Showing posts with label Sarawak. Show all posts
Showing posts with label Sarawak. Show all posts

Suku Dayak Kayaan

suku dayak Kayaan
Suku Dayak Kayaan, adalah suku dayak yang hidup di dua negara, yaitu Malaysia dan Indonesia. Di Indonesia suku Kayaan, hidup di Kalimantan Barat, sedangkan di Malaysia, mereka hidup di Sarawak.

Suku Kayaan di Malaysia, telah mengalami kemajuan yang sangat jelas, karena di Malaysia orang-orang Kayaan cukup berpengaruh pada segala aspek baik pemerintahan, perdagangan, maupun pendidikan. Mereka jauh lebih maju dari suku Kayaan yang berada di Indonesia. Selain itu seni dan kebudayaan suku ini sering ditampilkan di berbagai event nasional dan internasional. Alat musik yang populer di kalangan suku Dayak Kayaan ini adalah "sape", sejenis alat musik petik, yang apabila dimainkan akan terdengar alunan melodi yang merdu dan sangat menarik.

upacara Adat Dange
Nama Kayaan diyakini berasal dari nama sungai di Kalimantan Timur, oleh karena itu mereka menyebut diri mereka sebagai orang Dayak Kayaan.

Satu hal yang menjadi perdebatan, adalah Ch. F. H. Duman dalam J. U. Lontaan (1975: 49), memasukkan suku Dayak Kayaan ke dalam rumpun Kayan (Apo Kayan), yang terdiri dari: 
  • Uma Pliau 
  • Uma Samuka 
  • Uma Puh 
  • Uma Paku 
  • Uma Bawang 
  • Uma Naving 
  • Uma Lasung 
  • Uma Daru 
  • Uma Juman 
  • Uma Leken 
Yang diambahkan ke kelompok 10 suku kecil di atas, adalah 3 suku kecil lain yang terdapat di kabupaten Kapuas Hulu provinsi Kalimantan Barat, yaitu:
  • Uma’ Aging
  • Uma’ Pagung
  • Uma’ Suling. 
tarian khas
suku Dayak Kayaan
Tetapi yang menjadi perdebatan bagi ke 3 kelompok suku kecil yang berada di kabupaten Kapuas Hulu ini, mereka tidak setuju bila dimasukkan ke dalam kelompok Kayan, mereka lebih suka disebut sebagai kelompok Kayaan. Bagi ke 3 suku kecil ini, penulisan Kayan, tidak menunjukkan kepada diri mereka, mereka tidak merasa sebagai Kayan. Karena mereka adalah Kayaan, bukan Kayan.

Sering menjadi hal yang membingungkan, karena bagi beberapa penulis menyatukan antara kelompok Kayaan dengan kelompok Kayan. Sepintas lalu dari segi nama, memang terlihat mirip, tetapi sebenarnya menurut mereka, bahwa antara kedua kelompok ini adalah kelompok yang berbeda.

Suku Dayak Kayaan di kabupaten Kapuas Hulu provinsi Kalimantan Barat, tersebar di sepanjang sungai Mendalaam. Mereka dikenal sebagai suku Dayak Kayaan Mendalam, yang tersebar di 9 kampung.

Suku Dayak Kayaan, saat ini adalah mayoritas pemeluk agama Kristen, terutama Kristen Katolik, sedangkan sebagian kecil adalah pemeluk Kristen Protestan.

Dalam kehidupan orang Dayak Kayaan terdapat semacam kasta. Kasta yang paling tinggi disebut Hivi (setaraf raja), Panyin (orang biasa) dan Diivan (budak). Kasta ini mirip dengan strata sosial dalam masyarakat Dayak Taman, Dayak Lau' dan Dayak Tamambalo. Tetapi dalam masyarakat Dayak Kayaan, jarang terdengar kezaliman dari strata yang paling tinggi dan berkuasa, kecuali kisah perlakuan kaum Hivi terhadap kaum Diivan yang berlaku sewenang-wenang terutama pada saat kaum Hivi meninggal.

sumber:
  • kebudayaan-dayak.org
  • gambar-foto: blog.djarumbeasiswaplus.org
  • gambar-foto: kebudayaan-dayak.org
  • gambar-foto: moreng178.blogspot.com
  • gambar-foto: jasikacommunity.blogspot.com
  • wikipedia
  • dan sumber lain

Suku Dayak Bemali (Bah Mali)

Suku Bemali atau suku Dayak Bemali, hidup di tengah-tengah kelompok suku Dayak Seping, di sekitar sungai Belaga dan sungai Tinjar, di Sarawak Malaysia.

