Showing posts with label Bengkulu. Show all posts
Showing posts with label Bengkulu. Show all posts

Suku Merpas, Lampung

pemukiman suku Merpas
Suku Merpas, adalah salah satu suku yang berada di bawah adat Lampung, yang bermukim di Merpas. Merpas adalah desa di kecamatan Nasal kabupaten Kaur provinsi Bengkulu Indonesia.

Suku Merpas walaupun bermukim di wilayah provinsi Bengkulu, tetapi secara kultural dan adat, mereka lebih berkerabat dengan masyarakat di provinsi Lampung. Adat istiadat yang dijalankan oleh masyarakat suku Merpas adalah termasuk bagian dari adat Lampung. Selain itu Merpas adalah termasuk salah satu dari marga yang ada di Lampung.

Menurut penuturan masyarakat Merpas sendiri, dahulunya mereka memang berasal dari wilayah Lampung. Pada pertengahan abad 17, mereka telah bermigrasi ke wilayah Bengkulu tempat mereka sekarang ini. Wilayah pemukiman suku Merpas ini mereka hidup berdampingan dengan suku lain seperti suku Kaur yang asli penduduk Bengkulu. Walaupun secara kultural dan adat, suku Merpas ini masih berkerabat dengan suku-suku di Lampung, tetapi kebanyakan dari mereka sudah menganggap diri mereka adalah bagian dari masyarakat Bengkulu. Selain itu di antara mereka telah banyak terjadi perkawinan campur dengan suku-suku lain, yang terdapat di wilayah Bengkulu, termasuk dengan para pendatang yang juga bermukim di wilayah tersebut.

suku Merpas
Suku Merpas sendiri berbicara dalam bahasa Merpas, yang mirip dengan bahasa Lampung, tetapi mendapat pengaruh dari bahasa-bahasa di Bengkulu, termasuk mendapat pengaruh dari bahasa Melayu Pesisir..

Masyarakat Merpas, bertahan hidup pada bidang pertanian. Beberapa bergerak pada pertanian padi sawah, maupun ladang. Mereka juga menanam berbagai jenis sayur-sayuran dan buah-buahan, termasuk tanaman keras seperti karet dan kopi.

sumber:
  • foto: kp3k.kkp.go.id
  • foto: seandanan.wordpress.com
  • wikipedia
  • dan sumber lain

Suku Rejang

suku Rejang
Suku Rejang, adalah salah satu suku yang berada di provinsi Bengkulu, tersebar di kabupaten Rejang Lebong, kabupaten Kepahiang, kabupaten Bengkulu Tengah, kabupaten Bengkulu Utara dan kabupaten Lebong.

Asal-usul suku Rejang sendiri tidak diketahui secara pasti, namun suku Rejang ini dikategorikan sebagai Proto Malayo, yang berarti sebagai salah satu suku tertua di Sumatera. Sejarah asal-usul suku Rejang telah terhapus dan hilang atau tidak tercatat, sehingga hanya terdapat beberapa spekulasi sejarah mengenai asal-usul mereka, selain beberapa cerita rakyat yang tidak dapat dibuktika kebenarannya.

rumah Adat suku Rejang
Satu-satunya peninggalan yang masih bertahan sampai sekarang, adalah bahasa Rejang. Bahasa Rejang adalah suatu bahasa yang dianggap unik dan terpelihara sampai sekarang. Selain itu juga Rumah Adat suku Rejang masih bertahan sebagai peninggalan budaya Rejang di masa lalu.

Suku Rejang merupakan masyarakat dengan populasi terbesar di provinsi Bengkulu. Beberapa kebudayaan mereka terpelihara dengan baik, mereka tidak mudah menyerap kebudayaan atau apapun yang berasal dari luar adat-istiadat dan kebiasaan mereka. Oleh karena itu sampai saat ini kebudayaan mereka masih terbilang asli. Sejak zaman dahulu suku Rejang telah memiliki adat-istiadat. Karena mayoritas suku Rejang masih mempertahankan kebudayaan mereka, tidak heran jika hukum adat yang berupa denda dan cuci kampung masih dipertahankan hingga sekarang. Suku Rejang sangat memuliakan harga diri, seperti halnya penjagaan martabat kaum perempuan, penghinaan terhadap para pencuri, dan penyiksaan dan pemberian hukum denda terhadap pelaku zina

