Showing posts with label Sulawesi Selatan. Show all posts
Showing posts with label Sulawesi Selatan. Show all posts

Suku To Kondre, Sulawesi

Suku To Kondre, adalah salah satu suku yang berdiam di kecamatan Nuha kabupaten Luwu Timur provinsi Sulawesi Selatan.

Suku To Kondre, memasuki wilayah Nuha, yang kala itu sudah ada penduduk yang menghuni dan menguasai daerah ini, yaitu Mokole Matano dan To Routa. Sebelumnya suku To Kondre hidup secara nomaden, menjelajah hutan Sulawesi, dan menemukan tempat yang cocok untuk ditempati, yaitu daerah Nuha ini. Menurut dugaan kehadiran suku To Kondre ini sekitar 2000-1000 tahun Sebelum Masehi. Kehadiran suku To Kondre di wilayah ini diikuti oleh suku To Karonsi'e, To Taipa, To Tambe'e dan To Padoe yang akhirnya menjadi penghuni wilayah ini. Di tempat ini mereka hidup di bawah aturan yang ditetapkan oleh Mokole Matano sebagai penguasa wilayah ini.

Suku To Kondre memiliki unsur mongoloid, berkulit kuning hingga coklat, ukuran tubuh sekitar 150-165 cm, rambut lurus hingga bergelombang, berbeda dengan suku To Routa yang memiliki ras polynesia.

Diduga suku To Kondre, hidup berbaur dengan suku bangsa deutro malayan yang memasuki pulau Sulawesi sekitar abad 2 Masehi, dugaan lain keturunannya tersebar menjadi kelompok-kelompok kecil ke berbagai daerah di Sulawesi.

sumber:

Suku To Routa, Sulawesi

Suku Routa (To Routa), adalah salah satu suku sebagai penghuni pertama daerah Nuha di Luwu Timur provinsi Sulawesi Selatan.

Wilayah Distrik Nuha dulu di bawah pemerintahan Kerajaan Matano yang merupakan bagian dari Kedatuan Luwu (Kerajaan Luwu). Di daerah ini terdapat 3 danau, yaitu danau Matano, danau Mahalona dan danau Towuti. Daerah ini berada di daerah perbukitan dan hutan-hutan yang masih lebat, serta memiliki padang rumput dan rawa-rawa di sekitar pinggir danau Mahalona dan Towuti.

Suku To Routa sejak zaman pra sejarah telah menghuni daerah ini. Suku To Routa banyak menguasai wilayah distrik Nuha ini, bagian timur terutama daerah yang memiliki peleburan batu besi seperti La Mangka (Otuno) di sana kampung Helai banyak dihuni orang-orang yang berasal dari daerah Kendari, Asera, Sanggona datang melebur batu besi di daerah Otuno bersama orang Weula dan juga orang-orang dari Mori datang juga di daerah Otuno, mereka saling berjual beli besi (barter) barang dengan bongkahan besi yang sudah dilebur dari batu dan siap ditempa menjadi parang, alat perang dan perlengkapan lainnya. Kemudian di daerah ini menyusul hadir suku To Karonsi’e, To Kondre, To Taipa, To Kinadu, To Tambe’e, To Lamundre dan To Padoe yang akhirnya menjadi penghuni wilayah ini.

Orang Routa dahulu menguasai daerah Nuha dan bermukim di Otuno, Helai Pekaloa dan Sorowako. Orang Routa memiliki perangai yang keras dan suka berperang. Sehingga apabila ada orang-orang yang datang menangkap ikan di telaga (danau-danau) yang terletak di sebelah Timur Plantsite, akan dibunuh dan ditebas dengan pedang. Rupanya hal ini membuat Mokole Matano sang penguasa wilayah ini marah, sehingga orang Routa diusir dengan paksa, mereka pindah ke sekitar danau Towuti.

Orang Routa yang tinggal di daerah Sorowako sempat bercampur dengan orang Weula, daerah yang dulunya dihuni dan dikuasai orang Routa, dari Singkole kearah Timur sampai Otuno, tepatnya di Tambeha, dahulu tempat ini adalah tempat penyimpanan peti-peti mayat orang Routa yang meninggal dunia. Dahulu mereka adalah penganut animisme, percaya kepada roh-roh di alam, setelah tulang-tulang usianya berbulan-bulan dan bertahun-tahun, kemudian diadakan upacara adat sesuai kebiasaan leluhur dan diantar ke gua-gua batu tempat penyimpanan kerangka dan tulang-tulang. Tempat penyimpanan kerangka dan tulang-tulang ini disebut Tazima oleh sebab itu di gunung-gunung berbatu dan di pinggir danau banyak terdapat Tazima milik orang Routa.

Pada tahun 1921 suku To Routa keluar dari wilayah ini, memutuskan berpisah dengan Mokole Matano dan bergabung dengan kerajaan Konawe (Kendari) karena adanya perbedaan pemahaman setelah pemerintahan Hindia Belanda mulai mengintervensi berbagai etnis di Sulawesi terutama Mokole Matano dan Kerajaan Konawe. Kepergian suku To Routa ini diikuti oleh suku To Lamundre yang juga pergi bergabung dengan Kerajaan Konawe di Kendari.

Suku To Weula, Sulawesi

Suku Weula (To Weula), adalah salah satu suku yang pertama menghuni daerah Nuha di Luwu Timur provinsi Sulawesi Selatan.

Wilayah Distrik Nuha dulu di bawah pemerintahan Kerajaan Matano yang merupakan bagian dari Kedatuan Luwu (Kerajaan Luwu), terletak di atas dataran tinggi 362 m2 dari permukaan laut, di dalamnya terdapat 3 danau, yaitu danau Matano, danau Mahalona dan danau Towuti. Kondisi alamnya berbukit-bukit dan berhutan rimba, juga mempunyai padang rumput dan rawa-rawa di sekitar pinggir danau Mahalona dan Towuti.

Suku To Weula adalah suku yang banyak menguasai wilayah distrik Nuha, bagian timur terutama daerah yang memiliki peleburan batu besi seperti La Mangka (Otuno) di sana kampung Helai. Juga orang yang berasal dari daerah Kendari, Asera, Sanggona datang melebur batu besi di daerah Otuno bersama orang Weula dan juga orang-orang dari Mori datang juga di daerah iOtuno, mereka saling berjual beli besi (barter) barang dengan bongkahan besi yang sudah dilebur dari batu dan siap ditempa menjadi parang, alat perang dan perlengkapan lainnya.

Menurut cerita suku Weula sempat bercampur dengan suku Routa yang juga menghuni daerah ini. Tapi karena orang Routa memiliki perangai yang keras, kasar dan suku berperang, orang-orang yang datang menangkap ikan di telaga (danau-danau) dibunuh dan ditebas dengan pedang. Hal ini diketahui oleh sang penguasa wilayah ini, yaitu Mokole Matano, sehingga orang Routa diusir dengan paksa, dan pindah ke sekitar danau Towuti. 
Sepeninggal orang-orang Routa, daerah ini menjadi sunyi karena hanya dihuni oleh kelompok kecil orang Weula yang mendiami kampung Helai dekat Otuno atau dekat penambangan batu besi.

Selanjutnya kemudian datanglah suku-suku lain yang memasuki daerah ini, yaitu suku To Karonsi’e, To Kondre, To Taipa, To Tambe'e dan To Padoe. Rupanya kehadiran penduduk baru ini membuat terusik suku Weula yang juga berwatak keras dan tidak mau membagi wilayah tersebut. Akhirnya sang penguasa wilayah ini Mokole Matano membagi tanah tersebut dan menentukan batas-batasnya agar mereka tidak saling mengganggu satu sama lain. 
Dalam pembagian tanah-tanah tersebut, suku Weula tetap menjadi pemilik tanah yang paling banyak dan paling luas dibanding suku-suku baru tersebut tadi.

Saat ini masyarakat suku Weula atau To Weula sebagian besar hidup sebagai petani. Mereka memiliki kebun dan menanam berbagai jenis tanaman, seperti jagung, ubi-ubian, sayur-sayuran dan buah-buahan.

Suku Tambee, Sulawesi

Suku Tambee, adalah salah satu suku yang berdiam di kecamatan Nuha kabupaten Luwu Timur provinsi Sulawesi Selatan.

Suku Tambee, di Luwu Timur hidup berdampingan bersama 2 saudara serumpunnya yaitu suku Padoe dan suku Karunsie. Ke 3 suku ini tergabung dalam satu wadah yang disebut PASITABE, yang merupakan organisasi suku yang mempersatukan ke-3 suku ini yang sebelumnya sempat terpecah dan tersebar-sebar, akibat pemberontakan Kahar Muzakkar yang mengancam ketentraman mereka, sehingga mereka sempat terpencar ke berbagai daerah di Sulawesi. Tapi pada tahun 1960 mereka kembali lagi ke tempat ini, dan bersatu dengan membentuk PASITABE. Dengan munculnya PASITABE mereka kembali membangun identitas, budaya dan adat istiadat mereka yang telah hilang ketika mereka terpencar meninggalkan daerah ini di masa-masa sebelumnya.

Menurut cerita rakyat bahwa suku Tambee dan suku Karunsi'e dulunya berasal dari suku bangsa Dompipi, yang terbagi menjadi 2 suku yaitu Dompipi To Karunsi’e yang berkampung sekarang di daerah Salonsa (Dongi), Kaporesa, Sinongko dan Pae-Pae. Sedangkan satu lagi adalah Dompipi To Tambe’e Bangkano Tambalako yang berkampung sekarang di daerah Landangi, Koropansu, dan Korolansa.

rumah adat suku Tambee
Suku Tambee adalah salah satu sub-suku Mori, yang berasal dari Sulawesi Tengah. Daerah pemukiman suku Tambee serta suku Padoe dan suku Karunsi'e, termasuk dalam wilayah Mori Selatan. Walau mereka berasal dari Sulawesi Tengah, tapi kini wilayah pemukiman mereka berada dalam wilayah Sulawesi Selatan. Tapi walau begitu, mereka tetap menganggap daerah Sulawesi Tengah sebagai tanah asal nenek moyang mereka.

