Showing posts with label Austronesian. Show all posts
Showing posts with label Austronesian. Show all posts

Suku Dayak Ot Danum

suku Dayak Ot Danum
(pariwisatamura.blogspot.com)
Suku Dayak Ot Danum, hidup tersebar di pegunungan Muller-Schwaner, sungai Mandai di Ulu Ai' dan di sepanjang aliran sungai Miri, cabang sungai Kahayan di provinsi Kalimantan Tengah. Populasi diperkirakan sebesar 78.800 orang pada tahun 2007.

Puruk Sandukui
salah satu benda unik yang berada
di pegunungan Muller
di wilayah suku Dayak Ot Danum
(t1r4.wordpress.com)
Kata ot berarti "orang" atau "hulu", sedangkan danum berarti "air", dan Ot Danum berarti "orang air" atau "orang yang hidup di hulu sungai". Suku Dayak Ot Danum dekat dengan kehidupan alam dan sangat menghormati tradisi leluhur untuk menjaga keseimbangan manusia dan alam sekitarnya. Perawakan suku Dayak Ot Danum berkulit kuning menunjukkan bahwa mereka adalah ras mongoloid. Suku Dayak Ot Danum ini memiliki kerabat dekat di provinsi Kalimantan Barat yang disebut suku Dayak Uud Danum. Secara fisik, karakter dan budaya bisa dikatakan mirip, hanya saja dibedakan karena perbedaan letak geografis. Suku Dayak Ot Danum ini dikelompokkan ke dalam rumpun Proto Malayan cabang dari rumpun bangsa Austronesia.

perempuan-perempuan
suku Dayak Ot Danum di pedalaman
(explow.com)
Suku Dayak Ot Danum memiliki bahasa sendiri yang disebut sebagai bahasa Ot Danum. Bahasa Ot Danum berkerabat dengan bahasa Dayak Siang yang memiliki kesamaan sebesar 70%, dengan bahasa Dayak Kohin memiliki kemiripan sebesar 65%, dengan bahasa Dayak Katingan kemiripan sebesar 60%, sedangkan dengan bahasa Dayak Ngaju memiliki kemiripan sebesar 50%.

Masyarakat suku Dayak Ot Danum adalah mayoritas beragama Kristen, sebagian tetap mempertahankan agama Kaharingan dan sebagian kecil memeluk agama Islam.

Dalam legenda suku Dayak Ot Danum, nenek moyang mereka berasal dari langit yang diturunkan ke dunia dengan wadah emas di 4 tempat, salah satunya di puncak bukit Pamatuan, suatu dataran tinggi antara hulu sungai Kahayan dan sungai Barito. Lambung adalah manusia nenek moyang pertama yang diciptakan, dari si Lambung inilah semua keturunannya menyebar di perhuluan sungai-sungai besar seperti sungai Barito, sungai Kahayan, sungai Kapuas dan sungai Katingan yang disebut suku Dayak Ot Danum.
Beberapa penulis memiliki versi yang berbeda mengenai asal usul suku Dayak Ot Danum ini, ada yang mengatakan bahwa suku Dayak Ot Danum ini berasal dari daratan mongolia, yang bermigrasi ke pulau Borneo. Tetapi versi lain menyebutkan bahwa suku Dayak Ot Danum ini berasal dari Formosa dan sudah sejak ada di pulau Kalimantan sejak 4000 tahun yang lalu, karena di Formosa Taiwan terdapat budaya yang mirip dengan suku Dayak Ot Danum ini.

Dalam kesehariannya suku Dayak Ot Danum ini sebagian besar masih dekat dengan kehidupan alam di hutan, dan melakukan perburuan binatang liar, serta bertani berladang juga mereka lakukan dan memelihara ternak seperti ayam dan babi. Kegiatan lain seperti ikut dalam penambangan emas di sungai-sungai yang mengandung emas, sehingga banyak dari mereka yang menjadi kaya di pedalaman dari hasil menambang emas. Selain itu tidak sedikit yang telah bekerja di luar wilayah mereka, seperti di Palangkaraya, Kuala Kapuas, Muara Teweh dan lain-lain sebagai pekerja di sektor pemerintahan maupun di sektor swasta.

sumber:
  • word-dialect.blogspot.com
  • pariwisatamura.blogspot.com
  • t1r4.wordpress.com
  • explow.com
  • maneser.kalteng.net
  • wwf.or.id
  • wikipedia
  • dan sumber lain

Suku Dayak Bakumpai

suku Dayak Bakumpai
(wildadventure-centralborneoisland.blogspot)
Suku Dayak Bakumpai, adalah salah satu suku dayak yang hidup di sepanjang tepian daerah aliran sungai Barito di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah yaitu dari kota Marabahan kabupaten Barito Kuala provinsi Kalimantan Selatan sampai kota Puruk Cahu kabupaten Murung Raya provinsi Kalimantan Tengah, sedangkan sebagian kecil berada di wilayah Kalimantan Timur yang bermigrasi dari hulu sungai Barito menuju hulu sungai Mahakam, yaitu di Long Iram kabupaten Kutai Barat provinsi Kalimantan Timur. Diperkirakan populasi suku Dayak Bakumpai sebesar 41.000 orang.

seorang Gadis Dayak Bakumpai
Suku Dayak Bakumpai bertetangga dengan suku Dayak Barangas dan suku Dayak Bara Dia (Mengkatip). Diperkirakan suku Dayak Bakumpai merupakan keturunan atau bagian dari sub suku Dayak Ngaju, atau termasuk ke dalam rumpun Dayak Ngaju.

Di Kalimantan Selatan bahasa Dayak Bakumpai disebut sebagai bahasa Banjar Bakumpai. Kalau diperhatikan bahasa Bakumpai tidak akrab hubungannya dengan bahasa Banjar, tetapi justru sangat erat hubungannya dengan bahasa Dayak Ngaju, jadi lebih tepat kalau disebut sebagai bahasa Dayak Bakumpai dari pada bahasa Banjar Bakumpai. Bahasa Dayak Bakumpai sangat berkerabat dengan bahasa Dayak Ngaju, karena persentase kemiripannya hampir sebesar 80%.

Suku Dayak Bakumpai mayoritas beragama Islam, karena sejak masa lalu telah terjadi hubungan dengan suku-suku Melayu Banjar. Saat ini tidak ada lagi dari masyarakat suku Dayak Bakumpai yang masih mengamalkan tradisi agama asli suku dayak seperti Kaharingan.

tarian suku Dayak Bakumpai
terpengaruh budaya Melayu
(dayak-barito-selatan.blogspot.com)
Kebudayaan dan adat istiadat serta tradisi asli suku ini telah banyak menyerap dari budaya dan adat istiadat suku Melayu Banjar. Kebudayaan asli yang masih tersisa pada suku Dayak Bakumpai adalah ritual Badewa dan Manyanggar Lebu.