Suku Dayak Bemali ini termasuk ke dalam rumpun Kajang. Orang Dayak Bemali di wilayah ini berhubungan erat berkerabat dengan orang Dayak Seping, karena diantara mereka banyak terjadi kawin-campur antara suku Dayak Bemali dan suku Dayak Seping, atau antara suku Bemali-suku Seping-suku Kejaman.

Suku Dayak Bemali, dulunya tinggal sebagai komunitas terpisah, namun karena penurunan jumlah penduduk yang sangat cepat dalam populasi mereka, akhirnya mereka memilih untuk hidup bergabung dengan suku Dayak Seping sejak tahun 1956.

Pada pemukiman Rumah Panjang Tunggal pada Koyan Panjang. Jumlah mereka sangat kecil, dan karena mereka adalah suatu kelompok masyarakat adat dari keturunan kawin-campur yang melibatkan mitra suku Dayak Seping, belum dapat dikatakan mereka sebagai bagian dari suku Seping.

diiolah dari beberapa sumber

Suku Dayak Seping

suku Dayak Seping
Suku Dayak Seping, adalah suatu komunitas masyarakat adat yang berada di sekitar sungai Belaga dan sungai Tinjar, di wilayah Sarawak Malaysia.

Suku Dayak Seping ini adalah suatu kelompok minoritas dari beberapa suku-suku kecil, yang bertahan dari kelompok masyarakat yang lebih besar (mayoritas). Mereka tetap menjaga identitas budaya dan bahasa mereka agar tetap utuh.

Suku Dayak Seping, mengklaim bahwa mereka sebagai kelompok pertama yang menempati kawasan sungai Belaga yang telah meninggalkan jejak mereka pada lanskap sebagai bukti keberadaan mereka. Pada awalnya mereka tinggal di suatu Rumah Panjang, kira-kira tahun 1956. Rumah Panjang suku Dayak Seping dihuni oleh 16 rumah tangga di daerah Koyan panjang, di sekitar sungai Belaga. Pada awal tahun 1960 sebagian besar dari penduduk suku Dayak Seping bermigrasi ke sungai Tinjar di distrik Baram. Sedangkan 4 rumah tangga bertahan di Koyan Panjang. Setelah hampir 20 tahun tinggal di Tinjar, sebagian kembali ke tanah air leluhur mereka di sungai Belaga.
Saat ini, suku Dayak Seping yang terdiri dari pemukiman Rumah Panjang. Hidup dengan 28 rumah tangga dengan jumlah penduduk sebesar 205 orang.
Di wilayah mereka ini juga terdapat suatu komunitas lain yang mengaku sebagai orang orang Dayak Bemali (Bah Mali) yang termasuk ke dalam kelompok rumpun Kajang. Orang Dayak Bemali ini adalah sebuah kelompok budaya dan bahasa yang masih berhubungan dengan orang Dayak Seping, tetapi dalam kenyataannya mereka keturunan dari perkawinan campuran antara Bemali dan Seping, atau Bemali-Seping-Kejaman.