Suku Rejang mayoritas adalah penganut agama Islam yang taat. Karena itu beberapa tradisi adat Rejang dipengaruhi oleh ajaran Islam. Kepercayaan adat masa lalu telah berubah menjadi kepercayaan terhadap ajaran agama Islam. Budaya mereka juga identik dengan nuansa Islam. 

gadis-gadis suku Rejang
Bahasa Rejang memiliki beberapa dialek yang menyolok di antara beberapa dialek bahasa Rejang. Dialek Rejang Kepahiang memiliki perbedaan dengan dialek Rejang di kabupaten Rejang Lebong yang dikenal dengan dialek Rejang Curup, dialek Rejang Bengkulu Utara, dialek Rejang Bengkulu Tengah dan dialek Rejang yang penduduknya di wilayah kabupaten Lebong. 

Terdapat 3 dialek dominan pada bahasa Rejang. Dialek tersebut adalah sebagai berikut:
  • Dialek Rejang Kepahiang, mencakup wilayah kabupaten Kepahiang
  • Dialek Rejang Curup, mencakup wilayah kabupaten Rejang Lebong, kabupaten Bengkulu Tengah, dan kabupaten Bengkulu Utara
  • Dialek Rejang Lebong, mencakup wilayah kabupaten Lebong dan wilayah kabupaten Bengkulu Utara yang berdekatan dengan wilayah kabupaten Lebong.
Masyarakat suku Rejang pada umumnya bukanlah termasuk bangsa perantau. Mereka terbiasa hidup bertahan di wilayah mereka sendiri. Tetapi mereka cukup terbuka terhadap pendatang, sehingga wilayah pemukiman mereka banyak dimasuki oleh para pendatang seperti suku Pasemah, Serawai, Minangkabau, Bugis, Batak dan Jawa.

salah satu seni budaya
suku Rejang
Sebagian besar masyarakat suku Rejang ini berprofesi sebagai petani, terutama di ladang dan kebun. Pada masa kini banyak putra-putri suku Rejang telah menempuh pendidikan tinggi seperti ilmu pendidikan keguruan, ilmu kesehatan, ilmu hukum, ilmu ekonomi, sastra, dan lain-lain. Juga banyak yang menekuni profesi sebagai pegawai negeri, pejabat teras, dokter, pegawai swasta, pengacara, polisi, dan berbagai profesi yang memiliki kehormatan menurut masyarakat modern pada era sekarang ini.

sumber:
  • pesona4rejanglebong.blogspot.com 
  • rejang-lebong.blogspot.com 
  • lebong.wordpress.com
  • wikipedia
  • dan sumber lain
foto:
  • m.melayuonline.com
  • skyscrapercity.com
  • rejang-lebong.blogspot.com

Suku Mukomuko

rumah adat suku Mukomuko
Suku Mukomuko, adalah suatu komunitas suku yang pemukimannya berada di bagian paling utara di wilayah provinsi Bengkulu. Daerah pemukiman suku Mukomuko ini di sebelah utara berbatasan dengan provinsi Sumatera Barat dan daerah Kerinci provinsi Jambi. Populasi suku Mukomuko ini diperkirakan telah lebih dari 30.000 orang.

Dahulunya mereka termasuk masyarakat yang terisolasi di pedalaman, tetapi saat ini telah dibangun akses jalan menuju pemukiman mereka, sehingga mereka terlepas dari keterasingan mereka di pedalaman.

Bahasa yang diucapkan oleh suku Mukomuko ini adalah bahasa Mukomuko. Oleh para peneliti bahasa, bahasa Mukomuko ini dianggap sebagai bagian dari dialek bahasa Minangkabau, karena terdapat beberapa kemiripan dengan bahasa Minangkabau. Sebenarnya selain mirip dengan bahasa Minangkabau, bahasa Mukomuko ini juga sangat berkerabat dengan bahasa Rejang, karena hampir 60% mirip dengan bahasa Rejang. Sedangkan terdapatnya dialek Minangkabau pada bahasa Mukomuko ini diperkirakan dialek ini dibawa oleh para pendatang Minangkabau pada masa lalu yang hidup berbaur dengan masyarakat setempat, dan secara tidak langsung membawa pengaruh ke dalam bahasa asli suku Mukomuko ini. Jadi bahasa Mukomuko ini kemungkinan merupakan hasil asimilasi antara bahasa Rejang dengan bahasa Minangkabau serta dengan bahasa Melayu setempat.

