Showing posts with label Lampung. Show all posts
Showing posts with label Lampung. Show all posts

Suku Darahputih, Lampung

Suku Darahputih, adalah sekelompok masyarakat adat marga yang terdapat di kabupaten Lampung Selatan provinsi Lampung.

Suku Darahputih ini menurut cerita rakyat setempat, dahulunya berasal dari Keratuan Darah Putih yang datang dari Kerajaan Skalabrak. Keturunan dari Keratuan Darah Putih ini bermigrasi ke wilayah kabupaten Lampung Selatan. Di wilayah kabupaten Lampung Selatan ini mereka tetap mengaku sebagai masyarakat Darahputih atau keturunan Ratu Darah Putih.

Secara umum bahwa masyarakat adat yang disebut suku Darahputih, bisa dikatakan adalah masyarakat adat yang tinggal di kaki Gunung Rajabasa. Mereka sangat erat hubungan sejarahnya dengan Keratuan Darah Putih. Keratuan Darah Putih merupakan kelompok marga yang hidup di kawasan yang kini disebut kabupaten Lampung Selatan, di kaki Gunung Rajabasa. Keratuan merupakan sebuah komunitas masyarakat adat yang terdiri dari marga-marga.

Ratu Darah Putih sebagai penguasa Keratuan Darah Putih, merupakan leluhur pertama suku Lampung yang kini tersebar dan menetap di kawasan pesisir Selatan provinsi Lampung. Ratu Darah Putih diperkirakan hidup pada abad ke-14 dan ke-15 dengan daerah kekuasaan meliputi hampir semua kawasan pesisir Selatan (kini menjadi kabupaten Lampung Selatan) sampai ke kawasan Way Lima (kini menjadi kabupaten Pesawaran). Semasa hidupnya, Ratu Darah Putih memiliki tujuh orang pengawal, dan masing-masing pengawal memiliki karakteristik dan watak yang berbeda. Ketujuh pengawal sangat setia hingga akhir hanyatnya bersumpah akan tetap bisa mengawal Ratu Darah Putih. Ketika kematian menjemput satu per satu para pengawal, kesetiaan mereka tetap terpelihara dengan mewujud dalam bentuk topeng, yang sekarang dikenal dalam setiap acara atau festival dalam Tarian Topeng Sekura.

sumber:

Suku Semaka, Lampung

Suku Semaka, adalah salah satu suku yang terdapat di Kota Agung kabupaten Tanggamus provinsi Lampung.

Asal usul suku Semaka ini diceritakan berasal dari Keratuan Semaka, yang berasal dari Skalabrak, yang pada perjalanan migrasinya melalui sungai Way Semaka dan menetap di wilayah ini, dan keturunannya tersebar di kabupaten Tanggamus ini, dan terutama terpusat di Kota Agung.

air terjun
di wilayah suku Semaka
Masyarakat suku Semaka yang sejak beberapa abad yang lalu telah mendiami wilayah kabupaten Tanggamus ini. Saat ini wilayah mereka tidak lagi seperti pada masa di awal kedatangan mereka. Sekarang mereka justru hidup di antara para pendatang yang memenuhi wilayah suku Semaka ini. Bahkan jumlah para pendatang telah melebihi jumlah masyarakat Semaka di wilayahnya sendiri. Sehingga saat ini suku Semaka sendiri seperti kehilangan identitas, bahkan bahasa Semaka yang dahulunya sebagai bahasa asli di wilayah ini, sekarang berganti dengan bahasa para pendatang. Terlihat di daerah-daerah keramaian seperti di pasar, bahasa yang dominan adalah bahasa para pendatang. Masyarakat suku Semaka ini seperti kehilangan kepercayaan diri terhadap bahasa mereka sendiri. Kalangan muda sudah tidak berbahasa Semaka lagi, praktis tinggal hanya golongan manula saja yang masih memahami bahasa Lampung dialek Semaka ini.

Suku Semaka ini berada di bawah adat Lampung Saibatin. Adat Saibatin adalah salah satu dari 2 adat yang terdapat di provinsi Lampung. Pemakai adat Saibatin biasanya disebut sebagai masyarakat Peminggir.

Pada masyarakat suku Semaka terdapat beberapa marga, yaitu:
  • Marga Padang, Ratu terdiri dari:
    • pekon Padang Ratu
  • Marga Suoh, terdiri dari:
    • pekon Way Kerap
    • pekon Padang Manis
    • pekon Suka Bandung
    • pekon Bandar Suka Bumi
  • Marga Smong, terdiri dari:
    • pekon Raja Basa
    • pekon Sanggi
    • pekon Penanggungan
    • pekon Raja Basa Lupak
    • pekon Gunung Doh
    • pekon Gunung Aji
    • pekon Raja Basa Lama
catatan: pekon=kampung

Masyarakat suku Semaka ini hidup pada bidang pertanian, seperti menanam padi di sawah dan ladang, selain itu mereka juga menanam sayur-sayuran serta buah-buahan. Tanaman utama mereka adalah lada dan kopi. Profesi lain adalah sebagai nelayan, karena pemukiman mereka tidak jauh dari pesisir pantai.

sumber:
  • media-sastra-nusantara.blogspot.com
  • wikipedia
  • foto: lampungzone.blogspot.com
  • dan sumber lain

Suku Skalabrak, Lampung

Kepaksian Buay Pernong
dari Paksi Skalabrak
Masyarakat Adat Skalabrak (Sekala Brak, Sekala Beghak), adalah suatu kelompok masyarakat yang menetap di kecamatan Batu Brak kabupaten Lampung Barat provinsi Lampung.

Dahulu kala terdapat sebuah kerajaan yang bernama Kerajaan Skalabrak yang diperkirakan telah ada sekitar abad ke 3 M atau sebelumnya. Posisi Kerajaan Skalabrak ini berada di gunung Pesagi, yang berada di wilayah Lampung Barat sekarang ini. Kerajaan ini dipimpin oleh seorang Ratu dan menganut agama Hindu Bairawa. Setelah sekian abad Kerajaan ini berdiri, maka penuh sesaklah masyarakat di Kerajaan Skalabrak ini dan banyak keturunan dari Kerajaan Skalabrak ini yang bermigrasi dan tersebar ke berbagai wilayah di Lampung dan Sumatra Selatan, secara berkelompok dan bergelombang atau tidak bersamaan. Kepindahan keturunan Skalabrak ini diakibatkan oleh seringnya terjadi perselisihan di antara mereka, juga diperkirakan oleh bencana alam dan selain itu karena keinginan mencari tempat baru untuk mendapat kehidupan yang lebih baik.

Wilayah Skalabrak sendiri menurut para penulis sejarah maupun peneliti, dianggap dan terpusat sebagai kerajaan berada di sekitar kecamatan Batu Brak. Di lereng gunung Pesagi ini lah yang diyakini sebagai pusat Kerajaan Skalabrak, dan wilayahnya termasuk kecamatan Batu Brak, kecamatan Sukau, kecamatan Belalau dan kecamatan Balik Bukit.

