahumamahon, adalah masyarakat adat yang hidup di desa Simpang kecamatan Borone kabupaten Poso provinsi Sulawesi Tengah.

Masyarakat suku Kahumamahon ini, dahulunya oleh pemerintah daerah Sulawesi Tengah sempat masuk dalam kategori masyarakat terasing, karena pada masa sebelumnya, suku Kahumamahon ini hdup terpencil di pedalaman dan mengisolasi diri dari dunia luar.

Suku Kahumamahon ini berbicara dalam bahasa Kahumamahon. Menurut para pakar bahasa, bahwa bahasa Kahumamahon adalah merupakan sub-dialek dari bahasa Saluan. Bagi masyarakat Kahumamahon sendiri bahasa Kahumamahon bukanlah sub dialek bahasa Saluan, yang merupakan bahasa tersendiri. Bahasa Kahumamahon dengan bahasa Saluan memang merupakan bahasa yang mirip, hanya dibedakan oleh dialek pengucapan dan beberapa kata berbeda. Oleh karena para ahli sempat menganggap bahasa Kahumamahon dan bahasa Saluan merupakan bahasa yang sama, yang dibedakan oleh dialek.

sumber:
  • openlibrary.org/subjects/kahumamahon_(indonesian_people)
  • sil.org/iso639-3/cr_files/2007-118.pdf

Suku To Balo, Sulawesi

suku To Balo
pic: barrunews
Suku To Balo, merupakan sekelompok kecil masyarakat suku yang mendiami daerah pegunungan Bulu Pao di kabupaten Barru provinsi Sulawesi Selatan.

Masyarakat suku To Balo memiliki keunikan tersendiri, memiliki penampilan kulit yang tidak seperti masyarakat lain pada umumnya. Mereka memiliki kulit yang unik, seluruh bagian tubuh, kaki, badan dan tangan penuh bercak putih, serta di sekitar dahi juga terdapat bercak putih membentuk segitiga. Oleh karena itu lah nama kelompok mereka dikenal sebagai To Balo, "To" berarti "orang", sedangkan "balo" berarti "belang", jadi kalau diartikan "to balo" berarti "orang belang".

Suku To Balo hidup sangat mengisolasi diri, di atas pegunungan. Mereka tidak suka bertemu orang lain di luar komunitas mereka.

Suku To Balo berbicara dengan bahasa yang sama dengan bahasa Bentong tapi dengan dialek To Balo. Oleh karena itu suku To Balo sering dianggap sebagai bagian dari suku Bentong.

Menurut masyarakat lain di kabupaten Barru, bahwa suku To Balo ini mengasingkan diri akibat dari perbedaan kulit mereka  Sikap menjauhkan diri dari kelompok masyarakat lain, sudah mereka jalani sejak beberapa abad yang lalu. Pada awalnya kelompok suku To Balo ini hidup berbaur dengan masyarakat lain. Tetapi perbedaan kulit ini membuat mereka sering menjadi ejekan yang membuat mereka merasa sakit hati. Karena seringnya mereka mendapat perlakuan seperti ini, maka mereka memilih untuk mencari suatu tempat yang jauh dari masyarakat lain.
Mereka memasuki hutan pedalaman dan akhirnya menetapkan pilihan untuk menetap dan membangun pemukiman di atas pegunungan Bulu Pao di wilayah kabupaten Barru sekarang.

Populasi suku To Balo saat ini jauh menyusut dari sejak beberapa abad yang lalu. Saat ini diperkirakan tinggal puluhan orang saja. Penyusutan jumlah populasi ini diperkirakan akibat dari tradisi mereka sendiri.
Dalam tradisi suku To Balo, jumlah anggota keluarga dalam setiap keluarga tidak boleh lebih dari 10 orang. Apabila terjadi, hadir anggota keluarga yang ke-11, maka harus dibunuh atau dibuang ke suatu tempat yang diyakini bisa membuat orang ke-11 ini pada akhirnya mengalami kematian.

