Showing posts with label Kalimantan Timur. Show all posts
Showing posts with label Kalimantan Timur. Show all posts

Suku Dayak Punan Km-10

Di kecamatan Gunung Tabur terdapat suatu kelompok masyarakat Dayak yang dimukimkan, berada di wilayah kabupaten Berau provinsi Kalimantan Timur. Mereka disebut sebagai suku Dayak Punan Km-10.

pemukiman Dayak Punan Km-10
dibangun oleh PT Berau Coal
Menurut cerita bahwa pemukiman suku Dayak Punan Km-10 ini bukanlah pemukiman asli mereka. Tapi pada awalnya sekitar beberapa keluarga dayak dari etnis berbeda dimukimkan dan hidup dalam satu komunitas.

Tempat ini pada awalnya adalah sebuah perusahaan tambang batu bara PT Berau Coal, yang sengaja diperuntukkan untuk masyarakat Dayak yang pada awalnya hidup secara nomaden di hutan-hutan pedalaman. Perusahaan melalui program Community Development merasa bahwa beberapa warga atau keluarga yang hidup di hutan-hutan sekitar daerah operasional pertambangan perlu dibuatkan perumahan dan aktivitas yang layak sehingga kualitas hidup mereka meningkat.

Saat itu Community Development Officer (CDO) atau petugas pemberdayaan masyarakat dari PT Berau Coal, dibawah pimpinan Ir. Sudayat Kamamihardja (alm.), Bapak Ferdinand, Bapak Agung Triadi dan Alm Pak Dolof (asli pulau Buton tetapi menguasai dan kenal dengan hutan-hutan di Berau), mulai mencari orang-orang Dayak Punan ini di hutan-hutan. Perjuangan panjang kedua perintis tersebut akhirnya membuahkan hasil. Beberapa keluarga mau dirumahkan, bermula dari 7 keluarga lalu menjadi 11 keluarga, sekumpulan keluarga ini ternyata masih ada hubungan keluarga dan sebagian besar berasal dari suku yang sama suku Dayak Punan, hanya 1 KK orang saja berasal dari suku Dayak Tidung.

Pada awalnya masyarakat suku Dayak yang terbiasa hidup nomaden ini tidak merasa cocok dengan tempat ini, tapi karena tempat ini dibuat sealami mungkin, berada di tengah hutan, terdapat sungai mengalir, yaitu sungai Lati. Hingga lama kelamaan 11 KK ini pun merasa betah dan cocok menetap di tempat ini. Walaupun mereka berasal dari beberapa etnis yang berbeda, tapi saat ini mereka menyatu dalam satu nama suku Dayak Punan Km-10.

Desa Km-10 ini pun kemudian bergabung dengan desa Sambakungan, salah satu desa di kecamatan Gunung Tabur kabupaten Berau, hak-hak sipil dipenuhi seperti Kartu Keluarga dan keperluan lain. Dalam kehidupan sehari-hari mereka tetap melakukan aktifitas sebelum-sebelumnya seperti berburu dan meramu seperti kebiasaan mereka dahulu. Makanan pokok mereka adalah ubi atau keladi yang banyak tumbuh subur di hutan dengan lauk pauk dari hewan buruan. Hewan buruan mereka adalah ikan, burung, rusa atau payau, dan babi hutan.

Perusahaan PT Berau Caol secara periodik juga memberikan program bina rohani dengan cara mendatangkan pendeta, selain itu juga memberikan program kesehatan dengan cara bantuan pengobatan bagi orang sakit, sampai rawat inap ditanggung perusahaan, kunjungan tim medis dari perusahaan secara periodik.

Untuk anak-anak, perusahaan memberikan fasilitas pendidikan berupa bantuan biaya pendidikan dan asrama di kota Tanjung Redeb, sekitar 50 km dari pemukiman Km-10. Mereka ditempatkan dalam sebuah rumah dengan didampingi seorang pengasuh dan sekolah di sekolah reguler, itu bertujuan agar mereka dapat hidup seperti kualitas teman-teman mereka yang berada di kota.

Dengan keadaan mereka seperti ini kiranya kehidupan masyarakat suku dayak Km-10 semakin baik, berkat bantuan Program Community Development PT Berau Coal, yang peduli mengurus masyarakat dayak di pedalaman.

sumber:

Suku Dayak Punan Batu

berburu pakai sumpit
suku Dayak Punan Batu
Suku Dayak Punan Batu, adalah salah satu suku dayak yang masih mempertahankan hidup mengasingkan diri tinggal di gua-gua di tengah hutan pedalaman yang berada di Kalimantan Timur.