Suku Tambee, berbicara dalam bahasa Padoe dengan dialek Tambee yang merupakan cabang bahasa Mori. Selain itu mereka juga fasih berbicara dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Melayu Sulawesi tapi dengan logat kental Tambee.

Masyarakat suku Tambee pada umumnya hidup pada bidang pertanian, mereka memiliki lahan kebun yang cukup luas yang ditamani jagung, ubi kayu, ubi jalar dan berbagai tanaman lain, termasuk sayur-sayuran dan buah-buahan. Saat ini beberapa dari mereka bekerja sebagai buruh di perusahaan-perusahaan swasta.

sumber:
sumber lain dan foto:

Suku Karunsie, Sulawesi

suku Karunsi'e
Suku Karunsie (To Karunsi'e), adalah suku yang berdiam di kampung Dongi kecamatan Nuha kabupaten Luwu Timur provinsi Sulawesi Selatan. Populasi suku Karunsi'e diperkirakan sekitar 200 orang.

Suku Karunsi'e berasal dari Sulawesi Tengah, wilayah mereka saat ini masuk dalam wilayah Sulawesi Selatan. Mereka memiliki kerabat dekat yaitu suku Padoe dan suku Tambee, yang bersatu dalam PASITABE, yang merupakan wadah tempat bergabungnya 3 suku, yaitu suku Karunsie, Padoe dan Tambee. Mereka membentuk ini, untuk menyatukan dan mempererat tali persaudaraan ke 3 suku ini yang sebelumnya sempat terpecah dan tersebar-sebar ke berbagai daerah. Dengan adanya PASITABE ini mereka kembali bersatu.

Menurut cerita rakyat bahwa suku Karunsi'e dan suku Tambee dulunya berasal dari suku bangsa Dompipi, yang terbagi menjadi 2 suku yaitu Dompipi To Karunsi’e yang berkampung sekarang di daerah Salonsa (Dongi), Kaporesa, Sinongko dan Pae-Pae. Sedangkan satu lagi adalah Dompipi To Tambe’e Bangkano Tambalako yang berkampung sekarang di daerah Landangi, Koropansu, dan Korolansa.

Suku Karunsi'e berbicara dalam bahasa Karunsi'e yang merupakan sub-bahasa Moro dialek Karunsi'e. Selain itu mereka juga lancar berbicara dalam bahasa Indonesia atau bahasa Melayu Sulawesi tapi tetap dengan logat kental Karunsi'e.
Suku Karunsi'e adalah salah satu dari sub-suku Moro yang banyak berdomisili di Morowali provinsi Sulawesi Tengah.

Kampung Dongi, sebagai pemukiman suku Karunsi'e, menurut mereka nama "dongi", berasal dari nama buah dengen yang banyak tumbuh liar di perkampungan ini. Tanaman buah dengen yang bentuknya bulat, saat matang kulit pembungkus buah mekar berwarna kuning bagaikan kipas dengan rasa daging buah manis kecut, adalah tanaman khas yang hanya tumbuh di kabupaten Luwu Timur.

Suku Karunsi'e yang berdiam di kampung Dongi ini, saat ini merasa resah, karena mereka terancam digusur oleh pemerintah setempat yang ingin mengambilalih wilayah pemukiman suku Karunsi'e ini.

Rumah tradisional KarunsiE, 1911 (Museum Volkenkunde/www.geheugenvannederland.nl)
pemukiman dan rumah adat suku Karunsi'e
Daerah pemukiman suku Karunsi'e ini sebenarnya tergolong kaya akan sumber daya alamnya, tanahnya mengandung biji besi yang saat ini diolah jadi nikel dan digarap oleh perusahaan pertambangan asing, PT. Inco Tbk yang kini berganti nama jadi PT. Vale. Namun tetap saja kehidupan mereka tetap sulit. Pasalnya, sejak puluhan tahun mereka berada dalam tekanan intimidasi dari berbagai pihak yang menginginkan mereka meninggalkan perkampungan tersebut. Bahkan, tanah yang diwariskan leluhur mereka, tidak leluasa lagi untuk digarap. Arela tersebut diklaim oleh pihak perusahaan sebagai wilayah yang masuk dalam area pertambangan yang tercantum dalam kontrak karya.
Kehidupan suku Karunsi'e selalu mendapat tekanan, agar mereka merasa tidak nyaman tinggal di kampung Dongi. Mulai dari pencabutan fasilitas listrik, air bersih, pembangunan sekolah, rumah ibadah dan fasilitas umum lainnya. Bahkan, selama ini mereka yang sebenarnya termasuk warga miskin, tidak pernah mendapat jatah raskin. Saat adanya program pembagian Bantuan Langsung Tunai (BLT), mereka juga tidak ikut menikmatinya.

Sementara, beberapa kuburan kuno tempat pemakaman leluhur suku Karunsi'e pun telah lenyap digilas buldozer perusahaan tambang. Kuburan umum suku Karunsi'e saat ini telah dijadikan kompleks perumahan bujang (dormitory) milik perusahaan tambang. Sementara Tasimatoro uta, atau kuburan batu tempat disemayamkanya leluhur suku Karunsi'e yang berada di lereng gunung Pa'opisi, juga lenyap seiring masuknya perusahaan tambang nikel PT. Inco sekitar tahun 1976 yang lalu.
Sebagian lahan perkampungan Dongi, telah berubah jadi fasilitas penunjang perusahaan, seperti lapangan golf, area test drive, perumahan dan kantor.

suku Karunsie
Masyarakat adat Karunsi'e terus melakukan perlawanan agar tetap bisa mempertahakan kampung Dongi yang dirampas oleh perusahaan asing yang bekerja sama dengan pemerintah setempat. Seperti itulah ketidakadilan yang diterima suku Karunsi'e yang secara perlahan-lahan kampung mereka dirampas dan diambil secara paksa oleh pemerintah setempat.

Orang Karunsi'e pada umumnya bertahan hidup pada bidang pertanian, mereka memiliki kebun yang ditanami beberapa jenis tanaman seperti ubi kayu, ubi jalar, jagung dan beberapa tanaman lain. Selain itu beberapa dari mereka bekerja sebagai buruh di perusahaan-perusahaan swasta.

sumber:
sumber lain dan foto:

Suku Padoe, Sulawesi

Suku Padoe (To Padoe), adalah suku berdiam di daerah kabupaten Luwu Timur provinsi Sulawesi Selatan. Suku Padoe tersebar di Wasuponda dan Sorowako. Mereka banyak terdapat di daerah pegunungan dan lembah di Luwu Timur. Populasi suku Padoe diperkirakan sekitar 18.000 orang.

tari Ende suku Padoe
Suku Padoe mendiami daerah ini diperkirakan sejak abad XIV, yang bermigrasi dari daerah Sulawesi Tengah dan menetap di daerah pegunungan dan lembah di daerah Luwu Timur Sulawesi Selatan. Saat ini orang Padoe lebih banyak bermukim di Wasuponda. Dalam bahasa setempat istilah "Padoe" berarti "orang jauh". Di Luwu Timur mereka menjadi salah satu bagian dari 12 anak suku di bawah pemerintahan Kedatuan Luwu (Kerajaan Luwu).

Dari cerita rakyat bahwa suku Padoe ini berasal dari suku bangsa Lili To Padoe Bangkano Kalende, yang terbagi menjadi 4 suku, yaitu, Padoe, Lasaelawali, Kinadu dan Konde. Padoe sekarang bertempat tinggal di daerah Matompi, Wawondula, Lioka, Tabarano, Tawaki, Tetenona dan Kawata.

Beberapa cerita rakyat tentang banyaknya para Pongkiari (ahli perang) dari suku Padoe di masa lalu, membuat Datu Luwu memberikan penghormatan tersendiri kepada para Pongkiari dan seluruh suku Padoe. Karenanya, apabila pemimpin Kedatuan Luwu menggelar sebuah hajatan, selalu mempersiapkan tempat khusus untuk orang-orang Padoe dan suku Padoe tidak diminta memberikan upeti kepada Datu Luwu. Cerita rakyat tentang kehebatan Pongkiari ini, konon danau Matano, danau Mahalona dan danau Towuti terbentuk karena pertempuran para Pongkiari. Begitu dahsyatnya pertempuran itu, membuat terciptanya kubangan yang sangat luas dan dalam sehingga membentuk sebuah danau. Namun seiring perkembangan zaman, eksistensi Pongkiari berangsur-angsur hilang.

tari Mangkaliboe suku Padoe
Pada era pemberontakan DI/TII Kahar Muzakkar di Sulawesi Selatan, banyak orang Padoe kembali ke tanah nenek moyang mereka ke Sulawesi Tengah seperti ke Beteleme, Poso, Taliwan, Parigi, dan lain-lain. Hal ini menyebabkan suku Padoe banyak tersebar dan berdiam di wilayah Sulawesi Tengah hingga kini.

Dahulu orang Padoe menganut agama kepercayaan Melahomua, sebuah aliran kepercayaan yang meyakini kekuatan alam, pohon yang dianggap keramat, gunung, bukit, hingga hal-hal kecil lainnya. Orang Padoe akan memberikan persembahan kepada benda yang dianggap bisa membawa berkah.
perkampungan suku Padoe
Pada tahun 1920-an para misionaris Kristen memasuki wilayah suku Padoe dan memperkenalkan agama Kristen kepada masyarakat suku Padoe. Pada awalnya sangat sedikit yang mengikuti ajaran Kristen. Tapi perlahan-lahan akhirnya mereka semua menerima agama Kristen, dan saat ini mereka menjadi penganut agama Kristen yang taat.
Pada tahun 1965 banyak orang Padoe yang kembali ke kampung halamannya di Sulawesi Tengah, akibat adanya pergerakan Darul Islam Tentara Islam Indonesia (DI/TII) yang dipimpin Kahar Muzakkar sejak 1950 hingga 1965 adalah masa suram yang membuat mereka terpencar-pencar ke berbagai daerah.
Tahun 1968 ketika perusahan tambang nickel PT Inco membuka eksplorasinya, secara perlahan para penduduk yang tersebar mulai kembali mendatangi kembali daerahnya.

sumber:
sumber lain dan foto:

Suku Maroangin (Massenrempulu), Sulawesi

Suku Maroangin (Marowangin), adalah salah satu komunitas masyarakat adat yang hidup di salah satu desa di kabupaten Enrekang provinsi Sulawesi Selatan.