Sedangkan adat istiadat dan budaya suku Mukomuko ini juga tidak jauh berbeda dengan budaya suku Rejang, serta memiliki kemiripan dengan budaya suku Serawai dan suku Komering. Selain itu terdapat juga kemiripan dengan budaya suku Minangkabau. Salah satu budaya kesenian mereka yang terkenal adalah kesenian Gandai, yang mirip dengan kesenian Randai dari Sumatra Barat.

Masyarakat suku Mukomuko secara mayoritas adalah pemeluk agama Islam. Terlihat dari beberapa kesenian dan adat-istiadat mereka banyak mengandung unsur budaya Islam yang terserap ke dalam budaya suku Mukomuko.

Sebagian besar kehidupan masyarakat suku Mukomuko ini adalah sebagai petani terutama pada perladangan.

sumber:
  • mukomukokab.bps.go.id
  • rejang-lebong.blogspot.com
  • sabda.org
  • wikipedia
  • dan sumber lain
foto:
  • bengkuluekspress.com

Suku Pekal

Suku Pekal, adalah suatu komunitas suku yang mendiami wilayah kecamatan Ketahun kabupaten Bengkulu Utara provinsi Bengkulu, berada dekat perbatasan Jambi dan Sumatera Selatan. Populasi suku Pekal pada sensus tahun 2000 sebesar 30.000 orang.

Bahasa Pekal, adalah bahasa yang diucapkan oleh suku Pekal. Bahasa ini memiliki beberapa dialek yang mirip dengan dialek bahasa Minangkabau dan bahasa Rejang. Bahasa Pekal termasuk dalam rumpun bahasa Melayu cabang dari rumpun bahasa Austronesia. Suku Pekal sendiri dikelompokkan ke dalam rumpun Melayu, Bahasa Pekal sendiri selain banyak terdapat kemiripan dengan bahasa Minangkabau dan Rejang, terdapat juga banyak kemiripan dengan bahasa Bugis dan bahasa Batak. Tidak diketahui kemiripan tersebut apakah pada masa lalu terdapat hubungan sejarah atau sekedar terjadi penyerapan bahasa saja.

Tradisi dan budaya Pekal ini banyak dipengaruhi oleh dua budaya lain seperti dari budaya Minangkabau dan budaya Rejang. Sepertinya mereka sangat mudah menyerap tradisi dan budaya dari luar, dan menerimanya menjadi bagian dari budaya mereka sendiri. Sehingga saat ini sangat susah mencari akar budaya dari Pekal sendiri. Karena sebagian besar mereka ambil dari tradisi dan budaya dari luar mereka.

Suku Pekal adalah pemeluk Islam secara mayoritas. Beberapa acara adat dan seni budaya mereka juga terlihat unsur Islami. Walaupun mereka telah memeluk Islam, tetapi beberapa kepercayaan terhadap hal-hal animisme dan dinamisme masih terlihat dalam kehidupan masyarakat suku Pekal ini. Mereka mempercayai hal-hal gaib dan tempat-tempat keramat yang konon dapat mempengaruhi kehidupan dan kesehatan mereka.

Masyarakat suku Pekal ini rata-rata hidup dan berprofesi sebagai petani pada perladangan dan perkebunan. Beberapa dari masyarakat suku Pekal juga telah bekerja pada sektor swasta dan sektor pemerintahan. 

sumber:
  • wisatabengkulu.com
  • rejang-lebong.blogspot.com
  • wikipedia
  • dan sumber lain

Suku Lembak

salah satu acara adat
suku Lembak
Suku Lembak, adalah suatu kelompok masyarakat adat yang tersebar di kota Bengkulu, kabupaten Bengkulu Utara, sebagian berada di kabupaten Redjang Lebong terutama di kecamatan Padang Ulak Tanding, Sindang Kelingi, kota Padang dan juga berada di desa Suro Lembak kabupaten Kepahiyang. 

Suku Lembak ini digolongkan sebagai rumpun Melayu, dan secara umum mereka memang tidak jauh berbeda dengan masyarakat melayu, namun terdapat beberapa perbedaan. 