Populasi suku Dayak Punan Batu ini tidak banyak. Mereka lebih memilih hidup mengasingkan diri atau jauh dari kelompok masyarakat dayak lainnya. Gaya hidup mereka tetap mengikuti tradisi nenek moyang mereka sejak ratusan bahkan ribuan tahun lalu. Mereka adalah suku bangsa yang senang hidup mengembara. Mereka bernaung dan menggantungkan hidup pada sumber makanan yang tersedia di alam kepada mereka dan memanfaatkan gua-gua batu yang ada di tengah hutan pedalaman.

Pada dasarnya suku Dayak Punan Batu ini tidak memakan nasi dan hanya hidup dari hasil yang didapat dari hasil berburu, mengumpulkan ubi-ubian dan buah-buahan. Pada masa dahulu suku Dayak Punan Batu ditakuti oleh masyarakat lainnya yang berada di sekitar wilayah mereka, karena tradisi mengayau yang mereka jalankan terhadap siapa saja yang dianggap bisa mengganggu ketentraman hidup mereka. Tetapi, saat ini tradisi mengayau ini sudah tidak mereka lakukan, karena saat ini mereka telah bisa menerima kehadiran orang asing, dan berlaku ramah dan terbuka.

Mereka bukanlah suku primitif, hanya menjauhkan diri dari kelompok masyarakat lain. Terbukti mereka telah bisa menanak nasi dan membutuhkan minyak goreng. Kemungkinan perubahan ini karena kontak hubungan mereka dengan orang Punan Basap dan orang Punan Sajau yang beraktifitas di sarang burung walet di hutan Sajau. Kontak hubungan ini secara tidak langsung memberikan perubahan kepada mereka, dan mereka mengenal beras serta menanak nasi dan membutuhkan minyak goreng. Tak jarang orang Punan Batu turun gunung menuju kamp penjaga burung walet untuk meminta beras dan kebutuhan pokok lain. 

Para lansia tidak diajak keluar dan berburu, tetapi tetap berada di gubuk kecil yang dibangun dekat mulut goa. Sesekali, gubuk-gubuk ini dikunjungi sanak keluarga yang beristirahat setelah berburu. Di saat sedang berkumpul di gubuk kecil ini lah mereka saling bercengkerama dan berbagi cerita.

Anak-anak Punan Batu kebanyakan belum mengenal sekolah karena letak sekolah yang jauh. Jumlah warga Punan Batu terus menyusut, disebabkan beberapa dari mereka sering pindah ke tempat lain.

sumber:
  • joshuaproject.net
  • kebudayaan-dayak.org
  • berita.liputan6.com
  • gambar-foto: in-docs.org
  • wikipedia
  • dan sumber lain

Suku Dayak Paser

suku Dayak Paser
Suku Dayak Paser, adalah suatu komunitas masyarakat adat yang disebut suku Dayak Paser, yang berada di kabupaten Paser provinsi Kalimantan Timur. Populasi suku Dayak Paser saat ini diperkirakan sebesar 56.000 orang.

Sebagian besar suku Dayak Paser saat ini bermukim di wilayah pedalaman di kawasan Hutan Lindung Gunung Lumut kabupaten Paser provinsi Kalimantan Timur. Sebelum bermukim di tempat mereka sekarang ini, dahulunya mereka berasal dari daerah Balikpapan dan Penajam. Kemungkinan karena banyaknya arus pendatang baru dari luar yang memasuki wilayah mereka dahulu, sehingga memaksa mereka mencari tempat yang lebih tenang dan damai yaitu di kawasan Hutan Lindung Gunung Lumut, tempat mereka sekarang ini. Sebenarnya di kabupaten Penajam Paser Utara dan Balikpapan, masih terdapat kelompok kecil suku Dayak Paser yang tetap bertahan dan tidak ikut bermigrasi ke wilayah kabupaten Paser. Selain itu juga terdapat di kota Balipapan dan kabupaten Kotabaru.

seorang ibu suku Dayak Paser
Mayoritas suku Dayak Paser adalah pemeluk agama Islam. Pada masa lalu mereka pernah mendirikan Kesultanan Pasir (Kerajaan Sadurangas). Budaya dan adat istiadat suku Dayak Paser dipengaruhi oleh budaya Melayu. Tetapi saat ini mereka mulai menggali kembali budaya-budaya asli dayak yang mereka miliki sebelum dipengaruhi budaya melayu.
Suku Dayak Paser, tidak seperti suku-suku dayak lainnya yang mengaku telah menjadi Melayu setelah memeluk Islam, tetapi orang Dayak Paser bangga mengaku sebagai bagian dari Dayak, atau sebagai orang Dayak.