Suku Maroangin berdiam di Maroangin kecamatan Maiwa kabupaten Enrekang. Istilah Maroangin sendiri dikatakan berasal dari 2 kata yaitu "maroa" dan "angin".

orang Maroangin
Suku Maroangin ini tergabung dalam kesatuan adat yang dinamakan suku Massenrempulu, bersama suku Enrekang dan suku Duri. Ketiga suku bersatu dan membentuk suku Massenrempulu. Suku Maroangin banyak bermukim di kampung yang berbatasan dengan kabupaten Sidrap. Di daerah pegunungan banyak berdiri kampung suku Duri. Sedangkan suku Enrekang banyak bermukim di kota Enrekang. Sehingga dalam keseharian mereka kadang menyebut diri mereka sebagai suku Massenrempulu. Istilah Massenrempulu sendiri memiliki arti sebagai "melekat seperti beras ketan".

Suku Maroangin berbicara dalam bahasa Maiwa yang mirip dengan bahasa Bentong, tetapi memiliki keterkaitan juga dengan bahasa Toraja. Sehingga ada anggapan bahwa suku Maroangin juga masih berkerabat dengan suku Toraja.
Istilah Maroangin sendiri agak menjadi permasalahan, beberapa beranggapan bahwa Maroangin bukanlah sebuah identitas untuk komunitas masyarakat seperti sebuah suku, karena Maroangin menurut anggapan lebih tepat kalau disebut sebagai suku Maiwa, karena bahasa yang digunakan adalah bahasa Maiwa. Hal ini menunjukkan Maroangin berarti sama dengan Maiwa ? bisa jadi ... hal tersebut mungkin hanya masalah sebutan pada identitas saja.

Agama Islam adalah agama mayoritas dalam masyarakat Maroangin, seperti suku Duri dan Enrekang yang tergabung dalam suku Massenrempulu.

Kehidupan sehari-hari masyarakat suku Maroangin ini adalah sebagai petani. Mereka menanam padi serta beberapa jenis tanaman lain seperti ubi kayu, ubi jalar, jagung dan lain-lain. Mereka juga banyak yang menjadi pedagang dan bekerja di berbagai bidang lain. Sebagian lain merantau ke Makassar, Toraja, Kendari, bahkan sampai ke kota-kota di luar Sulawesi.

sumber:
gambar:
  • rewan217.blogspot.com

Suku Massenrempulu, Sulawesi

suku Massenrempulu
Suku Massenrempulu, adalah suatu komunitas adat yang terdapat di provinsi Sulawesi Selatan.

Suku Massenrempulu, sebenarnya lebih tepat kalau disebut sebagai "kelompok suku" daripada sebutan "suku". Karena Massenrempulu adalah merupakan bersatunya 3 suku yang bersama-sama membentuk kesatuan yang disebut Massenrempulu. Massenrempulu ini begitu kuat dalam mempersatuan ke-3 suku ini, sehingga lama kelamaan disebut menjadi suku Massenrempulu. Ke-3 suku yang bergabung dalam kesatuan suku Massenrempulu adalah suku Enrekang, suku Duri dan suku Maroangin. Ke-3 suku ini menyebut dirinya sebagai suku Massenrempulu.

Dalam bahasa Enrekang, istilah "masserempulu" berarti "melekat seperti beras ketan". Kata yang digunakan untuk menunjukkan kesatuan dari ke-3 suku tersebut. Dalam bahasa Bugis, "masserempulu" disebut "masserembulu", yang berarti "jajaran gunung-gunung".

Suku Masserempulu tinggal di daerah yang terdiri dari jajaran gunung-gunung, yaitu di gunung Latimojong, yang sudah dikenal dimana-mana, dan sering dikunjungi para pendaki dan wisatawan.

Di daerah wilayah adat Massenrempulu ini, yang berada di daerah pegunungan, banyak ditemukan desa-desa suku Duri; dan di daerah yang berbatasan dengan kabupaten Sidrap, banyak ditemukan desa-desa suku Marowangin, sedangkan suku Enrekang banyak bermukim di kota Enrekang. Ke-3 suku ini walaupun berbeda wilayah dan bahasa, suku Enrekang, suku Duri, dan suku Maroangin, namun apabila berkomunikasi bisa dengan mudah saling mengerti dan memahami apa yang diucapkan di antara mereka.

Ada pendapat mengatakan bahwa suku Massenrempulu ini adalah meruipakan kombinasi antara dua suku, yaitu: Bugis dan Toraja. Pendapat ini bisa saja diterima, karena suku anggota Massenrempulu ini, seperti suku Duri dan suku Enrekang merupakan kerabat suku Toraja, lagipula bahasa mereka juga mirip dengan bahasa Toraja, tapi secara budaya mereka lebih dekat dengan suku Bugis, begitu juga dengan suku Maroangin. Sehingga pendapat yang mengatakan bahwa suku Massenrempulu merupakan kombinasi antara Bugis dan Toraja masih dapat diterima.

Tapi pendapat suku Massenrempulu sendiri bahwa mereka bukanlah gabungan suku Bugis dan Toraja, karena menurut mereka bahwa mereka memiliki bahasa dan budaya sendiri yang berbeda dengan Bugis dan Toraja. Menurut mereka seperti dalam adat pernikahan, misalnya, suku Massenrempulu tidak punya upacara seperti Mappacci, Korontigi, Lekka dan lainnya. Keluarga perempuan juga sangat malu jika anak gadisnya dilamar dengan materi yang sangat mahal. Hal ini berbeda dengan suku Bugis. Kemudian mereka juga tidak memiliki adat kematian yang begitu banyak seperti halnya yang dilakukan suku Toraja.

Pada masa dahulu suku Massenrempulu memiliki sebuah agama tradisional seperti agama yang beraliran animisme bernama Alu’ Tojolo. Namun, dengan masuknya agama Islam, Alu’ Tojolo pun secara perlahan ditinggalkan. Hanya di desa Bakara yang penduduknya terdapat masih menganut agama Alu’ Tojolo. Penganut agama Alu' Tojolo di desa Bakara, tetap rutin melakukan pertemuan 1-2 kali sebulan dan mereka biasa melakukan ritualnya di gunung Latimojong.

Dulu, suku Masserempulu juga memiliki stratifikasi sosial, yaitu bangsawan, menengah, dan rakyat jelata. Stratifikasi sosial tersebut kemudian dihapus oleh Kahar Mudzakkar ketika dia dan pasukannya menguasai Enrekang. Menurut Kahar, gelar Puang hanya milik Tuhan, manusia tidak pantas memilikinya.

Pada umumnya suku Massenrempulu ini hidup pada bidang pertanian, juga berdagang dan menjadi pegawai di kantor pemerintah dan swasta. Sedangkan yang lain merantau ke berbagai daerah seperti Makassar, Toraja, Kendari, bahkan sampai ke luar pulau seperti di kota-kota di Kalimantan.

sumber:
sumber lain dan foto:
  • faceofindonesia-faceofindonesia.blogspot.com

Suku Toala, Sulawesi

Suku Toala atau suku Pannei, adalah nama suatu kelompok masyarakat adat yang terdapat di kabupaten Pangkep dan kabupaten Maros provinsi Sulawesi Selatan.

Suku Toala adalah penduduk asli Sulawesi Selatan yang mendiami desa Leang Pata’E di Lomoncong yang terletak di ujung kabupaten Maros provinsi Sulawesi Selatan. Suku Toala sendiri menjadi masyarakat minoritas di desa Leang-leang yang secara mayoritas dihuni oleh suku Bugis yang hidup dari pertanian kebanyakan menggarap sawah dan beternak. Selain itu komunitas suku Toala ini juga terdapat di kabupaten Pangkep dan kabupaten Polewali Mandar. Suku Toala, di daerah kabupaten Pangkep dan kabupaten Polewali Mandar lebih dikenal dengan sebutan suku Pannei.

Secara ras, suku Toala agak berbeda dengan suku-suku lain di Sulawesi. Mereka memiliki ras Weddoid, seperti orang Kubu dan Lubu di Sumatra. Mereka memiliki kulit gelap, rambut keriting dan ukuran tubuh yang tidak tinggi, sekitar 150 cm. Menurut para peneliti, orang Toala ini merupakan suku tertua di Sulawesi Selatan, bahkan tertua di pulau Sulawesi. Telah hadir di bumi Sulawesi sejak zaman Mezolithicum, yaitu zaman batu muda, sekitar 5000 tahun yang lalu, bahkan ada peneliti yang mengatakan bahwa nenek moyang suku Toala telah ada sekitar 8000 tahun Sebelum Masehi. Suku Toala ini lah sebagai penghuni pertama pulau Sulawesi, di saat pulau Sulawesi masih menyatu dengan daratan Asia Tenggara, menurut teori gletser. Mereka hadir dalam beberapa gelombang dalam kelompok-kelompok kecil, menyebar ke seluruh wilayah Indonesia Purba. Jejak suku Toala purba terdapat juga di Sulawesi Tenggara, sehingga ada cerita di Sulawesi Tenggara bahwa suku Toala adalah salah satu penghuni pertama di Sulawesi Tenggara..

lukisan di dinding gua Leang-leang
suku Toala Purba
pic pendidikan4sejarah
Ditemukan sebuah gua yang bernama Gua Leang-leang, yang terdapat di kabupaten Maros provinsi Sulawesi Selatan di daerah pegunungan pada ketinggian 800 meter dpl. Pada dinding gua ini terdapat bekas gambar telapak tangan dan telapak kaki manusia, selain itu terdapat juga gambar perahu, rusa dan babi hutan. Ini adalah jejak-jejak manusia yang hidup pada zaman ini, yang diduga adalah peninggalan nenek moyang suku Toala di masa lalu. Menurut para peneliti bahwa di tempat ini lah nenek moyang suku Toala menjadikan gua ini sebagai tempat tinggal. Uniknya jalan menuju ke gua ini, harus melalui anak tangga sebanyak 999 buah. Di dalam Gua Leang-leang ini juga ditemukan flakes (ujung mata panah yang sisi-sisinya bergerigi).