Apakah ada masyarakat keturunan Kerajaan Skalabrak yang memakai identitas sebagai suku Skalabrak ? Dari yang diketahui bahwa sebagian besar kelompok masyarakat keturunan dari Skalabrak yang bermigrasi ke tempat baru, telah membangun komunitas adat tersendiri serta membentuk identitas baru sebagai suku tersendiri. Sedangkan masyarakat Skalabrak yang bertahan di kecamatan Batubrak Lampung Barat ini ini juga tidak menggunakan identitas sebagai masyarakat suku Skalabrak.

Masyarakat yang berada di kecamatan Batubrak ini lah yang mengaku sebagai masyarakat Skalabrak, walaupun dalam keseharian mereka sering menyebut diri mereka sebagai orang Lampung. Yang paling tegas menyatakan diri sebagai orang Skalabrak adalah dari Paksi Buay Pernong. Paksi ini adalah salah satu Paksi yang berasal dari Skalabrak yang sampai sekarang tetap menjalankan adat Paksi Pak Sekala Beghak (Skalabrak).

rumah tua tradisional
peninggalan Skalabrak
di Pekon Hujung
Lampung Barat 
Di kecamatan Batubrak ini masih terdapat beberapa rumah tua yang sudah berumur ratusan tahun, dan diperkirakan rumah-rumah tua tradisional ini adalah peninggalan dari keturunan-keturuan Kerajaan Skalabrak.

Jadi bisa dikatakan bahwa masyarakat di kecamatan Batu Brak ini lah yang sampai sekarang masih mengaku sebagai orang Skalabrak, sedangkan keturunan dari Skalabrak yang berada di daerah lain telah berubah identitas sebagai kelompok-kelompok suku tersendiri. Tapi walau bagaimanapun masyarakat suku di Lampung yang pada awalnya berasal dari satu tempat dan telah tersebar ke berbagai wilayah, pada dasarnya adalah tetap satu rumpun, yaitu Rumpun Skalabrak.

sumber:
  • buaypernong.blogspot.com
  • wikipedia
  • foto: skyscrapercity.com
  • foto: endangguntorocanggu.blogspot.com
  • dan sumber lain

Suku Smoung, Lampung

daerah pemukiman suku Smoung
Suku Smoung (Smong), adalah suatu masyarakat adat marga Smoung yang berasal kelompok masyarakat Lampung yang berada di salah satu kampung negeri yang bernama (pekon/ desa) Sanggi di kabupaten Tanggamus di provinsi Lampung.

Masyarakat marga Smoung, adalah salah satu dari sekian banyak subetnik di Lampung yang membentuk komunitas adat suku tersendiri. Marga Smoung hidup sebagai komunitas adat terpencil dan tersingkir dari realitas dinamika pembangunan daerah. Masyarakat marga Smoung hingga saat ini masih berada dalam taraf keterasingan dan kemiskinan.

Menurut JW Van Royen, seorang anthropolog yang melakukan penelitian di Lampung pada tahun 1855-1913, mengatakan bahwa masyarakat adat Lampung terdiri dari banyak marga yang bersatu dalam kesatuan adat, tetapi ada beberapa marga membentuk komunitas suku sendiri. Masyarakat marga Smoung hidup terisolir dari dinamika pembangun daerah, karena secara geografi mereka menetap di kawasan yang sangat terpencil dan tidak bisa disentuh pembangunan. Sehingga karena keterpencilan ini sekian lama, mereka membentuk komunitas suku tersendiri.

Di pedalaman hutan kabupaten Tanggamus terdapat sebuah desa bernama desa Sanggi. Desa ini ternyata dihuni oleh masyarakat yang masih bagian dari suku Lampung marga Smoung. Komunitas marga Smoung ini bermukim di desa yang berada di aliran sungai Way Semaka, bersebelahan dengan dengan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan. Desa ini sangat terpencil, apabila menggunakan sepeda motor akan menempuh waktu selama 5 jam dari Kota Agung, ditambah berjalan kaki melalui jalan setapak selama beberapa jam. Mungkin akan lebih mudah apabila perjalanan ditempuh lewat jalur perairan melalui Way (Sungai) Semaka. Menurut penuturan masyarakat desa ini, bahwa desa Sanggi di kabupaten Tanggamus telah ada sejak tahun 1850..

Masyarakat marga Smoung di desa Sanggi kabupaten Tanggamus, tidak tahu asal usul mereka sebenarnya, tetapi mereka beranggapan kemungkinan nenek moyang mereka datang dari desa Sanggi yang ada di kabupaten Lampung Barat. Komunitas marga desa Sanggi di kabupaten Tanggamus kadang-kadang menjalin komunikasi dengan masyarakat desa Sanggi di kabupaten Lampung Barat.

Masyarakat suku Smoung ini hidup pada bidang pertanian seperti menanam sayur-sayuran dan buah-buahan, serta berburu ke hutan sekitar pemukiman mereka.

sumber:
  • localwisdown.blogspot.com
  • media indonesia, minggu, 2 desember 2000
  • wikipedia
  • dan sumber lain

Suku Komering, Lampung

Komering
Suku Komering, walaupun dikelompokkan ke dalam rumpun Lampung, tetapi selain terdapat di provinsi Lampung, pemukiman utama suku ini justru terkonsentrasi di kabupaten Ogan Komering Ulu dan kabupaten Ogan Komering Ilir di provinsi Sumatra Selatan. Selain itu sebagian kecil suku Komering ini terdapat juga pemukimannya di provinsi Bengkulu.

Pada awalnya di masa lalu, suku Komering ini banyak yang bermigrasi keluar dari daerah asal mereka di sepanjang aliran Way Komering untuk mencari tempat baru yang dianggap dapat merubah kehidupan mereka menjadi lebih baik. Dalam perjalanan migrasi mereka di tempat baru mereka membuka pemukiman (umbul) dan kampung (tiuh). Kelompok pertama yang meninggalkan daerah asal suku Komering adalah orang Komering dari marga Bunga Mayang sekitar tahun 1800 Masehi, menyusuri Way Sungkai. Kelompok ini setelah membuka pemukiman di tempat yang baru, setelah sekian lama lebih dikenal dengan identitas baru sebagai suku Sungkai yang kadang mereka menyebut kelompok mereka sebagai suku Sungkai Bunga Mayang, sebagai pertanda bahwa mereka dahulunya berasal dari suku Komering marga Bunga Mayang. Walaupun suku Sungkai ini lebih akrab dengan sebutan suku Sungkai, tetapi mereka tetap mengakui bahwa dahulunya mereka memang berasal dari Komering. Di tempat baru ini pada awalnya telah ada suatu masyarakat adat yang disebut sebagai suku Abung. Karena mereka membuka pemukiman di wilayah adat suku Abung, maka mereka melepaskan adat-istiadat asli mereka dan mengikuti adat-istiadat suku Abung. Oleh suku Abung, suku Sungkai ini dinyatakan berada di bawah adat Lampung Pepadun dan tanah tempat pemukiman mereka pun yang bernama Buay Nunyai mutlak menjadi milik suku Sungkai. Jadi suku Sungkai ini walaupun telah berubah identitas dan telah berubah adat-istiadat, secara asal-usul mereka adalah termasuk suku Komering juga.