Bahasa yang diucapkan oleh suku Dayak Paser, sangat akrab dengan bahasa Dayak Lawangan, sehingga bahasa Dayak Paser kadang dianggap sebagai dialek bahasa Dayak Lawangan.

sumber:
  • sejarahpaser.blogspot.com
  • clinicoustic.blogspot.com
  • wikipedia
  • dan sumber lain

Suku Dayak Kayan (Apo Kayan)

suku Dayak Kayan
Suku Dayak Kayan (Apo Kayan), adalah suatu masyarakat dayak yang bermukim di sepanjang sungai Kayan. Sedangkan sungai Kayan merupakan anak sungai yang bermuara ke sungai Melawi. Bagian hulunya berada di kampung Gemare, Tebidah di kecamatan Kayan Hulu. Populasi suku Kayan diperkirakan berjumlah 30.000 orang.

Menurut legenda pada masyarakat Dayak Kayan, orang Kayan merupakan cikal bakal dari semua suku-suku kecil dayak yang berada di sepanjang sungai Kayan, yang terdiri dari suku Papak, suku Tebidah, suku Paya’, suku Goneh, suku Nanga, suku Kebahan dan suku Barai. Semua suuku-suku kecil dayak tersebut adalah keturunan suku Kayan, dan tergabung dalam rumpun Kayan, kecuali suku Dayak Lebang saja yang tidak berasal dari suku Kayan ini.

Orang-orang pertama yang membentuk komunitas suku Kayan, terdiri dari Apang Isai, Indai Isai, Madung Panjang, Madung Penda', Mambang Tobing Kumpang, dan Mia Balon Sasa'. Dari mereka semua ini lah yang menurunkan suku Kayan. Mereka semua bermukim di Tapang Sungai Emas.
Temenggung pertama yang memimpin orang Kayan adalah Temenggung Mangku, yang berasal dari Topan. Setelah itu dipimpin oleh Temenggung Tukut dari Lintang Tambuk dan Temenggung Sadu dari Nanga Masau.
Waktu memasuki daerah ini, mereka tidak langsung bermukim di daerah hulu, tetapi mereka mendirikan perkampungan di daerah Nanga Kayan. Setelah tinggal beberapa waktu, lalu pindah ke arah hulu Nanga Kayan, yaitu di wilayah sungai Kayan. Kemudian mereka pindah lagi ke arah bagian hilir Nanga Mau. Lalu periode berikutnya mereka lalu pindah lagi ke arah hulu Nanga Mau. Dari daerah bagian hulu Nanga Mau, lalu mereka pindah lagi ke arah dekat Nanga Tebidah dan pada akhir perjalanan, mereka menetap di Nanga Tebidah.

tari dan musik Dayak Kayan
Masyarakat suku Kayan menyadari, mereka bukan berasal dari sungai Kayan itu sendiri. Menurut mereka, bahwa mereka berasal dari luar daerah mereka sekarang, ketika para leluhur memasuki wilayah sungai Kayan, yang pada awalnya daerah ini masih belum berpenghuni. 
Ada sebuah pemikiran yang mengatakan bahwa nenek moyang suku Kayan kemungkinan berasal dari daerah Kalimantan Tengah, tepatnya dari daerah sungai Kahayan. Diperkirakan mereka memiliki hubungan dengan suku Dayak Ngaju. Lagi pula bila dilihat dari nama-nama orang Kayan pertama yang membentuk komunitas suku Kayan, nama-nama tersebut mendekati kepada nama-nama dari suku Dayak Ngaju. Sedangkan para peneliti berpendapat, suku Kayan adalah bagian dari rumpun Kenyah-Kayan-Bahau yang berasal dari Sarawak. Pada awalnya ketika memasuki wilayah Kalimantan Timur, mereka menetap di daerah Apau Kayan yang berada di daerah aliran sungai Kayan. Tetapi karena pada saat itu terjadi perang antara suku-suku dayak, mereka pun mencari daerah yang lebih aman, subur dan terisolir. Suku Kayan meninggalkan daerah Apau Kayan yang telah mereka tempati selama 300 tahun. Mereka bermigrasi menuju daerah yang lebih maju agar dapat lebih berkembang kehidupannya. Saat ini mereka menetap di daerah aliran sungai Wahau yang telah dihuni oleh suku Dayak Wehea di kabupaten Kutai Timur terutama di Desa Miau Baru sejak tahun 1969. Diperkirakan pada zaman Kerajaan Kutai Martadipura (Kutai Mulawarman), suku Kayan belum memasuki Kalimantan Timur. Suku Kayan diperkirakan termasuk salah satu suku yang belakangan memasuki pulau Kalimantan, yang diperkirakan berasal dari pulau Formosa (Taiwan).