Suku Toala (Pannei) saat ini diperkirakan memiliki populasi sebesar 250.000 orang.

Kehidupan masyarakat suku Toala (Pannei) ini pada umumnya berprofesi sebagai petani. Mereka mengelola tanaman padi di sawah. Sebagian dari mereka juga ada yang memilih profesi sebagai nelayan. Selain itu beberapa dari mereka menjadi perajin yang menghasilkan beragam jenis kerajinan.

sumber:
  • wikipedia
  • sabda.org
  • sangbaco.com
sumber lain dan foto:

Suku Duri (Massenrempulu), Sulawesi

Suku Duri, adalah nama sebuah suku yang bermukim di daerah pegunungan di kabupaten Enrekang provinsi Sulawesi Selatan.

musik Bambu
suku Duri (Massenrempulu)
pic students ittelkom
Pemukiman suku Duri ini berbatasan dengan Tana Toraja. Pemukiman orang Duri berada di kecamatan Baraka, Anggeraja dan Alla, yang terdiri dari 17 desa. Saat ini banyak orang Duri yang bermigrasi ke daerah lain, seperti ke Pare-Pare, Toraja, Makassar, hingga ke provinsi Sulawesi Tenggara, Sulawesi Tengah dan ke pulau-pulau lain hingga ke Malaysia.

Dalam keseharian, orang Duri memiliki sifat kekeluargaan dan gotong royong yang tinggi. Dahulu, mereka mengenal adanya status sosial dari kaum bangsawan, rakyat biasa dan budak. Kini, segala bentuk tingkatan sosial itu sudah mereka tinggalkan. Sekarang ini lebih ditentukan oleh status sosial berdasarkan pendidikan dan kekayaan yang dimiliki.

Suku Duri tergabung dengan suku Enrekang dan suku Maroangin (Marowangin) dalam satu kesatuan yang disebut sebagai suku Massenrempulu. Secara ras dan bahasa, suku Duri lebih dekat dengan suku Toraja. Bahasa Duri mirip dengan bahasa Toraja, oleh karena itu suku Duri sering dianggap sebagai bagian dari suku Toraja. Tapi beberapa adat istiadat dan budaya suku Duri banyak terpengaruh adat-istiadat dan budaya suku Bugis, sehingga kadang-kadang juga orang Duri juga dianggap sebagai sub-suku dari suku Bugis.

Masyarakat suku Duri sebagian besar memeluk agama Islam. Pada masa lalu sebelum mengenal Islam, mereka memiliki suatu agama kepercayaan tradisional yang disebut sebagai Alu' Tojolo. Agama kepercayaan tradisional ini mirip dengan agama kepercayaan tradisional suku Toraja. Sebagian kecil orang Duri masih ada yang mempertahankan agama kepercayaan tradisional ini, seperti di Baraka, pengikut agama kepercayaan Alu' Tojolo ini mengadakan pertemuan secara teratur 1-2 kali dalam sebulan. Masyarakat suku Duri tetap mempertahankan dan memelihara adat-istiadat sesuai dengan ajaran nenek moyang mereka.

Sebagian besar masyarakat suku Duri bermatapencarian pada bidang pertanian, dengan hasil yang beragam. Mereka juga menanam beberapa tanaman keras, dan memelihara hewan ternak. Sebagian kecil membuat barang kerajinan. Tanaman pertanian suku Duri, mulai dari padi, jagung, ubi, cabe dan bawang merah sebagai tanaman utama. Selain itu mereka juga memproduksi keju yang diolah secara tradisional dikenal dengan nama dangke, yang diolah dari susu sapi dan kerbau ditambah sari buah atau daun pepaya.

sumber:
  • sosbud.kompasiana.com
  • sabda.org
  • wikipedia
sumber lain dan foto:
  • students.ittelkom.ac.id

Suku Bugis, Sulawesi

suku Bugis
pic siswa univpancasila
Suku Bugis, adalah salah satu suku bangsa yang terdapat di Sulawesi Selatan. Populasi suku Bugis ini adalah yang terbesar di Sulawesi Selatan, dan diperkirakan mencapai 6 juta orang pada sensus tahun 2000.

Orang Bugis adalah termasuk bangsa perantau dan pengembara. Populasi suku Bugis tersebar di berbagai wilayah di Indonesia, selain di Sulawesi Selatan, suku Bugis juga tersebar di Sulawesi Tenggara, Sulawesi Tengah, Papua, Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan. Komunitas suku Bugis juga ditemukan ada di provinsi Riau, tapi pada umumnya sudah mengikuti adat-istiadat suku Melayu Riau, walaupun begitu mereka tetap mengaku sebagai orang Bugis. Keturunan orang Bugis juga ditemukan di Malaysia dan Brunei.

Agama Islam masuk ke kalangan orang Bugis pada abad 17, yang berkembang dengan cepat, sehingga saat ini menjadi agama rakyat bagi masyarakat Bugis. Orang Bugis mayoritas adalah pemeluk agama Islam.

Asal-usul suku Bugis pertama kali diperkirakan berasal dari daratan China Selatan, menurut para peneliti dikatakan dari Yunnan, China Selatan, sekitar awal abad Masehi, bersama kelompok deutro malayan, yang masuk dengan kelompok yang besar- ke wilayah kepulauan Asia Tenggara ini. Menurut dugaan lain, bahwa orang Bugis ini adalah penduduk penghuni daerah pesisir Indochina, di sekitar Burma dan Thailand, yang terdesak oleh bangsa Arya yang menginvasi daerah pesisir Indochina. Mereka sempat bertahan dan berperang melawan bangsa Arya ini, tapi karena mereka hanya terdiri dari para petani dan nelayan dan kalah dalam persenjataan, akhirnya mereka pun terpecah-pecah dan tersebar ke daerah kepulauan di Asia Tenggara dan salah satunya mendarat ke daerah Sulawesi Selatan sekarang ini.
Di daerah baru ini, mereka berbaur dengan penduduk asli yang terlebih dahulu berada di daerah ini. Tapi karena pertumbuhan mereka sangat pesat dengan budaya yang mereka bawa, akhirnya penduduk asli terdesak masuk lebih ke pedalaman dan menyingkir ke daerah lain.

gadis-gadis suku Bugis
pic suryadinlaoddang
Orang Bugis menyebut dirinya sebagai "To Ugi" yang berarti "orang Bugis". Nama "ugi" merujuk pada raja pertama kerajaan Cina yang terdapat di Pammana, kabupaten Wajo saat ini, yaitu La Sattumpugi. Ketika rakyat La Sattumpugi menamakan dirinya, maka mereka merujuk pada raja mereka. Mereka menjuluki dirinya sebagai To Ugi atau orang-orang atau pengikut dari La Sattumpugi. La Sattumpugi adalah ayah dari We Cudai dan bersaudara dengan Batara Lattu, ayah dari Sawerigading. Sawerigading sendiri adalah suami dari We Cudai dan melahirkan beberapa anak termasuk La Galigo yang membuat karya sastra terbesar di dunia dengan jumlah kurang lebih 9000 halaman folio. Sawerigading Opunna Ware (Yang dipertuan di Ware) adalah kisah yang tertuang dalam karya sastra I La Galigo dalam tradisi masyarakat Bugis. Kisah Sawerigading juga dikenal dalam tradisi masyarakat Luwuk, Kaili, Gorontalo dan beberapa tradisi lain di Sulawesi seperti Buton.

rumah tradisional suku Bugis
pic portalbugis
Seiring waktu berjalan, masyarakat Bugis purba ini tumbuh dan berkembang selama beberapa abad, dan menjadi beberapa kelompok-kelompok kecil yang tersebar ke segala penjuru pulau Sulawesi. Setelah beberapa abad berjalan, dalam perkembangannya, komunitas ini berkembang dan membentuk beberapa kerajaan. Masyarakat ini kemudian mengembangkan kebudayaan, bahasa, aksara, dan pemerintahan mereka sendiri. Beberapa kerajaan Bugis klasik antara lain Luwu, Bone, Wajo, Soppeng, Suppa, Sawitto, Sidenreng dan Rappang. Meski tersebar dan membentuk suku Bugis, tapi proses pernikahan menyebabkan adanya pertalian darah dengan Makassar dan Mandar. Saat ini orang Bugis tersebar dalam beberapa kabupaten yaitu Luwu, Bone,Wajo, Soppeng, Sidrap, Pinrang, Barru. Daerah peralihan antara Bugis dengan Makassar adalah Bulukumba, Sinjai, Maros, Pangkajene Kepulauan. Daerah peralihan Bugis dengan Mandar adalah Kabupaten Polmas dan Pinrang. Kerajaan Luwu adalah kerajaan yang dianggap tertua bersama kerajaan Cina (yang kelak menjadi Pammana), Mario (kelak menjadi bagian Soppeng) dan Siang (daerah di Pangkajene Kepulauan).

Secara sejarah asal-usul orang Bugis masih satu rumpun dengan orang Makassar dan orang Mandar. Banyak terdapat kemiripan dari segi adat-istiadat, budaya dan bahasa antara ketiga suku bangsa ini. Selain banyak terlibat hubungan kekerabatan di antara mereka.