Bahasa yang ducapkan oleh suku Lembak ini agak berbeda dengan masyarakat Bengkulu kota (pesisir), terutama pada pengucapan kata-katanya. Masyarakat suku Lembak berbicara banyak mengucapkan kata-kata yang diakhiri dengan huruf "e", sedangkan masyarakat Bengkulu banyak menggunakan huruf "o".

salah satu gadis
suku Lembak
Masyarakat suku Lembak adalah pemeluk Agama Islam, terlihat dalam beberapa budaya mereka yang bernuansa Islam. Secara adat dan budaya, masyarakat Lembak ini tidak banyak berbeda dengan masyarakat Bengkulu, dimana ada hal-hal yang terdapat dalam masyarakat Bengkulu tidak terdapat dalam masyarakat Lembak begitu juga sebaliknya termasuk didalamnya adat dalam rangkaian upacara perkawinan dan daur hidup lainnya. 
rumah Adat suku Lembak
Pada masa lalu suku Lembak mempunyai sejarah kerajaan yaitu Kerajaan Sungai Hitam dengan rajanya Singaran Pati yang bergelar Aswanda. 

Dalam suatu naskah Melayu, dikatakan bahwa suku Lembak sudah berada di Bengkulu sejak tahun 1400an atau sekitar 6 abad yang lalu. Dilihat dari sejarah dalam banyak karangan, diperkirakan suku Lembak hadir pada gelombang pertama migrasi yang mendiami daerah Bengkulu.

Masyarakat suku Lembak sebagian besar hidup sebagai petani, terutama di ladang dan kebun. Selain itu yang bekerja di sektor swasta dan pemerintahan juga telah banyak dan tersebar di beberapa wilayah di provinsi Bengkulu.

sumber:
  • curupkami.blogspot.com
  • thio08.blogspot.com
  • yayasan-lembak.100webspace.net
  • wikipedia
  • dan sumber lain
foto:
  • permatabangsa.web.id
  • yayasanlembak.com
  • curupkami.blogspot.com

Suku Komering Bengkulu

Suku Komering Bengkulu, adalah suatu masyarakat adat yang berdiam di desa Komering, yang berada di kecamatan Merigi Sakti kabupaten Bengkulu Tengah provinsi Bengkulu Indonesia.

suku Komering Bengkulu
Masyarakat suku Komering ini dahulunya diduga bermigrasi dari wilayah Sumatra Selatan ke wilayah ini sejak beberapa abad yang lalu, atau memang terjadi penyebaran yang luas mencakup Sumatra Selatan, Lampung dan Bengkulu, yang dahulunya belum terbagi dalam beberapa wilayah seperti sekarang ini. Mereka bermukim dan tersebar di beberapa daerah di provinsi Bengkulu. Terkonsentrasi di kecamatan Merigi Sakti kabupaten Bengkulu Tengah. Di wilayah ini mereka berdampingan dengan pemukiman masyarakat suku Serawai dan suku Kaur.

Secara adat dan budaya, orang Komering Bengkulu ini tidaklah berbeda dengan suku Komering di tempat asal mereka di wilayah Sumatra Selatan dan Lampung. Hanya saja di Bengkulu ini, mereka telah masuk dalam kesatuan adat dan marga Bengkulu.

Bahasa yang diucapkan oleh masyarakat Komering di Bengkulu ini, pada dasarnya sama dengan bahasa ibu mereka di Sumatra Selatan, namun setelah sekian lama agak terpengaruh dengan bahasa-bahasa setempat Bengkulu. Walaupun begitu mereka tetap mengakui diri mereka sebagai masyarakat orang Komering yang berasal dari Sumatra Selatan dan Lampung.

Masyarakat Komering di desa Komering Bengkulu ini rata-rata hidup bermata pencaharian sebagai petani, terutama di ladang dan berkebun. Memelihara ternak juga menjadi kegiatan lain mereka untuk menambah penghasilan, seperti memelihara ayam, bebek dan sapi.

diolah dari berbagai sumber

Suku Kaur

salah satu kesenian
suku Kaur
Suku Kaur, adalah suatu kelompok masyarakat yang berada di provinsi Bengkulu, tersebar di beberapa daerah di Bintuhan kecamatan Kaur Selatan, Tanjungiman kecamatan Kaur Tengah, Padangguci kecamatan Kaur Utara dan di pesisir pantai sebelah barat Sumatra.

Wilayah pemukiman suku Kaur berdampingan dengan pemukiman suku Serawai dan suku Pasemah, yang juga telah lama bermukim di wilayah tersebut.