Suku Dayak Bakumpai juga memiliki tokoh-tokoh, seperti Panglima Wangkang, seorang panglima dayak di Barito Kuala dalam Perang Banjar, lalu ada Pambakal Kendet (Damang Kendet), ayah dari Panglima Wangkang, selanjutnya adalah Tumenggung Surapati, seorang panglima Dayak Bakumpai yang sebenarnya berasal dari garis keturunan suku Dayak Siang, tetapi hidup dan membela wilayah suku Dayak Bakumpai dan yang menumpas pasukan Belanda serta menenggelamkan kapal Perang Onrust di desa Lontotur Barito Utara.

Kehidupan sehari-hari masyarakat Dayak Bakumpai adalah bertani berladang, serta memanfaatkan lahan hutan untuk perburuan dan saat ini mereka juga banyak yang sudah bekerja di sektor pemerintah dan sektor swasta, selain itu berdagang dan menjalankan usaha mandiri.


sumber:
  • word-dialect.blogspot.com
  • dayak-barito-selatan.blogspot.com
  • wildadventure-centralborneoisland.blogspot.com
  • disbudpar.baritoselatankab.go.id
  • wikipedia
  • dan sumber lain

Suku Dayak Balangan

suku Dayak Balangan
(papa-anggry.blogspot.com)
Suku Dayak Balangan (Dusun Balangan), adalah salah satu suku dayak yang mendami perhuluan sungai di kecamatan Halong dan kecamatan Juai, kabupaten Balangan provinsi Kalimantan Selatan.

Suku Dayak Balangan disebutkan adalah keturunan atau sub suku dari suku Dayak Maanyan. Bahasa yang dituturkan oleh suku Dayak Balangan adalah bahasa Balangan, yang mirip dengan bahasa Dayak Maanyan.

Suku Dayak Balangan masyarakatnya beragama Kaharingan, Budha dan Kristen. Upacara Balian adalah salah satu upacara pengobatan pada suku Dayak Balangan (sama seperti upacara adat pada suku Dayak Maanyan dan suku Dayak Bukit). Suku Dayak Balangan memiliki upacara balian bulat. Tradisi balian ini dibuat menjadi suatu atraksi kesenian yang disebut Tari Tandik Balian.

upacara adat Aruh Baharin
(article.wn.com)
Suku Dayak Balangan, khususnya di wilayah pedalaman, komunikasi dengan roh leluhur menjadi salah satu ritual untuk menjaga keseimbangan dengan alam. Komunikasi tersebut bisa dilakukan dengan ritual khusus yang bisa dilakukan oleh orang-orang tertentu.
Upacara adat yang selalu dilakukan oleh suku Dayak Balangan adalah upacara adat Aruh Baharin, yang dilakukan selama 7 hari 7 malam. Aruh Baharin ini adalah upacara pesta panen diiringi dengan doa-doa dan ucapan syukur kepada Tuhan.

Kehidupan sehari-hari dari orang Dayak Balangan adalah bertani berladang serta melakukan perburuan di hutan di saat tidak ada kegiatan di ladang. Selain itu mereka juga memelihara hewan ternak seperti ayam dan babi. Saat ini sudah banyak dari masyarakat suku Dayak Balangan yang bekerja di sektor pemerintah, guru, karyawan swasta maupun menjalani hidup sebagai pedagang atau pengusaha mandiri.


sumber:
  • efrani.wordpress.com
  • papa-anggry.blogspot.com
  • article.wn.com
  • kerajaanbanjar.wordpress.com
  • dayak-artmusic.blogspot.com
  • wikipedia
  • dan sumber lain

Suku Dayak Halong

suku Dayak Halong
(kalimantanforchrist.blogspot.com)
Suku Dayak Halong, adalah salah satu suku dayak yang bermukim di pegunungan Meratus. Kawasan permukiman tradisonal suku Dayak Halong ini tersebar di 10 desa, yang meliputi: desa Binuang Santang, desa Marajai, desa Mauya, desa Mantuyan, desa Tabuan, desa Buntu Pilanduk, desa Kapul, desa Ha ‘uwai, desa Liyu dan desa Aniungan. Seluruh desa ini berada di kecamatan Halong kabupaten Balangan provinsi Kalimantan Tengah.

tradisi Aruh Mambatur
(indonesia2000.blogspot.com)
Suku Dayak Halong setiap tahunnya selalu melaksanakan upacara adat untuk mengirim doa kepada roh para leluhurnya. Salah satunya adalah upacara adat Mambatur. Nama kecamatan Halong menjadi identitas nama suku bagi suku Dayak Halong. Beberapa acara adat istiadat pada suku Dayak Halong adalah Aruh Mambatur dan Aruh Baharin (Pesta Panen). Walaupun suku Dayak Halong hidup di antara budaya mayoritas suku Melayu Banjar, tetapi mereka berhasil melestarikan dan mempertahankan adat istiadat dan budaya mereka yang diturunkan sejak dari nenek moyang mereka.

Kehidupan masarakat suku Dayak Halong dalam kehidupan sehari-hari adalah pada pertanian berladang seperti menanam padi ladang. Mereka juga menanam karet untuk diambil getahnya, juga berburu di hutan menjadi kegiatan lain di saat tidak ada kegiatan di ladang. Di antara mereka juga banyak yang sudah bekerja di sektor pemerintah, perusahaan swasta, guru ataupun menjadi pengusaha ataupun menjadi pedagang.


sumber:
  • efrani.wordpress.com
  • kalimantanforchrist.blogspot.com
  • indonesia2000.blogspot.com
  • cetak.kompas.com
  • article.wn.com
  • wikipedia
  • dan sumber lain

Suku Dayak Pitap

suku Dayak Pitap
(exaflopcomputers.com)
Suku Dayak Pitap, adalah salah satu suku dayak yang mendiami kecamatan Awayan kabupaten Balangan. Suku ini di wilayah pemukimannya bertetangga dan berdampingan dengan suku Dayak Halong.
Menurut para peneliti suku Dayak Pitap dikategorikan sebagai bagian atau keturunan dari suku Dayak Bukit dan suku Dayak Meratus.

