Suku Khmer Krom, Kamboja

Suku Khmer Krom, adalah kelompok masyarakat Khmer di Kamboja yang berasal dari wilayah Delta Mekong, Vietnam Selatan, tepatnya dari Kampuchea Krom Territory, Vietnam. Komunitas ini lebih dikenal dengan sebutan Khmer Krom. Populasi suku Khmer Krom di Kamboja, diperkirakan sebesar 244.000 orang.

pemuda Krom menulis di papan tulis
Courtesy of the Cambodian Center for Human Rights
(minorityvoices)
Di Kamboja. orang Khmer Krom kadang disebut sebagai "Kampuchea Krom," atau "Kamboja Bawah".  Sebagai etnis Khmer, mereka mirip dengan kebanyakan etnis Kamboja.
Suku Khmer Krom memiliki ras "Khmer", tapi mereka merupakan etnis yang agak berbeda dengan kelompok Khmer di Kamboja. Secara sejarah asal usul, budaya, bahasa dan darah adalah warisan mental dan biologis Angkorean pada zaman Kerajaan Khmer sekitar abad 15. Suku Khmer Krom, pemukiman utama mereka berada di wilayah Vietnam, tapi mereka tetap teguh dengan tradisi budaya dan adat istiadatnya. Berbeda dengan suku Khmer Surin di Thailand yang banyak menyerap tradisi budaya Thailand.

Bangsa Khmer terkenal sebagai suku bangsa yang memiliki wilayahnya sendiri di Semenanjung Indochina, yang berada di Thailand, Vietnam dan Laos. Budaya dan tradisi Khmer yang kaya terkenal di seluruh dunia.
Suku Khmer Krom yang berada di Vietnam, adalah kelompok etnis Khmer yang sering mendapat tekanan dari pemerintah Vietnam. Kelompok Khmer Krom ini agak berbeda dengan bangsa Khmer di Kamboja.

Wilayah pemukiman suku Khmer Krom di masa lalu adalah berada di bawah kekuasaan Kerajaan Khmer, sejak abad 9 hingga abad 15. Tapi Kerajaan Khmer dihancurkan oleh Vietnam, dan banyak penduduk Khmer Krom yang melarikan diri ke Kamboja. Orang Khmer Krom mendiami seluruh wilayah Kampuchea Krom meliputi delta Sungai Mekong semua dan sebagian besar wilayah dataran tinggi di sepanjang perbatasan Kamboja. Namun, kebanyakan orang Khmer Krom hidup hanya sepanjang delta Sungai Mekong. Menurut statistik resmi, ada sekitar 8 juta orang Khmer Krom tinggal di sana, tetapi mereka berada di bawah tekanan pemerintah Vietnam dalam menggunakan bahasa mereka.

Pada 1623, Raja Chey Chettha II Kamboja (1.618-1.628) membolehkan pengungsi Khmer Krom dari Vietnam melarikan diri dari perang ketika terjadi perang di Trinh-Nguyễn Vietnam, untuk menetap dan mendirikan sebuah rumah adat di Prey Nokor, Kamboja.

laki-laki Khmer Krom mengangkut air
ke desa Krong Bek
di provinsi Sihanoukville Kamboja
(rfa)
Kehadiran suku Khmer Krom di Kamboja dari Vietnam, memberikan tugas baru bagi pemerintah Kamboja, karena harus segera memberikan kewarganegaraan kepada orang Khmer Krom, di mana mereka mengklaim  bahwa mereka didiskriminasi oleh pemerintah Vietnam, yang telah mengakibatkan marginalisasi mereka. Nasib Krom Khmer di Kamboja rupanya kurang mendapat perhatian dari pemerintah Kamboja, sekian lama mereka menetap di Kamboja, tapi belum mendapat dokumen kewarganegaraan Kamboja sebagai warga negara Kamboja. Sekelompok kecil orang mencoba mencari suaka ke Thailand, tapi mereka justru dideportasi kembali Kamboja. Pengakuan mereka, menyeberangi perbatasan karena pemerintah Kamboja belum memberikan dokumen kewarganegaraan dan mereka takut akan ditangkap dan dideportasi ke Vietnam. Kesulitan praktis dihadapi oleh orang Khmer Krom di Kamboja adalah memperoleh kartu identitas kewarganegaraan Kamboja ("ID Cards / KTP") yang dibutuhkan untuk mendapat hak dan manfaat yang melekat pada kewarganegaraan / kebangsaan seperti pekerjaan, pendidikan, dan hak kepemilikan hak atas tanah. Walaupun orang Khmer Krom telah lama tinggal di Kamboja, tapi mereka lebih sering dianggap sebagai Vietnam dari pada dianggap sebagai Kamboja.

Orang Khmer Krom di Kamboja berdiam di Prey Nop provinsi Sihanoukville Selatan. Mereka hidup sebagai petani, terutama pada tanaman padi di sawah. Tetapi sawah yang mereka kelola bukanlah milik mereka, melainkan disewa, karena sebagian besar dari mereka belum memiliki tanah sendiri. Selain itu di tempat mereka saat ini, mereka juga kesulitan mendapatkan air bersih. Sepertinya kehidupan mereka diabaikan oleh pemerintah setempat. Untuk mendapat air, mereka harus mendatangkan dari tempat lain.
Sebagian kecil dari mereka bekerja sebagai nelayan, sekelompok kecil bermigrasi dan bekerja ke Thailand.

sumber dan referensi:
artikel terkait:

0 comments:

Post a Comment

Silahkan berkomentar di bawah ini, Kami mohon maaf, apabila terdapat kekeliruan atau ada yang tidak sesuai dengan pendapat pembaca, sehubungan dengan sumber-sumber yang kami terima bisa saja memiliki kekeliruan.
Dengan senang hati kami menerima segala kritik maupun saran pembaca, demi peningkatan blog Proto Malayan.
Salam dan terimakasih,