Suku Hatuhaha, Maluku

masyarakat Hatuhaha
Suku Hatuhaha, adalah suku yang berdiam di pulau Haruku yang berada di kecamatan pulau Haruku kabupaten Maluku Tengah provinsi Maluku. Populasi suku Hatuhaha diperkirakan sebesar 16.000 orang.

Suku Hatuhaha tersebar di 5 desa, yaitu desa Kailolo (Aman Hatu Amen), Pelau (Aman Hatu Sina), Hulaliu (Aman Hatu Alasi), Rohomoni (Aman Hatu Waela), Kabauw (Aman Hatu Hutui). Desa Pelaw sebagai ibukota kecamatan pulau Haruku.

Pulau Haruku memiliki masyarakat yang religius. Dari seluruh desa tersebut, 4 desa memeluk agama Islam, yakni desa Pelaw, Rohomoni, Kabauw dan Kailolo. Sedangkan 6 desa lain, yaitu Hulaliu, Haruku, Sameth, Oma, Wassu, Aboru, dan Kariuw memeluk agama Kristen. Meskipun demikian masih tampak sisa-sisa kepercayaan asli atau agama suku.
Agama Islam masuk ke dalam masyarakat Haruku, pada tahun 1385, agama Islam dibawa masuk oleh Datuk Maulana atau Pandita Pasai. Masyarakat Hatuhaha mulai beralih memeluk Islam, meski kepercayaan asli belum ditinggalkan. Oleh karena itu Islam di masyarakat Hatuhaha, masih kental dengan pengaruh kepercayaan animisme dan dinamisme.
Pada abad 15, Portugis masuk ke wilayah Hatuhaha, dan memperkenalkan agama Kristen Katolik kepada masyarakat Hatuhaha, dan sebagian masyarakat suku Hatuhaha memeluk agama Kristen Katolik. Terutama masyarakat suku Hatuhaha di desa Haluliu, yang kemudian dengan bantuan Portugis, mereka membangun sebuah gereja bernama Santo Theo di wilayah negeri Hulaliu sampai sekarang.

Ada suatu tradisi yang menonjol dalam masyarakat suku Hatuhaha ini, yaitu tradisi budaya "pela gandong", yaitu "sumpah persaudaraan yang diikrarkan dengan meminum darah antar desa". Tradisi ini merupakan tradisi yang  merupakan warisan nenek moyang mereka.

pemukiman di Pelaw
Orang Hatuhaha, bertahan hidup pada berbagai bidang profesi, tapi yang utama adalah bertani. Orang Hatuhaa yang menempati daerah pesisir biasanya menjadi nelayan penangkap ikan. Selain itu ada juga yang menjadi pedagang musiman dan juga sebagai pegawai negeri.
Kegiatan utama pertanian mereka adalah pada tanaman cengkeh, pala dan kelapa yang merupakan harapan perekonomian yang diandalkan oleh masyarakat setempat. Selain itu tanaman sagu dan umbi-umbian serta sayur-sayuran juga menjadi tanaman penting bagi mereka. Hasil dari pertanian diutamakan untuk memenuhi kebutuhan keluarga dulu, apabila hasil melimpah, maka akan dijual di pasar lokal, juga ke pusat pasar di kota Ambon dan antar pulau.

Ada hal yang membanggakan bagi masyarakat Hatuhaha, yaitu dengan tampilnya putra asli Hatuhaha yang berhasil menjadi gubernur Maluku serta memiliki posisi penting dalam jajaran Tentara Nasional Indonesia (TNI). Daerah pemukiman suku Hatuhaha bisa dikatakan sudah mengalami peningkatan, karena tersedianya sarana tranportasi menuju ke wilayah ini, yaitu kendaraan laut antar-pulau seperti perahu motor, speedboat, dan kendaraan darat antar desa yang satu dengan desa yang lain. Selain itu sarana pendidikan juga terbilang memadai dengan adanya SD, SLTP dan SMU. Listrik juga menjadi pelengkap yang menerangi kota Pelau sebagai ibukota kecamatan di pulau Haruku.

sumber:
sumber lain dan foto:

  • veengle.com
  • jongpelauw.blogspot.com

1 comment:

Silahkan berkomentar di bawah ini, Kami mohon maaf, apabila terdapat kekeliruan atau ada yang tidak sesuai dengan pendapat pembaca, sehubungan dengan sumber-sumber yang kami terima bisa saja memiliki kekeliruan.
Dengan senang hati kami menerima segala kritik maupun saran pembaca, demi peningkatan blog Proto Malayan.
Salam dan terimakasih,