Suku To Routa, Sulawesi

Suku Routa (To Routa), adalah salah satu suku sebagai penghuni pertama daerah Nuha di Luwu Timur provinsi Sulawesi Selatan.

Wilayah Distrik Nuha dulu di bawah pemerintahan Kerajaan Matano yang merupakan bagian dari Kedatuan Luwu (Kerajaan Luwu). Di daerah ini terdapat 3 danau, yaitu danau Matano, danau Mahalona dan danau Towuti. Daerah ini berada di daerah perbukitan dan hutan-hutan yang masih lebat, serta memiliki padang rumput dan rawa-rawa di sekitar pinggir danau Mahalona dan Towuti.

Suku To Routa sejak zaman pra sejarah telah menghuni daerah ini. Suku To Routa banyak menguasai wilayah distrik Nuha ini, bagian timur terutama daerah yang memiliki peleburan batu besi seperti La Mangka (Otuno) di sana kampung Helai banyak dihuni orang-orang yang berasal dari daerah Kendari, Asera, Sanggona datang melebur batu besi di daerah Otuno bersama orang Weula dan juga orang-orang dari Mori datang juga di daerah Otuno, mereka saling berjual beli besi (barter) barang dengan bongkahan besi yang sudah dilebur dari batu dan siap ditempa menjadi parang, alat perang dan perlengkapan lainnya. Kemudian di daerah ini menyusul hadir suku To Karonsi’e, To Kondre, To Taipa, To Kinadu, To Tambe’e, To Lamundre dan To Padoe yang akhirnya menjadi penghuni wilayah ini.

Orang Routa dahulu menguasai daerah Nuha dan bermukim di Otuno, Helai Pekaloa dan Sorowako. Orang Routa memiliki perangai yang keras dan suka berperang. Sehingga apabila ada orang-orang yang datang menangkap ikan di telaga (danau-danau) yang terletak di sebelah Timur Plantsite, akan dibunuh dan ditebas dengan pedang. Rupanya hal ini membuat Mokole Matano sang penguasa wilayah ini marah, sehingga orang Routa diusir dengan paksa, mereka pindah ke sekitar danau Towuti.

Orang Routa yang tinggal di daerah Sorowako sempat bercampur dengan orang Weula, daerah yang dulunya dihuni dan dikuasai orang Routa, dari Singkole kearah Timur sampai Otuno, tepatnya di Tambeha, dahulu tempat ini adalah tempat penyimpanan peti-peti mayat orang Routa yang meninggal dunia. Dahulu mereka adalah penganut animisme, percaya kepada roh-roh di alam, setelah tulang-tulang usianya berbulan-bulan dan bertahun-tahun, kemudian diadakan upacara adat sesuai kebiasaan leluhur dan diantar ke gua-gua batu tempat penyimpanan kerangka dan tulang-tulang. Tempat penyimpanan kerangka dan tulang-tulang ini disebut Tazima oleh sebab itu di gunung-gunung berbatu dan di pinggir danau banyak terdapat Tazima milik orang Routa.

Pada tahun 1921 suku To Routa keluar dari wilayah ini, memutuskan berpisah dengan Mokole Matano dan bergabung dengan kerajaan Konawe (Kendari) karena adanya perbedaan pemahaman setelah pemerintahan Hindia Belanda mulai mengintervensi berbagai etnis di Sulawesi terutama Mokole Matano dan Kerajaan Konawe. Kepergian suku To Routa ini diikuti oleh suku To Lamundre yang juga pergi bergabung dengan Kerajaan Konawe di Kendari.

0 comments:

Post a Comment

Silahkan berkomentar di bawah ini, Kami mohon maaf, apabila terdapat kekeliruan atau ada yang tidak sesuai dengan pendapat pembaca, sehubungan dengan sumber-sumber yang kami terima bisa saja memiliki kekeliruan.
Dengan senang hati kami menerima segala kritik maupun saran pembaca, demi peningkatan blog Proto Malayan.
Salam dan terimakasih,