Suku Dayak Krio

suku Dayak Krio
Suku Dayak Krio, hidup dan bermukim di sepanjang sungai Krio yang berada di wilayah kecamatan Sandai kabupaten Ketapang provinsi Kalimantan Barat. Sungai Krio ini sangat berarti bagi masyarakat suku dayak yang menamakan diri mereka sebagai suku Dayak Krio. Suku Dayak Krio hidup di kampung Menyumbung, sedangkan yang berada di luar kampung Menyumbung yang berbicara memakai bahasa Dayak Krio, biasanya dikategorikan sebagai sub-suku Dayak Krio, seperti di kampung Mariangin, Sepanggang dan Sengkuang. Populasi suku Dayak Krio di kampung Menyumbung diperkirakan sebesar 3.254 orang. Sedangkan di perkampungan lain belum ada data mengenai besarnya populasi mereka.

Asal-usul suku Dayak Krio, menurut legenda yang tersimpan lewat cerita turun menurun pada suku Dayak Krio ini berkaitan erat dengan legenda penyebaran suku dan bahasa Krio di Simpang Hulu. Dalam struktur sosial masyarakat suku Dayak Krio banyak ditemukan anggota masyarakat mereka yang mempunyai hubungan langsung (garis keturunan) dengan Dayakng Putukng. Menurut legenda masyarakat Krio, konon di hulu sungai Krio pernah ada sebuah kerajaan kecil, di bawah kepemimpinan Raja Sia’ Beulutn yang berada di Babio Tanah Tarap. Hanya saja sang raja ini sangat keji dan suka memperbudak rakyatnya. Perbudakan oleh sang raja ini membuat rakyat menjadi benci dan merencanakan untuk membunuh sang raja. Tetapi sang raja berhasil diselamatkan oleh rimbunan bambu betung. Dalam betung ini terdapat tujuh manusia. Salah satunya adalah Dayakng Putung. Ketika ditemukan dalam bambu tersebut, tangan dan kaki Dayakng Putung masih berupa gumpalan darah. Menurut tradisi suku Dayak Krio, harus dibuang (dihanyutkan). Akan tetapi, Dayakng Putung hidup sampai dewasa dan kawin dengan Prabu Jaya. Dari keturunan Dayakng Putung ini lah banyak yang terkait dengan garis keturunan Dayakng Putung.

gadis suku Dayak Krio
Sistem kekerabatan dalam masyarakat Dayak Krio berdasarkan prinsip keturunan ambilineal atau biasa juga disebut parental dimana garis keturunan ayah dan ibu dinyatakan sejajar. Dalam struktur masyarakat Dayak Krio, pada hakekatnya kaum perempuan mempunyai kedudukan yang sama dengan kaum pria, baik dalam praktek kehidupan sosial maupun dalam kehidupan religius.

Rumah adat suku Dayak Krio, memiliki nama yang berbeda dengan rumah-rumah adat suku dayak lainnya, biasanya pada suku-suku dayak rumah adat atau rumah tradisional suku dayak disebut "Rumah Betang" atau "Lamin" (Rumah Panjang). Tetapi pada suku Dayak Krio, mereka memberi nama rumah adat atau rumah tradisional mereka dengan sebutan "Rumah Bosar" (Rumah Besar). Bentuk Rumah Bosar berbeda dengan rumah-rumah adat suku dayak lainnya. Rumah Bosar berbentuk bangunan rumah yang sangat besar, tetapi Rumah Bosar hanya memiliki satu pintu, dan di dalamnya terdapat beberapa bilik untuk menampung beberapa keluarga, yang biasanya bisa mencapai 10 keluarga. Pada masa sekarang ini, seiring perkembangan zaman, maka tradisi Rumah Bosar yang biasanya menampung banyak keluarga, sekarang berubah fungsi menjadi rumah tunggal yang hanya menampung 1 keluarga.

Jurung
(tempat menyimpan padi)
salah satu rumah adat
suku Dayak Krio
Satu lagi rumah adat suku Dayak Krio bernama Jurung, yang digunakan untuk penyimpanan padi atau menjadi lumbung padi.

Tradisi adat suku Dayak Krio banyak berupa tradisi lisan. Pada upacara-upacara adat, cerita-cerita lisan, serta suasana atau tingkah laku pelakunya di mana tradisi lisan itu hidup dan berkembang.

Beberapa tradisi lisan pada suku Dayak Krio, adalah:
  1. Adat Jalatn Lome Jaih (adat istiadat
  2. Sangan Carita
  3. Pantutn Pribasa (pribahasa)
  4. Tomakng Golekng (nyanyian, lagu-lagu)
  5. Kepercayaan Asli Dayak Krio
  6. Pengetahuan dan Keterampilan Asli
Suku Dayak Krio, pada umumnya dalam bertahan hidup dengan cara pertanian berladang. Kehidupan membuka ladang di lokasi sekitar mereka jalani sejak lama. Hutan juga menjadi faktor penting bagi kehidupan masyarakat suku Dayak Krio, seperti berburu dan mengumpulkan hasil hutan. Sedangkan sungai yang melintas di sekitar perkampungan mereka menjadi salah satu faktor terpenting bagi kehidupan suku Dayak Krio, selain menangkap ikan, maka sungai juga menjadi sarana jalur menuju perkampungan lain di luar perkampungan mereka, untuk menjalankan hubungan dengan tetangga-tetangga jauh mereka.

sumber:

  • kebudayaan-dayak.org
  • dokumenqu.blogspot.com
  • gambar-foto: wwwputramuarabarito.blogspot.com
  • gamar-foto: youtube.com
  • putramuarabarito.blogspot.com
  • wikipedia
  • dan sumber lain

1 comments:

  1. Terimakasih kepada penulis/pemilik blog protomalayans.blogspot.com yang telah merangkum referensi tentang Dayak Krio (Hulu Sungai) tulisan ini merupakan referensi berharga bagi generasi dayak krio khususnya dan untuk kepentingan ilmu pengetahuan pada umumnya, sekali lagi trimakasih. teruslah berkarya!.

    ReplyDelete

Silahkan berkomentar di bawah ini, Kami mohon maaf, apabila terdapat kekeliruan atau ada yang tidak sesuai dengan pendapat pembaca, sehubungan dengan sumber-sumber yang kami terima bisa saja memiliki kekeliruan.
Dengan senang hati kami menerima segala kritik maupun saran pembaca, demi peningkatan blog Proto Malayan.
Salam dan terimakasih,