Suku Dayak Pitap merupakan sebutan bagi kelompok masyarakat yang terikat secara keturunan dan aturan adat, mendiami kawasan disekitar hulu-hulu Sungai Pitap dan anak sungai lainnya. Sungai Pitap tersebut sendiri awalnya bernama Sungai Kitab. Menurut keyakinan mereka, di tanah mereka inilah turunnya kitab agama asli mereka yang pernah menjadi rebutan. Kata kitab pun akhirnya lama-lama berubah menjadi pitap sehingga nama sungai dan masyarakat dayak yang tinggal kawasan tersebut berubah menjadi Pitap.

tradisi adat suku Dayak Pitap
(ardiz.blogspot.com)
Menurut cerita turun temurun yang tersimpan pada masyarakat suku Dayak Pitap, bahwa para leluhur mereka mula-mula tinggal di daerah Tanah Hidup, yang menurut mereka berada di daerah perbatasan antara kabupaten Balangan dengan kabupaten Kotabaru (di puncak pegunungan Meratus). Tanah Hidup menjadi wilayah tanah keramat yang diyakini sebagai daerah asal mula leluhur mereka.


Pemukiman suku Dayak Pitap berada di 3 desa yaitu desa Pitap, desa Langkap, desa Miyanau, desa Iyam, desa Ajung, desa Panikin dan desa Kambiyain, seluruh desa ini berada di kecamatan Awayan kabupaten Balangan.


sumber:
  • efrani.wordpress.com
  • exaflopcomputers.com
  • ardiz.blogspot.com
  • wikipedia
  • dan sumber lain

Suku Dayak Warukin

suku Dayak Warukin
(clinicoustic.blogspot.com)
Suku Dayak Warukin, adalah salah satu suku dayak yang bermukim di kabupaten Tabalong. Populasi suku Dayak Warukin diperkirakan sebanyak 1.858 orang. Suku Dayak Warukin hidup di antara budaya melayu Banjar, tetapi mereka tetap bisa mempertahankan tradisi dan budaya mereka dari budaya mayoritas suku Melayu Banjar.

gadis Warukin
(gaero.org)
Bahasa Warukin adalah tergolong ke dalam bahasa Maanyan, karena secara budaya dan asal usul bahwa suku Dayak Warukin adalah bagian dari sub suku Dayak Maanyan.

Masyarakat suku Dayak Warukin pada masa lalu menganut agama Kaharingan, tetapi saat ini diperkirakan sudah tidak ada lagi yang menganut agama asli suku dayak ini. Hanya saja beberapa tradisi adat Kaharingan masih tetap dijalankan.
Nama Warukin berasal dari kata Weruken, yang dulunya adalah suatu tempat yang banyak terdapat pohon papaken (durian hutan) yang disukai oleh weruk (beruk). 

suku Dayak Warukin
(banuahujungtanah.wordpress.com)
Salah satu acara adat pada suku Dayak Warukin adalah Aruh Mambuntang atau Buntang Pujamanta. Ini adalah ritual yang tetap dijalankan oleh suku Dayak Warukin, biasanya dalam ritual adat ini mengorbankan kambing, babi dan ayam.
Ada satu ritual yang dianggap lebih bergengsi yaitu Buntang Pujamea, yang biasanya mengorbanan hewan yang lebih besar seperti kerbau. Tradisi lain adalah mambatur dan balontang, yang sebenarnya tradisi ini hampir sama tetapi dibedakan dari segi mantra dan dipimpin oleh balian (pendeta Kaharingan). Perbedaan lain, patung balontang diarahkan ke barat sebagai simbol arah alam kematian, sedangkan pada mambuntang patung diarahkan ke timur sebagai simbol kehidupan.
Suku Dayak Warukin rata-rata memiliki kebiasan hidup dengan mata pencaharian sebagai petani Karet. Selain itu ada yang juga yang memanfaatkan hutan sebagai lahan perburuan untuk berburu binatang hutan seperti babi dan rusa.


sumber:
  • efrani.wordpress.com
  • clinicoustic.blogspot.com
  • banuahujungtanah.wordpress.com
  • gaero.org
  • wikipedia
  • dan sumber lain

Suku Dayak Arut

suku Dayak Arut
(ceritadayak.com)
Suku Dayak Arut, adalah suatu komunitas suku dayak yang berkedudukan di desa Pandau kabupaten Kotawaringin Barat provinsi Kalimantan Tengah. Kehidupan masyarakat suku Dayak Arut tidak terlepas dari kedekatan mereka dengan sungai Arut yang melintas dekat dengan pemukiman mereka, mungkin karena ini lah suku ini dinamakan sebagai suku Dayak Arut.

Suku Dayak Arut ini dikelompokkan ke dalam bagian sub suku Dayak Ngaju. Bahasa Dayak Arut, termasuk ke dalam rumpun bahasa Austronesia.
suku Dayak Arut
(indonesia.faithfreedom.org)
Suku Dayak Arut saat ini sebagian besar memeluk agama Kristen, dan ada juga yang memeluk agama Islam dan sebagian kecil masih mempertahankan agama asli suku dayak, yaitu agama Kaharingan.

Masyarakat suku Dayak Arut, adalah orang-orang yang ramah dan terbuka terhadap siapa saja, walaupun terhadap pendatang sekalipun. Tetapi mereka akan beringas apabila perasaan mereka terlukai. Salah satu peristiwa berdarah di kota Sampit, memicu beberapa masyarakat suku Dayak Arut untuk ikut berperan untuk mengamankan dan menyelesaikan masalah perselihan antar etnis dayak dengan salah satu kelompok etnis pendatang.

Umumnya mata pencarian masyarakat Dayak Arut adalah berladang di sekitar hutan. Mereka tidak selalu pulang pada sore hari. Banyak yang memiliki gubuk-gubuk di tengah ladang mereka untuk menginap di situ. Akibatnya desa yang sepi menjadi sepi karena penduduknya banyak yang bermalam di tengah ladang. Selain berladang atau yang disebut juga behuma, mereka juga beternak babi.
Hutan adalah tempat yang akrab dengan suku ini sejak beratus atau beribu tahun yang lalu, yang selalu memberikan sumber kehidupan bagi masyarakat ini, tidak jarang mereka membawa bekantan (sejenis monyet endemik berhidung panjang, yang sebenarnya termasuk binatang yang dilindungi) dan biawak sebagai hasil buruan dari hutan untuk dibawa pulang, selain itu sungai juga memberikan hasil ikan untuk tambahan penghasilan bagi masyarakat suku Dayak Arut ini.


sumber:

  • gky.or.id
  • kotawaringinbaratkab.go.id
  • ceritadayak.com
  • wikipedia
  • dan sumber lain

Suku Dayak Uud Danum

suku Dayak Uud Danum
lokasi rumah pahlawan Ali Anyang
(equator-news.com)
Suku Dayak Uud Danum, bermukim di kecamatan Menukung kabupaten Melawi, kecamatan Ambalau kabupaten Sintang dan kecamatan Serawai kabupaten Sintang provinsi Kalimantan Barat.