Jadi dimana suku Komering yang tetap memakai nama suku Komering di Lampung ? Di Lampung Tengah, terdapat 2 buah kampung yang dihuni oleh orang Komering. Mereka memakai identitas sebagai orang Komering. Di Lampung Tengah ini mereka dikenal sebagai suku Komering Agung/Putih. Menurut pengakuan mereka, bahwa mereka memang berasal dari Komering, di Lampung Tengah ini mereka telah berbaur di bawah adat-istiadat suku Abung. Tetapi tidak seperti suku Sungkai, suku Komering Agung Putih ini, walau terikat adat-istiadat suku Abung, mereka tetap memakai identitas sebagai suku Komering. Hanya saja, masyarakat suku Komering Agung Putih ini sudah tidak mengetahui lagi asal Kebuayan mereka.

Sedangkan satu lagi orang Komering yang berada di Tiuh Gedung Komering – Negeri Sakti (Gedongtataan), yang sekarang dikenal sebagai Daerah Suka Banjar. Dialek suku ini, sudah banyak dipengaruhi oleh dialek suku Pubian yang juga bermukim di wilayah mereka.
sumber:
  • lampungpost.com
  • wikipedia
  • dan sumber lain

Suku Belalau, Lampung

suku Belalau
Suku Belalau, adalah salah satu masyarakat adat yang bermukim di wilayah kabupaten Lampung Barat provinsi Lampung.

Suku Belalau ini menurut cerita rakyat Belalau, adalah sebagai penghuni pertama wilayah Belalau dan Krui. Menurut mereka, bahwa sejak dahulu mereka tidak memiliki kebiasaan nomaden yang berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain. Seperti menurut penuturan mereka, pada awalnya sebelum kehadiran mereka di wilayah ini, mereka berasal dari daerah Sekalabrak, sebagaimana suku-suku lain di wilayah provinsi Lampung.

Suku Belalau berbicara dalam bahasa Belalau, yang disebut sebagai bahasa Api atau bahasa Lampung Api.

rumah tradisional
suku Belalau
Rumah tradisional masyarakat Belalau bernama Rumah Sabukh, dan beberapa masih terpelihara di desa Hujung kecamatan Belalau kabupaten Lampung Barat. Diperkirakan rumah-rumah tradisional tersebut sudah berumur ratusan tahun. Menurut mereka rumah tradisional ini sudah dihuni oleh 4 generasi sekitar tahun 1867. Rumah tradisional masyarakat Belalau ini dibuat dari kayu dan bambu dari kualitas yang paling baik, kayu yang dipilih adalah kayu klutum dan kayu medang. Atap rumah ditutup dengan ijuk atau sabut aren. Adanya peninggalan rumah tua yang telah berumur ratusan tahun menunjukkan bahwa masyarakat Belalau masih memegang teguh amanat nenek moyang, warisan tersebut menggambarkan kehidupan masa lalu suku Lampung Belalau pedalaman.
Di Pekon (Desa) Hujung kecamatan Belalau kabupaten Lampung Barat, terdapat 14 rumah Sabukh, upaya penyelamatan rumah Sabukh ini merupakan peninggalan sejarah kehidupan suku Lampung Belalau jaman dulu.

Masyarakat suku Belalau pada umumnya hidup sebagai petani, terutama pada tanaman padi dan sayur-sayuran serta buah-buahan. Lada dan kopi menjadi tanaman utama bagi kehidupan masyarakat Belalau ini. Saat ini telah banyak masyarakat suku Belalau ini yang bekerja pada sektor pemerintahan dan juga bidang profesi lainnya.

sumber:
  • pubianartikel.blogspot.com
  • lampungbarat.go.id
  • foto: lampungbarat.go.id
  • wikipedia
  • dan sumber lain

Suku Krui, Lampung

suku Krui
Suku Krui atau Ulu Krui, adalah salah satu suku yang terdapat di provinsi Lampung. Suku Krui ini tersebar di sekitar pantai bagian barat kabupaten Lampung Barat provinsi Lampung. Masyarakat suku Krui ini dikelompokkan juga sebagai masyarakat Peminggir yang menetap di sekitar perairan Way Krui. Populasi suku Krui diperkirakan sebesar 30.000 orang. Suku Krui ini kadang disebut juga sebagai suku Lampung Krui.

Orang Krui termasuk ke dalam golongan masyarakat Lampung yang beradat Saibatin, seperti yang dilaksanakan oleh masyarakat Lampung Peminggir lainnya.
Bahasa yang diucapkan oleh masyarakat suku Krui ini adalah bahasa Lampung Umung (Lampung Cawo) atau disebut sebagai dialek Api.

Masyarakat suku Krui ini dikatakan berasal dari Paksi Pak Tungkok Pedang, yang berasal dari masa sebelum adanya Paksi Skalabrak. Setelah Paksi Pak Skala Brak berdiri, Paksi Pak Tungkok Pedang membubarkan diri dan pindah ke daerah Ranau Komering Ulu. Dari wilayah ini keturunan Paksi Tungkok Pedang melanjutkan perjalanan ke daerah Lampung. Sebagian menuju daerah pantai dan beradat Peminggir, sedangkan lainnya menuju daerah pedalaman melanjutkan tradisi adat Pepadun yang dibawa dari Skalabrak.

pakaian adat suku Krui
Suku Krui dianggap serumpun dengan suku Komering yang berada di daerah Liba Haji di Muara Dua Komering Ulu. Suku Komering merupakan penghuni Skalabrak yang juga berasal dari keturunan Paksi Pak Tungkok Pedang.

Pada masa penjajahan Belanda wilayah adat Ulu Krui diperintah oleh keturunan Rakihan Sakti. Tetapi pemerintahan ini terlalu lemah sehingga pada tahun 1928 ketika pembentukan marga marga oleh pemerintahan Hindia Belanda pada tahun 1930, Ulu Krui berbentuk Marga. Atas dukungan dari Suntan Akbar Sukau, Marga Ulu Krui dipimpin oleh Japilus.

Setelah Indonesia merdeka, eks Kewedanaan Krui kembali ke pangkuan Ratu Pak di Lampung. pada tahun 1966 Abdullah Syurkati Buay Bulan dan Buay Aji mengambil hak ulayat warisan nenek moyang mereka Tanah Ulu Krui. Sejak saat itu Ulu Krui menjadi desa dibawah pimpinan Kepala Desa H. Khaliq, dengan wilayah meliputi;
1. Suka Raja (Gedung Cahya).
2. Suka Marga (Kamal).
3. Kampung Baru dan sebagian daerah Kejadian.