Bahasa yang diucapkan oleh suku Kaur adalah bahasa Kaur, yang digolongkan ke dalam rumpun bahasa Melayu Tengah. Bahasa Kaur sendiri diperkirakan lebih tua daripada bahasa Melayu.

Suatu keunikan yang terdapat pada masyarakat suku Kaur, adalah para wanitanya tidak perduli menyusui bayinya di depan umum, terutama pada masyarakat suku Kaur di desa Gedung Sako Senahak. Rumah pemukiman suku Kaur, saat ini telah terbuat dari batu (semen dan batu bata/bataco) dan beratap seng. Uniknya rumah-rumah suku Kaur ini semuanya diberi warna cat biru dan putih. Perapian biasanya digunakan untuk memasak dan sumur terlihat dihalaman belakang, demikian, juga ayam, bebek dan sapi terlihat berlarian di sekitar tempat itu. "gotong royong" dan pelayanan masyarakat dilakukan di desa ini. Mereka suka memberikan pertolongan kepada siapapun termasuk membantu pada masa panen.

Adat istiadat suku Kaur termasuk adat yang kaku, salah satunya aturan tidak memperbolehkan menikah orang dari suku lain. Tetapi diperbolehkan menikah dengan suku Kaur dari desa lain. Pernikahan hanya bisa terjadi sesudah perayaan Panen Padi. Usia pernikahan umumnya 20 tahun untuk pria dan 15 - 16 tahun untuk perempuan. Jika mempelai laki-laki ingin mempelai perempuannya tinggal bersama keluarga mempelai laki-laki, dia harus membayar keluarga mempelai perempuan sebesar Rp. 50.000, dan jika mempelai laki-laki harus tinggal di rumah mempelai perempuan, orang tua mempelai perempuan hanya diwajibkan memberikan kenang-kenangan kepada pihak laki-laki.

suku Kaur
Mereka termasuk suku yang memiliki banyak keturunan, pada masa lalu rata-rata dalam setiap pernikahan menghasilkan 13 anak dalam tiap keluarga, tetapi saat ini mereka telah memiliki kesadaran, sehingga saat ini paling banyak hanya memiliki 3 anak.

Masyarakat suku Kaur pada umumnya secara mayoritas memeluk agama Islam. Mereka adalah penganut agama Islam yang taat. Sehingga pada beberapa adat kebudayaan mereka dipengaruhi oleh budaya Islam. Generasi muda mereka pada umumnya bersekolah di sekolah Islam (madrasah).

Suku Kaur bermata pencaharian pada tanaman padi sawah. Selain itu mereka juga menanam cengkeh dan ladanya yang sudah terkenal sampai ke daerah lain. Mereka memelihara ternak untuk mendapatkan penghasilan tambahan, menangkap ikan dan berdagang. Laki-laki bekerja di ladang sementara perempuan mengurus rumah tangga. Biasanya, sesudah panen padi, mereka menanam buah-buahan seperti durian dan mangga.

sumber:
  • joshuaproject.net
  • wikipedia
  • dan beberapa sumber lain

Suku Serawai

tari Andun
seni budaya suku Serawai di Bengkulu
Suku Serawai, adalah suatu komunitas suku yang berdiam di kabupaten Bengkulu Selatan, tersebar di kecamatan Sukaraja, Seluma, Talo, Pino, Kelutum, Manna dan Seginim. Suku Serawai selain terpusat di Bengkulu, mereka terdapat juga di beberapa daerah di provinsi Sumatra Selatan.

Suku Serawai memiliki kebiasaan merantau ke daerah lain dengan minat yang sangat tinggi. Banyak dari masyarakat suku Serawai merantau ke daerah lain, mulai dari Sumatra Selatan hingga ke wilayah Lampung.

Asal-usul suku Serawai tidak diketahui secara pasti, karena tidak adanya bukti-bukti sejarah yang tersimpan dalam masyarakat suku Serawai. Beberapa cerita asal-usul suku Serawai diperoleh dari cerita orang-orang tua yang memang masih mengingat cerita asal usul mereka, walaupun sebenarnya cerita asal usul suku Serawai ini masih berbau dongeng. Ada satu tulisan yang ditemukan di makam Leluhur Semidang Empat Dusun yang terletak di Maras, Talo. Tulisan tersebut ditulis di atas kulit kayu dengan menggunakan huruf kuno. Namun sayangnya, para ahli sejarah belum bisa membaca tulisan kuno tersebut.