Suku Dayak Uud Danum diperkirakan telah ada di bumi kalimantan sejak 4000 tahun yang lalu, karena ditemukannya beberapa peninggalan bersejarah yang sudah berumur 4000 tahun, yaitu peninggalan zaman Neolitik ditemukan di wilayah sekitar pemukiman suku Dayak Uud Danum ini. Mengenai asal usul sebenarnya tidak diketahui secara pasti, hanya saja diperkirakan suku Dayak Uud Danum ini kemungkinan berasal dari daratan Formosa Taiwan, karena banyak kebudayaan di Formosa yang mirip dengan kebudayaan suku Dayak Uud Danum ini.

Arca Sintang
salah satu temuan
berumur 4000 tahun
(explow.com)
Kata Uud Danum sendiri bisa diartikan sebagai berikut. Uud artinya "hulu", "suku" atau "orang". Sedangkan danum adalah "air" atau "sungai". Jadi Uud Danum berarti "suku air" atau "orang air", bisa juga sebagai "suku yang berada di hulu sungai". Dayak Uud Danum bila diartikan sebagai orang Dayak yang tinggal di daerah hulu sungai. Orang Uud Danum di kecamatan Ambalau dan Serawai memiliki adat-istiadat yang hampir sama, namun dari bahasanya terdapat perbedaan. Dari perbedaan ini menjadikan dua kelompok ini menjadi dua sub suku dari Uud Danum, yaitu Dayak Cohie dan Dayak Dohoi.

Suku Dayak Uud Danum diperkirakan berasal dari Kalimantan Tengah yang bermigrasi ke Kalimantan Barat. Hal ini disebabkan di Kalimantan Tengah terdapat satu kelompok suku yang bernama suku Dayak Ot Danum, yang memiliki bahasa dan kebudayaan yang hampir sama dengan suku Dayak Uud Danum yang berada di Kalimantan Barat. Jadi menurut para peneliti bahwa suku Dayak Uud Danum berkerabat sangat dekat dengan suku Dayak Ot Danum, bahkan mereka beranggapan bahwa kedua suku ini adalah satu rumpun, walaupun berbeda letak geografis.

Mayoritas masyarakat suku Dayak Uud Danum memeluk agama Kristen Katolik, akan tetapi adat istiadat mereka yang berhubungan dengan agama asli suku Dayak, yaitu Kaharingan masih tetap dijalankan walaupun tidak sepenuhnya.

Masyarakat suku Dayak Uud Danum adalah peladang yang trampil dengan adat mereka melindungi ketersediaan bibit padi unggul yang akan diwariskan secara turun temurun dari generasi ke generasi. Siklus perladangan dalam dayak Uud danum adalah savings cultivation, dengan ladang berpindah. Selain berladan mereka juga memanfaatkan hutan untuk melakukan perburuan binatang. Suku Dayak Uud Danum dikenal sebagai pemburu yang handal. Biasanya mereka membawa beberapa ekor anjing untuk membantu menemukan hewan buruan dengan insting anjing yang tajam.


sumber:
  • huma.or.id
  • kebudayaan-dayak.org
  • docuismoe.wordpress.com
  • equator-news.com
  • explow.com
  • wikipedia
  • dan sumber lain

Suku Dayak Uud Bukhot

Suku Dayak Uud Bukhot, adalah salah satu suku dayak di provinsi Kalimantan Barat yang masih mempertahan gaya hidup terasing dan primitif. Suku Dayak Uud Bukhot ini diperkirakan hidup di hulu sungai Jelundung, dusun Romukhoy, desa Latho Mallom kecamatan Serawai kabupaten Sintang provinsi Kalimantan Barat.

Keberadaan suku Dayak Uud Bukhot ini sepertinya baru diketahui setelah sebelumnya telah ditemukan satu suku terasing yang masih hidup nyaris primitif, yaitu suku Dayak Uud Sio. Berdasarkan penuturan masyarakat yang hidup di sekitar Bukit Raya, bahwa ada komunitas suku terasing yang masih bertahan hidup dengan gaya hidup nyaris primitif, yang disebut sebagai suku Dayak Uud Bukhot yang bermukim di gua-gua hutan belantara sekitar sumber resapan air sungai Jelundung, cabang dari sungai Serawai.

Suku Dayak Bukhot ini oleh para peneliti dimasukkan ke dalam sub suku Dayak Uud Danum.

Kondisi peradaban suku Dayak Uud Bukhot masih menjadi misteri karena sangat sulit diajak berkomunikasi. Biasanya mereka langsung menghindar dan melarikan diri jika berpapasan dengan masyarakat di luar komunitas mereka di dalam hutan.

Suku Dayak Uud Bukhot masih mengandalkan gaya hidup sangat sederhana dalam bertahan hidup, mereka hanya memanfaatkan hutan untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka, seperti berburu binatang maupun mencari ikan di sungai-sungai yang mengalir dekat pemukiman mereka. Komunikasi dengan pihak luar hanya melalui bahasa tangan. Jika mereka pulang berburu, biasanya hasil buruan dibarter dengan beras, garam maupun tembakau dengan penduduk-penduduk dari wilayah lain..


sumber:

  • prakarsa-rakyat.org
  • koran harian: Sinar Harapan
  • wikipedia
  • dan sumber lain

Suku Dayak Uud Sio

suku Dayak Uud Sio
Suku Dayak Uud Sio, adalah suatu komunitas masyarakat yang masih terasing, tertutup dan jauh di pedalaman hutan yang berada di kecamatan Serawai kabupaten Sintang provinsi Kalimantan Barat.
Suku Dayak Uud Sio ini menetap di sekitar Gua Soak Auk yang berada di kaki Bukit Raya, Dusun Rumukhoy. Lokasi pemukiman suku ini sangat terisolasi dan hanya bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Diperkirakan bahwa suku ini juga ada yang hidup di kawasan hulu desa Tumbang Keburai kecamatan Bukit Raya kabupaten Katingan. Masyarakat dayak lain yang hidup di sekitar wilayah suku Dayak Uud Sio ini menuturkan bahwa suku Dayak Uud Sio ini berkomunikasi dengan menggunakan siulan.

Suku Dayak Uud Sio ini oleh para peneliti dikelompokkan ke dalam rumpun Dayak Uud Danum.