tradisi adat suku Dayak Seping
Menurut sebuah narasi lisan oleh seorang penatua suku Dayak Seping, Lian Beng, bahwa orang Seping adalah pemukim asli dari sungai Belaga. Awalnya mereka terdiri dari 7 rumah panjang: dua di Segiam Long, dan masing-masing di Seduk Long Tegelem Long, Semakat Long, Belaan Panjang (dalam koyan, anak sungai Belaga) dan Long LGA. Dahulu kala, sebuah peristiwa supranatural terjadi, mereka membunuh naga dan dimasak. Karena itu, 7 rumah panjang berubah menjadi batu atau tersapu hilir dengan banjir raksasa. Semua orang meninggal, kecuali 2 orang bersaudara yang selamat. Dua orang bersaudara ini lari menaiki Penyuan, anak sungai kiri-bank sebenarnya dari sungai Belaga. Setelah bertahun-tahun jelajah hutan, mereka menjadi orang dewasa, dan hidup sebagai suami-istri, memiliki banyak keturunan dan menghidupkan kembali sebuah komunitas baru suku Dayak Seping. Mereka tinggal selama bertahun-tahun di sepanjang sungai Seping, anak sungai dari Belepeh yang merupakan anak sungai yang mengalir ke Murum Balui tersebut. Setelah tinggal di sungai Seping, masyarakat suku Dayak Seping, pindah dan kembali ke tanah air asli mereka di sungai Belaga. Perjalanan kembali mereka dipimpin oleh Lakui sebagai pemimpin mereka. Mereka menduduki kembali sungai Belaga sebagai satu komunitas pada Rumah Panjang.


sumber:
  • dayakwithgoldenhair.wordpress.com
  • facebook.com
  • gambar-foto: belagahomestaysarawak.com
  • gambar-foto: mpkotamarudu.my
  • wikipedia
  • dan sumber lain

Rumpun Dayak Punan

Rumpun Dayak Punan, adalah beberapa kelompok suku dayak yang sebagian besar masih mempertahankan hidup seperti yang dilakukan oleh nenek moyang mereka, yaitu hidup secara terasing dan primitif. Beberapa dari komunitas suku kecil Dayak Punan kian tahun kian menurun cenderung menuju kepunahan. Walau telah hidup berabad-abad, mereka tetap tak berubah dengan pola adat-istiadat dari leluhur yang mereka percaya. Beberapa kelompok suku dayak dari rumpun Dayak Punan, telah ada yang hidup lebih baik dan bisa berbaur dengan kelompok masyarakat dayak lainnya. Suku-suku dayak yang termasuk dalam Rumpun Dayak Punan tersebar mulai dari Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur hingga ke wilayah Malaysia, yaitu di Sabah dan Sarawak.

Rumpun Punan, adalah:
  • Punan Busang
  • Punan Penihing (Punan Aoheng)
  • Punan Batu
  • Punan Sajau
  • Punan Hovongan
  • Punan Uheng Kereho (Ot Nyawong) 
  • Punan Seputan (Dayak Seputan)
  • Punan Aput
  • Punan Merap
  • Punan Tubu
  • Punan Bukat (Dayak Bukat)
  • Punan Habongkot
  • Punan Panyawung (Ot Penyaung)
  • Punan Malinau
  • Punan Binai
  • Punan Mahkam
  • Punan Murung
  • Punan Merah (Ot Siau), 
  • Punan Serata
  • Punan Langasa
  • Punan Nya'an
  • Punan Ukit (Dayak Bukitan, Dayak Beketan)
  • Punan Lisum
  • Punan Kelay-Segah  
  • Punan Bah
  • Punan Batu 1
  • Punan Belahun (Punan Berun) 
  • Punan Lejuh
  • Punan Sama
  • Punan Biau
  • Punan Meluyou
  • Punan Lirung Belang
  • Punan Mina
  • Punan Pedan
  • Punan Lo'o Buong
  • Penan

gambar-foto: 
  • foto by: vivaborneo.blogspot.com

Suku Dayak Punan Bah

suku Dayak Punan Bah
Suku Dayak Punan Bah (Punan Bah-Biau), adalah suatu komunias suku dayak yang disebut sebagai "Punan", yang bermukim di wilayah Malaysia, tepatnya di Sarawak. Uniknya walau mereka disebut sebagai "Punan", tetapi mereka berbeda dengan kelompok suku-suku Dayak Punan lain yang berada di Kalimantan Indonesia.

Di Sarawak Malaysia, suku Dayak Punan Bah, memiliki sebutan lain, yaitu orang Mikuang Bungulan dan orang Aveang Buan. Suku Dayak Punan Bah bukanlah suku pengembara (nomaden) seperti suku-suku Punan lainnya.

Bahasa Punan Bah berbicara dalam bahasa Punan Bah-Biau, salah satu bahasa dari kelompok bahasa Rejang-Sajau. Bahasa ini agak dekat dengan bahasa Dayak Sekapan dan Dayak Kejaman.