Suku Dayak Kayan (Apo Kayan), terdiri 10 suku kecil, yaitu: 
  • Uma Pliau 
  • Uma Samuka 
  • Uma Puh 
  • Uma Paku 
  • Uma Bawang 
  • Uma Naving 
  • Uma Lasung 
  • Uma Daru 
  • Uma Juman 
  • Uma Leken 
Sebenarnya selain 10 kecil di atas, ada 3 suku kecil lain yang ditambahkan ke dalam rumpun Kayan (Apo Kayan), yang terdapat di kabupaten Kapuas Hulu provinsi Kalimantan Barat, yaitu:
  • Uma’ Aging
  • Uma’ Pagung
  • Uma’ Suling. 
Tetapi hal ini menjadi perdebatan bagi ke 3 kelompok suku kecil yang berada di sekitar sungai Mendalaam, kabupaten Kapuas Hulu ini, mereka tidak setuju bila dimasukkan ke dalam kelompok Kayan. Mereka lebih suka disebut sebagai kelompok Kayaan. Bagi ke 3 suku kecil ini, penulisan Kayan, tidak menunjukkan kepada diri mereka, karena mereka tidak merasa sebagai Kayan. Jadi mereka adalah Kayaan, bukan Kayan. Mereka menyebut diri mereka sebagai suku Kayaan Mendalam.

gadis-gadis Dayak Kayan
Menurut sejarah suku Kayan, pada sekitar tahun 1863, suku Dayak Iban bermigrasi dan memasuki daerah hulu sungai Saribas dan sungai Rejang, dan menyerang suku Kayan yang berada di daerah hulu sungai. Perang dan serangan pengayauan menyebabkan suku-suku dayak lain juga terusir dari wilayahnya.

Di daerah Empakan terdapat beberapa sandung dan temaduk. Ada juga 12 buah adau’ atau sumur air asin yang bernama Dayang Iyang, Semanuk, Jabai, Gelagas, Pendak, Kenek, Engkabang, Baru, Engkudu, Batu Babi, Rangkupm dan Dapuh.

Orang Dayak Kayan mengenal suatu tradisi lisan seperti kana dan cara menceritakannya disebut bekana. Tradisi ini adalah cerita tentang kepahlawanan dan percintaan yang diceritakan dengan alunan yang khas. Di samping itu juga mereka mengenal kebiasaan begurau di dalam pesta atau sewaktu minum. Selain itu pada suku Kayan juga memiliki beberapa tarian yang selalu mereka tarikan setiap melaksanakan upacara adat, maupun dalam menyambut para tamu. Selain itu seni budaya suku Kayan juga sering ditampilkan di pentas nasional maupun internasional, sehingga suku Kayan beserta budayanya sangat populer di dunia Internasional.

sumber:
  • kebudayaan-dayak.org
  • dayakwithgoldenhair.wordpress.com
  • gambar-foto: pampangsuniaso.wordpress.com
  • gambar-foto: imanueltabab.blogspot.com
  • wikipedia
  • dan sumber lain

Rumpun Dayak Punan

Rumpun Dayak Punan, adalah beberapa kelompok suku dayak yang sebagian besar masih mempertahankan hidup seperti yang dilakukan oleh nenek moyang mereka, yaitu hidup secara terasing dan primitif. Beberapa dari komunitas suku kecil Dayak Punan kian tahun kian menurun cenderung menuju kepunahan. Walau telah hidup berabad-abad, mereka tetap tak berubah dengan pola adat-istiadat dari leluhur yang mereka percaya. Beberapa kelompok suku dayak dari rumpun Dayak Punan, telah ada yang hidup lebih baik dan bisa berbaur dengan kelompok masyarakat dayak lainnya. Suku-suku dayak yang termasuk dalam Rumpun Dayak Punan tersebar mulai dari Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur hingga ke wilayah Malaysia, yaitu di Sabah dan Sarawak.