suku Serawai
Sedangkan istilah "serawai", pun belum jelas artinya, sebagian orang Serawai nya sendiri mengatakan bahwa serawai berarti "satu keluarga". Kalau makna itu benar, maka dapatlah dilihat rasa persaudaraan atau kekerabatan antar sesama suku Serawai sangat kuat (khususnya mereka yang menumpang hidup di komunitas suku bangsa lainnya/merantau).
Sementara itu pendapat lain mengenai arti dari kata Serawai,

  • serawai berasal dari kata sawai, yang berarti cabang, yang mengatakan wilayah pemukiman mereka berasal dari dua cabang sungai, yaitu sungai Musi dan sungai Seluma yang dibatasi oleh bukit Campang;
  • Pendapat lain serawai berasal dari kata seran, yang bermakna celaka. Hal ini berhubungan dengan legenda anak raja dari hulu yang dibuang karena terkena penyakit menular. Anak raja ini dibuang ke sungai dan terdampar di muara, kemudian di situlah anak raja tersebut membangun negeri. 
  • Terakhir kata serawai berasal dari kata selawai yang berarti gadis atau perawan, berdasarkan pada cerita yang mengatakan bahwa suku Serawai adalah keturunan sepasang suami-istri. Sang suami berasal dari Rejang Sabah (penduduk asli pesisir pantai Bengkulu) dan istrinya adalah seorang puteri atau gadis yang berasal dari Lebong. Dalam bahasa Rejang dialek Lebong, puteri atau gadis disebut Selaweie. Kedua suami-isteri ini kemudian beranak-pinak dan mendirikan kerajaan kecil yang oleh orang Lebong dinamakan Selawai.
Suku Serawai berbicara dalam bahasa Serawai, yang termasuk ke dalam rumpun bahasa Melayu Tengah, tetapi lebih tua dari bahasa Melayu nya sendiri
Bahasa Serawai oleh masyarakat Serawai dalam setiap katanya selalu menggunakan kata "au". Bahasa dan adat Serawai ini dipakai oleh masyarakat yang berada di distrik Pino, Ulu Manna, Manna, dan Bengkenang yaitu dalam : Marga Anak Gumai, Marga Tanjung Raya, Marga VII Pucukan, Marga Anak Lubuk Sirih, Marga Anak Dusun Tinggi, Sumbai Besar Manna, Sumbai Kecil Manna dan Luar Khalifah Manna.

Suku Serawai sebenarnya memiliki aksara tulisan sendiri, yang menurut para ahli sejarah disebut dengan nama huruf Rencong. Sedangkan suku Serawai menamakan aksara ini sebagai Surat Ulu. Tata cara dan susunan bunyi huruf pada Surat Ulu hampir sama dengan dengan aksara Kaganga. Jadi pada masa lalu dalam hubungan komunikasi antara para pemimpin suku Serawai dan suku Rejang dapat saling berkomunikasi dengan menggunakan bentuk tulisan ini.

Masyarakat suku Serawai pada umumnya hidup pada sektor pertanian, khususnya perkebunan. Banyak dari mereka berusaha pada bidang tanaman perkebunan pada jenis tanaman keras, seperti cengkeh, kopi, kelapa, dan karet. Selain itu mereka juga mengusahakan tanaman pangan, palawija, hortikultura, dan peternakan untuk kebutuhan hidup. Di luar dari itu beberapa dari mereka memelihara hewan ternak untuk menambah penghasilan.

sumber:
  • word-dialect.blogspot.com
  • budayasukuserawai.blogspot.com
  • wikipedia
  • dan sumber lain
sumber-foto:
  • blog.djarumbeasiswaplus.org
  • ahmadkanedi.com

Suku Tengah Kepungut

Suku Tengah Kepungut, adalah satu komunitas masyarakat adat yang berada di kabupaten Rejang Lebong provinsi Bengkulu. Populasi suku Tengah Kepungut ini diperkirakan sebesar 1642 orang.

Suku Tengah Kepungut ini sebenarnya adalah bagian dari suku Lembak, karena adat-istiadat dan bahasa masyarakat suku Tengah Kepungut ini tidak jauh berbeda dengan adat-istiadat suku Lembak. Selain itu mereka juga tinggal di wilayah kecamatan Padang Ulak Tanding yang memang merupakan pemukiman masyarakat suku Lembak. Secara administratif, karena suku Tengah Kepungut ini berdiam di wilayah Rejang Lebong, maka suku ini sering dimasukkan menjadi bagian dari suku Rejang.