Komunitas suku Dayak Uud Sio ini masih menggunakan bahasa tangan jika berkomunikasi dengan orang dari luar komunitas mereka. Mereka hanya berkomunikasi seperlunya, jadi hubungan mereka dengan dunia luar sangat jarang terjadi.

Populasi suku Dayak Uud Sio diperkirakan tidak lebih dari 100 orang. Mereka masih menerapkan pola hidup berburu dan meramu dengan memanfaatkan sumber daya alam yang ada di sekitar hutan di kaki Bukit Raya. Tempat tinggal mereka mengandalkan gua seadanya dan sama sekali tidak boleh dikunjungi orang luar. Mereka sangat sulit ditemui karena biasanya langsung melarikan diri jika melihat orang asing. Mereka beranggapan bahwa di dunia luar sangat tidak aman dan penuh dengan peperangan.

Suku Dayak Uud Sio sepertinya bertahan hidup hanya dengan memanfaatkan lahan hutan seperti berburu dan mencari bahan makanan di hutan untuk memenuhi kebutuhan hidup, selain itu mereka juga mencari ikan di sungai-sungai yang mengalir dekat pemukiman mereka.


sumber:
  • pontianakpost.com
  • ceritadayak.com
  • mediaindonesia.com 
  • laurensgawing.blogspot.com
  • wikipedia
  • dan sumber lain

Suku Dayak Kayong

suku Dayak Kayong
(pendakigunung.wordpress.com)
Suku Dayak Kayong, adalah suku yang mendiami kabupaten Ketapang provinsi Kalimantan Barat, yang tersebar di kecamatan Tumbang Titi, kecamatan Nanga Tayap, kecamatan Sandai dan Aur Kuning. Nama Kayong menurut penuturan masyarakat di sana berasal dari nama sungai yang bernama Muara Kayong yang berada di Kecamatan Nanga Tayap.

Bahasa Kayong adalah salah satu bahasa dari 50 bahasa yang ada di kabupaten Ketapang. Termasuk ke dalam kelompok rumpun bahasa Austronesia.
Bahasa Kayong terdiri dari beberapa dialek tergantung wilayah perkampungan masing-masing, tetapi walaupun begitu diantara penduduk beberapa kampung tersebut dapat berkomunikasi dengan baik. Mereka berbicara satu sama lain dengan logat bahasa mereka masing-masing tetapi tetap bisa dipahami tanpa menimbulkan kebingungan satu sama lain.
Asal usul suku Dayak Kayong tidak diketahui secara pasti, karena suku Dayak Kayong tidak menyimpan catatan tentang perjalanan nenek moyang mereka dari tempat asalnya hingga sampai ke tanah mereka saat ini. Sedangkan legenda-legenda yang ada di antara masyarakat Dayak Kayong berbeda dengan legenda-legenda suku-suku Dayak di sekitar wilayah suku Dayak Kayong, sehingga tidak dapat ditemukan hubungan legenda antara suku Dayak Kayong dengan suku-suku dayak lainnya.

suku Dayak Kayong
(psbdkbedayong.blogspot.com)
Pada intinya kehidupan orang dayak sangat identik dengan alam. Maka, perlu disadari bahwa masyarakat adat Dayak secara umum adalah komunitas ekologis dimana keberlangsungan hidupnya sangat tergantung pada eksistensi alam yang ada.

Suku Dayak Kayong memiliki sebuah konsep agama yang bukan datang dari luar komunitas mereka, karena agama asli yang mereka yakini adalah kepercayaan dinamisme yang disebut juga dengan nama Preanimisme. Kepercayaan ini mengajarkan bahwa roh nenek moyang, tiap-tiap benda atau mahluk hidup mempunyai daya dan kekuatan yang diyakini mampu memberikan manfaat atau marabahaya. Menurut keyakinan mereka bahwa arwah nenek moyang selalu memperhatikan dan melindungi mereka, tetapi juga akan menghukum mereka jika melakukan pelanggaran adat. Juga kepercayaan terhadap semua benda yang terdapat dalam alam semesta mempunyai kekuatan, seperti hutan, tanah, air, sungai, danau, gunung, bukit, batu, kayu, dan benda-benda buatan manusia lainnya juga diyakini mempunyai kekuatan gaib seperti ponti’ (patung) dan jimat. Tetapi tradisi agama asli ini telah ditinggalkan oleh sebagian besar masyarakat suku Dayak Kayong, karena saat ini mayoritas masyarakat suku Dayak Kayong telah memeluk agama Kristen Katolik.

Masyarakat Dayak Kayong memiliki kepala adat sendiri sebagai kepala adat tertinggi yang bergelar Domong Adat atau Pateh (Pemimpin adat). Kepala adat ini mengatur dalam menyelesaikan berbagai perkara adat dan juga mengatur upacara-upacara yang menyangkut kepercayaan masyarakat setempat.

Masyarakat Dayak Kayong tidak terlepas dengan kehidupan masa lalunya yang akrab dengan kehidupan hutan. Segala sesuatu yang ada di hutan akan memenuhi kebutuhan hidup mereka. Mereka berburu, membuka ladang di tengah hutan, mencari kayu, menanam pohon karet untuk diambil getahnya, mencari rotan dan tengkawang. Hubungan orang Dayak Kayong dengan hutan merupakan hubungan timbal balik. Alam memberikan kemungkinan bagi perkembangan budaya orang Dayak, dilain pihak orang Dayak senantiasa mengubah wajah hutan sesuai dengan pola budaya yang dianutnya.

Orang Dayak Kayong sangat ramah dan terbuka dengan masyarakat etnik lain yang tinggal di wilayah mereka seperti orang Jawa, Tiong Hoa, Batak dan Melayu.


sumber:
  • liquari-kamseupaybekaro.blogspot.com
  • kapuasmelayu.blogspot.com
  • pendakigunung.wordpress.com
  • psbdkbedayong.blogspot.com
  • wikipedia
  • dan sumber lain

Suku Dayak Pawatn

Suku Dayak Pawatn, adalah suatu kelompok masyarakat Dayak yang bermukim di aliran Sungai Pawan, mereka menyebut diri mereka sebagai suku Dayak Pawatn.

Suku Dayak Pawatn, terbagi atas beberapa kelompok suku yang berbeda asal usulnya, yaitu Pawatn yang tinggal di kampung Sepiri berasal dari suku Dayak Bihak, Pawatn di Tumbang Pauh berasal dari kampung Sepiri dan Pawatn yang di Domit berasal dari suku Dayak Tola' di Manjau.

Populasi suku Dayak Pawatn di kampung Sepiri berjumlah sekitar 403 orang, di Domit berjumlah 654 orang sedangkan suku Dayak Pawatn yang berada di Tumbang Pauh berjumlah sekitar 400 orang.