Di Sarawak Malaysia, orang Punan Bah kadang disangka mereka sama dengan suku Dayak Penan. Kadang-kadang juga mereka dikelompokkan bersama suku Dayak Kajang dan Orang Ulu. Sebenarnya adalah suku Dayak Punan Bah tidak berhubungan sama sekali dengan suku Dayak Penan, ataupun dengan suku Dayak Kajang dan Orang Ulu.

salah satu acara adat
suku Dayak Punan Bah
Suku Dayak Punan Bah, pada masa dahulu menganut sejenis agama animisme, yang mereka sebut "Besavik". Beberapa abad yang lalu seorang perantau dari suku Dayak Kenyah, bernama Jok Apui, membawa ajaran baru bagi mereka, yaitu agama tradisional suku dayak di Kalimantan, yaitu agama Bungan dibawa oleh Jok Apui, seorang Kenyah dari Kalimantan. Memasuki era 1990-an, banyak masyarakat suku Dayak Punan Bah yang pindah ke agama Kristen, yang dibawa oleh para misionaris Belanda. Agama Kristen bagi masyarakat suku Dayak Punan Bah, membawa hal positif, karena mereka menjadi lebih berpendidikan, dari kehidupan sebelumnya. Pada tahun 2006, hampir setengah dari orang Punan Bah memeluk agama Kristen. Saat ini hanya tinggal para orang-tua yang masih mengamalkan agama Bungan.

Masyarakat suku Dayak Punan Bah memiliki tradisi penguburan yang unik. Apabila ada anggota masyarakat yang meninggal, mereka tidak langsung melakukan penguburan. Tetapi mereka membangun tiang kelirieng yang setinggi 50 meter. Mayat disimpan di Rumah Panjang antara 3 sampai 7 hari. Setelah itu baru penguburan dilakukan. Hal ini dilakukan untuk memberikan waktu lebih banyak bagi kerabat jauh untuk memberikan penghormatan terakhir kepada almarhum.

Suku Dayak Punan Bah ini hidup pada bidang pertanian seperti berladang di atas bukit, dengan menanam padi sebagai tanaman utama, serta beberapa tanaman tropis, seperti maniok, talas, tebu dan tembakau. Kehidupan hutan juga mereka jalani seperti berburu babi liar, memancing dan mengumpulkan sumber daya hutan sebagai kegiatan penting lain dalam memenuhi ekonomi mereka.

sumber:
  • joshuaproject.net
  • et.bestpicturesof.com
  • wikipedia
  • dan sumber lain

Suku Dayak Punan

laki-laki dayak Punan
Suku Dayak Punan, adalah satu dari banyak suku dayak yang tersebar di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur. Dayak Punan juga ada di Sabah Malaysia dan Serawak Malaysia.
Populasi suku Dayak Punan diperkirakan sebesar 8.956 orang, dan terbesar di Kalimantan Timur. 

Suku Dayak Punan tersebar pada 77 kampung atau lokasi pemukiman. Suku Dayak Punan memiliki 14 sub-suku yang dikelompokkan dalam rumpun Punan, beberapa diantaranya adalah Punan Hovongan, Punan Uheng Kereho dan Punan Kelay. Beberapa dari komunitas suku kecil Punan kian tahun kian menurun bahkan dikhawatirkan cenderung menuju kepunahan. Walau telah hidup berabad-abad, mereka tetap tak berubah dengan pola adat-istiadat dari leluhur mereka yang dipercayai.

gadis dayak Punan
Menurut cerita yang tersimpan pada cerita turun temurun, leluhur suku Dayak Punan datang dari sebuah negeri yang bernama "Yunnan", sebuah daerah dari datara tinggi di Cina bagian Selatan. Mereka berasal dari suatu komunitas yang konon adalah keluarga salah satu kerajaan Cina yang kalah berperang dan kemudian menghindar bersama perahu-perahu, dalam perjalanan mereka terdampar di tanah Pulau Kalimantan. Di tempat baru ini mereka merasa cocok dan aman, dan mereka pun menetap hingga kini.

