Suku Toe, Nusa Tenggara Timur

suku Toe
Suku Toe, adalah salah satu suku yang terdapat di pulau Flores kabupaten Manggarai Barat provinsi Nusa Tenggara Timur.

Suku Toe adalah anak suku atau suku kecil yang merupakan bagian dari suku Manggarai, yang tetap teguh menjaga adat istiadat dan budaya Manggarai sampai saat ini.

Dalam tradisi suku Toe, terdapat suatu tradisi yang dianggap penting bagi masyarakat suku Toe, yaitu tradisi dalam menyambut tamu. Menurut mereka apabila ternyata ada tamu yang tak disambut, berarti mereka telah gagal menjaga adat Manggarai Barat. Bagi kehidupan masyarakat suku Toe, adat sangat dijunjung tinggi, dan sebagai pedoman hidup. Siapapun orang yang datang menjadi tamu di desa Liangdara kecamatan Sanunggoang Manggarai Barat akan mendapatkan ritual penyambutan.

Para tamu biasanya diawali dengan diberikan secangkir tuak raja, hasil fermentasi yang diproses sekitar sebulan. Kemudian para perempuan berikat bali belo dan berpakaian birimbeli datang menyambut para tamu. Beberapa perempuan berusia lanjut memukul gong dan gendang dengan tabuhan yang sederhana. Sekelompok laki-laki suku Toe membawakan tarian tradisional Caci, yang kadang-kadang dalam tarian ini tubuh mereka mengalami luka-luka, tapi bagi mereka hal itu adalah suatu kebanggaan. Walaupun tubuh mereka sering terluka dalam Tari Caci, tapi mereka tidak merasa dendam, bahkan pernah suatu kejadian, yang membuat mata seorang penari Caci terluka dan buta sebelah, tapi hebatnya mereka, tidak pernah merasa sakit hati apalagi merasa dendam.

Tari Caci, adalah semacam tari perang, menggambarkan peristiwa di masa lalu dengan menggunakan cambuk dari kulit kerbau, yang dilakukan oleh para leluhur mereka ketika sering berperang. Saat ini, setelah tidak ada lagi perang, maka Tari Cari menjadi penting, terutama ditampilkan dalam acara menyambut para tamu, juga pada acara perkawinan atau setelah masa panen.
Mereka tetap melestarikan tradisi Tari Caci, agar budaya suku Toe dan adat Manggara tetap lestari.
Dalam Tari Caci, mereka mengenakan ikat kepala, kain songket dan tubirampai sebagai ciri khas sang ksatria di masa lalu. Mereka akan senang apabila pertunjukan tarian adat Caci dapat membuat para tamu merasa terhibur.

Selain Tari Caci, terdapat tradisi tari lain, yaitu Tari Rangkuk Alu. Tarian ini adalah merupakan suatu tarian yang asal-usulnya merupakan upaya muda-mudi mencari jodoh. Tari Rangkuk Alu, memiliki gerakan melompat di antara bambu yang yang digerak-gerakkan dan dipukulkan oleh sekumpulan perempuan lain. Tari Rangkuk Alu, adalah suatu tarian asli adat suku Toe, karena menggunakan bambu sama seperti asal usul nama suku mereka. Istilah "toe", berarti bambu hutan yang tumbuh liar.

Dalam kehidupan sehari-hari suku Toe hidup dengan berkebun dan berladang. Mereka menanam coklat, kemiri dan terutama kopi. Selain itu mereka juga menanam durian ruteng, mangga, rambutan dan sala yang dipanen sekali setahun.

Saat ini, telah banyak dari orang Toe yang telah mendapatkan pendidikan tinggi. Banyak dari mereka yang pergi ke kota untuk mendapatkan pendidikan yang lebih baik, seperti ke Ende atau ke Kupang.

Masyarakat suku Toe, sangat ramah, dan mereka sangat terbuka terhadap siapapun termasuk kepada tamu-tamu yang berkunjung ke desa mereka. Mereka selalu bergegas menyambut tamu dan tersenyum malu-malu apabila para tamu mengajak berbicara ataupun hendak mengabadikan gambar dengan kamera.

Ada suatu kalimat bagi setiap orang yang pernah berkunjung ke wilayah ini, yaitu ""aku taukolek ce e Flores". Suatu kalimat yang selalu ditunggu masyarakat suku Toe, akan kembalinya para tamu ke desa mereka.

sumber:

0 comments:

Post a Comment

Silahkan berkomentar di bawah ini, Kami mohon maaf, apabila terdapat kekeliruan atau ada yang tidak sesuai dengan pendapat pembaca, sehubungan dengan sumber-sumber yang kami terima bisa saja memiliki kekeliruan.
Dengan senang hati kami menerima segala kritik maupun saran pembaca, demi peningkatan blog Proto Malayan.
Salam dan terimakasih,