Atas jasa masyarakat Krui dalam mewarnai adat budaya Lampung, Gubernur Lampung Zainal Abidin Pagar Alam merenovasi total masjid tua dekat Balai Kratun Ulu Krui di Sukaraja-Ulu Krui, yaitu Masjid Nurul Iman, Krui di Sukaraja Pekon Ulu Krui.

Masyarakat suku Krui sebagian hidup pada bidang pertanian, mereka menanam lada, kopi dan cengkeh sebagai sumber penghasilan mereka.

sumber:
  • ulukrui-waykrui.blogspot.com: ulu krui perwatin telu
  • wikipedia
  • foto: saliwanovanadiputra.blogspot.com
  • dan sumber lain

Suku Peminggir, Lampung

pakaian adat Peminggir
Suku Peminggir, adalah beberapa kelompok masyarakat yang berada daerah pesisir dan tersebar di beberapa wilayah di provinsi Lampung.

Suku Peminggir ini berada di bawah adat Saibatin. Saibatin adalah satu dari 2 adat yang terdapat di provinsi Lampung. Masyarakat Peminggir ini disebut juga sebagai masyarakat pesisir.

Adat Saibatin, adalah adat yang melaksanakan adat musyawarah tanpa menggunakan kursi Pepadun. Karena mereka sebagian besar berdiam di tepi pantai, maka disebut juga sebagai adat Pesisir. Suku Lampung beradat Saibatin (Peminggir) secara garis besar terdiri atas: suku Peminggir Semangka, suku Peminggir Pemanggilan, suku Peminggir Teluk, suku Melinting Rajabasa, suku Peminggir Skala Brak dan suku Peminggir Komering. Masyarakat adat Peminggir ini sukar untuk diperinci sebagaimana masyarakat Pepadun, dikarenakan di setiap daerah kebatinan terlalu banyak terjadi percampuran asal keturunannya.

Beberapa kelompok suku yang mendapat sebutan sebagai suku Peminggir, yaitu:
  • Peminggir Semangka
    Suku Peminggir Semangka dikatakan berasal dari keturunan suku Lampung yang datang dari Skalabrak yang masuk melewati pinggiran pantai. Pada perjalanan migrasi nenek moyang mereka pada masa dahulu menetap di sekitar Teluk Semangka. Daerah ini lah yang menjadi identitas nama kelompok mereka Peminggir Semangka.
    Suku Peminggir Semangka ini bertempat tinggal di pesisir pantai dan sering berlayar ke lautan. Masyarakat suku Peminggir Semangka ini lah yang banyak berprofesi sebagai nelayan. Sehingga lebih dikenal sebagai suku Pelaut nya suku Lampung.
  • Peminggir Pemanggilan
    Suku Peminggir Pemanggilan, menurut cerita asal usul rakyat Lampung, dikatakan dahulunya nenek moyang suku Peminggir Pemanggilan ini berasal dari nenek moyang suku Lampung yang berasal dari keturunan Kekhatuan Pemanggilan di Skalabrak. 
  • Peminggir Teluk
    Suku Peminggir Teluk dikatakan juga berasal dari Skalabrak yang bermigrasi melalui wilayah di sekitar Telukbetung sampai ke Pedada.
    Adat istiadat suku Peminggir Teluk ini sama dengan adat Peminggir Pemanggilan. Hanya terdapat sedikit perbedaan pada upacara adat serta dialek bahasa.
  • Belalau
  • Melinting Rajabasa
  • Skalabrak
  • Komering
  • Krui
  • Smoung

Pada awalnya suku-suku Peminggir ini adalah satu keturunan dan adat yang sama di Paksi Semaka, hanya saja karena pada masa lalu nenek moyang mereka melakukan perjalanan migrasi dalam kelompok yang berbeda, dan juga menempati wilayah yang berbeda, sehingga saat ini beberapa adat-istiadat yang diusung mereka pun menjadi berbeda karena telah terpisah oleh waktu yang lama serta letak geografis yang berbeda.

Walaupun saat ini mereka terpisah di beberapa wilayah yang berbeda, dan memiliki dialek yang berbeda, tetapi mereka tetap mengakui bahwa mereka semua adalah saling berkerabat.

sumber:
  • supriliwa.wordpress.com: adat-istiadat-lampung
  • wikipedia
  • foto: mannaismayaadventure.com
  • dan sumber lain

Suku Waykanan, Lampung

gerbang Waykanan
Suku Waykanan, adalah suatu komunitas masyarakat adat yang berada di kabupaten Way Kanan provinsi Lampung. Suku Waykanan ini disebut juga sebagai Buay Lima, karena kelompok masyarakat ini terdiri dari 5 Kebuaian.

Suku Waykanan ini berada di bawah adat Lampung Pepadun. Adat Pepadun adalah salah satu dari 2 adat yang terdapat di provinsi Lampung.

Menurut cerita rakyat yang terdapat pada masyarakat suku Lampung, bahwa Suku Waykanan ini, adalah keturunan nenek moyang suku Lampung yang berasal dari Skalabrak. Skalabrak sendiri dipercaya adalah tempat asal usul etnis Lampung, yang tersebar ke berbagai wilayah di Sumatra Selatan, Lampung hingga Bengkulu. Salah satu keturunan yang berasal dari Skalabrak adalah suku Waykanan, yang pada perjalanan migrasinya melalui pinggiran Way Kanan.

Masyarakat suku Waykanan secara mayoritas adalah pemeluk agama Islam yang taat. Beberapa adat-istiadat terlihat banyak mengandung unsur Islami.
Saat ini di wilayah pemukiman suku Waykanan ini, telah dipenuhi oleh para pendatang transmigran, terutama yang berasal dari pulau Jawa. Selain itu juga terdapat pendatang lain yang berasal dari berbagai daerah di Sumatra, seperti Minang, Palembang, Batak dan lain-lain.

suku Waykanan
Saat ini agak susah mendeteksi suku Waykanan ini di wilayah mereka sendiri, karena banyaknya jumlah pendatang transmigran di wilayah ini, selain itu juga banyak terjadi perkawinan campur antara masyarakat Waykanan dengan masyarakat pendatang. Sehingga sekilas terlihat masyarakat suku Waykanan sendiri hidup dalam budaya masyarakat pendatang.