Suku Dayak Punan, lebih memilih hidup di hutan pedalaman, bahkan di goa-goa, walaupun mereka sebenarnya bukanlah suku primitif tetapi lebih memilih untuk hidup seperti cara hidup leluhur mereka. Mereka selalu berpindah pindah dari satu tempat ke lain tempat dan terus menghindar dari kelompok manusia lain, karena menurut mereka ini adalah keinginan para leluhur, untuk menghindar dari orang-orang asing. Apabila ada yang meninggal di antara mereka, setelah upacara penguburan, biasanya mereka serentak akan pindah ke daerah lain. Mereka percaya kalau roh dari orang yang meninggal akan gentayangan yang akan membuat mereka tak merasa tenteram. Masyarakat Dayak Punan ini disebut juga bangsa nomaden (pengembara) yang hidup dalam satu kelompok tanpa berpisah-pisah.

Di hulu Barito terdapat 3 desa yang dianggap sebagai perkampungan orang Dayak Punan, yaitu Tumbang Karamu, Tumbang Tunjang dan Tumbang Topus. Penduduk ketiga desa ini mengaku sebagai keturunan orang Punan, dan mereka menyebut diri mereka sebagai orang Dayak Punan. Tetapi masyarakat yang berada di desa Tumbang Topus, diperkirakan sudah tidak asli lagi sebagai orang Dayak Punan, karena telah terjadi kawin-campur antara orang Dayak Punan dan orang Dayak Siang-Murung, Dayak Bahau, Dayak Benuaq dan Dayak Ot Danum atau Dayak Kahayan. Lagipula beberapa kesenian budaya serta ritual kematian yang dilaksanakan oleh masyarakat Punan di desa Tumbang Topus ini, adalah cenderung mengikuti tradisi budaya Dayak Ot Danum atau Dayak Siang Murung.

tatapan tajam dari dayak Punan
Makanan mereka adalah makanan yang masih mentah seperti sayur sayuran hutan yang berasal dari pohon nibung atau banding (teras dala), daun pakis, atau labu hutan yang mudah didapat di hutan. Makanan utama mereka adalah umbi dan umbut umbutan hutan, ditambah dengan daging buruan yang mereka temukan. Untuk daging inipun jarang mereka masak. Jika ada binatang buruan yang didapat mereka lebih suka menjemur daging-daging tersebut di matahari panas sehingga menjadi daging asinan atau dendeng.

Suku Dayak Punan pada masa lalu sangat ditakuti oleh suku dayak lainnya karena sangat handal dalam bertarung dan berperang. Mereka adalah head hunter atau pemburu kepala atau kayau. Termasuk dalam kategori suku kanibal karena mempunyai kebiasaan memenggal, memakan hati dan isi perut lawannya adalah hal yang lumrah mereka lakukan. Mereka juga punya kebiasaan memakan bagian punggung sebelah kanan musuhnya yang tewas dalam perang karena bagian tubuh itulah yang diyakini paling enak dimakan.

Mereka selalu waspada dan siap berkelahi dengan siapapun, termasuk binatang-binatang buas di dalam hutan. Tradisi siap tempur ini diwarisi sejak zaman nenek moyang mereka. Hebatnya, mereka memiliki keahlian bela-diri yang sangat tangguh dan berbeda dengan ilmu bela-diri secara umum yang ada di masyarakat. Mungkin ilmu bela-diri yang mereka miliki adalah bekal yang mereka bawa dari daratan Cina tempat asal-usul leluhur mereka.

Sebenarnya ada beberapa masyarakat dayak yang memiliki nama Punan, yang tersebar di Kalimantan maupun di Malaysia. Tetapi anehnya, walaupun bernama suku sama, di antara mereka semua tidak memiliki hubungan kerabat sama sekali.