Keunikan dari ketiga kampung ini adalah setiap kampung memiliki ciri perbedaan bahasa masing-masing tetapi sebenarnya masih terdapat beberapa persamaan, sehingga masyarakat ketiga kampung ini biasanya dapat saling mengerti pada saat berkomunikasi satu sama lainnya. Adat istiadat masyarakat dari ketiga kampung ini juga bisa dikatakan sama. Terdapat 3 dialek dalam bahasa Dayak Pawatn, yaitu dialek Sepiri, Tumbang Pauh dan Domit.


sumber:

  • kebudayaan-dayak.org
  • theborneopost.com
  • language.psy.auckland.ac.nz
  • wikipedia
  • dan beberapa sumber lain

Suku Dayak Sekapat

Suku Dayak Sekapat, bermukim di wilayah kecamatan Silat Hilir di kabupaten Kapuas Hulu. Pada dasarnya suku ini tidak banyak diketahui keberadaannya di kabupaten ini, karena sering dianggap sama dengan suku Dayak Sebaru' yang hidup berdampingan dengan suku ini di kecamatan Silat Hilir.
Wilayah penyebaran suku Dayak Sekapat umumnya terdapat di jalur lintas selatan yang menghubungkan kabupaten Sintang dengan kabupaten Kapuas Hulu. Mereka tersebar di 4 kampung, yaitu kampung Jelemuk, Jitan, Sei Canggai dan Sei Ringin. Populasi suku Dayak Sekapat diperkirakan sebesar 1.480 orang.

Orang Dayak Sekapat biasanya hidup di dekat sungai Sekapat, sebuah sungai kecil cabang dari Sungai Ketungau. Bahasa Dayak Sekapat sangat mirip dengan bahasa Dayak Sebaru’. Sehingga kedua suku ini hampir tidak dapat dibedakan, kecuali bagi masyarakat yang berada di kecamatan Silat Hilir. Kedua kelompok suku ini diperkirakan berasal dari rumpun dan tempat asal yang sama.

Perbedaan antara suku Dayak Sekapat dengan Dayak Sebaru' hanyalah berdasarkan letak geografis, yaitu Sungai Sekapat dan Sungai Sebaru’.

sumber:

  • kebudayaan-dayak.org
  • kaltengpos.web.id
  • theborneopost.com
  • newsabahtimes.com.my
  • dayakbaru.com
  • wikipedia
  • dan beberapa sumber lain

Suku Dayak Bugau

suku Dayak Bugau
(picasaweb.google.com)
Suku Dayak Bugau, hidup di kabupaten Sintang, yaitu di kecamatan Ketungau Hulu provinsi Kalimantan Barat, yang mendiami desa Jasa, desa Rasau, desa Sungai Bugau, desa Nanga Bugau dan desa Sebadak, selain itu juga terdapat di kampung Senaning, Sungai Antu, Engkeruh, Sebuluh, Lubuk Pucung, Pangkalan Parit, Riam Sejawak, Wak Sepan, Birong, Rentong, Nyelawai dan Kedang Ran. Di kecamatan Ketungau Hulu, suku Dayak Bugau hidup berdampingan bersama suku Dayak Mandau, Dayak Kumpang, Dayak Embara dan Dayak Sebaruk.
Orang Bugau ini diperkirakan berjumlah 4.844 orang pada data statistik kecamatan tahun 2003.

Bahasa yang diucapka oleh orang Dayak Bugau menurut mereka termasuk dalam bahasa Benadai, suatu bahasa yang dituturkan oleh orang-orang di sepanjang sungai Ketungau.

Suku Dayak Bugau diperkirakan berada di wilayah kecamatan Ketungau Hulu sejak 500 tahun yang lalu. Sedangkan asal-usul orang Dayak Bugau secara pasti tidak diketahui, yang tersimpan hanyalah cerita turun temurun mitologi suku Dayak Bugau. Konon nama Dayak Bugau dinamakan dari suara burung dan sebuah bukit ole Demung Jambi, sehinggga masyarakat yang mendiami sekitar Bukit Bugau dinamakan sebagai suku Dayak Bugau.

suku Dayak Bugau
(ulubugau.blogspot.com)
Kesenian suku Dayak Bugau adalah "Jandeh", suatu kesenian lisan bercakap-cakap tetapi memakai bahasa sastra, dengan tujuan bermacam-macam, misalnya untuk menyampaikan ucapan terima kasih, menyindir, menasihati dan lain sebagainya. Lalu ada "Didi", yang hampir sama dengan "Jandeh", hanya saja biasanya bentuknya sudah baku dan dalam melakukannya si pelaku sudah hafal akan kata-katanya. Dan ada juga "Renung" biasanya berisi nasihat kepada anak, yang juga biasa dilantunkan ketika hendak menidurkan anak. Sementara itu ada juga "Ngerasak" yang hampir sama dengan "Renung", tetapi kalimat yang diucapkan lebih panjang.



sumber
:
  • kalimantan-news.com
  • kebudayaan-dayak.org
  • ulubugau.blogspot.com
  • picasaweb.google.com
  • wikipedia
  • dan sumber lain


Suku Dayak Ketungau Sintang

suku Dayak Ketungau Sintang
sedang menenun
(empaci.blogspot.com)
Suku Dayak Ketungau Sintang, mendiami beberapa wilayah kecamatan di kabupaten Sintang yaitu di kecamatan Ketungau, Ketungau Hulu, Ketungau Tengah dan Ketungau Hilir.

Suku Dayak Ketungau Sintang dikelompokkan ke dalam bagian rumpun Ibanic. Suku Dayak Ketungau Sintang memiliki beberapa sub suku yang tersebar berdasarkan wilayah dan asal usul keturunannya.

Di daerah lain di kabupaten Sekadau, terdapat satu suku yang memiliki nama Dayak Ketungau yaitu suku Dayak Ketungan Sesat  atau disebut juga sebagai suku Dayak Ketungau Sekadau. Walaupun memiliki nama suku yang sama dan terdapat kemiripan dalam hal bahasa, tetapi kedua suku ini berbeda berdasarkan geografis, budaya dan asal usul. 

sumber:
  • kebudayaan-dayak.org
  • empaci.blogspot.com
  • yovinus putika: dayakketungausekadau.blogspot.com
  • wikipedia
  • dan sumber lain

Suku Dayak Ketungau Sekadau

suku Dayak Ketungau Sekadau
(dayakketungausekadau.blogspot.com)
Suku Dayak Ketungau Sekadau (Ketungau Sesat / Sesae'), adalah suatu masyarakat yang menghuni wilayah kabupaten Sekadau. Populasi suku Dayak Ketungau Sekadau diperkirakan berjumlah 28.000 jiwa dan tersebar di 46 kampung yang berada di 3 kecamatan Sekadau yaitu kecamatan Sekadau Hulu, kecamatan Sekadau Hilir dan kecamatan Belitang Hilir. Suku Dayak Ketungau Sekadau merupakan salah satu kelompok dayak besar di kabupaten Sekadau.