Rumpun Punan, adalah:
  • Punan Busang
  • Punan Penihing (Punan Aoheng)
  • Punan Batu
  • Punan Sajau
  • Punan Hovongan
  • Punan Uheng Kereho (Ot Nyawong) 
  • Punan Seputan (Dayak Seputan)
  • Punan Aput
  • Punan Merap
  • Punan Tubu
  • Punan Bukat (Dayak Bukat)
  • Punan Habongkot
  • Punan Panyawung (Ot Penyaung)
  • Punan Malinau
  • Punan Binai
  • Punan Mahkam
  • Punan Murung
  • Punan Merah (Ot Siau), 
  • Punan Serata
  • Punan Langasa
  • Punan Nya'an
  • Punan Ukit (Dayak Bukitan, Dayak Beketan)
  • Punan Lisum
  • Punan Kelay-Segah  
  • Punan Bah
  • Punan Batu 1
  • Punan Belahun (Punan Berun) 
  • Punan Lejuh
  • Punan Sama
  • Punan Biau
  • Punan Meluyou
  • Punan Lirung Belang
  • Punan Mina
  • Punan Pedan
  • Punan Lo'o Buong
  • Penan

gambar-foto
  • foto by: vivaborneo.blogspot.com

Suku Dayak Punan Kelay

ritual Panen Madu
suku Dayak Punan Kelay
Suku Dayak Punan Kelay, adalah suatu masyarakat dayak yang hidup di sepanjang aliran hulu sungai Kelay di kabupaten Berau provinsi Kalimantan Timur.

Suku Dayak Punan Kelay, lebih suka menyebut diri mereka sebagai orang Mapnan. Perkampungan mereka biasanya berada di sepanjang hulu sungai Kelay, yang terdiri dari kampung Long Sului, Long Macin, Long Lamjan, Long Keluh, Long Duhung dan Long Beliu. Seluruh perkampungan ini berada di kabupaten Berau provinsi Kalimantan Timur.

Pada masa dahulu, mereka mempercayai dunia animisme, dan berbagai ritual animisme mereka jalankan, salah satunya adalah ritual Panen Madu, yang terdiri dari beberapa ritual. Ritual pertama adalah "Keluwung" (ritual Memanggil Madu). Ritual ini dilakukan pada awal musim madu (sekitar bulan oktober). Mereka mengambil cabang pohong dengan ranting yang bagus. Kemudian mereka membuat bentuk sarang madu dari tanah liat dan menempelkan pada ranting-ranting tersebut.

Ritual kedua adalah ritual yang dilakukan saat mereka mempersiapkan memanjat pohon madu. Ritual ini disebut sebagai ritual Mengusir Hantu Pohon, dengan melemparkan telur ayam hutan ke pangkal pohon yang akan dipanjat atau memecahkan telur tersebut di batu dekat pohon tersebut. Pelemparan telur tersebut dilakukan dengan doa dan mantra. Namun kini, setelah mereka memeluk agama Kristen, mereka melakukan doa dalam ritual tersebut secara agama Kristen, sebelum memanjat pohon.

Mereka juga memperhatikan tanda alam sebelum memanjat. Jika sebelum memanjat ada suara burung "teljan", burung "sit" atau burung "telgis" dari sebelah kiri, maka akan berbahaya untuk memanjat. Jika suara burung tersebut berasal dari sebelah kanan, maka akan terjadi kematian. Biasanya mereka akan mengurungkan untuk memanjat pohon, karena alam telah memperingatkan mereka.

sumber:
  • baltyra.com
  • findarticles.com
  • wikipedia
  • dan sumber lain

Suku Dayak Punan

laki-laki dayak Punan
Suku Dayak Punan, adalah satu dari banyak suku dayak yang tersebar di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur. Dayak Punan juga ada di Sabah Malaysia dan Serawak Malaysia.
Populasi suku Dayak Punan diperkirakan sebesar 8.956 orang, dan terbesar di Kalimantan Timur. 