Terdapat satu keluarga, yaitu dari keluarga Nuru bin Rien bersama satu istri, dua anaknya Rakdak dan Mantang, serta beberapa anggota keluarga, yang memiliki sebuah gubuk di pegunungan Bulu Pao. Di petak sempit inilah, kehidupan Nuru sekeluarga terkotak. Mereka bercengkrama, memasak, bercocok tanam ubi, jagung, dan kacang, serta mengolah gula merah. Tapi sesekali mereka turun gunung juga untuk menjual hasil bercocok tanam serta gula merah ke Pasar Kamboti di desa Bulo-Bulo. Mereka mendapat hasil uang yang tak seberapa. Tapi hasil ini sudah cukup membuat mereka bahagia.

keluarga suku To Balo
pic: minasaa.com
Kelainan yang dialami oleh suku To Balo, tidak diketahui secara pasti, sekilas menyerupai kulit yang bekas terbakar. Tapi ini kemungkinan ini pada awalnya terjadi kelainan gen, tetapi karena terjadi hubungan antara 2 orang yang mengalami kelainan seperti ini, maka keturunan-keturunannya pun menuruti memiliki kelainan seperti ini. Namun, masyarakat To Balo berkeyakinan bahwa kelainan ini merupakan kutukan dewa. Menurt cerita, pada suatu ketika, ada satu keluarga yang menyaksikan sepasang kuda belang jantan dan betina yang hendak kawin. Keluarga itu mengusik kedua kuda yang akan kawin tersebut. Maka marahlah dewa lantas mengutuk keluarga ini, yang mana seketika keluarga ini memiliki kulit seperti sepasang kuda belang tersebut.

Selama ini suku To Balo melakukan perkawinan hanya dengan kalangan mereka sendiri, sehingga keturunan-keturunan mereka pun akan menghasilkan kulit yang seperti ini lagi. Apabila mereka melakukan kawin-campur dengan masyarakat  lain, diyakin keturunan-keturunan mereka pun akan pulih seperti manusia berkulit normal.

Karena keterasingan suku to Balo ini, membuat mereka semakin tertinggal, terutama pada bidang pendidikan. Anak-anak mereka tidak mendapatkan pendidikan yang baik, sehingga banyak dari mereka yang tidak bisa membaca. Pemerintah daerah sepertinya hanya tertarik menjadikan suku To Balo ini menjadi barang jualan obyek wisata. Padalah menjual "kelainan" suku To Balo ini, justru semakin melukai perasaan mereka di tengah derita yang mereka alami selama ini. Seharusnya pemerintah daerah lebih memperhatikan hidup mereka dari segi kualitas serta kesehatan mereka, bukan menggiring mereka menjadi sekedar "barang jualan obyek wisata".

Kehidupan suku To Balo ini, pada umumnya adalah bercocok tanam ubi, jagung dan kacang. Mereka juga membuat gula merah, dan hasilnya di jual di pasar Kamboti di desa Bulo-bulo dengan berjalan kaki menempuh jarak yang jauh. Kehidupan

sumber:
  • ml.scribd.com
  • wikipedia
sumber lain dan foto:
  • barrunews.wordpress.com
  • minasaa.com

Suku Rampi, Sulawesi

suku Rampi
pic: ariefrahmans
Suku Rampi (Leboni), adalah suatu komunitas masyarakat yang mendiami daerah pegunungan di kabupaten Luwu Utara provinsi Sulawesi Selatan, tepatnya berada di desa pegunungan yang berhawa sejuk. Suku Rampi disebut jug sebagai suku Leboni. Populasi suku Rampi sebesar 11.000 orang.

Pemukiman suku Rampi tersembunyi di dataran tinggi pegunungan, mereka berada di 6 desa yang terletak di kecamatan Rampi dan juga tersebar di kecamatan Seko dan kecamatan Limbong. Mereka hidup di bawah hukum tradisional mereka. Mereka tidak memiliki konsep penjara atau penegak hukum, sistem kemasyarakatan mereka seluruhnya diatur oleh hukum adat.

Suku Rampi mayoritas adalah pemeluk agama Kristen. Beberapa tempat ibadah atau gereja terlihat dengan kondisi yang masih sederhana berdiri di setiap perkampungan suku Rampi. Walau begitu mereka tetap menjalankan ibadah mereka dengan tekun dalam setiap setiap kegiatan ibadah gereja.

Keberadaan suku Rampi ini tidaklah sepopuler suku Bugis, suku Toraja, suku Makasar dan suku Mandar yang berada di provinsi Sulawesi Selatan. Tetapi sebenarnya suku Rampi memiliki sejarah yang sama panjang layaknya suku-suku lain di Sulawesi Selatan.

Bukti penemuan Patung Megalitik dengan wajah seorang perempuan di desa Onondowa, menunjukkan bahwa daerah ini telah mengalami sejarah panjang sejak 2.000 tahun yang lalu. Hanya untuk penemuan ini tidak pernah dilakukan penelitian yang mendalam oleh para peneliti. Padahal penemuan ini mungkin dapat mengungkap rahasia sejarah purba di tanah Sulawesi yang memiliki peradaban tua di Indonesia seperti di pulau Sumatra.