Pemukiman masyarakat suku Bugis tersebar di dataran rendah yang subur dan pesisir, kebanyakan masyarakat Bugis hidup sebagai petani dan nelayan. Mata pencaharian lain yang diminati orang Bugis adalah pedagang. Selain itu masyarakat Bugis juga mengisi birokrasi pemerintahan dan menekuni bidang pendidikan.

sumber:
  • bangsabugis.blogspot.com
  • wikipedia
  • dan sumber lain
sumber lain dan foto:
  • siswa.univpancasila.ac.id
  • suryadinlaoddang.com
  • portalbugis.wordpress.com

Suku Makassar, Sulawesi

suku Makassar
tari Parago
pic aroelaidah
Suku Makassar, adalah nama sebuah suku yang memiliki populasi besar di Sulawesi Selatan. Populasi suku Makassar diperkirakan lebih dari 2 juta orang.

Orang Makassar menyebut diri mereka sebagai Mangkassara atau Mangassara. Orang Makassar tersebar mulai dari kota Makassar, kabupaten Gowa, Takalar, Je'neponto, Bantaeng, Bulukumba, Selayar, Maros, Pangkep serta ke luar wilayah Sulawesi Selatan, seperti di Sulawesi Barat, Sulawesi Tengah dan Sulawesi Tenggara. Selain itu penyebaran orang Makassar juga banyak ditemukan di Kalimantan Timur,

Suku Makassar juga memiliki beberapa sub-suku yang tersebar di beberapa daerah lain, di Sulawesi Selatan dan daerah lain, termasuk ke wilayah provinsi lain. Kelompok sub-suku ini memiliki dialek bahasa yang berbeda-beda, tetapi masih dalam rumpun bahasa Makassar. Menurut sebuah cerita, pada masa lalu akibat serangan pasukan kolonial Belanda ke Kerajaan Gowa, banyak masyarakat Makassar yang terpecah-pecah dan menyebar ke berbagai daerah, termasuk ke daerah pegunungan, dan ke hutan pedalaman. Di dalam persebaran ini, mereka membentuk kelompok-kelompok kecil, yang menjadi komunitas suku yang kecil-kecil. Suku-suku kecil inilah yang sekarang dianggap sebagai sub-suku Makassar.

Terdapat beberapa suku yang dianggap sebagai bagian dari sub-suku Makassar, yaitu:

suku Makassar:
  • Makassar Lakiung
  • Turatea:
    • Je'neponto
    • Bantaeng
  • Konjo (Bulukumba dan Sebagian Maros)
  • Selayar

gadis-gadis suku Makassar
pic enjoy-makassar-id
Orang Makassar memiliki karakter yang terbuka, dan spontan dalam menghadapi sesuatu persoalan. Selain itu mereka termasuk orang yang mudah bergaul, walau pun kadang-kadang mengucapkan kata yang cenderung kasar (menurut kelompok suku lain), tapi mereka adalah orang-orang yang setia dalam persahabatan.

Pada masa lalu pernah berdiri suatu kerajaan besar bernama Kerajaan Gowa di tanah Makassar, sekitar abad 14 sampai 17. Kerajaan Gowa ini memiliki armada laut yang mampu menjelajah ke luar wilayah Sulawesi, sampai ke beberapa daerah lain di kepulauan Indonesia.

Suku Makassar secara sejarah dan asal-usul masih berkerabat dengan suku Bugis. Menurut cerita, bahwa pada awalnya, suku Makassar dan suku Bugis adalah hidup sebagai satu kesatuan suku-bangsa. Tapi seiring dengan berjalannya waktu, mereka terpisah dengan membentuk kelompok suku sendiri-sendiri.

Menurut cerita lain, bahwa sejak beberapa abad yang lalu, kedua suku ini terpecah akibat strategi Belanda yang memecah-belah kedua etnis ini menjadi dua kelompok yang berbeda. Kedua kelompok suku bangsa Makassar ini pada masa lalu, adalah suku bangsa yang paling keras menentang kehadiran Belanda di wilayah mereka. Mereka selalu menyerang Belanda dimanapun mereka jumpai. Beberapa tokoh sentral Gowa, yang terkenal adalah Karaeng Galesong, yang memimpin armada lautnya untuk memerangi kapal-kapal Belanda.

Bahasa Makassar adalah bahasa yang diucapkan oleh suku Makassar sejak berabad-abad yang lalu. Bahasa Makassar ini masih berkerabat dengan bahasa Bugis dan bahasa Mandar. Walaupun terdapat perbedaan-perbedaan, tapi pada umumnya mereka bisa saling menangkap maksud percakapan di antara mereka.
Bahasa Makassar saat ini, menurut penuturan mereka, sudah banyak berubah, dan banyak terpengaruh bahasa-bahasa lain, seperti dari bahasa Bugis dan bahasa Melayu.
Bahasa Makassar yang asli, sebenarnya masih bisa ditemukan di daerah Gowa bagian selatan tepatnya di kaki gunung Lompobattang. Di desa Lompobattang ini keaslian bahasa Makassar masih terjamin karena belum tercampuri oleh perkembangan bahasa modern maupun dari bahasa-bahasa suku lain. Bahasa Makassar yang tergolong masih murni, bisa ditemukan di daerah Gowa (Sungguminasa, Lembang Bu’ne, Malino dan Malakaji), di Takalar, lalu di Jeneponto (Bontosunggu, Tolo' dan Rumbia), di Bantaeng (Dammpang) dan di Bulukumba (Tanete).

Suku Makassar adalah suku-bangsa yang suka mengembara, pada beberapa abad yang lalu, komunitas suku Makassar suka mengembara di lautan, menyeberangi lautan dan mendarat di Afrika Selatan. Di Afrika Selatan terdapat sebuah daerah yang bernama Maccassar. Diduga penduduk setempat merupakan keturunan campuran antara penduduk asli dengan orang-orang Makassar yang bermigrasi ke wilayah ini. Sedangkan nama Maccassar diduga karena mereka berasal dari tanah nenek moyang mereka dari Makassar.

rumah adat suku Makassar
Karampuang
pic wisata sulawesi
Masyarakat suku Makassar pada zaman dahulu, memiliki agama purba yang animisme, yaitu Turei A’rana (kehendak yang tinggi). Orang Makassar percaya kepada Dewa yang disebut Dewata SeuwaE (dewa yang tunggal) atau Turei A'rana (kehendak yang tinggi). Sebutan kepada Dewa orang Purba di Sulawesi, memiliki beragam sebutan, seperti orang Bugis menyebutnya dengan istilah PatotoE (dewa yang menentukan nasib). Orang Mandar menyebutnya Puang Mase (yang maha kedendak) dan orang Toraja menyebutnya Puang Matua (Tuhan yang maha mulia).
Orang Makassar Purba percaya adanya dewa yang bertahta di tempat-tempat tertentu. Seperti kepercayaan mereka tentang dewa yang berdiam di Gunung Latimojong. Dewa tersebut mereka sebut dengan nama Dewata Mattanrue. Dihikayatkan bahwa dewa tersebut kawin dengan Enyi’li’timo’ kemudian melahirkan PatotoE. Dewa PatotoE kemudian kawin dengan Palingo dan melahirkan Batara Guru. Batara Guru dipercaya oleh sebagian masyarakat Sulawesi Selatan sebagai Dewa Penjelajah, yang telah menjelajahi seluruh kawasan Asia dan bermarkas di puncak Himalaya. Kira-kira satu abad sebelum Masehi Batara Guru menuju ke Cerekang Malili dan membawa empat kasta. Keempat kasta tersebut adalah kasta Puang, kasta Pampawa Opu, kasta Attana Lang dan kasta orang kebanyakan.

Sejak beberapa abad yang lalu, masyarakat suku Makassar telah mengenal agama Islam, mayoritas orang Makassar adalah beragama Islam. Sejak mereka memeluk Islam, segala bentuk kepercayaan agama purba mereka pun ditinggalkan. Agama Islam telah hadir di kalangan masyarakat orang Makassar sejak berabad-abad yang lalu. Mereka adalah penganut Islam yang kuat. Agama Islam menjadi agama rakyat bagi suku Makassar, sehingga beberapa tradisi adat dan budaya serta dalam kehidupan sehari-hari suku Makassar banyak dipengaruhi oleh tradisi dan budaya yang mengandung unsur Islami.

Masyarakat suku Makasar saat ini adalah masyarakat perkotaan, karena komunitas masyarakat suku Makassar terkonsentrasi di kota-kota. Mereka berprofesi di segala bidang, mulai dari petani, nelayan, pengusaha, pedagang, guru dan berbagai bidang di sektor pemerintahan dan sektor swasta.

sumber bacaan:
sumber lain dan foto:
  • aroelaidah.wordpress.com
  • enjoy-makassar-id.blogspot.com
  • wisatasulawesi.wordpress.com

Suku Wotu (suku Luwu), Sulawesi

Suku Wotu, adalah suatu masyarakat adat yang terdapat di kabupaten Luwu sebelah Timur provinsi Sulawesi Selatan.

Kata "wotu" berasal dari kata "fotu" berarti "rumpun keluarga", atau bisa juga berarti "ibukota tercinta".

Seperti yang banyak dipertanyakan orang, apakah suku Luwu itu ada? ada yang mengatakan tidak ada, sedangkan yang lain menyatakan ada. Sebenarnya suku Luwu itu ada, tapi saat ini telah menggunakan identitas suku dengan nama lain, tapi tetap mengakui diri mereka sebagai suku Luwu, yang saat ini lebih dikenal sebagai suku Wotu.
Suku Wotu inilah yang disebut sebagai suku Luwu. Selain menyebut diri mereka sebagai orang Wotu, mereka juga menyatakan diri sebagai suku Luwu.. Mereka memiliki karakter sendiri sebagai orang Luwu, mereka memiliki adat-istiadat, budaya dan bahkan sistem pemerintahan sendiri.
Suku Wotu berbeda dengan orang Bugis, mereka berdiri sendiri sebagai etnis atau suku yang telah hadir di wilayah ini sejak lama. Suku Wotu, adalah suku tertua yang ada di Tanah Luwu. Keberadaan suku Wotu ini memiliki sejarah panjang, bahkan mereka pernah memiliki kerajaan yang lebih tua dari Kerajaan Luwu.

