Suku Suwawa, Sulawesi

suku Suwawa
pic: dotgorontalo.blogdetik.com
Suku Suwawa (Bonda), adalah suatu kelompok masyarakat yang hidup di kabupaten Bone Bolango provinsi Gorontalo. Populasi suku Suwawa diperkirakan mencapai lebih dari 4.000 orang.

Suku Suwawa, memiliki bahasa sendiri yang disebut bahasa Suwawa, yang disebut juga sebagai bahasa Bonda atau bahasa Bune. Bahasa Suwawa di Gorontalo dianggap sebagai bagian dari dialek dari bahasa Gorontalo, tapi apabila diperhatikan bahasa Suwawa berbeda dengan bahasa Gorontalo.

Bahasa Suwawa saat ini mengalami krisis diambang kepunahan, dikarenakan generasi muda suku Suwawa sepertinya mulai enggan berbicara dalam bahasa Suwawa. Masyarakat suku Suwawa lebih suka berbicara dalam bahasa Gorontalo atau bahasa Manado.
Muncul anggapan di kalangan orang Suwawa, bahwa bahasa Suwawa adalah bahasa yang kurang menarik. Menurut penuturan beberapa masyarakat suku Suwawa, mereka sering dipandang rendah karena bahasanya. Sebenarnya bahasa Suwawa adalah bahasa yang menarik, karena unik dalam cara dan intonasi dalam pengucapannya. Bahasa Suwawa berbicara dengan menggunakan nada-nada tertentu, dan tentunya bahasa ini menjadi suatu bahasa yang unik dan menarik.
Beberapa desa di Suwawa terutama yang bagian timur, masyarakatnya masih berbicara menggunakan bahasa Suwawa.


Asal usul suku Suwawa tidak diketahui secara pasti berasal dari mana. Ada beberapa cerita rakyat yang bercerita tentang masa lalu suku Suwawa, namun tidak menjelaskan tentang asal-usul suku Suwawa. Tapi menurut anggapan bahwa suku Suwawa adalah suku tertua di tanah Gorontalo.

Dari cerita rakyat, menceritakan sedikit tentang nenek moyang orang di tanah Gorontalo, disebutkan suku Suwawa sebagai Tiyombu (nenek moyang) dalam U Duluwo Limo Lo Pohalaa dan sejarah persebaran bangsa Witohiya dan Pidodotiya yang merupakan nenek moyang suku-suku di Gorontalo sampai ke Sulawesi Tengah. Bahasa Suwawa memiliki banyak kesamaan dengan bahasa Mongondow, menurut kisah, bahwa kedua daerah ini dahulunya diperintah oleh dua orang bersaudara, Raja Pulumoduyo di Suwawa dan Raja Mooduto di Bolaang mongondow. Kedua saudara ini pada suatu ketika berperang dan berakhir dengan kematian Raja Pulumuduyo di daerah yang sekarang disebut Pinogu (Pinogumbata/ Pilohumbala) sebuah dataran di enclave Taman Nasional Bogani Nani Wartabone (sekitar Pinogu Lama). Kompleks makam raja-raja Kerajaan Suwawa masih bisa dijumpai di daerah hulu sungai Bulawa, di kaki bukit Sinandaha. Terdapat makam Raja Moluadu dan istrinya Ratu Sendena serta kedua anaknya, di hulu sungai Bone.

Masyarakat suku Suwawa pada dasarnya hidup pada bidang pertanian, sebagian dari mereka berprofesi sebagai petani. Mereka menanam berbagai jenis tanaman, seperti padi, jagung, ubi dan lain-lain. Sebagian dari mereka memilih untuk hidup berniaga, seperti berdagang. Selain itu banyak juga yang bekerja pada sektor pemerintah maupun swasta.

sumber:

0 comments:

Post a Comment

Silahkan berkomentar di bawah ini, Kami mohon maaf, apabila terdapat kekeliruan atau ada yang tidak sesuai dengan pendapat pembaca, sehubungan dengan sumber-sumber yang kami terima bisa saja memiliki kekeliruan.
Dengan senang hati kami menerima segala kritik maupun saran pembaca, demi peningkatan blog Proto Malayan.
Salam dan terimakasih,