Dari cerita turun temurun bahwa suku Dayak Ketungau Sekadau memiliki asal usul yang sama dengan kelompok suku Dayak Ketungau Sintang yang ada di kabupaten Sintang hanya saja pada masa lalu mereka terpisah pada suatu perjalanan menuju tempat mereka sekarang ini. Terdapat beberapa kemiripan dalam kebudayaan dan bahasa. Dari penuturan yang disampaikan oleh para tetua adat masyarakat Dayak Ketungau di kabupaten Sekadau, keterpisahan itu disebabkan oleh gangguan yang dilakukan oleh roh-roh halus yang mengganggu pemukiman masyarakat Ketungau di masa itu.

Namun jika ditilik dari aspek geografis, jalan persebaran dan beberapa kebudayaan yang dimiliki oleh kedua etnis tersebut, maka ditemukan bahwa suku Dayak Ketungau Sekadau bukanlah bagian dari suku Dayak Ketungau Sintang. Menurut beberapa masyarakat Dayak Ketungau Sintang bahwa Dayak Ketungau Sesat bukanlah yang terdapat di kabupaten Sekadau tetapi berada di wilayah kabupaten Sintang juga, yakni yang berada di sekitar kota Sintang, hidup di antara komunitas-komunitas ibanic lainnya seperti desa Seberuang dan Mualang. Hal lain yang membuatnya berbeda adalah kecenderungan orang pada masa lalu untuk menyebutkan beberapa etnis di Sekadau sebagai etnis yang tersesat dari rombongan utama seperti Ketungau Sesat, Taman Sesat, Sawai Sesat, dan ada beberapa lainnya. Hal ini disebabkan karena beberapa komunitas tersebut tidak mampu untuk menampilkan jati dirinya sebagai sebuah etnis tersendiri. Istilah "sesat" yang sering disebutkan sebagai identitas suku Dayak Ketungan Sesat, bagi mereka seperti ungkapan menghina dan cenderung membuat "image rendah", oleh karena itu masyarakat Dayak Ketungau Sekadau lebih suka disebut sebagai suku Dayak Ketungau Sekadau.

Suku Dayak Ketungau Sekadau sebagian besar bermata pencaharian sebagai beuma (berladang) di perbukitan, menanam sawit, menyadap getah pohon karet. Sedangkan untuk memenuhi kebutuhan protein, mereka berburu binatang liar di hutan, menangkap ikan, memelihara ternak sapi, ayam dan babi serta membuat kolam ikan. Saat ini masyarakat suku Dayak Ketungau tidak sedikit yang telah menempuh pendidikan tinggi hingga bekerja di lembaga-lembaga formal dan pejabat daerah.

sumber:
  • agustinusmualang.blogspot.com
  • yovinus putika: dayakketungausekadau.blogspot.com
  • wikipedia
  • dan sumber lain

Suku Dayak Melahoi

suku Dayak Melahoi
"memainkan alat musik Rabab"
(kebudayaan-dayak.org)
Suku Dayak Melahoi (Malahui), berdiam di kecamatan Serawai yang tersebar di dusun Mentibar, dusun Sungai Garong, dusun Laman Gurung, dusun Melako Kanan serta di desa Gunung Sengiang, desa Bedaha (dusun Batu Seladang, dusun Nanga Seladang, dusun Nanga Seguyang, dusun Laman Randu dan dusun Laman Krangan). Kata Melahoi merupakan sebuah nama sungai yang kini disebut sungai Melawi.

Orang Melahoi ini juga tersebar di beberapa daerah di sepanjang aliran Sungai Melawi beserta anak sungainya. Terutama bermukim di Kecamatan Serawai yaitu di Desa Tontang dan Pagar Lebata. Di Kecamatan Menukung yaitu di Desa Nanga Melona dan Nanga Mawang Mentatai.

Orang Melahoi juga terdapat di Kecamatan Ella Hilir ada di Desa Nanga Kalan dan beberapa tempat di dalam Sungai Ella Hilir. Di dalam Sungai Ella mereka berbaur dengan orang Pangin dan Uud Danum yang ada di situ. Populasi orang Melahoi diperkirakan sekitar 5.507 jiwa, terdiri dari 2.470 di Kecamatan Serawai, 1.291 jiwa di Kecamatan Menukung, dan 1.726 di Kecamatan Ella Hilir dan sekitar 20 jiwa di Kecamatan Ambalau (data kecamatan dan desa 1998).

Jika mereka bertemu dengan orang Dohoi Uud Danum maka mereka akan berkomunikasi menggunakan bahasa Dohoi Uud Danum. Sebagian besar dari mereka bisa berbahasa Uud Danum. Sering juga ada kasus kedua penutur bahasa ini masing-masing memakai bahasanya sendiri, yaitu orang Dohoi berbahasa Dohoi dan orang Melahoi berbahasa Melahoi, tetapi mereka saling mengerti apa yang diucapkan.

Rumah penduduk masyarakat suku Dayak Melahoi adalah rumah tunggal yang dibangun berderet sepanjang jalan di kampung mereka. Biasanya pemukiman mereka tidak jauh dari sungai besar (sungai Melawi) dan sungai-sungai kecil lainnya. Kondisi ini sudah lama berlangsung, karena sungai adalah merupakan satu-satunya sarana transportasi antar kampung maupun menuju ke kota kecamatan dan kota kabupaten.

Suku Dayak Melahoi bertahan hidup dengan mata pencaharian utama adalah berladang, menyadap getah pohon karet, berkebun sayur-sayuran, menangkap ikan, berburu binatang liar di hutan, mencari kayu di hutan untuk dipakai sendiri atau dijual. Masyarakat Dayak Melahoi tidak semata-mata hidup dengan cara-cara sederhana dan tradisionil, tetapi mereka juga banyak yang bekerja sebagai pegawai negeri, guru, karyawan swasta bahkan jadi pedagang. Untuk tambahan penghasilan mereka juga beternak ayam, babi, ikan, sapi yang bisa dikonsumsi sendiri ataupun untuk dijual.

sumber
:

  • mozaik dayak
  • agustinusmualang.blogspot.com
  • kebudayaan-dayak.org
  • kecserawai.blogspot.com
  • wikipedia
  • dan sumber lain

Suku Dayak Limbai

suku Dayak Limbai
(tinoesagoes.blogspot.com)
Suku Dayak Limbai, berdomisili di Kayan Hulu dan Serawai di kabupaten Melawi provinsi Kalimantan Barat Indonesia. Suku Dayak Limbai ini dikelompokkan ke dalam rumpun Ot Danum.
Orang Limbai di Kecamatan Serawai bermukim di Nusa Bakti, Desa Nanga Mentatai, dan Karya Jaya.