Masyarakat suku Waykanan pada umumnya hidup pada bidang pertanian, seperti pertanian padi-sawah, maupun ladang, berbagai tanaman sayur-sayuran dan buah-buahan juga menjadi tanaman utama mereka. Selain itu masyarakat suku Waykanan juga banyak yang telah bekerja di sektor pemerintahan, dan juga sebagai pedagang, guru dan lain-lain.

sumber:
  • lampungpost.com
  • wikipedia
  • foto: cwet.wordpress.com
  • foto: variety-indonesia.blogspot.com
  • dan sumber lain

Suku Merpas, Lampung

pemukiman suku Merpas
Suku Merpas, adalah salah satu suku yang berada di bawah adat Lampung, yang bermukim di Merpas. Merpas adalah desa di kecamatan Nasal kabupaten Kaur provinsi Bengkulu Indonesia.

Suku Merpas walaupun bermukim di wilayah provinsi Bengkulu, tetapi secara kultural dan adat, mereka lebih berkerabat dengan masyarakat di provinsi Lampung. Adat istiadat yang dijalankan oleh masyarakat suku Merpas adalah termasuk bagian dari adat Lampung. Selain itu Merpas adalah termasuk salah satu dari marga yang ada di Lampung.

Menurut penuturan masyarakat Merpas sendiri, dahulunya mereka memang berasal dari wilayah Lampung. Pada pertengahan abad 17, mereka telah bermigrasi ke wilayah Bengkulu tempat mereka sekarang ini. Wilayah pemukiman suku Merpas ini mereka hidup berdampingan dengan suku lain seperti suku Kaur yang asli penduduk Bengkulu. Walaupun secara kultural dan adat, suku Merpas ini masih berkerabat dengan suku-suku di Lampung, tetapi kebanyakan dari mereka sudah menganggap diri mereka adalah bagian dari masyarakat Bengkulu. Selain itu di antara mereka telah banyak terjadi perkawinan campur dengan suku-suku lain, yang terdapat di wilayah Bengkulu, termasuk dengan para pendatang yang juga bermukim di wilayah tersebut.

suku Merpas
Suku Merpas sendiri berbicara dalam bahasa Merpas, yang mirip dengan bahasa Lampung, tetapi mendapat pengaruh dari bahasa-bahasa di Bengkulu, termasuk mendapat pengaruh dari bahasa Melayu Pesisir..

Masyarakat Merpas, bertahan hidup pada bidang pertanian. Beberapa bergerak pada pertanian padi sawah, maupun ladang. Mereka juga menanam berbagai jenis sayur-sayuran dan buah-buahan, termasuk tanaman keras seperti karet dan kopi.

sumber:
  • foto: kp3k.kkp.go.id
  • foto: seandanan.wordpress.com
  • wikipedia
  • dan sumber lain

Suku Melinting, Lampung

tari Melinting
Suku Melinting, adalah salah satu suku di provinsi Lampung yang beradatkan Pepadun yang secara administratif berada di kabupaten Lampung Timur. Wilayah pemukiman suku Melinting ini terdapat di 7 tiuh (desa), yaitu desa Tiuh Meringgai, Tiuh Tebing, Tiuh Tanjung Aji, Tiuh Wano, Tiuh Nibung, Tiuh Pempen dan Tiuh Ngeragung.

Asal-usul suku Melinting menurut mereka berasal dari keturunan Khatu Pugung. Wilayah kekuasaan Kekhatuan Pugung di Labuhan Mekhinggai dibagi menjadi dua wilayah oleh Kekhatuan Darah Putih di Kukhipan Kalianda, maka wilayah Labuhan Mekhinggai yang dikuasai oleh Kekhatuan Pugung disebut Kekhatuan Melinting dan selanjutnya menjadi identitas nama komunitas ini, yaitu suku Melinting.

Salah satu kesenian tari dari masyarakat suku Melinting ini adalah Tari Melinting, Tari Melinting adalah tarian yang sarat akan nilai budaya ini telah ada sejak abad 16 M. Tarian ini diciptakan oleh sang Ratu Melinting, tarian yang hanya orang-orang istana saja yang boleh menarikannya. Tarian ini diberi nama sesuai gelar adatnya yaitu ''Melinting''. Mulai saat itulah tari Melinting tumbuh dan berkembang di lingkungan istana. Namun sepeninggalan Ratu Melinting, tarian ini mulai diperkenalkan kepada masyarakat luar istana sehingga menjadi salah satu tarian kebanggaan masyarakat suku Melinting sampai sekarang.

Rumah pemukiman masyarakat suku Melinting masih hidup secara tradisional, seperti rumah panggung yang terbuat dari kayu alam, dengan ciri khas bangunan khas suku Melinting yang tetap dipelihara keasliannya.

Masyarakat suku Melinting ini pada umumnya hidup pada bidang pertanian, pada tanaman lada, kelapa, pisang, coklat, pepaya, padi, jagung dan buah-buahan. Mereka juga menanam tanaman keras seperti durian, cempedak, duku dan lain-lain. Profesi lain adalah sebagai pekerja di sektor pemerintahan, pedagang, guru dan lain-lain.

sumber:

Suku Meninting, Lampung

suku Meninting
Suku Meninting, adalah salah satu masyarakat adat yang berada di provinsi Lampung. Suku Meningting berdiam di Rajabasa dan sekitarnya.

Suku Meninting berada di bawah adat Saibatin. Saibatin adalah satu dari 2 adat yang terdapat di provinsi Lampung. Suku Meninting masih terkait kerabat dengan suku Melinting, yang menurut mereka dahulunya nenek moyang suku Meninting masih satu keturunan dengan suku Melinting. Wilayah Kekhatuan Pugung di Labuhan Mekhinggai yang terbagi dua oleh Khatu Darah Putih, yang masuk wilayah Khatu Darah Putih disebut Meninting.

Masyarakat suku Meninting agak susah dibedakan dengan masyarakat suku Melinting, karena kesamaan adat-istiadat serta budaya, selain itu memang terdapat keterkaitan sejarah asal-usul serta kekerabatan antara kedua suku bangsa ini.

Mayoritas masyarakat suku Meninting adalah berprofesi sebagai petani, pada tanaman padi, sayur-sayuran, buah-buahan dan tanaman keras seperti kopi. Saat ini banyak masyarakat suku Meninting yang telah bekerja di sektor pemerintahan, dan juga sebagai guru, pedagang dan lain-lain.

sumber:
  • seruit.com
  • old.lampungprov.go.id
  • wikipedia
  • dan sumber lain

Suku Tulangbawang, Lampung

suku Tulangbawang
Suku Tulangbawang (Tulangbawang Mego Pak), adalah salah satu komunitas adat yang terdapat di provinsi Lampung. Suku Tulangbawang ini tersebar di 4 wilayah adat, yaitu Menggala, Mesuji, Panaragan dan Wiralaga.