Sampai saat ini tidak ditemukan informasi yang akurat mengenai peradaban suku Rampi pada masa awal kehadiran di tanah Rampi ini. Dari keberadaan patung megalitik yang ditemukan di desa Onondowa dan desa Dodolo di Luwu Utara, diasumsikan bahwa suku Rampi telah hadir di wilayah ini sejak masa 2.000 tahun yang lalu. Diperkirakan patung-patung Megalitik ini berusia sekitar  2.170 tahun. Hanya yang menjadi pertanyaan, apakah suku Rampi ini adalah suku bangsa yang sama dengan pada masa patung-patung Megalitik ini dibuat ? ataukah suku Rampi hanya pendatang baru di wilayah ini, sedangkan suku asli di wilayah ini telah bermigrasi ke wilayah lain. Tentunya harus dilakukan penelitian yang lebih mendalam, untuk menyingkap rahasia patung Megalitik ini.

Pemukiman suku Rampi terdiri dari rumah-rumah panggung yang terbuat dari kayu. Di dalam rumah tidak memiliki kursi, hanya menggunakan tikar pandan anyaman yang berfungsi sebagai tempat duduk. Hanya beberapa rumah saja yang memiliki kursi dan lemari pakaian. Kebanyakan mereka menggantung pakaian pada tali yang dibentang di ruangan rumah, atau dibungkus dalam kain sarung membundel dan diletakkan di sudut rumah.

Suku Rampi pada masa lalu adalah suku pemburu yang mahir, hingga kini mereka masih menjalankan tradisi berburu di hutan-hutan pegunungan di wilayah Luwu Utara ini. Hanya saja saat ini karena binatang buruan sudah jauh berkurang, sehingga salah satu binatang yang dilindungi pun mereka buru, yaitu Anoa. Sebenarnya mereka paham bahwa binatang Anoa, adalah binatang yang dilindungi, tetapi mereka hanya patuh pada hukum adat. Hukum adat suku Rampi mengizinkan untuk memburu binatang anoa ini, tapi dengan beberapa syarat.

berburu Anoa
pic: shamawar
Suku Rampi sangat menyukai daging anoa, karenanya anoa ini sering diburu. Perburuan anoa disebabkan oleh sulitnya mereka memperoleh sumber protein. “tak seluruh warga desa punya ternak”, begitulah menurut mereka. Menurut mereka jika mereka dilarang berburu anoa, maka pemerintah harus mencari solusi agar masyarakat suku Rampi dapat mengkonsumsi unsur protein hewani, seperti sapi, kerbau atau kambing.

Salah satu desa, yaitu desa Onondowa, dipimpin oleh Tokoi Bola (Kepala Dewan Adat), yang dibantu oleh 9 anggota dewan yang berfungsi sebagai: Kabilahan (hakim), Topekoalo (juru bicara), Bololae (penjaga / penghubung), Topobeloi (pertanian dan kehutanan ahli), Pantua (pakar keuangan "menteri." ), Tobolia (ahli kesehatan), Timoko (ternak ahli), Pongkallu (yang bertanggung jawab atas start-up kegiatan) dan Pobelai (tanah membawa kembali).

Suku Rampi memiliki aturan adat yang unik. Mereka tidak boleh menyebut sembarang kata yang berkaitan dengan nama orang tua atau nama mertua. Misalnya nama orang tua atau mertua, si "kulit", berarti dalam keseharian sang anak atau menantu, tidak boleh menyebut kata "kulit", atau orang tua dan mertua bernama "suara", maka harus berhati-hati untuk tidak mengucapkan kata "suara" di depan orang tua atau mertua. Apabila hal ini dilanggar, akan mendapatkan sanksi adat.

Masyarakat suku Rampi pada umumnya bermatapencaharian sebagai petani, mereka membuka lahan sawah yang hanya dikerjakan sekali setahun. Di saat tidak ada kegiatan mereka berburu di hutan sekitar kampung pemukiman mereka. Hasil buruan sebagian dikonsumsi sendiri dan sebagian lagi di jual ke pasar lokal. Selain itu mereka mencari madu hutan dan membuat minuman keras dari air kelapa.

sumber:
  • shamawar.wordpress.com
  • palopopos.co.id
  • joshuaproject.net
  • wikipedia
sumber lain dan foto:
  • ariefrahmans.blogspot.com
  • shamawar.wordpress.com

Suku Polahi, Sulawesi

suku Polahi
Suku Polahi, adalah salah satu suku terasing yang hidup di hutan pedalaman provinsi Gorontalo pulau Sulawesi Indonesia.