Secara fisik antara masyarakat suku Tengah Kepungut tidak jauh berbeda dengan masyarakat lain di Rejang Lebong, namun dari segi bahasa dan budaya terdapat perbedaan, terutama bahasa yang digunakan berbeda dengan masyarakat lain seperti dengan suku Rejang. 

Secara administratif komunitas adat suku Tengah Kepungut ini dari beberapa versi, suku Tengah Kepungut ini dianggap sebagai bagian dari suku Rejang. Tetapi secara historis, suku Tengah Kepungut ini bukanlah bagian dari masyarakat adat yang berada di wilayah suku Rejang, tetapi berasal dari wilayah Sumatra Selatan yang dahulunya dipindahkan ke Bengkulu pada saat pemerintahan Belanda.
Dari beberapa catatan yang disebutkan bahwa suku Tengah Kepungut ini merupakan bagian dari komunitas adat Marga Lembak Beliti yang merupakan pecahan dari beberapa Petulai (Klan) suku Rejang yang tersebar di daerah Ulu Musi dan Lembak Beliti.  Dari catatan tersebut dikatakan bahwa di wilayah ini terdiri dari 4 luak (suku-suku kecil) seperti suku Lebong, suku Ulu Musi, suku Lembak dan suku Pesisir. 
Sedangkan suku Lembak terbagi lagi menjadi 2 suku kecil, yaitu suku Lembak Beliti dan suku Lembak Tengah Kepungut.

Suku Tengah Kepungut, berargumen bahwa mereka bukan bagian dari pecahan suku bangsa Rejang, tetapi mereka tidak menolak kalau disebut sebagai bagian dari suku Lembak. Karena dari segi bahasa dan budaya mereka sangat berbeda dengan bahasa dan budaya suku Rejang.

Salah satu upacara adat suku Tengah Kepungut ini adalah Sedekah Ayam Kaki Kuning, yang dilaksanakan untuk mendoakan kepada yang ghaib dan roh-roh nenek moyang mereka. Ada juga upacara adat lain seperti Sedekah Ayam Kumbang, yang dilaksanakan sebagai bentuk tanda terima kasih anak cucu dan kepada leluhur mereka.

sumber:
  • word-dialect.blogspot.com
  • masyarakatadat.org
  • wikipedia
  • dan sumber lain

Suku Lintang

Suku Lintang, adalah suatu masyarakat adat yang mendiami kawasan pegunungan Bukit Barisan di provinsi Sumatera Selatan dan wilayah provinsi Bengkulu. Di pemukiman, mereka hidup berdampingan dengan suku Pasemah dan Rejang. Secara rumpun bangsa, mereka diklasifikasikan sebagai bagian dari suku Melayu. Kebanyakan mereka membuat pemukiman di sepanjang sungai Musi.
Di provinsi Sumatra Selatan mereka tinggal di sekitar kota Batulintang yang berada di aliran sungai Musi, Tebingtinggi kabupaten Empat Lawang. Sedangkan di provinsi Bengkulu, pemukiman mereka berada di Gunung Melintang.


Di Indonesia mungkin banyak yang belum mengetahui tentang suku Lintang, Lintang sebenarnya adalah nama dari sebuah sungai yang melintas dari desa Sematu lintang Kanan sampai Air Lintang Jembatan Gunung Meraksa. Sungai ini bernama sungai Lintang, dan masyarakat yang sejak awal telah tinggal pertama kali di wilayah ini lah yang disebut sebagai masyarakat suku Lintang. Asal usul suku Lintang sendiri tidak diketahui secara pasti, sebenarnya ada beberapa cerita rakyat Lintang yang bercerita tentang sejarah asal usul mereka, tetapi dianggap hanyalah sebuah mitos yang belum bisa dibuktikan kebenarannya. Diperkirakan suku Lintang ini berasal dari keturunan beberapa suku yang telah terlebih dahulu berada di wilayah ini. Seperti suku Pasemah, suku Komering dan suku Rejang, dan kemungkinan juga dari keturunan suku bangsa deutro-melayu yang mendarat di wilayah ini pada masa beberapa abad yang lalu.

