Suku Balantak, Sulawesi


suku Balantak
pic: ohio.edu
Suku Balantak, hidup di kabupaten Banggai provinsi Sulawesi Tengah, Indonesia.

Suku Balantak terkait erat dengan latar belakang sejarah mereka dengan suatu tempat bernama Tompotika Pokokbondolong, sebagai tempat asal nenek moyang mereka berawal. Wilayah Tompotika Pokokbondolong pertama kali dihuni oleh suku Gombe di Tononda yang mendiami sekitar kaki gunung Tompotika. Suku Gombe diperkirakan ada di wilayah itu sejak beberapa ribu tahun yang lalu. Suku Gombe saat ini tidak diketahui keberadaannya secara pasti. Tapi masih bisa ditelusuri jejak keturunannya yang hadir pada suku Balantak yang mendiami wilayah kabupaten Banggai saat ini. Bahasa Gombe tetap abadi hingga saat ini, dan tetap terpelihara dan digunakan oleh keturunan suku Gombe, yaitu suku Balantak sebagai bahasa sehari-hari, yang sekarang dikenal sebagai bahasa Balantak.

Suku Balantak adalah suatu suku yang berdomisili di kabupaten Banggai, yang sejak lama hadir di wilayah ini dengan adat istiadatnya. Kehidupan suku Balanta ditopang oleh lingkungan wilayah yang masih alami dengan kekayaan alamnya subur sehingga tidak pernah ada bencana kelaparan di daerah itu.

Dahulu di wilayah ini terdapat 7 kelompok masyarakat yang bersatu dalam Rumpun Pitu Bense Tompotika Pokokbondolong yang berbicara dalam bahasa yang sama, dari keturunan bahasa Gombe, yang mana bahasa Gombe adalah bahasa nenek moyang mereka.. Menurut dugaan, bahwa pada masa penjajahan Belanda, ke-7 kelompok yang bernama Rumpun Pitu Bense Tompotika Pokokbondolong ini, bersatu melawan pasukan kolonial Belanda. Setelah sekian lama mereka berbaur, terjadi proses kawin-campur di antara 7 kelompok ini, sehingga terbentuklah suatu komunitas suku yang disebut sebagai suku Balantak.

Masyarakat suku Balantak pada umumnya hidup pada bidang pertanian. Mereka menerapkan pertanian pada lahan basah dan kering. Tanaman utama mereka adalah padi, dan beberapa jenis tanaman lain seperti jagung, ubi dan lain-lain.

sumber bacaan:

No comments:

Post a Comment

Silahkan berkomentar di bawah ini, Kami mohon maaf, apabila terdapat kekeliruan atau ada yang tidak sesuai dengan pendapat pembaca, sehubungan dengan sumber-sumber yang kami terima bisa saja memiliki kekeliruan.
Dengan senang hati kami menerima segala kritik maupun saran pembaca, demi peningkatan blog Proto Malayan.
Salam dan terimakasih,