Suku Tulangbawang ini berada di bawah hukum adat Pepadun. Pepadun adalah salah satu dari dua adat yang terdapat di Lampung.
Menurut cerita asal-usul suku Tulangbawang, bahwa para leluhur suku Tulangbawang memasuki wilayah mereka sekarang ini melalui pinggiran Way Tulangbawang. Mego Pak. Maksud dari Mego Pak adalah suku Tulangbawang ini memiliki 4 mego (marga).

marga:
  • Puyang Umpu
  • Puyang Bulan
  • Puyang Aji
  • Puyang Tegamoan

tari Bedayo
Seni budaya pada masyarakat Tulangbawang adalah Tari Bedayo, yang memiliki usia sangat tua dibandingkan dengan tarian lainnya yang ada di Menggala. Menurut mereka Tari Bedayo dulunya diciptakan atas permintaan Menak Sakaria dan adiknya Menak Sangecang Bumi keturunan ari puti Bulan, di kampung Tus Bujung Menggala kecamatan Tulang Bawang Udik. Konon munculnya tari Bedayo akibat adanya wabah penyakit yang melanda kampung Bujung Menggala di masa itu. Berbagai usaha yang dilakukan pada saat itu, namun tidak kunjung hilang, selama pertapaannya menak Sakaria mendapatkan wangsit agar mengadaan upacara dan memotong kambing hitam diiringi sebuah tarian yang dibawakan penari wanita yang masih suci berjumlah 12 orang.

model rumah tradisional
suku Tulangbawang
Masyarakat Tulangbawang, secara umum masih percaya dengan kata-kata orang tua, baik itu berupa pantun, dongeng, legenda mitos dan yang lainnya.
Mayoritas masyarakat suku Tulangbawang adalah penganut agama Islam, yang telah lama berkembang di wilayah ini. Beberapa tradisi adat budaya suku Tulangbawang terlihat banyak mengandung unsur Islami. Mereka adalah penganut agama Islam yang taat, tetapi mereka juga terbuka terhadap golongan agama lain, seperti dari golongan agama Kristen, Hindu dan Budha, sehingga kerukunan agama di wilayah ini tetap terpelihara dengan baik.

Kehidupan masyarakat Tulangbawang pada umumnya berprofesi sebagai petani, pada tanaman padi, sayur-sayuran dan tanaman keras seperti kopi. Selain itu banyak juga yang bekerja pada sektor pemerintahan, menjadi pedagang, guru dan profesi lainnya. Di halaman rumah beberapa keluarga memelihara ternak seperti sapi, kambing, bebek dan ayam untuk menambah penghasilan hidup.

sumber:

Suku Cikoneng, Lampung

masyarakat Lampung Cikoneng
Suku Cikoneng, adalah suatu masyarakat adat yang berada di wilayah provinsi Banten pulau Jawa. Masyarakat suku Cikoneng ini adalah berawal dari para pendatang dari daratan Lampung Sumatra yang sejak abad XVI, di masa Kesultanan Banten yang dipimpin Sultan Maulana Hasanuddin (1552-1570), bermigrasi secara terus menerus hingga membentuk pemukiman di wilayah Banten ini. Di wilayah baru ini, mereka pertama kali disebut sebagai suku Lampung Cikoneng, hingga saat ini mereka pun terbiasa disebut sebagai suku Cikoneng. Wilayah mereka yang bernama Cikoneng ini lah yang menjadi identitas mereka saat ini, sebagai suku Cikoneng. Cikoneng berada di kecamatan Anyar bagian Selatan Banten.

Suku Cikoneng ini, walaupun telah umum disebut sebagai orang Cikoneng atau suku Cikoneng, tetapi mereka tetap mengakui diri mereka sebagai orang Lampung.

Masyarakat Lampung Cikoneng ini, sampai saat ini masih mempertahankan bahasa ibu mereka, yaitu bahasa Lampung, tetapi telah banyak menyerap perbendaharaan kata dari bahasa Banten dan Sunda. Walaupun begitu, apabila mereka bertemu dengan sanak saudara dari daratan Lampung, mereka tetap bisa berkomunikasi menggunakan bahasa Lampung sebagaimana bahasa Lampung sebenarnya. Hebatnya, karena teguhnya mereka mempertahankan bahasa Lampung, masyarakat lain di sekitar merekapun ikut-ikutan terpengaruh untuk berbicara dalam bahasa Lampung ala Cikoneng.

Namun bahasa Cikoneng agak berbeda dengan bahasa Lampung asli di daerah asalnya. Bahkan sampai saat ini masih belum teridentifikasi dari dialek mana. Bahasa Lampung ala Cikoneng ini bagi masyarakat Lampung sendiri terdengar sedikit aneh ditelinga. Kadang terdengar dialek api, di tengah percakapan tiba-tiba bisa berubah ke dialek nyow. Begitulah menurut mereka.

Masyarakat Lampung dengan masyarakat Banten, sejak 400 tahun yang lalu sudah menjalin persahabatan. Sehingga dengan kehadiran masyarakat Lampung yang membangun pemukiman di wilayah ini, mendapat sambungan dengan tangan terbuka oleh masyarakat Banten, Sejak kehadiran masyarakat Lampung di wilayah ini, tidak pernah terjadi konflik dengan masyarakat Banten. Sepertinya ikatan tali persaudaraan dan persahabataan semakin erat antara kedua suku bangsa ini. Sampai-sampai ada semboyan dalam kehidupan mereka, yaitu "Lamun ana musuh Banten, Lampung pangarep Banten tut wuri.Lamun ana musuh Lampung, Banten pangarep Lampung tut wuri" (Jika ada musuh Banten, Lampung yang akan menghadapi dan Banten mengikuti. Dan jika ada musuh Lampung, Banten yang akan menghadapi dan Lampung mengikuti).

Masyarakat Cikoneng sebagaian besar cukup sejahtera. Hanya sekitar 25 persen yang masuk kategori prasejahtera. Nelayan dan petani adalah profesi yang secara umum digeluti warga Cikoneng. Walaupun sektor pertanian hanya bisa panen satu kali dalam setahun, dikarenakan tidak adanya irigasi.

sumber:

Suku Sungkai, Lampung

suku Sungkai
Suku Sungkai, adalah salah satu komunitas masyarakat adat yang berada di bawah tradisi hukum adat Pepadun Lampung. Suku Sungkai bermukim di wilayah Lampung

Suku Sungkai terdiri dari 7 Kebuwayan Besar, yaitu:
  • Buway Indor gajah (Segajah)
  • Buway Selembasi
  • Buway Perja (serja) yang ketiganya anak Putri Silimayang
  • Buay Harayap
  • Buway Liwa
  • Buway Semenguk
  • Buway Dibintang 

Asal usul suku Sungkai, menurut cerita rakyat Sungkai, bahwa dahulu berasal dari daerah Komering. Dahulu banyak orang komering yang bermigrasi keluar dari daerah asal mereka di sepanjang aliran Way Komering, untuk mencari kehidupan baru pindah ke wilayah lain. Pada perjalanan migrasi, mereka membuka pemukiman baru (umbul) maupun kampung (tiuh). Perpindahan kali pertama oleh orang Komering marga Bunga Mayang yang kemudian menjadi suku Sungkai atau disebut juga sebagai suku Lampung Bunga Mayang.