Saat ini terdapat lebih dari 20 suku Dayak Punan yang berbeda etnis (tidak berhubungan satu sama lain) yang ditemukan di pulau Kalimantan yang disebut sebagai suku Dayak Punan.
Suku-suku Punan adalah;
  • Punan Busang
  • Punan Penihing (Punan Aoheng)
  • Punan Batu
  • Punan Sajau
  • Punan Hovongan
  • Punan Uheng Kereho (Ot Nyawong)
  • Punan Seputan (Dayak Seputan)
  • Punan Aput
  • Punan Merap
  • Punan Tubu
  • Punan Bukat (Dayak Bukat)
  • Punan Habongkot
  • Punan Panyawung (Ot Penyaung)
  • Punan Malinau
  • Punan Binai
  • Punan Mahkam
  • Punan Murung
  • Punan Merah (Ot Siau), 
  • Punan Serata, 
  • Punan Langasa, 
  • Punan Nya'an
  • Punan Ukit (Dayak Bukitan, Dayak Beketan)
  • Punan Lisum
  • Punan Kelay-Segah  
  • Punan Bah
  • Punan Batu 1
  • Punan Belahun (Punan Berun) 
  • Punan Lejuh
  • Penan
Di Sarawak Malaysia terdapat suku Dayak Punan Bah dan suku Dayak Penan, tetapi tidak memiliki hubungan sama sekali dengan suku-suku Punan lainnya. Di Malaysia, suku Dayak Punan dikelompokkan di bawah rumpun Dayak Kajang bersama dengan Dayak Sekapan, Dayak Kejaman, Dayak Lahanan dan Dayak Sihan. Selain itu suku Dayak Punan di Malaysia, sering dianggap bagian dari orang Dayak Ulu seperti suku Dayak Kayan dan Dayak Kenyah.

perempuan dayak Punan
Suku Dayak Punan diyakini adalah salah satu suku yang paling awal menetap di bagian tengah pulau Kalimantan, sungai Rajang dan daerah Balui bersama dengan Dayak Sekapan, Dayak Kejaman dan Dayak Lahanan. Tidak lama setelah kedatangan suku Dayak Punan, diikuti oleh migrasi massa dari bangsa suku bangsa Kayan, kemudian diikuti oleh suku bangsa Iban menduduki daerah Rejang dan Balui sekitar 2000 tahun yang lalu. Kehadiran 2 suku bangsa pendatang baru ini memaksa masyarakat Punan mundur ke Kakus dan kemudian terdesak lagi lebih ke pedalaman.

Pada tahun 2006, ditemukan lebih dari 10 etnis Punan lagi serta pemukiman Dayak Punan dalam bentuk Rumah Panjang, yang ditemukan di sepanjang daerah Rejang, Kakus, Kemena dan Jelalong sungai, yang dihuni beberapa etnis suku Punan.
Pemukiman-pemukiman Lovuk (kampung) Rumah Panjang beberapa suku Dayak Punan adalah:
  • Punan Lovuk Sama
  • Punan Lovuk Bah
  • Punan Lovuk Biau
  • Punan Lovuk Meluyou
  • Punan Lovuk Lirung Belang, (pada suku Punan ini, rumah panjang dulu disebut sebagai Rumah Bilong, sekarang disebut Rumah Ado)
  • Punan Lovuk Mina
  • Punan Lovuk Pedan (Rumah Nyipa Tingang)
  • Punan Lo'o Buong (Jelalong atau Rumah Adi)
Jumlah suku Dayak Punan di Sarawak Malaysia diperkirakan sekitar 3000 - 5000 orang.

Kehidupan mereka sehari-hari adalah tergantung apa yang diberikan alam hutan kepada mereka setiap harinya. Hutan adalah rumah dan hidup mereka. Tanpa hutan, maka mereka akan kesusahan dalam melanjutkan hidup mereka. Mereka bisa juga berhubungan dagang dengan masyarakat lain, tetapi semua barang dagangan hanya ditukar secara barter (pertukaran). Mereka menawarkan barang barteran seperti rotan, damar, kayu gaharu dan sarang burung walet. Barang akan dibarter dengan garam, gula, tembakau atau rokok, kadang dengan kain.

sumber:
  • forum.kompas.com
  • findarticles.com
  • benuadayak.blogspot.com
  • gambar-foto: speleo.fr
  • gambar-foto: pacifislandtravel.com
  • gambar-foto: bharatanews.com
  • wikipedia
  • dan sumber lain

Suku Dayak Sikukng

orang Sikukng
Suku Dayak Sikukng (Sungkung), adalah suku dayak yang bermukim di dataran tinggi puncak bukit dan dataran tinggi gunung Sungkung di perbatasan Sarawak Malaysia dengan Kalimantan Barat Indonesia. Pemukiman suku Dayak Sikukng di kabupaten Bengkayang, disebut Sungkung Kompleks, terdiri dari 6 kampung, yaitu kampung Sungkung Senoleng, Sungkung Akit, Sungkung Lu’u, Sungkung Medeng, Sungkung Senebeh dan Sungkung Daun. Sedangkan yang berada di kabupaten Sanggau tersebar di 2 kampung yaitu kampung Pol dan kampung Senutul. Populasi suku Dayak Sikukng diperkirakan sebesar 2.500 orang.