Suku Dayak Punan tersebar pada 77 kampung atau lokasi pemukiman. Suku Dayak Punan memiliki 14 sub-suku yang dikelompokkan dalam rumpun Punan, beberapa diantaranya adalah Punan Hovongan, Punan Uheng Kereho dan Punan Kelay. Beberapa dari komunitas suku kecil Punan kian tahun kian menurun bahkan dikhawatirkan cenderung menuju kepunahan. Walau telah hidup berabad-abad, mereka tetap tak berubah dengan pola adat-istiadat dari leluhur mereka yang dipercayai.

gadis dayak Punan
Menurut cerita yang tersimpan pada cerita turun temurun, leluhur suku Dayak Punan datang dari sebuah negeri yang bernama "Yunnan", sebuah daerah dari datara tinggi di Cina bagian Selatan. Mereka berasal dari suatu komunitas yang konon adalah keluarga salah satu kerajaan Cina yang kalah berperang dan kemudian menghindar bersama perahu-perahu, dalam perjalanan mereka terdampar di tanah Pulau Kalimantan. Di tempat baru ini mereka merasa cocok dan aman, dan mereka pun menetap hingga kini.

Suku Dayak Punan, lebih memilih hidup di hutan pedalaman, bahkan di goa-goa, walaupun mereka sebenarnya bukanlah suku primitif tetapi lebih memilih untuk hidup seperti cara hidup leluhur mereka. Mereka selalu berpindah pindah dari satu tempat ke lain tempat dan terus menghindar dari kelompok manusia lain, karena menurut mereka ini adalah keinginan para leluhur, untuk menghindar dari orang-orang asing. Apabila ada yang meninggal di antara mereka, setelah upacara penguburan, biasanya mereka serentak akan pindah ke daerah lain. Mereka percaya kalau roh dari orang yang meninggal akan gentayangan yang akan membuat mereka tak merasa tenteram. Masyarakat Dayak Punan ini disebut juga bangsa nomaden (pengembara) yang hidup dalam satu kelompok tanpa berpisah-pisah.

Di hulu Barito terdapat 3 desa yang dianggap sebagai perkampungan orang Dayak Punan, yaitu Tumbang Karamu, Tumbang Tunjang dan Tumbang Topus. Penduduk ketiga desa ini mengaku sebagai keturunan orang Punan, dan mereka menyebut diri mereka sebagai orang Dayak Punan. Tetapi masyarakat yang berada di desa Tumbang Topus, diperkirakan sudah tidak asli lagi sebagai orang Dayak Punan, karena telah terjadi kawin-campur antara orang Dayak Punan dan orang Dayak Siang-Murung, Dayak Bahau, Dayak Benuaq dan Dayak Ot Danum atau Dayak Kahayan. Lagipula beberapa kesenian budaya serta ritual kematian yang dilaksanakan oleh masyarakat Punan di desa Tumbang Topus ini, adalah cenderung mengikuti tradisi budaya Dayak Ot Danum atau Dayak Siang Murung.

tatapan tajam dari dayak Punan
Makanan mereka adalah makanan yang masih mentah seperti sayur sayuran hutan yang berasal dari pohon nibung atau banding (teras dala), daun pakis, atau labu hutan yang mudah didapat di hutan. Makanan utama mereka adalah umbi dan umbut umbutan hutan, ditambah dengan daging buruan yang mereka temukan. Untuk daging inipun jarang mereka masak. Jika ada binatang buruan yang didapat mereka lebih suka menjemur daging-daging tersebut di matahari panas sehingga menjadi daging asinan atau dendeng.

Suku Dayak Punan pada masa lalu sangat ditakuti oleh suku dayak lainnya karena sangat handal dalam bertarung dan berperang. Mereka adalah head hunter atau pemburu kepala atau kayau. Termasuk dalam kategori suku kanibal karena mempunyai kebiasaan memenggal, memakan hati dan isi perut lawannya adalah hal yang lumrah mereka lakukan. Mereka juga punya kebiasaan memakan bagian punggung sebelah kanan musuhnya yang tewas dalam perang karena bagian tubuh itulah yang diyakini paling enak dimakan.

Mereka selalu waspada dan siap berkelahi dengan siapapun, termasuk binatang-binatang buas di dalam hutan. Tradisi siap tempur ini diwarisi sejak zaman nenek moyang mereka. Hebatnya, mereka memiliki keahlian bela-diri yang sangat tangguh dan berbeda dengan ilmu bela-diri secara umum yang ada di masyarakat. Mungkin ilmu bela-diri yang mereka miliki adalah bekal yang mereka bawa dari daratan Cina tempat asal-usul leluhur mereka.