Suntan Baginda Dulu (Lampung Ragom, 1997), mengatakan “Kelompok Lampung Sungkai asal nenek moyang mereka adalah orang Komering pada tahun 1800 Masehi, pindah dari Komering Bunga Mayang menyusur Way Sungkai lalu minta bagian tanah permukiman kepada tetua Abung Buway Nunyai pada tahun 1818 s/d. 1834 Masehi. Kenyataan kemudian hari mereka maju. Mampu begawi menyembelih kerbau 64 ekor dan dibagi ke seluruh Kebuayan Abung”.

Oleh masyarakat suku Abung, suku Sungkai dinyatakan berada di bawah adat Lampung Pepadun dan tanah yang sudah diserahkan Buay Nunyai mutlak menjadi milik mereka. Kemungkinan daerah Sungkai yang pertama kali adalah Negara Tulang Bawang, membawa nama kampung/ marga Negeri Tulang Bawang asal mereka di Komering. Dari sini kemudian menyebar ke Sungkai Utara, Sungkai Selatan, Sungkai Jaya dan sebagainya. Di daerah Sungkai Utara, banyak penduduk yang berasal dari Komering Kotanegara, mereka adalah generasi keempat sampai kelima yang sudah menetap di sana.

sumber:
koneksi:

Suku Pubian, Lampung

pakaian adat
Pepadun Pubian
Suku Pubian disebut juga sebagai suku Pubian Telu Suku, adalah salah satu suku yang berada di kabupaten Lampung Tengah dan kabupaten Lampung Selatan provinsi Lampung. Suku Pubian ini kadang disebut juga sebagai suku Abung Pubian, karena wilayah suku Pubian ini berada dalam wilayah adat suku Abung.

Masyarakat suku Pubian ini berada di bawah naungan adat Pepadun, yang mana adat Pepadun adalah salah satu dari dua adat dalam tradisi adat suku Lampung.

Dari cerita rakyat pada masyarakat suku Pubian menceritakan bahwa nenek moyang suku Pubian pada awalnya masuk melalui pinggiran Way Pengubuan dan hulu Way Pubian. Telu Suku dalam identitas nama suku Pubian, maksudnya bahwa kelompok suku Pubian terdiri dari 3 suku kecil (marga).

Suku kecil (marga) pada adat suku Pubian Telu Suku:
  • Tambapupus
  • Menyakhakat
  • Bukujadi
Menurut cerita adat pada suku Pubian, bahwa kemungkinan suku Pubian ini berasal dari keturunan Ratu Balau. Ratu Balau adalah seorang pemimpin dari Keratuan Balau, yaitu salah satu dari 4 Keratuan dari Kerajaan Skala Brak.
Menurut Riwayat, Ratu Balau mempersunting Puteri dari Kerajaan Pagaruyung, oleh karena itu kedua keratuan ini masih mempunyai hubungan kekeluargaan. Keturunan dari Keratuan Balau tersebar di sekitar Teluk Lampung, Balau, Natar dan Tigeneneng.

seorang perempuan
suku Pubian
pelantun seni Dadi
Seni budaya milik suku Pubian yang terkenal adalah kesenian Ringget dan Bubandung, selain itu ada satu lagi seni sastra lisan Dadi. Dalam bahasa Pubian, "dadi" berarti mengandung sindiran dan makna yang mendalam untuk diterjemahkan. Dadi biasanya dilantunkan saat pergantian tahun, panen raya, pertemuan bujang-gadis atau sebelum/sesudah acara gawi. Bahkan untuk mengadakan acara dadi dipersiapkan pertemuan khusus. Dalam membawakan Dadi membutuhkan nafas panjang dan pelantunnya harus menguasai bahasa Lampung asli atau bahasa Lampung tinggi. Oleh karena itu saat ini tak banyak orang Lampung yang benar-benar menguasainya.


sumber:

Suku Tumi, Lampung

Skala Brak
pemukiman awal suku Tumi
Sebelum hadirnya suku bangsa Proto Malayan dan Deutro Malayan di daratan Lampung, yang konon katanya berasal dari daratan Skala Brak (Skala Beghak), yang sekarang terletak di kabupaten Lampung Barat. Ternyata telah ada sekelompok manusia yang hidup di Skala Brak ini. Mereka adalah Suku Tumi.

Kehadiran suku Tumi di Skala Brak ini tidak diketahui dari mana dan sejak kapan. Hanya dugaan, bahwa mereka telah hadir di tempat ini sudah sangat lama, karena telah memiliki pemukiman dan kerajaan. Menurut perkiraan suku Tumi berada di Skala Brak ini telah ada sejak abad 3 atau jauh sebelum masehi.

Suku Tumi ini diduga adalah suatu suku bangsa yang telah memiliki struktur atau bahkan merupakan sebuah kerajaan. Alasan ini diduga kuat karena adanya penemuan batu menhir zaman megalith. Pola hidup suku Tumi ini masih menganut animisme atau dinamisme. Sebagai pemujaan kepada alam yang dianggap punya kekuatan lebih besar dan menguasai hidup manusia, merupakan ritual dan kebiasaan hidup.

Tidak diketahui apakah suku Tumi berubah keyakinan dengan memeluk agama Hindu. Dari penelitian di wilayah tersebut, dari temuan Prasasti Bunuk Liwa yang beraliran Hindu Bhairawa menujuk angka 966 Saka (1074), yang diindikasikan mendapat pengaruh Hindu pada tahun 1074 Masehi. Prasasti ini agak membingungkan, mengingat prasasti ini masih sezaman dengan zaman Sriwijaya yang menganut agama Budha. Dari penemuan prasasti di Skala Brak ini berarti selain Kerajaan Sriwijaya yang Budha ternyata ada juga Kerajaan Hindu yang hadir di Skala Brak ini pada zaman yang sama.

Dari semua hal di atas, tidak diketahui secara pasti apakah Kerajaan Hindu di Skala Brak adalah milik suku Tumi atau bukan. Karena sepertinya suku Tumi telah ada jauh ribuan tahun sebelum adanya Kerajaan Hindu di Skala Brak tersebut. Kemungkinan Kerajaan Hindu tersebut adalah sisa-sisa dari pasukan Rajendra Chola yang sempat membangun Kerajaan dan bertikai dengan Kerajaan Sriwijaya pada masa itu.

Menurut cerita bahwa suku Tumi yang mendiami kawasan Skala Brak menyembah pohon besar yang dianggap sebagai “sesuatu yang menguasai hidup mereka”, berkekuatan Dewa. Pohon itu mereka sebut sebagai pohon Belasa Kepappang. Pohon Belasa Kepappang itu bercabang dua, satu cabang pohon nangka dan satunya pohon kayu sebukau. Getah sebukau konon sangat beracun, bila terkena kulit tubuh akan bisa menjadi luka mengoreng. Cara menyembuhkannya, dioles getah pohon nangka (cabang yang satunya).