Suku Wotu memiliki bahasa sendiri yang disebut bahasa Wotu. Bahasa Wotu berkerabat dekat dengan bahasa Kaili, bahasa Buton dan bahasa Selayar. Menurut dugaan para peneliti kemungkinan suku Wotu, suku Kaili dan suku Buton, memiliki sejarah asal-usul yang sama, atau terjadi hubungan kekerabatan pada masa lalu.

Suku Wotu memiliki silsilah yang terpelihara dengan baik, yang dituturkan secara turun temurun kepada generasi yang lebih muda
Bau Jala, adalah seorang Macoa Bawalipu (Pemangku Adat) yang pertama, memiliki 3 orang saudara kandung, yaitu: Bau Leko di Palu, Bau Kuna di Buton dan Bau Cina di Palopo.

Masyarakat adat suku Wotu, memiliki struktur pemerintahan sendiri yang pembagian tugasnya telah diatur dengan sedemikian maju. Dalam menjalankan pemerintahan adat, masyarakat adat suku Wotu dipimpin oleh seorang Pemangku Adat yang bergelar Macoa Bawalipu.

seorang Macoa Bawalipu
Bp. Alwi Jenggot
pic sejarah kompasiana
Secara singkat dapat digambarkan sebagai berikut:
  • Macoa Bawalipu, adalah gelar yang diberikan kepada pimpinan pemangku adat di Wotu sebagai Macoa.
  • Macoa Bentua, menangani urusan dalam negeri pada umumnya.
  • Macoa Mincara Oge, mengurusi masalah ekonomi,
  • Macoa Palemba Oge, mengurusi antara lain bidang pertahanan dan
  • Luar negeri/hadat.
  • Oragi Bawalipu, mengurusi antara lain, urusan rumah tangga adat.
  • Oragi Datu, mengurusi antara lain keperluan datu Luwu bila yang mulia hadir dalam rapat hadat.
  • Oragi Ala, mengurusi antara lain antara lain,bidang kehutanan pertanian dan kelautan.
  • Anre Guru Ilitau, mengurusi antara lain bidang kepemudaan,seni dan olah raga.
  • Anre Guru To Mengkeni, mengurusi antara lain antara lain mantan pejabat-pejabat adat yang berhenti secara terhormat.
  • Anre Guru Pawawa, mengurusi urusan bidang keagamaan dan sosial budaya.
  • Anre Guru Lara, mengurusi urusan antara lain urusan rumah tangga adat khususnya bila ada pertemuan adat.
  • Anre Guru Nanra. Mengurusi antara lain bidang kesetaraan gender.
  • Anre Guru Tomadappe, mengurusi antara lain para pendatang dan transmigrasi.
  • Angkuru , yaitu mengurusi antara lain urusan pretokol.
  • Paramata Lewonu. Utusan khusus Macoa Bawalipu ,untuk mengurusi urusan Wotu sampai Minna.
  • Paramata Rompo.Utusan khusus Macoa Bawalipu, untuk mengurusi urusan Wotu sampai dengan Bada’.
  • Tanggi. Pesuruh atau hubungan masyarakat.

sumber bacaan:
sumber lain dan foto:

Suku Selayar, Sulawesi

suku Selayar
pic selayaronline
Suku Selayar (To Silajara), merupakan suatu komunitas masyarakat yang berdiam di pulau Selayar yang berada di kabupaten kepulauan Selayar di provinsi Sulawesi Selatan.

Komunitas suku Selayar, selama ini lebih dikenal sebagai sub-suku Makassar, atau kadang disebut juga sebagai suku Bugis-Selayar. Beberapa penulis dan peneliti sering menganggap suku Selayar ini adalah bagian dari suku Makassar.
Secara kultur budaya, suku Selayar ini mirip dengan kultur budaya suku Makassar dan suku Bugis. Beberapa cara hidup dan adat, serta bisa dikatakan mirip dengan orang Makassar. Adat pernikahan, pakaian tradisional seperti baju bodo, erang-erang bosara dan beberapa lain bisa dikatakan sama dengan orang Makassar dan orang Bugis. Selain itu selama ini sebelum-sebelumnya orang Selayar juga menerima saja apabila disebut sebagai orang Makassar atau orang Bugis.
Tapi belakang muncul gejolak ingin bangkit dari bayang-bayang "Makassar" dan "Bugis". Orang Selayar ingin berdiri sendiri sebagai "suku bangsa" yang diakui oleh semua orang sebagai "suku Selayar".

Suku Selayar memiliki bahasa sendiri, yaitu bahasa Selayar. Bahasa Selayar berbeda dengan bahasa Makassar dan bahasa Bugis. Beberapa perbendaharaan kata dalam bahasa Selayar memiliki kata yang sama dengan bahasa Makassar dan bahasa Bugis, namun dialek dan intonasinya sangat halus. Dalam bahasa Selayar tidak mengenal kata-kata kasar. Bahasa Selayar mempunyai hubungan dengan bahasa Konjo Pesisir yang banyak dipakai di kecamatan Ujung Loe kabupaten Bulukumba provinsi Sulawesi Selatan. 
Tapi walau suku Selayar menyatakan diri mereka berbeda dengan suku Makassar dan suku Bugis, tapi secara rumpun dan sejarah asal-usul, kemungkinan besar di antara mereka memiliki sejarah asal-usul dan nenek moyang yang sama.

gadis Selayar
Orang Selayar mayoritas adalah pemeluk agama Islam. Perkembangan agama Islam sangat kuat di kalangan masyarakat suku Selayar ini, yang terlihat dari beberapa tradisi adat suku Selayar banyak dikombinasikan dengan budaya Islam.

Orang Selayar memiliki karakter perilaku yang lembut dan sopan. Secara sosial, suku Selayar memiliki aturan sosial sendiri. Aturan sosial itu merupakan aturan dari orang-orang tua dulu yang turun-temurun diwariskan untuk diterapkan. Kapalli adalah salah satu dari aturan sosial itu. Kapalli berarti pantangan atau larangan atau "tabu". Sesuatu yang tidak boleh dilakukan, karena apabila dilakukan, maka akan terjadi hal-hal yang buruk bagi si pelanggar.

Kapalli dalam suku Selayar:
  • assalla (menghina orang lain)
  • anjai’ bangngi (menjahit pada malam hari)
  • akkelong ri pappalluang (bernyanyi di dapur)
  • attolong ri baba’ang (duduk di pintu)
  • appattolongi lungang (menduduki bantal)
  • misso sa’ra’ allo (tidur menjelang magrib)
  • bonting sampu’ sikali (kawin dengan sepupu satu kali)
  • addopa-dopa (tengkurap)
  • ta’meya menteng (kencing berdiri) ... mungkin bagi perempuan
  • appau suma-suma (ngomong dengan kata-kata sombong atau angkuh)
  • ambokoi to nganre (pergi meninggalkan orang yang sedang makan)
  • a’jappa sa’ra’ allo (berkeliaran menjelang maghrib)
  • appabangngi pabbissa manroang (membiarkan mangkok cuci tangan saat makan tidak tercuci hingga pagi)
  • dan lain-lain masih banyak lagi

Kehidupan sehari-hari suku Selayar sebagian berprofesi sebagai nelayan, tapi tidak sedikit juga yang menjadi pedagang, dan pada bidang profesi lainnya.

sumber bacaan:
sumber lain dan foto:
  • selayaronline.com

Suku Toraja, Sulawesi

suku Toraja
pic soldomi
Suku Toraja, adalah suatu suku-bangsa yang mendiami dataran tinggi Sulawesi Selatan. Suku Toraja selain di Sulawesi Selatan terdapat juga pemukiman orang-orang Toraja di beberapa wilayah di Sulawesi Tengah dan Sulawesi Barat. Populasi suku Toraja diperkirakan lebih dari 1.000.000 orang.

Suku Toraja terpusat di kabupaten Tana Toraja, kabupaten Toraja Utara dan kabupaten Mamasa. Untuk istilah "toraja" sendiri, banyak versi yang berusaha menjelaskan artinya, menurut orang Bugis, arti "toraja" dari kata "to riaja", yang berarti 'orang yang tinggal di negeri atas" atau "orang yang tinggal di dataran tinggi". Sedangkan menurut orang Toraja sendiri, arti 'toraja", adalah dari "toraya", yang berarti "orang yang besar" atau "orang keturunan para raja". Nama Toraja ditegaskan oleh pemerintah kolonial Belanda menjadi nama komunitas suku yang bermukim di pegunungan ini pada tahun 1909.

Suku Toraja ini adalah sebagai salah satu suku asli dari bangsa protomalayan (proto malayo) yang terdapat di pulau Sulawesi, mereka merupakan salah satu suku tertua di Indonesia, seperti suku Dayak, Batak, Sasak, Wajo, Ranau dan lain-lain, yang diduga telah hadir di bumi Indonesia ini dalam gelombang migrasi para bangsa protomalayan sekitar 7000 tahun yang lalu. Diperkirakan masuknya bangsa Toraja ini melalui Formosa, Filipina dan terakhir menetap dan mengisolasi diri di dataran tinggi Sulawesi.

Suku Toraja berbicara dalam bahasa Toraja, yang memiliki keterkaitan kekerabatan dengan bahasa-bahasa lain di Sulawesi, seperti dengan bahasa Bugis, Makasar, Mandar serta dengan bahasa-bahasa di Filipina serta dengan beberapa bahasa di Formosa Taiwan. Bahasa Toraja memiliki beberapa dialek yang tersebar di beberapa kecamatan dan kabupaten di Sulawesi Selatan. Selain itu bahasa Toraja juga diucapkan di sebagian wilayah di Sulawesi Tengah dan Sulawesi Barat.
Berdasarkan bahasa, suku Toraja terbagi menjadi beberapa dialek bahasa:
  • Toraja-Sa'dan
  • Kalumpang
  • Mamasa
  • Ta'e
  • Talondo'
  • Toala'.