Masyarakat suku Lintang berbicara dalam bahasa Lintang, yang mana bahasa Lintang ini dikelompokkan ke dalam rumpun bahasa Melayu. Bahasa Lintang ini mirip dengan bahasa Pasemah, Semendo dan bahasa lain seperti bahasa Lampung dan bahasa Bengkulu. 

Masyarakat suku Lintang ini sangat ramah kepada siapapun termasuk kepada para orang asing, dan mereka sangat mematuhi adat-istiadat mereka. Masyarakat suku Lintang secara keseluruhan memeluk agama islam, dan sangat taat sebagai muslim. Di wilayah pemukiman suku Lintang, banyak ditemui mesjid dan pesantren.

Suku Melayu Lintang dalam keseharian hidup dari bidang pertanian, seperti berkebun kopi, bertani sawah, menanam kemiri, pohon karet dan berbagai jenis sayur-sayuran. Selain itu mereka juga memelihara berbagai jenis hewan ternak seperti sapi, kerbau, kambing, ayam, bebek dan lain-lain. Walaupun mereka hidup di sekitar sungai Musi, kehidupan sebagai nelayan ternyata tidak terlalu menarik bagi mereka..

sumber:
  • archive.kaskus.co.id
  • sabda.org
  • forumlintangempatlawang.blogspot.com
  • wikipedia
  • dan sumber lain

Suku Enggano

Suku Enggano, adalah penghuni asli pulau Enggano dan empat pulau di sekitarnya, adalah pulau-pulau di sebelah barat Sumatra, sebagaimana suku Mentawai dan suku Nias, mereka adalah pembawa budaya Proto Malayan.
Berada di pulau sebelah barat Sumatra dan berseberangan dengan kota Bengkulu dan masuk dalam wilayah propinsi Bengkulu.
.

Suku Enggano terdiri dari 5 puak (sub suku), yaitu :
- Kauno
- Kaitora
- Kaohoa
- Kaarubi
- Kaaruba
Kelima puak ini menggunakan bahasa yang sama.


Asal Usul
sedang melakukan upacara adat
Kisah asal usul menurut cerita rakyat enggano secara turun temurun, adalah berasal dari dua orang pertama yang bernama Kimanipe dan Manipah.
Beberapa peneliti beranggapan suku Enggano termasuk ke dalam rumpun Proto Malayan. Menurut sebuah situs yang cukup populer Joshua Project, suku Enggano dikelompokkan ke dalam People Cluster Batak-Nias of Sumatra. Menurut beberapa peneliti justru terjadi kedekatan antara suku Enggano dengan suku Shompen di Nicobar, karena terdapat kesamaan fisik, kebiasaan hidup dan juga dari segi bahasa.
.
Rumah Adat
Yubuaho
(rumah adat Enggano)
Suku enggano mempunyai rumah adat yang bernama Yubuaho. Rumah adat ini bertingkat dua, berbentuk segi delapan, biasanya berada pada puncak bukit untuk memudahkan pengintaian terhadap musuh.
.
Garis Keturunan
Suku enggano menetapkan perempuan sebagai pewaris suku dan sebagai garis keturunan (matrilineal). Nama marga suku diwariskan berdasarkan marga ibu. Suku Enggano menciptakan garis keturunan matrilineal mungkin karena seringnya terjadi peperangan antar suku dan kegiatan dari para lelaki suku ini.
Segala bentuk warisan berupa harta tidak bergerak seperti rumah dan tanah diwariskan kepada anak perempuan, sedangkan anak laki-laki hanya diwariskan peralatan pertanian dan senjata tajam. Tetapi jabatan kepala keluarga dan kepala suku tetap dipegang oleh laki-laki.

Jumlah Penduduk
Pada tahun 1866 jumlah penduduk suku Enggano sebanyak 6.420 jiwa. Tetapi pada tahun 1884 terjadi penurunan drastis, jumlah penduduk hanya 840 jiwa. Pada masa itu wabah penyakit menyerang perkampungan suku Enggano, itulah yang disinyalir penyebab penurunan drastis jumlah penduduk suku Enggano, selain akibat seringnya terjadi peperangan antar suku.

Kelima suku Enggano mengangkat Pabuki sebagai koordinator dari kelima suku. Pabuki merupakan orang yang sangat dihormati dan kata-katanya sangat dipatuhi dan dihormati dalam setiap musyawarah adat.

diolah dari berbagai sumber

baca juga:

- kamus bahasa Enggano