Suku Tumi, Lampung


Skala Brak
pemukiman awal suku Tumi
Sebelum hadirnya suku bangsa Proto Malayan dan Deutro Malayan di daratan Lampung, yang konon katanya berasal dari daratan Skala Brak (Skala Beghak), yang sekarang terletak di kabupaten Lampung Barat. Ternyata telah ada sekelompok manusia yang hidup di Skala Brak ini. Mereka adalah Suku Tumi.

Kehadiran suku Tumi di Skala Brak ini tidak diketahui dari mana dan sejak kapan. Hanya dugaan, bahwa mereka telah hadir di tempat ini sudah sangat lama, karena telah memiliki pemukiman dan kerajaan. Menurut perkiraan suku Tumi berada di Skala Brak ini telah ada sejak abad 3 atau jauh sebelum masehi.

Suku Tumi ini diduga adalah suatu suku bangsa yang telah memiliki struktur atau bahkan merupakan sebuah kerajaan. Alasan ini diduga kuat karena adanya penemuan batu menhir zaman megalith. Pola hidup suku Tumi ini masih menganut animisme atau dinamisme. Sebagai pemujaan kepada alam yang dianggap punya kekuatan lebih besar dan menguasai hidup manusia, merupakan ritual dan kebiasaan hidup.

Tidak diketahui apakah suku Tumi berubah keyakinan dengan memeluk agama Hindu. Dari penelitian di wilayah tersebut, dari temuan Prasasti Bunuk Liwa yang beraliran Hindu Bhairawa menujuk angka 966 Saka (1074), yang diindikasikan mendapat pengaruh Hindu pada tahun 1074 Masehi. Prasasti ini agak membingungkan, mengingat prasasti ini masih sezaman dengan zaman Sriwijaya yang menganut agama Budha. Dari penemuan prasasti di Skala Brak ini berarti selain Kerajaan Sriwijaya yang Budha ternyata ada juga Kerajaan Hindu yang hadir di Skala Brak ini pada zaman yang sama.

Dari semua hal di atas, tidak diketahui secara pasti apakah Kerajaan Hindu di Skala Brak adalah milik suku Tumi atau bukan. Karena sepertinya suku Tumi telah ada jauh ribuan tahun sebelum adanya Kerajaan Hindu di Skala Brak tersebut. Kemungkinan Kerajaan Hindu tersebut adalah sisa-sisa dari pasukan Rajendra Chola yang sempat membangun Kerajaan dan bertikai dengan Kerajaan Sriwijaya pada masa itu.

Menurut cerita bahwa suku Tumi yang mendiami kawasan Skala Brak menyembah pohon besar yang dianggap sebagai “sesuatu yang menguasai hidup mereka”, berkekuatan Dewa. Pohon itu mereka sebut sebagai pohon Belasa Kepappang. Pohon Belasa Kepappang itu bercabang dua, satu cabang pohon nangka dan satunya pohon kayu sebukau. Getah sebukau konon sangat beracun, bila terkena kulit tubuh akan bisa menjadi luka mengoreng. Cara menyembuhkannya, dioles getah pohon nangka (cabang yang satunya).

Beberapa dugaan mengatakan bahwa suku Tumi ini berasal dari daratan Indochina dari wilayah Burma, yang bermigrasi ke wilayah ini sejak sebelum Masehi. Dugaan lain suku Tumi ini berasal dari wilayah India, yang memiliki ras Weddoid, seperti ras-ras Weddoid seperti suku Kubu di Jambi dan suku Lubu di Sumatra Utara yang juga hadir di daratan pulau Sumatra sebelum hadirnya bangsa-bangsa Proto Malayan.

Sekitar abad 5, dengan berkembangnya suku bangsa lain yang memasuki wilayah Skala Brak, semakin mempersempit ruang gerak suku Tumi, dan diperkirakan suku Tumi ini pun meninggalkan wilayahnya dan tersebar ke beberapa wilayah di Lampung dan Sumatra Selatan. Seiring dengan perjalanan suku Tumi meninggalkan wilayahnya, maka suku Tumi pun membaur dengan etnis lain yang lebih dominan, seperti suku Lampung dan beberapa etnis di Sumatra Selatan. Sehingga adat dan kebudayaan serta bahasa asli suku Tumi pun semakin tidak bisa ditelusuri lagi.

sumber:
  • indonesianspaceresearch.blogspot.com
  • melayuonline.com
  • foto:  rudimarfai.blogspot.com
  • wikipedia
  • dan sumber lain

No comments:

Post a Comment

Silahkan berkomentar di bawah ini, Kami mohon maaf, apabila terdapat kekeliruan atau ada yang tidak sesuai dengan pendapat pembaca, sehubungan dengan sumber-sumber yang kami terima bisa saja memiliki kekeliruan.
Dengan senang hati kami menerima segala kritik maupun saran pembaca, demi peningkatan blog Proto Malayan.
Salam dan terimakasih,