Sebenarnya ada beberapa masyarakat dayak yang memiliki nama Punan, yang tersebar di Kalimantan maupun di Malaysia. Tetapi anehnya, walaupun bernama suku sama, di antara mereka semua tidak memiliki hubungan kerabat sama sekali.

Saat ini terdapat lebih dari 20 suku Dayak Punan yang berbeda etnis (tidak berhubungan satu sama lain) yang ditemukan di pulau Kalimantan yang disebut sebagai suku Dayak Punan.
Suku-suku Punan adalah;
  • Punan Busang
  • Punan Penihing (Punan Aoheng)
  • Punan Batu
  • Punan Sajau
  • Punan Hovongan
  • Punan Uheng Kereho (Ot Nyawong)
  • Punan Seputan (Dayak Seputan)
  • Punan Aput
  • Punan Merap
  • Punan Tubu
  • Punan Bukat (Dayak Bukat)
  • Punan Habongkot
  • Punan Panyawung (Ot Penyaung)
  • Punan Malinau
  • Punan Binai
  • Punan Mahkam
  • Punan Murung
  • Punan Merah (Ot Siau), 
  • Punan Serata, 
  • Punan Langasa, 
  • Punan Nya'an
  • Punan Ukit (Dayak Bukitan, Dayak Beketan)
  • Punan Lisum
  • Punan Kelay-Segah  
  • Punan Bah
  • Punan Batu 1
  • Punan Belahun (Punan Berun) 
  • Punan Lejuh
  • Penan
Di Sarawak Malaysia terdapat suku Dayak Punan Bah dan suku Dayak Penan, tetapi tidak memiliki hubungan sama sekali dengan suku-suku Punan lainnya. Di Malaysia, suku Dayak Punan dikelompokkan di bawah rumpun Dayak Kajang bersama dengan Dayak Sekapan, Dayak Kejaman, Dayak Lahanan dan Dayak Sihan. Selain itu suku Dayak Punan di Malaysia, sering dianggap bagian dari orang Dayak Ulu seperti suku Dayak Kayan dan Dayak Kenyah.

perempuan dayak Punan
Suku Dayak Punan diyakini adalah salah satu suku yang paling awal menetap di bagian tengah pulau Kalimantan, sungai Rajang dan daerah Balui bersama dengan Dayak Sekapan, Dayak Kejaman dan Dayak Lahanan. Tidak lama setelah kedatangan suku Dayak Punan, diikuti oleh migrasi massa dari bangsa suku bangsa Kayan, kemudian diikuti oleh suku bangsa Iban menduduki daerah Rejang dan Balui sekitar 2000 tahun yang lalu. Kehadiran 2 suku bangsa pendatang baru ini memaksa masyarakat Punan mundur ke Kakus dan kemudian terdesak lagi lebih ke pedalaman.

Pada tahun 2006, ditemukan lebih dari 10 etnis Punan lagi serta pemukiman Dayak Punan dalam bentuk Rumah Panjang, yang ditemukan di sepanjang daerah Rejang, Kakus, Kemena dan Jelalong sungai, yang dihuni beberapa etnis suku Punan.
Pemukiman-pemukiman Lovuk (kampung) Rumah Panjang beberapa suku Dayak Punan adalah:
  • Punan Lovuk Sama
  • Punan Lovuk Bah
  • Punan Lovuk Biau
  • Punan Lovuk Meluyou
  • Punan Lovuk Lirung Belang, (pada suku Punan ini, rumah panjang dulu disebut sebagai Rumah Bilong, sekarang disebut Rumah Ado)
  • Punan Lovuk Mina
  • Punan Lovuk Pedan (Rumah Nyipa Tingang)
  • Punan Lo'o Buong (Jelalong atau Rumah Adi)
Jumlah suku Dayak Punan di Sarawak Malaysia diperkirakan sekitar 3000 - 5000 orang.

Kehidupan mereka sehari-hari adalah tergantung apa yang diberikan alam hutan kepada mereka setiap harinya. Hutan adalah rumah dan hidup mereka. Tanpa hutan, maka mereka akan kesusahan dalam melanjutkan hidup mereka. Mereka bisa juga berhubungan dagang dengan masyarakat lain, tetapi semua barang dagangan hanya ditukar secara barter (pertukaran). Mereka menawarkan barang barteran seperti rotan, damar, kayu gaharu dan sarang burung walet. Barang akan dibarter dengan garam, gula, tembakau atau rokok, kadang dengan kain.

sumber:
  • forum.kompas.com
  • findarticles.com
  • benuadayak.blogspot.com
  • gambar-foto: speleo.fr
  • gambar-foto: pacifislandtravel.com
  • gambar-foto: bharatanews.com
  • wikipedia
  • dan sumber lain

Suku Dayak Gaai

suku Dayak Gaai
(kfk.kompas.com)
Suku Dayak Gaai, adalah salah satu suku dayak yang berada di Kalimantan Timur. Suku Dayak Gaai bermukim di kecamatan Sambaliung kabupaten Berau pada 2 kampung, yaitu kampung Long Lanuk, Long Laai dan kampung Long Ayan.