Suku Dayak Limbai juga sering dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu orang Limbai Pantai dan Limbai Darat.

Populasi suku Dayak Limbai di kecamatan Serawai berjumlah 1.047 jiwa dari keseluruhan penutur bahasa Limbai.
Tradisi lisan yang ada adalah cerita daerah dan pengobatan. Dalam cerita daerah dikisahkan mengenai cerita-cerita kepahlawanan. Dalam pengobatan cerita-ceritanya dilagukan. Lagu untuk pengobatan disebut belian. Tradisi pengobatan dilakukan selama satu malam, setelah itu barulah dia mulai menyembuhkan si sakit. Kebanyakan yang bisa melakukan ritual pengobatan ini adalah laki-laki. Hal ini berbeda dengan masyarakat dari suku Uud Danum, yang lebih banyak bisa melakukan ritual pengobatan ini adalah wanita, yang biasa di sebut jaja.

Masyarakat Limbai bermukim jauh ke arah daratan adalah dengan tujuan untuk menghindari para pengayau pada masa perang "kayau" di masa dulu, dahulunya mereka lebih banyak berpergian melalui sungai. Dengan bermukim di tengah daratan, mereka sulit sekali ditemukan musuh-musuhnya.
Suku Dayak Limbai tidak diketahui asal-usulnya, namun dari cerita turun temurun bahwa yang menjadi Temenggung pertama orang Limbai adalah Tumak Baya dari Kelopok dan Bonau dari Guhung Berajang. Sedangkan yang menjadi pemimpin Bonuh Limbai adalah Cai Elai dari Kelait.

Bahasa Dayak Limbai sangat mirip dengan beberapa bahasa lainnya di daerah Melawi, seperti bahasa Dayak Kubitn dan bahasa Dayak Kenyilu. Contoh persamaan kata yang menonjol adalah adanya kata abon untuk mengatakan ‘tidak ada’.


Masyarakat Dayak Limbai bertahan hidup dengan mata pencaharian utama berladang (sawah di perbukitan), menyadap karet. Sebagai mata pencarian tambahan mereka berkebun sayur-sayuran, memelihara ternak ayam dan sapi serta kehidupan hutan juga masih mereka jalani seperti mencari kayu untuk bahan bangunan sebagian untuk dijual dan mereka juga berburu binatang dan menangkap ikan. Tidak sedikit juga dari masyarakat Dayak Limbai bekerja sebagai pegawai negeri, karyawan swasta dan menjadi pedagang.


sumber:


  • mozaik dayak
  • agustinusmualang.blogspot.com
  • huma.or.id
  • tinoesagoes.blogspot.com
  • kecserawai.blogspot.com
  • wikipedia
  • dan sumber lain

Suku Dayak Kebahan

suku Dayak Kebahan di masa lalu

(commons.wikimedia.org)
Suku Dayak Kebahan, mendiami wilayah kabupaten Melawi tersebar di desa Engkurai, Jaba, Poring, Nusa Kenyikap (lintah), Kayu Bunga dan juga terdapat di pesisir sungai Melawi dan sungai Pinoh (Kampung Liang, Kelakik, Tekelak dan Tanjung Lai).

Suku Dayak Kebahan menurut cerita turun temurun dari generasi ke generasi adalah berasal dari daerah Tanjung Bunga (Angus) yang termasuk wilayah Kayan kabupaten Sintang.

suku Dayak Kebahan

di masa lalu
(commons.wikimedia.org)
Suku Dayak Kebahan sebagian memeluk agama Kristen Protestan dan Kristen Katolik, sedangkan sebagian lagi yang menetap di pesisir sungai Melawi dan sungai Pinoh (Kampung Liang, Kelakik, Tekelak dan Tanjung Lai) memeluk agama Islam dan kebanyakan orang Dayak Kebahan yang beragama Islam menghilangkan identitas aslinya dan menganggap dirinya telah menjadi Melayu.

Salah satu acara adat suku Dayak Kebahan ini adalah "Berontang Panjang" semacam acara adat "Gawai Dayak", seluruh penduduk duduk beralaskan layan atau lampit (semacam tikar) duduk berhadap-hadapan sambil menyantap makanan khas suku Dayak Kebahan.


sumber:
  • kebudayaandayak.org
  • kaltimpost.co.id
  • kaltengpos.web.id
  • theborneopost.com
  • banjarmasinpost.co.id
  • newsabahtimes.com.my
  • dayakbaru.com
  • wikipedia
  • dan beberapa sumber lain

Suku Dayak Tola'

Suku Dayak Tola', mendiami kecamatan Matan Hilir Utara, di kampung Manjau, kampung Kepayang, kampung Nek Doyan, dan kampung Kecurapan.

Asal usul suku Dayak Tola’ tidak diketahui secara pasti. Legenda mengenai asal usul kelompok suku ini hanya tersimpan berdasarkan cerita turun temurun dari orang tua menurun ke generasi muda suku Dayak Tola', tentang asal usul mereka yang dulunya berasal dari pesisir Sungai Tola'. Dahulunya sungai Tola’ sangat berarti bagi kehidupan leluhur masyarakat suku Dayak Tola'. Sungai ini dijadikan dasar terminologi identitas kelompok yang pernah bermukim di Sungai Tola’. Namun tempat asal usul ini sudah tidak dihuni lagi oleh mereka dan sudah menjadi nama yang berbeda, yaitu Tembawang.
Populasi suku Dayak Tola’ diperkirakan berjumlah 879 jiwa. Mereka tersebar di Kampung Manjau, Kepayang, Ne’ Doyan dan sebagian kecil di Kecurapan.

Bahasa Dayak Tola’ berdampingan dengan bahasa Melayu yang dituturkan oleh masyarakat Melayu yang juga bersama-sama berdiam di wilayah suku Dayak Tola' ini.


sumber:
  • kebudayaan-dayak.org
  • kaltimpost.co.id
  • kaltengpos.web.id
  • theborneopost.com
  • dayakbaru.com
  • wikipedia
  • dan beberapa sumber lain