Istilah Sikukng (Sungkung), berart "bulatan rotan untuk anting-anting", yang berasal dari bahasa Cina Kek yang berarti ‘bulatan rotan’ untuk anting-anting. Suku Dayak Sikukng, menyebut diri mereka sebagai Sikukng, sedangkan suku-suku dayak tetangga mereka menyebut mereka sebagai Sihkoy, sedangkan menurut etnis lain di luar wilayah mereka menyebut mereka sebagai Sungkung.
Bahasa Dayak Sikukng adalah bahasa yang diucapkan di perkampungan Sikukng. Bahasa ini termasuk ke dalam rumpun bahasa Bidayuhik, sedangkan suku Dayak Sikukng, menurut para peneliti dimasukkan ke dalam rumpun suku Dayak Bidayuh.

Asal usul suku Dayak Sikukng, menurut mereka memang mereka berasal dari tempat mereka berada saat ini, yaitu wilayah Sungkung. Dari wilayah inilah mereka menyebar ke berbagai perkampungan hingga sampai ke wilayah Sarawak Malaysia. Menurut penuturan mereka, sebelum berada di wilayah Sungkung sekarang ini, dulu mereka dikenal sebagai suku Bi Sikuk, sebenarnya dulu mereka tinggal di daerah pantai, dan hidup berdampingan dengan suku Dayak Melanau. Tetapi setelah lama menetap di daerah pantai, mereka di serang oleh orang Lanun (bajak laut), kelompok dari orang-orang Iban dan orang-orang Melayu Brunai. Tidak tahan dan tidak kuat bertahan dari serangan bajak laut (lanun), mereka terdesak masuk ke dalam hutan dan mencari tempat baru di daerah pegunungan yang sukar dilalui oleh manusia. Di wilayah baru ini, mereka membangun perkampungan, yang sekarang bernama Sungkung Kompleks yang sekarang berada dalam wilayah kabupaten Bengkayang, dari tempat ini beberapa kelompok meneruskan perjalanan menuju wilayah kabupaten Sanggau dan sampai ke wilayah Sarawak Malaysia.
Walaupun mereka tersebar di beberapa kabupaten hingga ke Malaysia, tetapi adat istiadat dan bahasa yang diucapkan tidak jauh berbeda, hanya terjadi perubahan konsonan bunyi vokal saja.

Saat ini suku Dayak Sikukng adalah penganut agama Kristen Katolik, sebagian besar meninggalkan agama adat dan tradisi adat lama mereka yang masih berhubungan dengan dunia mistis dan dunia roh.

Suku Dayak Sikukng, menjalani pola hidup pada pertanian berladang. Mereka menanami gunung-gunung dengan tanaman padi ladang. Menanam padi bagi mereka adalah sebuah ritual, yang mereka namakan sebagai ritual tanong. Untuk melakukan ritual tanong, cukup oleh pihak keluarga yang ingin melaksanakan ritual tersebut, jadi tidak harus bersama-sama dengan seluruh warga kampung. Apabila panen telah selesai, maka mereka akan mengundang seluruh warga kampung dan merayakan keberhasilan panen dengan mengadakan pesta Nyobekng. Pesta nyobekng ini diikuti oleh seluruh kampung. Tua muda bergembira dan menari bersama sebagai perwujudan rasa syukur kepada Tuhan, karena telah memberikan hasil panen padi yang bagus.
Selain bertani berladang, mereka juga memanfaatkan hutan untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka, seperti berburu dan mengumpulkan hasil hutan.

sumber:

  • entikong.web.id
  • kebudayaan-dayak.org
  • ichrdd.ca
  • m.thejakartapost.com
  • wikipedia
  • dan sumber lain