Beberapa dugaan mengatakan bahwa suku Tumi ini berasal dari daratan Indochina dari wilayah Burma, yang bermigrasi ke wilayah ini sejak sebelum Masehi. Dugaan lain suku Tumi ini berasal dari wilayah India, yang memiliki ras Weddoid, seperti ras-ras Weddoid seperti suku Kubu di Jambi dan suku Lubu di Sumatra Utara yang juga hadir di daratan pulau Sumatra sebelum hadirnya bangsa-bangsa Proto Malayan.

Sekitar abad 5, dengan berkembangnya suku bangsa lain yang memasuki wilayah Skala Brak, semakin mempersempit ruang gerak suku Tumi, dan diperkirakan suku Tumi ini pun meninggalkan wilayahnya dan tersebar ke beberapa wilayah di Lampung dan Sumatra Selatan. Seiring dengan perjalanan suku Tumi meninggalkan wilayahnya, maka suku Tumi pun membaur dengan etnis lain yang lebih dominan, seperti suku Lampung dan beberapa etnis di Sumatra Selatan. Sehingga adat dan kebudayaan serta bahasa asli suku Tumi pun semakin tidak bisa ditelusuri lagi.

sumber:
  • indonesianspaceresearch.blogspot.com
  • melayuonline.com
  • foto:  rudimarfai.blogspot.com
  • wikipedia
  • dan sumber lain

Suku Daya

Suku Daya, adalah suatu komunitas masyarakat yang menetap di pinggir aliran sungai Ogan dekat dengan kota Simpang dan Pulauberingin dan sekitar kota Martapura. Terkonsentrasi di kabupaten Ogan Komering Ulu, meliputi kecamatan Baturaja Timur, Baturaja Barat, Simpang dan Muaradua. Populasi suku Daya ini diperkirakan telah mencapai lebih dari 50.000 orang, yang tersebar di beberapa tempat di provinsi Sumatra Selatan hingga ke wilayah provinsi Lampung.

Masyarakat suku Daya berbicara dalam bahasa Daya, yang mana bahasa ini termasuk dalam dialek bahasa Melayu, yang sering disebut juga sebagai dialek Daya. Tidak diketahui apakah orang Daya ini memiliki bahasa sendiri selain bahasa Melayu yang digunakan sekarang ini. Mengingat bahwa suku Daya ini adalah penduduk asli wilayah ini, dan tergolong ke dalam kelompok protomalayan, mereka telah ada sebelum kehadiran orang-orang Melayu di wilayah ini.

Istilah nama Daya sendiri tidak diketahui berasal dari mana, kemungkinan berasal dari salah satu marga suku Komering, seperti marga Daya. Apabila dilihat dari adat-istiadat dan budaya suku Daya ini sepertinya masih berkerabat dengan suku Komering, yang juga tinggal di wilayah ini. Istilah Daya ini walau mirip dengan nama suku Dayak di Kalimantan, tetapi tidak ada hubungan sama sekali, hanya kemiripan nama saja.

Sebagian besar orang Daya adalah pemeluk agama Islam, yang telah sejak lama berkembang di wilayah ini, dibawa oleh pendatang melayu yang juga bermukim di wilayah ini. Pada masa dahulu orang Daya mengamalkan kepercayaan animisme dan dinamisme, yang bertahan lama sampai masuknya agama Islam ke wilayah ini. Saat ini walaupun sebagian besar orang Daya telah memeluk agama Islam, tetapi beberapa dari mereka masih mengamalkan kepercayaan lama mereka berupa kegiatan mistis dan mengandung unsur animisme dan dinamisme.

Mayoritas penduduk suku Daya bermata pencaharian sebagai petani, terutama pada tanaman keras seperti pohon karet dan kopi. Selain itu beberapa dari mereka bekerja sebagai buruh pabrik, buruh pelabuhan, pekerja bangunan.

sumber:
  • melalatoa, j. 1995. ensiklopedi sukubangsa di indonesia. jilid a-k. jakarta: departemen pendidikan dan kebudayaan
  • sabda.org
  • uun-halimah.blogspot.com
  • wikipedia
  • dan sumber lain

Suku Aji

Suku Aji, atau kadang ada yang menyebut sebagai suku Haji, juga sebagai Marga Haji, adalah suatu komunitas masyarakat yang mendiami wilayah di desa Sukarami Aji, yang terletak sekitar ±15 km dari kota Muaradua ibukota kabupaten Ogan Komering Ulu Selatan.serta 4 km dari ibukota kecamatan buay sandang Aji. 

Desa Sukarami merupakan sebuah desa terpenting dalam sejarah suku Aji, karena desa Sukarami dan Kuripan Aji lah yang memelihara barang pusaka Sang Hyang Rakian Sakti (tokoh dalam mitos suku Aji).
Suku Aji, tersebar di sepanjang aliran sungai Selabung, sebuah sungai yang mengalir dari danau Ranau provinsi Sumatra Selatan. Suku Aji tersebar mulai dari provinsi Lampung, provinsi Sumatera Selatan dan provinsi Bengkulu.

Suku Aji dijuluki Raja Adat, Raja Hukum, Raja Basa “Pangeran Sang Aji Malihi adalah Raja Saka Aji Sai (marga Haji) yang mengadakan pepadun tentang bahasa dan adat dengan keempat Buay dari Lampung, Bengkulu dan Jambi yang menjadi wilayah kekuasaannya pada masa dahulu.

Suku Aji, pada umumnya hidup dari bidang pertanian, perkebunan kopi, perkebunan lada dan hasil bersawah. Masyarakat suku Aji sebagian besar adalah petani pribadi, mengolah tanah warisan leluhurnya.

sumber:
  • adityakhenzo.wordpress.com
  • wikipedia
  • dan sumber lain

Suku Abung

pakaian adat
suku Abung
Suku Abung, adalah salah satu suku yang berada di provinsi Lampung. Suku Abung ini berasal dari sekitar Kayuagung dan Mesuji kabupaten Ogan Komering Ilir provinsi Sumatera Selatan. Saat ini suku Abung telah tersebar di sepanjang pantai timur laut provinsi Lampung.

Suku Abung ini hidup di wilayah dataran tinggi, karena itu mereka juga dikenal sebagai masyarakat pegunungan. Dahulu mereka sangat ditakuti oleh suku-suku lain, karena pada masa dahulu mereka memiliki tradisi sebagai pemburu kepala.

Suku Abung terdiri dari 3 suku kecil (klan) yang dibedakan berdasarkan letak geografi dan bahasa yang mereka gunakan.
  • Abung, tinggal di daerah pegunungan yang masih berada di wilayah provinsi Lampung. 
  • Abung Pubian tinggal di bagian timur provinsi Lampung 
  • Abung Paminggir berada di pesisir sepanjang pantai Selatan.\