Suku Dayak Gaai yang bermukim di kampung Long Ayan yang berada di tepi Sungai Segah lebih dikenal sebagai suku Dayak Segai. Rumah penduduknya berbentuk panggung dari kayu dan papan berkapur putih kusam dengan atap seng gelombang tanpa cat di batasi jalan beton selebar satu meter. Suku Dayak Gaai yang bermukim di kampung ini sebagian memeluk agama Kristen dan sebagian lagi memeluk agama Islam, yang terbagi menjadi 2 kampung, yaitu kampung Kristen dan kampung Islam, yang ditandai dengan keberadaan Gereja dan Masjid. Di pemukiman kampung suku Dayak Gaai ini juga banyak ditemukan suku Dayak Tunjung yang ikut bermukim di wilayah ini. Pada siang hari kampung ini akan terlihat sepi, karena para laki-lakinya pergi bekerja di ladang, ke hutan, atau bekerja di luar kampung.

Rumah Adat suku Dayak Gaai
Pada suku Dayak Gaai, terdapat Balai Adat atau Rumah Adat, yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat suku Dayak Gaai ini. Balai adat memiliki fungsi sebagai tempat melaksanakan ritual keagamaan yang biasanya rutin mereka gelar dalam beberapa bulan seperti mengadakan upacara mengawali musim tanam, upacara bapalas, upacara panen, perkawinan dan kematian. Selain itu Balai Adat juga digunakan sebagai tempat pagelaran berbagai kesenian khas mereka.

Suku Dayak Gaai termasuk ke dalam bagian dari rumpun suku Dayak Bahau. Menurut sejarah penuturan masyarakat di perkampungan suku Dayak Gaai. Sejak abad 18, suku Dayak Gaai sudah bermukim di tempat ini, mereka sempat membangun sebuah Kerajaan Gaai. Suku Dayak Gaai dulunya pernah dikenal dengan sebutan suku Dayak Modang dari Apo Kayan yang melakukan migrasi pada saat peperangan, yang menghindar dari peperangan karena tekanan dari luar dengan jumlah sangat besar yang menaklukkan sampai ke daerah pedalaman. Kemungkinan suku Dayak Gaai masih berkerabat dengan suku Dayak Modang, karena leluhur mereka berasal dari suku Dayak Modang dari Apo Kayan.

Di hutan dekat perkampungan suku Dayak Gaai, terdapat suatu peninggalan sejarah tengkorak dan mandau yang diletakkan oleh ketua adat. Benda peninggalan sejarah ini dianggap keramat dan tidak boleh dilihat oleh semua anggota suku. Peninggalan benda bersejarah suku Dayak Gaai ini adalah sisa dari zaman dimana mereka masih melaksanakan tradisi kayau yang mengorbankan manusia dalam upacara-upacara ritual di masa lampau.

tarian suku Dayak Gaai
Pada masa lalu suku Dayak Gaai terkenal karena kemampuan bertani berladangnya, sehingga suku-suku dayak lainnya seperti suku Dayak Basap dan suku Dayak Punan pernah mengabdi dan belajar tentang ilmu pertanian berladang pada suku Dayak Gaai.

Mata pencaharian suku Dayak Gaai, sebenarnya masih pada pertanian berladang, karena mereka memang menguasai bidang ini, tetapi kegiatan lain seperti berburu, menangkap ikan dengan cara menombak, memanfaatkan hasil hutan serta mereka juga memelihara beberapa hewan ternak untuk menambah penghasilan hidup.
Selain itu saat ini, tidak sedikit dari mereka yang berhasil hingga bekerja di sektor pemerintahan, karyawan swasta, guru dan menjadi pedagang maupun berwiraswasta.

sumber:

  • poskotakaltim.com
  • kfk.kompas.com
  • blogdarmawan.wordpress.com
  • pontianakpost.com
  • wikipedia
  • dan sumber lain