Suku Toraja sebenarnya terdiri dari beberapa sub-kelompok (sub suku), salah satunya adalah suku Seko Lemo yang menurut penuturan orang Seko Lemo, bahwa mereka berasal dari Toraja Luwu, yang bermigrasi ke wilayah Seko sekitar tahun 1700. Di Palopo ada Toraja Makale-Rantepao, Bastem, dan Rongkong. Juga ada Toraja Sa'dan. Selain itu ada suku Enrekang, Duri, Marowangin dan Palopo, yang merupakan suku campuran antara Toraja dan Bugis, yang sering dinyatakan sebagai sub-suku Toraja dan juga sebagai sub-suku Bugis. Pada beberapa tulisan di web, suku Kaili, Pamona, Mori juga dikategorikan sebagai sub-suku Toraja, dan ada juga suku Rampi dan Kalekaju.

gadis Toraja
pic torajamamasa
Masyarakat suku Toraja mayoritas adalah pemeluk agama Kristen (Protestan, Katholik, Advent, Pentakosta dan lain-lain) dan sebagian kecil tetap mempertahankan agama asli mereka, yaitu agama Aluk To Dolo dan lainnya memeluk agama Islam.

Pada awalnya suku Toraja adalah penganut kepercayaan animisme dan sangat terisolasi di daerah pegunungan, menutup diri dari dunia luar. Keberadaan suku Toraja hingga sampai awal abad ke-20 tidak diketahui, hingga akhhirnya para misionaris Belanda menelusuri hutan pegunungan di Sulawesi Selatan dan menemukan komunitas masyarakat yang pada masa itu masih melakukan ritual-ritual animisme. Pada awal tahun 1900, misionaris Belanda memperkenalkan agama Kristen ke dalam kalangan masyarakat suku Toraja.

makam Toraja
pic alambudaya
Tradisi adat budaya suku Toraja yang terkenal adalah pada ritual pemakaman Toraja merupakan peristiwa sosial yang penting, biasanya dihadiri oleh ratusan orang dan berlangsung selama beberapa hari. Salah satu keunikan dalam tradisi ini adalah tempat pemakamannya yang disebut sebagai "Rante", yaitu tempat upacara pemakaman secara adat yang dilengkapi dengan 100 buah menhir/megalit, "Simbuang Batu". Sebanyak 102 bilah batu menhir yang berdiri dengan megah, terdiri dari 24 buah ukuran besar, 24 buah ukuran sedang, dan 54 buah ukuran kecil. Ukuran menhir ini mempunyai nilai adat yang sama, perbedaan tersebut hanyalah faktor perbedaan situasi dan kondisi pada saat pembuatan/ pengambilan batu.

Keunikan lain dari suku Toraja adalah rumah adatnya yang disebut sebagai "Tongkonan", sebagai satu-satunya rumah adat paling unik di pulau Sulawesi berbeda dengan rumah-rumah adat suku-suku lain di pulau Sulawesi yang rata-rata mengikut model rumah khas Melayu. Tapi rumah adat Toraja berbeda sendiri, sekilas mirip dengan rumah-rumah adat suku-suku Batak di pulau Sumatra.

Masyarakat suku Toraja pada umumnya hidup sebagian besar pada bidang pertanian. Beberapa jenis tanaman menjadi kegiatan pertanian mereka sehari-hari. Mereka juga menanam tanaman keras seperti Markisa, kakao dan kopi. Kopi arabica menjadi tanaman utama bagi orang Toraja, dan produk kopi Toraja sudah dikenal di seluruh Indonesia bahkan ke mancanegara. Selain itu banyak dari mereka yang telah sukses pada bidang profesi lain, seperti menjadi pengusaha, pejabat di sektor pemerintahan, guru dan lain-lain.

sumber:
sumber lain, foto dan video:
  • youtube.com: video tana toraja
  • soldomi.wordpress.com
  • torajamamasa.blogspot.com
  • alambudaya.com

Suku Pattinjo, Sulawesi

Suku Pattinjo, adalah etnis yang menghuni daerah kelurahan Tadokkong kecamatan Lembang di kabupaten Pinrang provinsi Sulawesi Selatan.

adat Maroddo
suku Pattinjo
pic kabarcelebes
Keberadaan suku Pattinjo sendiri selama ini diakui sebagai orang Bugis atau hanya dianggap sebagai salah satu sub-suku Bugis. Sedangkan pemerintah setempat sering mengkategorikan orang Pattinjo sebagai suku Bugis Pattinjo.

Sebenarnya daerah pemukiman suku Pattinjo berada di 4 kecamatan di kabupaten Pinrang sebagai tempat asal mereka, tetapi penyebaran mereka justru terbanyak berada di wilayah kabupaten Enrekang dan kabupaten Luwu, selain itu komunitas suku Pattinjo ini juga terdapat di Tarakan provinsi Kalimantan Timur.

Keberadaan suku Pattinjo sudah mulai dikenal keberadaannya sebagai sebuah "suku", yang selama berada di bawah bayang-bayang nama suku yang lebih besar yaitu "suku Bugis", dan sejak dahulu suku Pattinjo lebih dikenal sebagai "suku Bugis-Pattinjo". Selain itu orang Pattinjo sendiri lebih suka menyebut diri mereka sebagai suku Pattinjo.

Suku Pattinjo sebenarnya layak disebut 'suku", karena sejak dahulu suku Pattinjo telah memiliki struktur pemerintahan sendiri yang mereka patuhi dan berlaku turun temurun, seperti Maddika (setingkat Kepala Desa), Tomakaka dan Pakkarungan (Arung).
Selain itu suku Pattinjo juga memiliki adat-istiadat, budaya serta bahasa sendiri. Beberapa tradisi budaya suku Pattinjo yang sudah mulai dikenal adalah Marroddo yang ada di desa Basseang kecamatan Lembang, Suling Bambu di desa Sali-sali, Pencak Silat dan Rebana.

Selama ini suku Pattinjo identik dengan suku Mandar, ketika wilayah Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat masih bergabung, suku Pattinjo dikelompokkan dalam bagian suku Mandar atau dengan kata lain suku Pattinjo satu kesatuan dengan suku Mandar. Saat ini wilayah suku Mandar berada di Sulawesi Barat, sedangkan wilayah pemukiman suku Pattinjo tetap berada di wilayah Sulawesi Selatan.

Suku Pattinjo secara kultur budaya sebenarnya lebih mendekati kultur budaya orang Toraja. Dari segi bahasa juga, bahwa bahasa Pattinjo lebih banyak kemiripan dengan bahasa Toraja, dibanding dengan suku Bugis dan Makasar. Bahkan menurut sebuah tulisan di web, mengatakan bahwa secara struktur fisik, orang Pattinjo memiliki struktur fisik orang Toraja. Menurut dugaan bahwa kemungkinan dahulunya orang Pattinjo memiliki sejarah asal usul yang sama dengan orang Toraja.

Suku Pattinjo mayoritas adalah pemeluk agama Islam, yang dikembangkan oleh orang-orang dari Tanah Bugis pada beberapa abad yang silam. Beberapa tradisi adat suku Pattinjo mengandung unsur-unsur Islami yang dikombinasikan dengan adat asli suku Pattinjo.

Suku Pattinjo memiliki karakter yang terbuka dan cenderung spontan dalam menyikapi sesuatu, atau dalam istilah lain "ceplas-ceplos". Karakter lain orang Pattinjo adalah keras, dan tidak suka diatur oleh orang lain. Beberapa cerita negatif tentang orang Pattinjo, yang menceritakan orang Pattinjo adalah kasar, pengangguran dan suka mencari masalah. Benar atau tidaknya cerita negatif tentang orang Pattinjo, tentunya masyarakat suku Pattinjo sendiri lah yang harus menyikapinya secara bijaksana.

Dalam kehidupan sehari-hari, pada dasarnya masyarakat suku Pattinjo hidup pada bidang pertanian. Tetapi saat ini sebagian masyarakat suku Pattinjo lebih suka berprofesi pada bidang-bidang lain.

sumber:

Suku Tolotang, Sulawesi

masyarakat adat Tolotang
Masyarakat adat Tolotang, adalah suatu komunitas masyarakat yang bermukim di Amparita, Sidrap provinsi Sulawesi Selatan yang hidup dengan tetap mempertahankan agama leluhur mereka.

Masyarakat adat Tolotang ini sebenarnya adalah suku Bugis. Tapi berbeda dari segi keyakinan dengan suku Bugis pada umumnya yang mayoritas adalah pemeluk agama Islam. Sedangkan masyarakat adat Tolotang ini masih mempertahankan agama leluhur mereka, yaitu agama kepercayaan Towani Tolotang. Agama kepercayaan Towani Tolotang, adalah salah satu dari sekian banyak agama kepercayaan yang ada di Indonesia ini, seperti Aluk Todolo di Tanah Toraja, Parmalim di Tanah Batak Sumatra, Kaharingan di Tanah Dayak Kalimantan dan lain-lain masih banyak lagi.

Sebutan "suku" bagi masyarakat adat pemeluk agama kepercayaan Towani Tolotang ini, memang agak membingungkan, karena pada dasarnya mereka juga adalah asli suku Bugis, tapi karena masyarakat adat ini telah sekian lama sejak masa nenek moyang mereka hingga kini tetap teguh mempertahankan agama kepercayaan ini, sehingga istilah "suku" Tolotang pun lama kelamaan melekat menjadi identitas suku mereka. Walaupun pada dasarnya secara sejarah asal-usul masa lalu serta nenek moyang mereka adalah sama dengan suku Bugis.

rumah adat Tolotang
Suku Tolotang menjadikan kepercayaan mereka sebagai dasar etika sosisal di mana praksis social digerakkan. Nuansa keberagamaan masyarakat Tolotang yang titik sentral kepemimpinannya dikendalikan oleh Uwa’dan Uwatta dengan pola pewarisan estafet dari generasi ke generasi berikutnya sampai sekarang masih tetap dipertahankan sebagai sesuatu yang sakral.

Kearifan lokal merupakan pondasi utama kebudayaan Nasional yang mesti dilestarikan. Dalam hal ini Suku Tolotang atau lebih dikenal dengan Towani Tolotang merupakan komunitas adat yang terdapat di Sulawesi selatan.

Suku Tolotang dalam menjaga eksitensinya tidak lepas dari dinamika beragam, mulai dari tekanan, bahkan sampai menghadapi resistensi dari berbagai pihak. Akibat mempertahankan identitasnya. Sejak lama Komunitas ini telah ditindas dan ditekan, pertama ketika agama Islam masuk ke Sulawesi Selatan, komunitas ini ditekan untuk menanggalkan indentisnya agar mengikuti Islam.

Berdasarkan sejarahnya, Komunitas Tolotang, pada awalnya adalah orang-orang yang mempunyai kepercayaan Bugis kuno yang tinggal di Wajo. Pada awal abad ke-17 Wajo mengalami islamisasi besar-besaran setelah dikalahkan Raja Gowa, Sultan Alauddin, yang dikenal melakukan upaya Islamisasi melalui jalur kekuasaan politik formal, penuh tekanan-paksaan, dan nyaris tanpa ampun. Akhirnya Raja Wajo La Sangkuru Arung Matoa secara resmi masuk agama Islam. Raja kemudian mengeluarkan maklumat agar seluruh warga kerajaan Wajo mengikuti agama Islam dan patuh pada perintah raja. Sebagan besar penduduk mematuhi maklumat raja tersebut, namun sebagian orang yang tinggal di wilayah Wani tidak mau mengikuti perintah itu. Orang-orang yang tidak mau mengikuti Islam ini lantas lari ke Sidenreng. Versi lain menyebutkan bahwa bukan lari tapi berperang hingga terdesak ke Sidenreng. Entah lari entah berperang, yang jelas serombongan orang dari Wajo lantas tinggal di Sidenreng.

Di Sidenreng ini mereka membuat perjanjian dengan Addatuang Sidenreng, La Pattiroi, yang merupakan raja Sidenreng VII. Perjanjian yang disebut dengan ada’ mappura onrona Sidenreng. Isi utamanya adalah bahwa adat harus dihormati, keputusan harus ditaati, janji harus ditepati, keputusan yang telah ada harus dilanjutkan, dan agama harus ditegakkan. Ada versi yang mengatakan bahwa perjanjian itu juga meliputi kesepakatan bahwa komunitas Tolotang wajib melakukan ritual pemakaman dan pernikahan secara islam. Akhirnya, masyarakat Tolotang tinggal di Sidenreng di wilayah Amparita dan menyebut diri sebagai sebagai To Lotang. Mereka disebut Tolotang karena mereka semua tinggal di sebelah selatan pasar dan raja memanggil mereka dengan “oliie renga tolotange pasarenge” (panggil mereka yang di selatan pasar itu).

Ketika raja mulai menerapkan kebijakan untuk memaksakan dua ritual yang harus diikuti masyarakat Tolotang, selama bertahun-tahun masyarakat Tolotang mengikutinya. Namun pada masa pendudukan Jepang, ada peristiwa yang sangat membekas di hati kaum Tolotang hingga kini. Yakni peristiwa Imam Walatedong yang tidak mau memakamkan mayat orang Tolotang. Ini menyebabkan masyarakat menjadi gundah, sebab seolah mereka ditolak kehadirannya. Belakangan lahir keputusan raja yang menyatakan melarang pemakaman mayat Tolotang oleh orang Islam. Sejak itu orang Tolotang tidak mau lagi mengikuti tradisi pemakaman Islam dan menjalankan tradisinya sendiri.

Di awal kemerdekaan, kelompok Tolotang menjadi sasaran tembak pemberontak DI/TII. Orang tolotang menyebut mereka dengan gerombolan DI/TII. Masyarakat Tolotang yang tinggal di desa Otting dibantai, sebagian berhasil melarikan diri ke Amparita. Di Amparita inilah kaum Tolotang bergabung dengan TNI melalui Pasukan Sukarela demi memberantas DI/TII. Hampir seluruh anggota pasukan Sukarela adalah orang Tolotang. Pada titik inilah Tolotang kemudian diidentikan telah memusuhi Islam, sehingga kelompok Islam di kemudian hari balik memukul Tolotang juga melalui perangkat TNI.

Pasca peristiwa 1965, sebagaimana komunitas lokal di sekujur negeri ini, kaum Tolotang dituduh sebagai basis kekuatan PKI. Memang waktu itu ada sekitar 37 orang Tolotang yang tergabung dalam Lekra. 5 orang diantaranya aktif sebagai aktivis. Tekanan dan intimidasi pada waktu itu sangat keras dirasakan masyarakat Tolotang di Amparita. hampir semua tokoh mereka ditangkap dan dibawa ke penjara Rappang, sementara yang lain lari dari Amparita menuju Pinrang. Pada masa ini kelompok Tolotang berusaha mendapat pengakuan dari pemerintah. Seorang Tolotang bernama Makatunggeng diutus pergi ke Jakarta untuk mengupayakan hal ini. Pada akhirnya usaha selama berbulan-bulan ini berujung pada dikeluarkanya SK. Dirjen Bimas Beragama Hindu Bali/Budha No. 2/1966 tanggal 06 Oktober 1966 yang menetapkan bahwa Tolotang merupakan salah satu dari sekte dari agama Hindu. Keputusan ini tidak serta-merta membuat hidup komunitas ini menjadi tenang, tekanan dan intimidasi terus berlanjut karena masyarakat Islam menolak keputusan tersebut. bahkan, menurut pengakuan masyarakat lokal, Dirjen bimas Hindu yang hendak mengunjungi komunitas ini dicegat dan dilarang. Desakan masyarakat Islam untuk menolak surat keputusan tersebut bahkan kemudian disetujui DPRD-GR Kabupaten Sidrap, hingga mencapai puncaknya pada lahirnya Operasi Malilu Sipakaenga (bahasa daerah yang berarti operasi untuk mengingatkan) dari Kodam Hasanuddin. Operasi militer inilah puncak ketertindasan dan peminggiran komunitas Tolotang. Operasi ini secara tegas menyatakan bertujuan mengembalikan kaum Tolotang pada ajaran Islam. Aktivitas Tolotang lantas selalu diawasi, mereka tak bisa bebas menjalankan ritual kepercayaannya dan selalu dipaksa untuk masuk Islam.

Saat ini segalanya telah berubah dengan masa-masa pahit di masa lalu suku Tolotang. Karena saat ini suku Tolotang telah bebas menjalankan tradisi agama serta melaksanakan ritual-ritual mereka dengan bebas, tanpa kuatir mendapat gangguan dan ancaman dari pihak manapun. Karena kehidupan sosial masyarakat lain telah berubah seiring kemajuan zaman, sehingga kerukunan antara suku Tolotang dengan warga lain yang beragama Islam pun semakin harmonis dan saling menghormati.

sumber bacaan:
sumber foto:
  • pustakasekolah.com

Suku Enrekang (Massenrempulu), Sulawesi

Suku Enrekang, adalah suatu suku bangsa yang berdomisili di kabupaten Enrekang provinsi Sulawesi Selatan.

salah satu kesenian suku Enrekang
"suling bambu"
Wilayah suku Enrekang ini sejak dahulu disebut Massenrempulu, yang memiliki sejarah tersendiri, yaitu pada awalnya 3 kelompok suku yang membentuk satu kesatuan adat yang disebut Massenrempulu. Seiring perkembangan zaman, kelompok 3 suku yang terdiri dari suku Enrekang, suku Duri dan suku Maroangin (Maroangin), sering disebut sebagai suku Massenrempulu.

Dalam bahasa Enrekang istilah "Massenrempulu" berarti "melekat seperti beras ketan". Kata yang digunakan untuk menunjukkan kesatuan dari ke-3 suku tersebut.

Masyarakat suku Enrekang hidup secara sederhana. Pada umumnya mereka hidup dari bertani, berdagang, dan pegawai. Selain itu banyak dari mereka yang merantau ke daerah lain, seperti kota Makassar, bahkan sampai ke kota-kota di luar pulau Sulawesi.

Struktur tulang Untuk orang-orang Enrekang lebih cenderung memiliki kemiripan dengan orang-orang Tanah Toraja. Dari segi bahasa, bahasa orang-orang enrekang lebih mirip dengan orang-orang Tanah Toraja.

Suku Enrekang secara garis besar terbagi dalam 3 karakter yang berbeda pada bahasa dan karakter.
Suku Enrekang utara, yang mendiami wilayah utara dan pegunungan, yang bersebelahan dengan wilayah suku Toraja, terlihat dari struktur fisik dan tulang lebih mendekati dengan orang-orang dari Tanah Toraja. Juga dari segi bahasa lebih mirip dengan bahasa Toraja.
Orang Enrekang yang di bagian Utara mengalami akultirasi budaya dengan budaya Toraja, sehingga karakter orang Enrekang Utara lebih berkerabat dengan orang Toraja.

Suku Enrekang selatan, yang mendiami wilayah selatan, lebih banyak berakulturasi dengan Sidrap dan Pinrang yang mayoritas orang Bugis, sehingga bahasa dan budayanya cenderung mendekati budaya dan bahasa Bugis.

Selain itu, suku Enrekang tengah, yang mendiami wilayah tengah, tidak terpengaruh budaya lain, sehingga orang Enrekang tengah, tetap menggunakan bahasa asli Enrekang, yakni bahasa Patinjo. Bahasa Enrekang tengah, lebih dikenal dengan bahasa Konjo. Suku Enrekang tengah ini lebih akrab dengan sebutan "orang Pattinjo". Sedangkan orang Bugis menyebut mereka sebagai "suku Bugis Pattinjo".

Masyarakat suku Enrekang, sebagian besar hidup pada bidang pertanian, tetapi saat ini banyak dari mereka yang beralih ke bidang profesi lain, seperti menjadi pedagang, atau berbagai bidang profesi lain.

sumber bacaan:
sumber lain dan foto:
  • telukpalu.com