Suku Polahi hingga saat ini masih bertahan mengisolasi diri di hutan pedalaman gunung Boliyohuto yang berada di provinsi Gorontalo. Mereka sengaja mengisolasi diri di dalam hutan, yang konon dari cerita rakyat setempat sekitar kaki gunung Boliyohuto, bahwa awalnya suku Polahi adalah suatu kelompok masyarakat yang sengaja menghindar dari tentara kolonial Belanda. Mereka merasa tinggal di hutan gunung akan membuat mereka merasa aman terhadap ancaman dari luar, terutama dari tentara kolonial Belanda.

Menurut anggapan, dilihat dari struktur fisik orang Polahi, sepertinya mereka berasal dari daerah Maluku. Karena suku Polahi memiliki struktuk fisik dan ras mendekati ras polynesia, mirip dengan orang-orang Maluku. Orang Polahi memiliki tubuh kekar, berambut ikal dan keriting, mengindikasikan mereka lebih berkerabat dengan ras orang Maluku. Dari Maluku mereka menyeberangi laut, melalui Ternate melintas pulau demi pulau dan akhirnya mendarat dan membuat pemukiman di daratan Gorontalo. Setelah sekian lama, akibat masuknya tentara kolonial Belanda, membuat mereka terdesak masuk ke pedalaman hutan dan mengisolasi diri hingga saat ini.

Di dalam hutan, suku Polahi hidup dalam kelompok-kelompok kecil pada beberapa pemukiman. Pemukiman mereka berada di hutan kecamatan Paguyaman, Boliyohuto dan Suwawa. Mereka belum mengenakan pakaian, tapi mereka telah menutup bawahnya dengan kain atau dari daun palma dan kulit kayu. Untuk tempat tinggal, mereka mendirikan rumah yang sangat sederhana, yang terbuat dari kayu-kayu yang diambil dari hutan sekitar. Rumah suku Polahi beratapkan daun-daun kering dan tidak menggunakan dinding.

Suku Polahi walaupun terlihat menjalani hidup seperti orang primitif, tetapi sebenarnya mereka tidaklah terlalu primitif, karena mereka juga berkomunikasi dengan masyarakat lain di desa yang dekat pemukiman mereka. Selain itu mereka juga mengenal cara bercocok-tanam. Di saat senggang mereka berburu binatang liar seperti babi hutan atau binatang liar apa saja yang mereka temukan,  untuk memenuhi kebutuhan akan daging bagi masyarakat mereka.

suku Polahi
pic: dotgorontalo.blogdetik.com
Sebenarnya tidak semua suku Polahi hidup secara terasing dan cenderung primitif. Beberapa kelompok suku Polahi telah hidup berbaur dengan masyarakat lain, dan telah bermukim di kecamatan Asparaga.
Meski hidup mereka adalah di pegunungan dan hutan, namun mereka masih berharap pemerintah menerima keberadaan mereka seperti yang lain, dan melindungi mereka selayaknya mereka adalah masyarakat yang baik. Mereka mulai membaur dengan masyarakat lain, dengan mengikuti pola budaya dan agama yang hilang dari mereka selama beratus-ratus tahun lamanya, dan keberadaan mereka pun senantiasa diterima secara luas, baik oleh masyarakat maupun pemerintah.

contoh bahasa Polahi:
  • “nene wololo habari? = bagaimana kabarnya nenek”
  • “piyo-piyohu wa’u = saya dalam keadaan sehat wal afiat”
  • “wolo harapauwo li nene to dulahe botiya = apa yang nenek harapkan hari ini?”
  • “watiya tiliyango tawuda’a, harapuwo’u wa’u olo delo tawuwewo, otoliango lo olongiya lolipu” = saya diajak kepala desa untuk acara ini, ya harapan saya, sama halnya dengan teman-teman lain, dicintai raja (bupati)”
  • “ami olo ju delo tawuwewo, debo hitumula bo delo ta pilotutu to kambungu modaata, bo ami tilimuato to kambungu to huidu wawu o’ayuwa, bolo ambunguwolo tuwani, alihu ami olo delo otoloma, openu tutumulo lami to kambungu o’ayuwa” = kami juga sama seperti yang lain, hidup dan dilahirkan di kampung padat penduduk (kota) hanya saja kami dilahikan dikampung pegunungan dan hutan rimba, maafkan ya pak, sekiranya kami jangan dilupakan, meski hidup kami hanyalah di gunung dan hutan

sumber: